Priiit, suara peluit berbunyi di lapangan olahraga, murid perempuan berkumpul, mereka lalu bersiap diposisi masing dan mendengarkan aba-aba, hari ini ada lomba lari estafet.
"Hosh..hosh..hosh, syukurlah kelas kita menang", kataku sambil mengelap keringat yang menghalangi pandanganku.
"Uthe, sesuai janjiku, pulang sekolah aku traktir makan es cendol di warungnya Mang Usep", kata Amara.
"Mau nemuin Kang Asep ya", jawabku.
"Negatip thinking wae nyak maneh teh", jawab Amara lagi.
"Negatif thinking dari mananya, itu kenyataannya kok", aku menjawab sambil memperhatikan sekelompok anak laki-laki yang melintas tidak jauh dari tempat aku duduk.
"Raka!", Amara memanggil salah satu diantaranya, dan yang dia panggil itu adalah pacarku.
Dia menoleh dan tersenyum menatapku.
"Wei, Raka, yang manggil kamu itu aku loh, kok malah tersenyum ke arah Uthe sih, aish, ga banget", teriak Amara lagi.
Pletak, aku langsung menyentil kening Amara dan berkata," pacar Raka itu aku, ya tentu saja senyumnya ke aku, makanya cepetan sana suruh Kang Asep cepat-cepat menyatakan cintanya ke kamu".
"Aduh, ya maap, aku juga kan agak lupa kalau Raka itu pacar kamu", jawab Amara sambil mengelus keningnya.
Raka tertawa melihat interaksi kami berdua.
"Uthe, hari ini pulang bareng lagi kan, aku ingin mentraktir kamu es cendolnya Mang Usep", dia berkata sambil duduk disamping ku.
"Ga bisa, aku duluan yang mau traktir Uthe, aku udah duluan janji dengannya", timpal Amara.
"Benarkah?", tanya Raka lagi.
Aku mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu kita pergi bersama-sama aja", ucap Raka.
"Hei Uka-Uka (Uthe Raka), jam segini sudah membuat jiwa jomblo ku meronta", teriak Arya sahabat Raka.
"Aku jadi teringat game Crash Bandicoot", pikirku.
"Aku tiba-tiba mencium bau gratisan nih, mau traktir ya, aku ikutan dong", kata Arya sambil mendekati Amara.
"Dasar itu kuping, kok peka banget ya denger kata gratis, padahal kan dia tadi jauh di sana" gumam Amara.
"Aku denger loh Amara", sambil memandang jahil.
"Kamu itu ternyata cantik juga yah, nyesel aku baru tahu sekarang", sambungnya lagi. "Kalau aku tahu, aku sudah nembak kamu dari kelas satu".
Blush, muka Amara memerah, aku dan juga Raka tertawa berbarengan.
"Jangan didengerin, kemarin dia juga ngomong begitu sama anak PMR yang namanya Susi", ledekku.
Amara langsung memalingkan muka," dasar anak buaya", gerutunya.
"Aku denger lagi lho", Arya kembali menggoda Amara.
Tapi sayangnya kali ini muka Amara bukannya memerah tapi menghitam.
Ketawaku dan Raka semakin keras.
Siangnya sepulang sekolah aku, Raka dan teman-teman beramai-ramai ke warung Mang Usep.
Amara sedikit kecewa, Kang Asep tidak ada di sana, tanpa disadarinya Arya memperhatikan perubahan itu.
"Raka?", seorang gadis manis seusia diriku menghampiri Raka.
Raka menghentikan minumnya, begitu juga dengan teman yang lain.
"Dilla?", sahut Raka lagi.
"Dilla?, bukankah dia cinta pertamanya Raka?, bukankah dia waktu itu yang meninggalkan Raka?", aku kembali mengingat asal mula pertemuanku dengan Raka.
🔥🔥🔥
Sebuah bola menggelinding didepan kakiku, aku acuh tak acuh, pikirku bodoh amat, salah siapa mendekatiku, hari itu kebetulan mood ku sedang tidak baik-baik saja.
Sudahlah bangun kesiangan, uang jajan dipotong, ditambah lagi di hukum berdiri didepan kelas, jadi bahan tawa teman-teman.
Aku dengan santainya memainkan bola itu, tanpa bermaksud mengembalikannya.
"Mau sampai kapan memainkan bola yang bukan milikmu", suara itu terdengar dingin menghampiri telingaku.
"Ku kira bola ini tak ada yang punya, dari tadi dia tidak bergerak didepan ku", jawabku tak kalah judes.
Masih tanpa melihat wajah orang yang menegurku, aku mengembalikan bola itu dengan cara melempar kebelakang tepat dimana dia berdiri.
"Ga sopan", katanya lagi.
"Lihat siapa yang bicara soal kesopanan, masih untung itu bola ga aku lempar ke jalan raya, bukannya terima kasih malah ngomel", ujar ku sambil membersihkan bagian belakang rok sekolahku.
Aku meninggalkan tempat itu dengan wajah bertekuk sepuluh (pasti jelek banget ya kelihatannya, ih amit-amit).
Aku tidak tahu siapa dia, sampai suatu hari aku secara tidak sengaja bertemu lagi dengan dirinya. Saat itu ada lomba melawan sekolah lain, aku mewakili sekolahku di bidang lari 100 meter, sedangkan dia berada di team basket putra.
Dari awal naik bis yang disediakan sekolah untuk mengantarkan kami ketempat lomba dia sudah memperhatikan diriku, aku menyadari hal itu, hanya saja aku bertanya-tanya dalam hati, ngapain tuh cowok ngeliatin aku melulu, tapi karena ga mau dikatain sok ke geeran aku cuekin aja.
Sampai saat lomba berakhir dan sekolah kami menjadi juaranya. Pulangnya pihak sekolah mentraktir kami semua makan di sebuah restoran, pada saat itulah dia menegurku.
"Hai, kenalin, aku Raka", ucapnya memulai percakapan sambil mengulurkan tangannya.
Sesaat aku bengong, tumben pikirku ada cowok yang mengajak aku kenalan, secara aku ini pada banyak yang bilang cewek setengah jadi, karena sangking tomboinya.
"Ada lalat tuh mau masuk mulutmu", katanya mengingatkanku.
Aku langsung menutup mulutku.
"Aku menyambut uluran tangannya dan menjawab," aku Uthe".
"Kita pernah bertemu sebelumnya", katanya lagi.
"Hah?, kapan?", tanyaku.
"Di lapangan bola, waktu itu kita agak berselisih paham", jelasnya.
"Aku ingat, soal bola itu kan, mengapa?, apa kamu mau balas dendam?", tanyaku dengan sedikit waspada.
"Ck, aku tidak seperti itu, kamu itu beda, aku ingin lebih mengenalmu", jawabnya lagi.
"Ya sudah, apa yang ingin kamu ketahui tentangku", kataku.
"Ha..ha..ha, aku sudah tau semuanya, aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat, kamu mengerti kan maksudnya?", tanya Raka, kali ini dengan nada yang sedikit serius.
"Maaf, aku ga ngerti", jawabku, karena memang sesungguhnya aku tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini, banyak unsur tebak-tebakan di dalamnya.
"Kamu itu polos atau bodoh?", Raka memandangku.
"Heh Nurlela, siapa suruh kamu ngomongnya muter-muter ke Utara Selatan Barat Timur", aku langsung ngamuk mendengar kata ajaib itu.
Enak aja aku dibilangin bodoh, udah berapa duit habis coba orang tuaku menyekolahkan diriku dan makhluk yang bernama Raka ini seenaknya aja mengejekku dengan kata bodoh.
Raka tersenyum mendengar celotehan ku," aku suka kamu", lanjutnya lagi.
"Heh, apa ini?", aku kembali bengong.
"Aku beneran suka kamu, Uthe", ulangnya lagi.
".........?", bengong tingkat dewa. Aku masih tetap tak bisa bicara, " aku belum pernah pacaran dan kali ini ada yang bilang suka padaku?, ga salah nih", aku bicara dalam hati sambil mencubit tanganku, sakit juga, ternyata ini bukanlah mimpi.
"Aku serius, mau kan jadi pacarku", Raka tetap bicara sambil menatap mataku.
"Mak, aku ditembak, pakai senapan jenis M123, tidak berpeluru tapi bisa memporak porandakan hatiku", (efek ngehalu tingkat dewa kali ini) aku memegang dadaku, rasanya ingin meledak (benarkah begini rasanya kalau ada yang nyatain?, nanti tolong dijawab di kolom komentar ya).
Sudahlah, Raka sepertinya tidak akan berhenti sebelum aku menjawab pertanyaannya, lagi pula aku sudah mulai risih melihat pandangan teman-teman yang mulai mengarah ke kami berdua.
Lalu dengan setengah berbisik aku menjawab," aku mau".
"Sungguh?", matanya mulai berkaca-kaca.
"Mak, kali ini aku buat nangis anak orang, dijawab salah, ga dijawab bisa-bisa berkemah aku disini", aku menatap heran Raka.
"Ya, iyalah aku sungguh-sungguh", ingin rasanya aku teriak.
"Terima kasih", jawabnya, ada rasa lega terpancar di wajahnya.
Semenjak itu kami selalu bersama, Raka sering datang ke kelasku sekedar menyapa. Sudah banyak yang tahu bahwa pada akhirnya kami berpacaran. Banyak juga yang patah hati, cowok idola mereka memilihku sebagai pacarnya.
Aku ga bilang Raka ganteng lho, aku hanya bilang dia adalah cowok idolanya para cewek disekolah ku.
Raka sering curhat, dia pernah patah hati seberat satu ton karena ditinggal pergi cewek cinta pertamanya.
Raka bilang akulah yang menyembuhkan rasa sedih itu. Hehehe, berguna juga aku ini ya.
🔥🔥🔥
Kembali ke es cendol.
Dilla berkata "Raka, setelah ini aku tunggu di tempat biasa ya, ada yang ingin aku omongin". Setelah itu Dilla pergi sambil membawa es cendol pesanannya.
Raka hanya terdiam, dia mengaduk-aduk es cendol miliknya. Setelah itu dia berdiri dan tanpa pamit meninggalkan kami semua.
Kami terdiam, alam bawah sadar menyadarkan diriku," nah loh yang bayar es cendol ini nanti siapa?".
"Raka!", jeritku dalam hati, untung aku tadi bawa uang jajan lumayan banyak, upah bantuin Bapak bersihin kandang ayam.
Arya ternyata juga menyadari hal itu, ia lalu bertanya kepadaku siapa yang bakal bayarin es cendol, aku dengan tenang menjawab bahwa tadi Raka sudah menitipkan uangnya padaku.
Arya tersenyum lega, sementara Amara memandangnya dengan cemberut.
Hari berlalu, selama beberapa hari ini Raka tidak masuk sekolah, tidak menghubungiku. Banyak yang bertanya padaku dan aku mengatakan bahwa Raka tidak masuk sekolah di karenakan ada urusan keluarga, jawaban andalan kalau kita kepepet harus jawab.
Lima hari Raka seakan menghilang, aku hanya pasrah, apabila harus berakhir ya berakhir sajalah, cinta tidak bisa dipaksakan, tidak ada kata harus dalam cinta, seperti harus pilih aku.
Saat ini aku sedang duduk di pinggir lapangan bola, di bawah sebuah pohon rindang, tempat kesukaanku di kala mood ku tidak baik-baik saja.
"Uthe", suara itu?.
"Uthe, maaf", Raka memelukku dari belakang.
Tubuhku membeku," apa lagi ini, kok pakai peluk segala sih, aku kan malu", batinku.
Aku menarik nafas panjang lalu aku berkata," Aku maafkan, aku akan terima apabila kamu ingin kita putus, ada pepatah yang mengatakan cinta pertama tak akan mati (siapa sih yang bikin pepatah seperti ini? aku mau protes)".
"Apa yang kamu katakan?, siapa bilang aku mau putus, aku ga mau putus sama kamu sampai kapanpun tidak akan, aku sudah tidak mencintai Dilla, dia hanyalah masa laluku", Raka melepaskan pelukannya, dia lalu duduk disamping ku.
"Aku minta maaf karena aku kemarin meninggalkan kalian semua tanpa meninggalkan uang sepeserpun, padahal aku janji mau traktir, Arya bilang kamu yang bayar semuanya, terima kasih, aku ganti uangnya", Raka memberikan sejumlah uang kepadaku.
"Ga perlu, aku ga suka hitung-hitungan", jawabku.
"Terus kemarin kamu kemana?", tanyaku lagi, aku penasaran dong, aku kan juga manusia bukan malaikat.
"Aku mengejar Dilla, aku tidak ingin menemuinya di tempat biasa kami bertemu, aku berpikir semuanya harus aku selesaikan secepatnya, aku tidak mau semuanya berlarut-larut, aku mencintaimu Uthe, kamu itu cuek ga jaim, apa adanya, aku suka itu, duniaku serasa berwarna, dan satu hal lagi kamu itu selalu ceria, dan semua itu tidak ada pada diri Dilla", jawab Raka.
"Lima hari kemarin, Pamanku sekeluarga datang dari luar negeri, beliau memintaku menemaninya berkeliling, kamu tahu sendiri kan orang tuaku dua-duanya bekerja, jadi hanya aku yang bisa mengantarnya kemana-mana, ibarat jadi tour guide selama lima hari, lumayan upahnya", jelas Raka lagi.
Aku tersenyum, hanya tersenyum, bahagia?, entahlah, mungkin bisa disebut lega.
✨TAMAT✨
Penulis hanya bisa senyum-senyum sendiri membaca tulisannya. Aah, ternyata menjadi penulis itu menyenangkan.