Hujan turun begitu deras malam ini di sertai dengan petir yang mengelegar membuat siapapun takut saat mendengarnya bahkan ada juga yang tidak bisa tidur karenanya. Namun itu tidak berlaku bagi Nando yang bisa tertidur sangat pulas meskipun di luar petir mengelegar sangat keras dan juga hujan yang sangatlah deras. Tidurnya terganggu bukan karena mendengar suara petir melainkan dia mendengar bunyi suara handphonenya berdering dengan menahan ngantuk Nando mengangkat telponnya dari nomor yang tidak dia kenal. "Halo siapa ya gangguin orang tidur aja nggak ada waktu lain apa tahu kan ini hujan bukanya tidur malah ngangguin orang tidur" ucap Nando mengangkat telponnya tapi dari seberang tidak ada jawaban sama sekali membuat Nando bingung sekaligus kesal. "heh, jawab malah diam aja lagi kalo nggak penting nggak usah telpon gue ngangguin aja cepet ngomong gue mau tidur lagi nih" ucap Nando merasa dia di permainkan namun tetap saja tidak ada jawaban dari orang itu sama sekali malahan telponnya di putuskan begitu saja membuat Nando merasa aneh ada orang yang menelponnya namun tidak mengatakan apa.
"buset dah nih orang ngapain coba nelpon gue nggak jelas banget malah di matiin lagi udah ngangguin tidur gue aja, apa mungkin cuman orang iseng aja ya nggak ada kerjaan banget jadi orang nggak tahu apa orang lagi pules tidur" Nando menaruh handphonenya kembali ke meja "ah tidur lagi aja deh ngantuk banget gue" Nando membenarkan posisinya kemudian tidur kembali tidak terlalu memikirkan siapa yang menelponnya. Saat Nando sudah hampir tidur dengan nyenyak handphonenya berdering lagi karena sudah kepalang malas dan tidak mau mengulangi kejadian yang sama lagi akhirnya dia menonaktifkan handphonenya agar tidak ada yang menganggu tidurnya.
********
Setelah semalam hujan deras pagi ini matahari sudah menyapa dengan hangat dan Nando sudah bangun dari tidurnya yang semalam sempat terganggu dengan seseorang yang tiba-tiba menelponnya. Setelah selesai mandi Nando keluar dari kamarnya untuk berangkat ke sekolah namun sebelum dia ke sekolah dia harus mengantarkan adiknya ke sekolah dulu. "kak muka Lo kok suntuk banget sih apa nggak bisa tidur semalam" sapa Dani melihat wajah kakaknya yang suntuk
"hah, tahu nggak semalam itu ada yang nelpon kakak tapi bukanya dia ngomong malah matiin telponnya gimana nggak kesel udah ngangguin orang tidur mana semalam kan hujan deras gitu nggak ada kerjaan apa tuh orang" jawab Nando menceritakan pada adiknya.
"nggak ada kerjaan amat dah tuh orang iseng banget telpon-telpon kakak coba deh nanti kakak telpon lagi siapa tahu di jawab" ucap Dani setelah mendengar cerita kakaknya.
"ya nanti deh kakak juga penasaran sih sama tuh orang kenapa gitu nelpon malam-malam terus nggak ngomong apa-apa, udah berangkat ke sekolah aja" Nando dan Dani masuk ke dalam mobil Nando yang biasa digunakan olehnya ketika mengantarkan adiknya ke sekolah.
"Dan nanti Lo pulangnya sama temen Lo aja ya kakak lagi ada urusan jadi nggak bisa jemput Lo nanti" Nando memberitahu adiknya bahwa dia nanti tidak bisa menjemputnya dan menyuruhnya untuk pulang bersama dengan temannya yang searah dengan rumah mereka.
"lah ada urusan apa sih kak sampai nggak bisa jemput gue ngurusin cewek ya kak" Dani agak mengejek kakaknya karena kesal dia harus bersama temannya nanti Nando menyentil dahi Dani yang berkata yang tidak-tidak tentang dirinya. "enak aja Lo siapa juga yang ngurusin cewek, kakak nanti ada urusan sama teman-teman mau latihan basket kan udah lama kita nggak latihan basket" ucap Nando mengatakan alasan yang sebenarnya pada Dani.
"oh sorry gue nggak tahu kak, kalo dipikir-pikir iya juga sih kalian kan udah lama nggak latihan basket terus nanti pulangnya jam berapa kayak biasanya apa lebih malam" Dani bertanya jam berapa Nando akan pulang latihan basket nanti.
"kayak biasanya Dan lagian ngapain juga latihan sampai malam gerbang kan udah di tutup nanti emangnya kita disuruh nginep apa di sekolah dikira kemping apa" jawab Nando sedikit agak ngegas lalu dia menghentikan mobilnya setelah sudah sampai di sekolah Dani kemudian Dani turun dari mobil dan segera masuk ke dalam sekolah. Setelahnya Nando segera menuju ke sekolahnya yang jaraknya cukup jauh dari sekolah Dani jadi dia harus mengebut untuk segera sampai di sekolah. Beruntungnya jalanan tidak macet sehingga dia sudah sampai di sekolahnya dengan sangat cepat lalu segera turun dari mobil ketika sudah memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah. Ketika menuju ke kelasnya dia bertemu dengan teman-temannya yang juga baru sampai di sekolah "pagi sobi gue ngapa muka Lo kusut kayak baju nggak di setrika ada masalah apa nih" sapa Arthan menghentikan langkah Nando.
"eh Lo Than, jadi semalam itu ada yang telpon gue terus dia diem aja gue tanya eh dia malah matiin telponnya gimana nggak kesel gue. kalian tahu kan semalam itu hujan deres banget nggak ada kerjaan apa tuh orang" Nando berbalik menatap Arthan yang di belakangnya.
"wah, jangan-jangan hantu lagi yang telpon Lo makanya dia nggak bersuara sama sekali semalam kan hujan kayak gitu mana ada coba orang yang iseng-iseng telpon Lo kalo bukan hantu" ucap Bima agak mengada-ada sehingga dia mendapatkan toyoran dia kepalanya oleh Arthan yang merasa omongan Bima tidak masuk akal.
"heh, ngadi-ngadi aja Lo percaya ama gituan ya kali emang hantu bisa nelpon orang apa jelas-jelas itu manusia mungkin aja dia malu kali ngomong sama Lo makanya dia tutup gitu aja pas denger suara Lo" Arthan mengira-ngira alasan orang itu memutuskan sambungan telepon.
"nah iya tuh mungkin aja secara banyak banget kan cewek yang deketin Lo cuman Lo nya aja yang nggak mau dideketin, Lo sih kebangetan banget jadi orang ramah dikit napa sama cewek biar nggak takut gitu sama Lo" Yogi juga setuju dengan perkataan Arthan dilihat-lihat dari sikap Nando yang sangat dingin dengan semua cewek di sekolah.
"ya gue cuman nggak mau aja kasih harapan sama mereka kalo gue dekat sama mereka gue juga nggak mau terlalu baik sama mereka karena gue nggak mau mereka malah baper lagi sama gue, jadi mending gue kayak gini aja sekalian fokus sama sekolah lagian kan nggak baik pacaran pas sekolah nanti malah nganggu lagi" ucap Nando yang mencari-cari alasan agar tidak disalahkan oleh teman-temannya sedangkan mereka hanya menarik napas mendengar alasan Nando.
"terus gimana apa Lo mau telpon dia lagi Nan biar nggak penasaran terus siapa tahu nanti dia jawab lagi nggak kayak semalam" tanya Arthan sembari mereka berjalan menuju ke kelas mereka XII IPS 2. "lihat aja nanti tapi kayaknya sih iya soalnya gue juga penasaran nih siapa orang yang nelpon gue semalam kalo gue tahu pengen gue samperin dan marah-marahin tuh orang yang udah ngangguin tidur gue yang nyenyak" ucap Nando yang juga ingin menelpon orang itu kembali untuk mengetahui siapa gerangan yang menelponnya.
"eh semalam hujannya deras banget ya mana ada petir juga lagi gue sampai nggak bisa tidur tahu nggak setiap gue mau tidur pasti kebangun sama suara petir" ucap Bima yang paling penakut diantara mereka berempat dan juga yang suka mengada-ada cerita yang sama sekali tidak masuk akal.
"hah, Lo mah emang kayak gitu kan gue udah hapal sama kelakuan Lo itu yang penakut banget tapi hobi nonton film horor sampai menjerit ketakutan sambil sembunyi dibalik bantal. gue aneh deh sama Lo bener-bener manusia langka Lo itu" Arthan sudah tidak heran lagi dengan Bima yang sangat penakut sekali.
"yah gimana seru sih meskipun agak horor gitu tapikan gue nonton sama kalian jadi agak nggak takut lah, eh iya ada cewek cantik lewat tuh lihat deh apa coba kurangnya mereka makanya cowok-cowok pada ngejar mereka" Bima tidak sengaja melihat para siswi yang cukup cantik dan terkenal di sekolah mereka meskipun begitu Nando sama sekali tidak tertarik dengan salah satu diantara mereka.
"hai pagi cowok ganteng kalian kompak banget sih" ucap Jesica menyapa mereka berempat setelah menghampiri mereka yang juga bertujuan untuk mendekati Nando siswa yang dia taksir sejak dulu. "iya dong Jes harus itu kita kan kompak banget iya nggak guys kalian juga selalu berlima terus nggak pernah pisah kayak girlband aja nih" Arthan tersenyum menyapa kelima siswi itu.
"hahaha, ada aja Lo Than kita kan emang berangkat bareng jadi yang kayak gini lagian kita kan bff jadi kita harus bareng-bareng terus nggak boleh pisah" ucap Rany mencuri pandang pada Yogi orang yang sudah dia suka sejak pertama kali bertemu saat kelas X namun ada satu orang yang hanya diam saja dan seperti agak gugup apalagi saat tidak sengaja menatap Nando.
"udah mau masuk ke kelas yuk" Nando tidak nyaman berada di situasi seperti sekarang ini yang hanya akan membuat dia makin suntuk dan kesal saja Arthan yang menyadari perubahan suasana hati Nando langsung saja mengajak Nando Bima dan Yogi pergi ke kelas mereka.
"eh Nando makin ganteng aja ya kapan gitu gue bisa dekat sama dia" Jesica menatap Nando yang sudah berjalan menjauh dari mereka Gista juga sama menatap Nando sebenarnya dia juga suka dengan Nando namun dia merasa tidak enak hati dengan Jesica teman dekatnya.
"kita ke kelas juga yuk nanti kena marah sama guru killer lagi kalo kita telat masuk" Gista yang akhirnya bersuara setelah diam saja tadi Jesica juga setuju lalu mereka berlima juga berjalan menuju ke kelas mereka.
*****
Ketika pergantian jam pelajaran Nando izin untuk pergi ke toilet pada ketua kelas lalu dia segera pergi ke toilet khusus kelas XII IPS 2. Ketika keluar dari toilet dan berjalan menuju ke kelasnya namun dia tidak sengaja bertemu dengan Gista yang habis dari perpustakaan mengambil buku paket yang di suruh oleh guru mereka. Saat Gista melewatinya Nando menggantikan langkah Gista membuat Gista agak tersentak gugup ketika Nando mendekatinya.
"kalo bawa buku banyak jangan sendiri nanti kalo jatuh rusak kan Lo harus ganti" Nando mengambil sebagian buku paket yang dibawa Gista sehingga Gista merasa tidak enak dengan Nando.
"eh nggak usah gue bisa bawa sendiri kok mending Lo balik ke kelas aja deh" Gista ingin meminta kembali buku paket yang Nando bawa namun Nando menolaknya dia tidak tega melihat Gista membawa buku sebanyak itu sendirian.
"udah nggak usah nolak gue bawa sebagian buruan udah di tunggu kan Lo" Nando untuk pertama kalinya membantu seseorang entah kenapa dia tidak tega melihat Gista yang kesusahan biasanya dia hanya akan cuek saja tidak menghiraukan sedangkan Gista hanya mengangguk saja lalu mereka berjalan ke kelas Gista.
Ketika sampai di kelas semua siswi terkejut melihat Nando yang masuk ke dalam kelas mereka membawa buku paket yang seharusnya Gista bawa sendirian. "Nando kenapa kamu kesini" tanya Bu Alvi ketika Nando masuk ke kelas lain sembari membawa sebagian buku paket yang Gista bawa Nando tersenyum setelah meletakkan buku paket dimeja.
"tadi saya nggak sengaja ketemu sama Gista Bu saya kasian lihat dia bawa buku sebanyak itu sendirian jadi saya bantu apa tidak boleh Bu" jawab Nando dengan sangat santai dan tersenyum membuat seluruh siswi jadi meleleh dibuatnya. "tidak salah Nando kamu hanya membantu teman kan, sudah sekarang kamu kembali ke kelas" Bu Alvi menyuruh Nando kembali ke kelas lalu Nando keluar dari kelas XII IPS 3 setelah melihat Gista sekilas entah kenapa akhir-akhir ini dia tanpa sengaja memperhatikan Gista.
"kenapa ya gue akhir-akhir ini perhatiin Gista aja apa ada yang salah ya sama dia tapi nggak ada sih terus kenapa ya" tanya Nando pada dirinya sendiri "hah udah lah gue bisa kena omel lagi nanti sama guru" Nando mempercepat langkahnya kembali ke kelas dan ketika sampai di kelasnya dia sudah melihat guru mengajar di kelas.
"Nando darimana saja kamu kenapa baru masuk ke dalam kelas" tanya pak Ridwan melihat Nando yang baru saja masuk ke dalam kelas padahal sudah pergantian jam pelajaran.
"maaf pak tadi saya ke toilet sebentar sakit perut pak gara-gara makan pedas tadi pagi pas sarapan" jawab Nando mengarang alasan dia tidak mau ada yang tahu kalo dia telah membantu Gista tadi yang ada dia diledek teman-temannya nanti.
"sudah duduk sana, makanya kalo sarapan itu jangan yang pedas" pak Ridwan menyuruh Nando duduk lalu Nando segera duduk dan mengambil buku pelajaran lalu memperhatikan pak Ridwan yang sedang menjelaskan pelajaran bahasa Inggris. Tak terasa waktu sudah berlalu sekarang waktunya bagi mereka untuk beristirahat dan menuju ke kantin untuk makan siang begitu juga dengan Nando dan ketiga temannya.
"Nan ngapain aja Lo kok lama sih di toilet gue nggak percaya kalo Lo mules pasti Lo bohong kan" Arthan yang mengetahui jika Nando berbohong tadi "hah itu tadi ada urusan sebentar jadi lama ke kelas gue tadi emang cuman ngarang cerita aja nanti kelamaan lagi kalo gue ngomong jujur" ucap Nando yang masih tidak mau jujur pada mereka
"eh Nando mendingan sekarang Lo telpon aja deh dia siapa tahu dia angkat" Bima sangat merasa sangat penasaran dengan siapa yang menelpon Nando.
"oke gue telpon sekarang semoga aja dia angkat telpon gue" Nando mengambil handphonenya lalu mencoba menelpon orang itu nyambung namun tidak di angkat dan dia melihat seberang nampak ada seorang siswi yang sedang memegang handphone dan dia yakin orang itu yang menelponnya semalam tak mau menunggu lama lagi Nando segera menghampiri orang itu yang tidak bisa dia lihat dengan jelas.
"eh tuh bocah mau kemana nggak ngomong dulu lagi sama kita, kita ikuti aja yuk" Arthan dan yang lainnya segera menyusul Nando yang sudah berlari entah kemana dan kenapa.
Nando mencoba menelpon lagi dan mencoba mendengar suara handphone berdering dan dia sudah berada cukup dekat dengan orang itu Nando merasa sangat familiar dengan orang itu namun Nando berada di belakangnya. Tanpa bersuara Nando mendekati orang itu agar dia tidak bisa pergi ketika mendengar ada suara langkah kaki mendekatinya.
"heh jadi Lo ya yang nganggu gue semalam ada apa sih apa Lo ada masalah sama gue" tanya Nando dari arah belakangnya bukanya menjawab orang itu berniat untuk pergi namun dengan cepat Nando menghentikannya dan membalikkan tubuh orang itu dan sekarang dia tahu siapa orang yang menelponnya semalam entah kenapa dia tidak jadi marah setelah melihat orang itu.
"sorry ya kalo gue ngangguin Lo semalam sebenarnya gue bingung mau ngomong apa" ucapnya menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah Nando lalu Nando mengangkat dagunya membuatnya menatap mata Nando.
"ternyata Lo pantesan aja Lo gugup banget lihat gue tadi pagi, Gis ada apa Lo telpon gue dan dapat darimana Lo niatnya gue mau marah tapi nggak jadi gue juga nggak tahu kenapa" Nando tersenyum menatap Gista membuatnya menjadi gugup setengah mati melihat Nando yang tersenyum padanya. Mereka masih saling tatap sampai Jesica Arthan Bima dan Yogi menghampiri mereka Jesica sangat terkejut melihat Nando yang menatap lekat Gista begitu juga dengan Gista apa lagi ketika tangan Nando masih memegang dagu Gista.
"oh jadi gini ya teman nusuk gue dari belakang gue nggak nyangka Gis Lo tega sama gue, cih apa Lo bilang nggak suka sama dia tapi apa nyatanya apa Lo tega Gis sama gue" Jesica merasa dia telah di hianati oleh sahabatnya sendiri Jesica segera berlari meninggalkan mereka Gista ingin mengejar tapi dia di tahan oleh Nando yang memegang tangannya.
"lepasin tangan gue Nan gue mau ngejar Jesica dia salah paham sama gue, gue nggak mau dia jadi benci sama gue" Gista meminta Nando melepaskan tangannya namun tidak Nando lakukan justru dia menarik Gista pergi ke taman belakang sekolah semua orang yang melihat merasa aneh dengan Nando yang menarik Gista begitu saja dan untuk pertama kalinya mereka melihat Nando bisa berinteraksi dengan siswi di sekolah. Mereka berdua duduk di kursi taman Gista masih tidak mengerti kenapa Nando membawanya ke taman belakang sekolah sementara dia ingin membeli penjelasan pada Jesica.
"Lo kenapa sih tarik gue kesini Jesica nanti salah paham sama gue dia itu suka sama Lo dia pasti ngira gue udah nusuk dia dari belakang" Gista memikirkan bagaimana caranya agar Jesica tidak membencinya nanti setelah melihat kejadian tadi. "Gista apa Lo cuman mementingkan perasaan temen Lo sendiri daripada Lo, gue tahu kalian berdua itu dekat banget tapi apa Lo mau ngorbanin perasaan Lo sendiri" Nando memegang tangan Gista dan menghadap ke arahnya sembari menatap Gista dengan tatapan yang sulit di artikan.
"maksudnya gimana sih gue nggak ngerti deh maksud Lo apa udah ya gue mau kejar Jesica dulu" Gista pura-pura tidak tahu dengan apa yang dimaksud oleh Nando.
"udah nggak usah bohong Lo suka kan sama gue cuman Lo nggak enak aja jujur sama Jesica karena Lo nggak mau di anggap sebagai penghianat kan" Nando tahu jika Gista sedang berbohong padanya "iya oke gue emang suka sama Lo tapi gue nggak mau nyakitin perasaan Jesica gue nggak papa kalo Jesica bisa jadian sama Lo, gue cuman mau Jesica bahagia aja" Gista tersenyum getir mengingat kebaikan Jesica padanya selama beberapa tahun ini.
"tapi kalo gue sukanya sama Lo gimana Gis apa Lo tetap mau Jesica yang jadian sama gue" Nando mengutarakan perasaannya pada Gista membuat Gista tersentak mendengarnya dan juga tidak percaya namun dia tidak bisa senang atau nanti Jesica makin marah dengannya.
"lebih baik Lo sama dia aja kayaknya Lo lebih serasi sama dia daripada sama gue" Gista menolak demi pertemanannya dengan Jesica ketika Nando ingin berbicara lagi Jesica datang bersama dengan Arthan.
"Jes gue bisa jelasin sama Lo apa yang Lo lihat tadi cuman salah paham aja kok ya percaya sama gue" Gista berdiri dan menghampiri Jesica lalu memegang tangan Jesica dengan rasa bersalah namun bukanya Jesica memarahi Gista dia malah berkata yang sebaliknya.
"Gista gue emang kecewa sama Lo kenapa Lo nggak mau jujur sama gue tapi sekarang gue udah ngerti alasannya kenapa, jadi gue minta Lo jangan nolak Nando ya Lo kan suka sama dia nggak usah pikirin perasaan gue ya" Jesica memeluk Gista "Jesica beneran Lo nggak papa jangan bohong sama gue" Gista membalas pelukan Jesica.
"iya gue nggak papa kok udah sana kasian dia nunggu Lo gue nggak papa kok" Jesica melepaskan pelukannya tersenyum meskipun terasa sangat menyakitkan baginya namun dia tidak boleh egois dia harus bisa mengikhlaskan Nando dengan sahabat dekatnya dari kecil.
"Lo denger sendiri kan dia bilang apa jadi gimana apa Lo mau jadi pacar gue ya meskipun sebenarnya Lo itu bukan yang pertama tapi cuman Lo yang bisa menyembuhkan luka lama gue Gis" Nando berdiri dengan membawa bunga entah sejak kapan dia membawa bunga dan siapa juga yang membawanya.
"gue mau kok Nan, gue juga udah lama suka sama Lo" Gista dengan malu-malu menerima Nando dan mengambil bunganya Nando memeluk Gista dengan perasaan yang cukup senang karena Gista mau menerima pernyataan cintanya setelah sekian lama.
"Thanks Gis gue beneran senang banget gue bisa jadian sama Lo sekarang" Nando masih saja memeluk Gista dengan sangat erat dan juga perasaan yang teramat bahagia sekali sedangkan Arthan dan Jesica tersenyum melihat kedua sahabat mereka yang sekarang terlihat bahagia Jesica ikhlas asalkan dia bisa melihat sahabatnya bahagia meskipun dia sendiri harus terluka karenanya. Arthan menepuk bahu Jesica memberikan sedikit semangat padanya karena Arthan tahu apa yang Jesica rasakan ketika melihat Nando dan juga Gista yang terlihat sangat mesra sekali juga sangat berbahagia sekarang.
Berawal dari panggilan misterius mereka berdua bisa menjadi sepasang kekasih sekarang sungguh aneh namun inilah yang dinamakan dengan takdir cinta.
END