Saku sangat mencintai dan menikmati bahasa dan sastra sejak SD, juga sangat memperhatikan buku karena buku adalah jejak bahasa. Kurawat buku seperti merawat badanku sendiri. Aku mencintai bahasa, ilmu, dan buku. Tiga kata yang membuat hidup bersemangat.
Buku catatan smp, catatan sma, buku cetak smp, dan buku cetak SMA masih tersimpan rapi hingga kini. Sesekali kubersihkan dengan mengelap satu per satu kemudian mengemasnya ke dalam kardus terbaru dan kusimpan di atas lemari, jika banjir masuk rumah maka buku aman.
Sejak smp aku ingin punya perpustakaan pribadi yang dibuka untuk umum, jika suatu waktu mendapat pekerjaan bagus dan gaji lumayan akan ku wujudkan cita-cita itu. Membeli buku, membuat ruangan yang besar dan bagus dilanjut menggerakkan dan melayani masyarakat.
Lulus sma tahun 1992 dengan nem 51 tertinggi tapi tak melanjutkan kuliah karena orang tuaku tak punya biaya. Kemudian mengadu nasib ke jakarta.
Kerja pertamaku sebagai pembantu rumah tangga demi jaminan tempat tinggal dan makan serta keamanan. Majikanku baik, nyonya rumahnya berjilbab besar dan aku digaji 150.000 rupiah tiap bulan. Setiap habis gajian bisa membeli buku yang kucintai yaitu buku pelajaran SMA yang keren-keren, walau sudah lulus SMA tetapi tetap belajar materi SMA jika suatu saat ada kesempatan kuliah ingatan masih agak fresh. Buku agama, buku motivasi, dan buku pengetahuan umum. Semua kubaca di sela-sela bekerja, majikanku sangat mendukung. Dalam satu tahun di saat mudik lebaran aku membawa dua kardus besar berisi buku. Sedangkan baju hanya sekadarnya karena tak suka membeli baju. Di rumah kukumpulkan dengan buku sekolah dulu.
Mengikuti arus balik kembali ke jakarta dengan harapan setahun kemudian pulang membawa buku dua kali lipat dari sekarang atau empat kardus besar. Karena majikanku berjanji akan menaikkan gaji jika bekerja lagi padanya. Benarlah janjinya, pulang lebaran di tahun kedua aku membawa pulang empat kardus buku yang jenisnya lebih bervariasi ada novelnya juga. Ditambah hadiah buku-buku bekas dari majikanku walaupun bekas tapi seperti baru yang hampir semuanya buku agama. Mimpi memiliki perpustakaan pun semakin nyata.
Tahun ketiga pikiranku berubah, karena gengsi bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Masa lulusan SMA jadi pembantu, begitu komentar tetangga dan aku terpengaruh. aku tak kembali pada majikanku tentunya dengan berpamitan lewat telepon memohon beribu-ribu maaf. majikanku kecewa tapi juga mendoakan kebaikan semoga keinginanku memiliki perpustakaan segera terwujud. ku aminkan doanya. aku ikut teman sma-ku merantau ke bandung dan bekerja di pabrik kaus kaki.
setelah tiga bulan bekerja di pabrik belum juga bisa menyisihkan uang untuk beli buku. uangnya habis untuk membayar kontrakan, makan, dan biaya hidup lain. enam bulan bekerja aku jatuh sakit, karena hawa dingin dan terlalu capai. jika masuk shift siang bekerja jam 07.00 sampai jam 19.00. kalau shift malam masuk jam 19.00 jam 07.00. dua belas jam berdiri menjaga mesin produksi membuat tubuhku sakit-sakitan. sampai setahun bekerja belum bisa menabung, bahkan aku harus berhutang kepada teman untuk biaya makan dan mengontrak rumah.
aku harus pulang untuk istirahat, kepadanya aku berjanji akan membayar hutang jika sudah bekerja lagi. teringat akan majikanku yang baik hati. nyonya berkerudung besar hingga menutupi panggul telah kusia-siakan. mungkin inilah akibat kegengsian.
diantar seorang teman yang memberikan utang ke stasiun kereta api jam sepuluh malam ku tinggalkan kota bandung membawa pulang hutang. buku-buku di rumah kuharap bisa mengobati pikiran dan sakitku. tak sabar ingin menemuinya dan membukanya.
“assalamu’alaikum,” salamku di depan pintu rumah pagi itu.
“wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.” jawab nenek sambil membuka pintu.
“nenek!” aku masuk dan memeluknya.
“kamu pulang, den. kamu kurus sekali.” jawab nenek mengelus rambut dan tubuhku.
“iya, nek, den sakit jadi belum lebaran sudah pulang,” jawabku.
“tidak apa-apa, duduk. nenek buatkan teh manis dulu. “
“terima kasih, nek.” aku letakkan tas berisi beberapa potong baju dan berbaring di dipan di ruang tamu. sesaat kemudian nenek datang membawa segelas teh manis dan sarapan.
“sarapan dulu, den. kamu pasti lapar. ” kata nenek meletakkan piring dan gelas di meja dan menyentuh dahiku dengan punggung telapak tangannya, “panas.”
aku duduk minum teh manis hangat. langsung habis satu gelas. sedikit menghilangkan mual di perut. berlanjut makan dengan sayur kembang turi putih kesukaan nenek. nikmat sekali dengan nasi liwet yang sedikit hangat.
setelah selesai makan aku hendak bangkit menengok kardus-kardus tempat bersemayam buku-bukuku. tiba-tiba nenek keluar.
“kalau sudah selesai makan terus mandi sudah nenek panaskan air. coba sini kaki den direndam dulu dengan air hangat campur garam krosok.
nenek menyodorkan baskom di depan kedua kakiku di bawah meja.
“celupkan!”
“iya, nek.”
tubuhku merinding ketika kedua kakiku masuk baskom karena air hangat menjalari pori-pori kaki. terasa ke seluruh tubuh. nyaman sekali. dari dulu nenek selalu punya cara merawatku dengan cara yang tak terduga.
“tahan sampai air hampir dingin, kira-kira lima belas menit,” kata beliau.
“iya, nek. terima kasih,” jawabku.
kasih sayang nenek masih utuh untukku walau sudah kutinggal di rumah sendirian selama hampir tiga tahun. menggantikan kasih sayang ibu yang pergi entah ke mana sejak bercerai karena ayah direbut janda cantik tetangga sebelah.
“air hangat untuk mandi sudah nenek siapkan di sumur, den,” kata nenek dari dapur.
“iya, nek.” aku bergegas ke sumur di samping dapur. tepatnya bisa disebut kamar mandi tanpa atap berdinding anyaman daun kelapa. selesai mandi badanku terasa ringan enak sekali, sakit pun sembuh.
waktunya mencari buku-buku kesayanganku. aku lihat di atas lemari tempat menyimpan terakhir, tak ada. kemudian ke lain ruang, tak ada. sampai semua ruang kudatangi juga tak ketemu. jantungku berdegup kencang. aku kembali ke ruang di mana lemari berada.
“nek, kardus-kardus yang di atas lemari mana?” tanyaku setengah teriak.
“kardus yang berisi buku apa, den?” kata nenek setengah berlari mendekatiku.
“iya,” jawabku dengan leher sakit menahan tangis.
“sudah dibawa tukang rongsok dijual kemarin, den,” jawab nenek.
“aduh, nenek. itu buku-buku penting mengapa dijual?” aku mengguguk menangis histeris.
“nenek tidak tahu, nenek butuh uang untuk beli bumbu dapur. si mas merayu nenek terus hendak membelinya,” jawab beliau.
aku duduk lemas di dipan bambu dekat lemari. mungkin juga dipan kotor karena tak pernah diduduki. nenek duduk di sampingku dan membelai rambutku hingga punggungku. kemudian memelukku dengan tubuh ringkihnya dari samping.
“maafkan nenek, den,” bisiknya.
“iya, nek. tidak apa-apa, den akan segera mencari kerja dan membeli buku-buku lagi,” jawabku.
aku marah, sangat marah. ingin sekali mementalkan tubuhnya. tetapi kasih sayang yang menyelimuti tubuhku meluruhkan semua amarahku. jiwaku lunglai mati semangat. ragaku terpuruk seperti tak bertulang. hilang kekasihku yang selama ini ku perjuangkan mati-matian. aku tak sanggup melampiaskan marah dan kecewa ke nenek. memang salahku setiap pergi tak meninggalkan pesan untuk menjaga buku-buku itu.
“den berangkat ya, nek,” pamitku suatu sore. aku bertekad bekerja kembali ke majikanku di jakarta. biarlah jadi pembantu rumah tangga asal agamaku terjaga dan cita-citaku kelak jadi nyata. majikanku sangat bersimpati akan nasibku dan berjanji akan membantu mewujudkan mimpiku.
suatu waktu aku diajak majikanku bersilaturahmi ke rumah saudara perempuannya di tanjung priok. aku terkejut hampir tak percaya. ibuku berada di rumah saudara perempuan majikanku. perempuan berjilbab besar juga. ibuku mengenakan kerudung juga. kerudung coklat muda. cantik sekali. wajah yang kurindu dan hampir tak kuharap bertemu karena kupikir tak mungkin kini nyata di hadapanku.
“ibu!” aku berlari menghampiri.
“dena!” sambut ibu.
semua orang yang berada di rumah itu terheran-heran. majikanku mendekati kami.
“dena, siapa dia?” tanya majikanku.
“ibu saya, bu,” jawabku.
“allahu akbar!” jawab majikanku bersama adik perempuannya yaitu majikan ibuku.
“ibu, bagaimana bisa di sini?”
“ibu dulu pergi tanpa memberitahu nak. waktu kamu kelas 3 smp. ibu ingin sekali dena melanjutkan sma. ibu kirim uang ke nenek lewat seseorang yang mengantar ibu ke sini. ibu ingin sekali membantu mewujudkan mimpi yang dena ucapkan waktu baru masuk smp. mungkin dena sudah lupa waktu itu kamu menemukan buku usang di tempat sampah pak rt. kamu bawa pulang dan menyimpan di lemari baju akan dikumpulkan. seperti yang pernah ibu lakukan waktu kecil. sangat mencintai buku. namun nenek hanya bisa menyekolahkan ibu sampai sd. tapi hanya ibu seangkatan yang sampai lulus waktu itu. alhamdulillah. tekad ibu dena harus bisa lulus sma. kemudian ibu bertemu pak syukron yang membawa ibu bekerja di sini,” jawab ibu.
aku berkaca-kaca seolah tak percaya. ibu menyeka air mataku dengan kerudung coklatnya.
“terima kasih, bu.”
“mulai sekarang kita akan berjuang bersama menggapai cita-citamu membangun perpustakaan umum. untuk itu hampir tiga tahun ibu tidak pulang kampung dan tidak mengirim uang kepada nenek." kata ibu menggenggam tanganku.
lebaran tahun ini aku mudik bersama ibu. naik kereta kelas ekonomi, seharga 43.000 rupiah. dengan kardus-kardus dan tas berisi buku. hasil bekerja ibu selama tiga tahun dan kerjaku setahun. ditambah buku hibah dari majikanku dan majikan ibu juga saudara-saudaranya.
sehabis lebaran kami bekerja keras menyiapkan perpustakaan di ruang tamu rumah nenekku. bahagia menyelimuti kehidupan kami bertiga. nenek, ibu dan aku.
aku dan ibu pergi ke rumah mbak tofa untuk membayar hutang waktu bekerja di bandung.
“alhamdulillah kita bisa bertemu lagi. selamat ya den atas berdirinya perpustakaanmu,” ucapnya.
“ini semua berkat usaha ibuku.” jawabku melirik ke ibu.
tofa mengangguk takzim ke ibu. kami bersalaman untuk pamit pulang.
"hati-hati di rumah ya, den. jaga nenek baik-baik. kamu mengganti tugas ibu merawatnya sembari mengelola taman baca. ibu akan ke jakarta lagi untuk membantu kelancaran tamanmu. maafkan ibu ya, den.” pesan ibu sambil mengenakan baju ke nenek sehabis membantunya mandi karena beliau sedang sakit.
sebenarnya aku tak ingin ibu pergi lagi. kebersamaan yang kudamba sejak masih sd sirna lagi. jiwaku menggelegak kehausan. layu. menjerit histeris tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. perih selaksa disayat seribu sembilu. ibu, tempat tumpuan pertama keluh kesah. ibu sosok yang pertama kukenal selama hadirku di dunia. ibu, guru pertama yang mengajariku mengeja aksara jiwa. mengajari merangkai kata rasa. menguntai kalimat sakti pencerah jiwa. dan ibu pulalah yang mengajariku mencintai pustaka. hujan kecewa menderas menguras air mata.
"tak apalah, bu," jawabku penuh dusta, "den akan jaga nenek dan jaga diri den," lanjutku lebih dusta lagi.
"semoga den bahagia dengan perpustakaanmu," doa beliau, menurutku juga dusta.
"alhamdulillah, bu," kali ini aku tak berani berpikir dusta, "terima kasih untuk kebahagian ini. ibu juga harus jaga diri ibu sendiri."
"insya allah," ibu memelukku erat. lalu mengenakan kerudung coklatnya ke kepalaku, "mulai sekarang kerudung ini milikmu."
"terima kasih, bu," jawabku penuh bahagia. kali ini aku tak berpikir dusta. kerudung instan yang pertama dikenakan ibu dibelikan oleh majikannya. pertama kulihat ibu berkerudung dengan cantiknya. aku pasti akan secantik dan mataku seteduh mata beliau. kerudung elegan berkelas majikan.
"tapi ibu menunggu nenek sembuh, kan?"
"ya."
sudah dua minggu aku ditemani ibu mengelola taman literasi dan melayani masyarakat. tetangga berdatangan setiap hari. mereka senang sekali dan antusias membaca. menemukan hiburan baru mengenyahkan kejenuhan menghadapi rutinitas. para ibu datang jam sepuluh-an setelah selesai melaksanakan ritual harian bersama anak-anaknya yang belum sekolah. anak yang sudah sekolah berkunjung jam dua-an sampai sore.
pada waktunya ibu harus berangkat. nenek pun sudah sembuh. kebersamaan singkat yang penuh makna. bahagia tak terkira. walau dilanjut luka. tapi lukaku adalah luka bahagia, karena tak ada yang melukaiku.