Namaku tari usiaku saat ini sudah berumur kira-kira 20 tahunan, dan kali ini aku ingin menceritakan sebuah cerita horor yang pernah terjadi diusia mudaku kira-kira berumur 6 tahun keatas, dimana saat itu aku tinggal disebuah daerah pelosok jauh dari desa namun masih dalam area desa pada awalnya tidak ada hal yang aneh terjadi dalam masa dimana aku tinggal di sana
Sampai 3 hari berlalu, hingga aku mendapat sebuah teror yang tidak biasa karena aku hampir dibuat trauma dengan kejadian tersebut, semua itu terjadi di sore hari ketika aku sedang bermain dengan adikku yang bernama lestari seorang adik perempuan satu-satunya yang aku miliki, pada saat itu adikku berumur 3 tahun
Yang Waktu itu baru bisa berjalan secara perlahan oleh sebab itu aku ajak dia berlatih jalan dihalaman rumah, dan pada saat itu rumah yang aku miliki masih sangat kuno yaitu rumah dengan berbahan kayu jati yang setiap sisinya memiliki cela
Pada awalnya semua berjalan lancar namun tiba-tiba terasa sebuah aura yang sangat mencengkram sampai membuat seluruh bulu kuduk ku berdiri dengan mengejutkan, bahkan adikku sempat tertawa-tawa sendiri tanpa ada sebab apalagi waktu itu hari sudah hampir menjelang magrib
Aku takut hingga tidak bisa berkata-kata namun tidak lama aku memberanikan diri untuk membalikkan tubuh agar bisa melihat sumber penyebab adikku tertawa karena waktu itu ia menatap kearah berlawanan dimana aku sedang berhadap-hadapan adikku
Secara perlahan aku mulai memalingkan pandangan, sampai aku melihat sesosok pria berbadan besar dengan tinggi kira-kira 3 meter, namun waktu itu aku tidak bisa melihat tubuhnya karena mahkluk tersebut sedang dalam posisi tubuh berpaling dari hadapanku
Walaupun tidak terlihat jelas namun aku bisa tahu mahluk itu bukan manusia karena tubuhnya besar dan hampir seluruh tubuhnya memiliki bulu lebat berwarna hitam pekat dengan punggung sedikit bungkuk, walaupun pohon dan semak hampir menutup tubuh tingginya namun tidak memungkinkan aku tidak terlihatnya karena dibalik sela pohon dia masih terlihat jelas di pandanganku
Bahkan dari jarak 8 meter saja aku sudah tidak bisa berkata-kata, karena aku waktu itu benar-benar telah mati secara metal, bahkan aku hampir saja pingsan ditempat, namun untungnya aku dengan sangat cepat mengangkat adikku yang waktu itu masih tertawa sampai melambai-lambai dengan cara diangkat lalu dihempaskan kebawah
Cara itu terulang sebanyak-banyaknya bahkan diiringi dengan tawa anak kecil yang terlihat ingin mengajaknya bermain bersama, karena takut aku segera mengendong adikku dan membawanya masuk kedalam rumah
Dan menutup pintu dengan cara yang kasar, bahkan ayahku yang waktu itu sedang mendengarkan radio di meja sampai kaget dan melontarkan pertanyaan kepada diriku yang masih terbujur kaku sambil meletakkan adikku dari gendonganku, walaupun sudah didalam rumah namun pikiranku masih teringan-ingan dengan wujud dari sesosok mahluk yang baru saja ku lihat
Bahkan tanpa sadar ayahku sudah memanggil namaku berulang-ulang namun aku belum menyadarinya sampai dirinya memegang pundak ku dengan lembut, sehingga aku tersadar dari lamunanku
"Kamu kenapa tari?" tanya sang ayah kepadaku sambil memegang pundak
"Ayah.. " teriakku dengan histeris sambil memeluk ayah dengan erat bahkan tanpa sadar ibuku yang waktu itu sedang di dapur dengan cepat berlari keruang tamu sambil bertanya-tanya kepada ayahku
"Mas,.. Ada apa dengan Tari, kok dia sampai nangis-nangis kaya gitu sih!!" bingung sang ibu
"Aku juga gak tahu dek, tapi sebelum dia nangis dia bertingkah aneh sekali"
"Tari, kamu kenapa nak?" tanya ibu dengan segera berjalan mendekati Tari yang waktu itu masih menangis di pelukan suaminya
Waktu itu Sang ibu langsung mengambil posisi jongkok dengan menyetarakan tinggi anaknya lalu merebut tari dari suaminya, bahkan segera membelai rambutnya dengan lembut
"Mamak, tadi aku lihat hantu" jawab langsung dariku tanpa berfikir panjang
"Hantu?" bingung ibuku sampai ia mengerutkan alisnya
"Iyah.." balasku sambil menangis dengan menutup kedua bola mataku dengan lengan kiri
Akan tetapi balasanku tidak direspon melainkan kedua orang tuaku tampak kebingungan, sampai mereka memandang satu sama lain sebelum sang ibu berkata kepada ayahku
"Mas, sebaiknya kamu ajak Tari ke kamar dulu supaya dia tenang, kalau masalah lestari biar aku saja yang urus"
Perkataan sang ibu langsung disetujui oleh suaminya sehingga dia mengajak Tari ke kamar, dan lestari adik Tari di gendong oleh ibunya lalu dengan cepat menutup jendela depan karena hari sudah menjelang malam
Malam yang panjang itu dihabiskan olehku didalam kamar sambil menangis ketakutan, bahkan sang ayah sudah seringkali menenangkannya namun usahanya nihil, sehingga dia berbicara secara pelan-pelan pada anaknya
"Tari,.. Coba deh, kamu ceritain apa yang kamu lihat tadi sore" seru ayah dengan nada lembut
Pada saat itu aku sedang membaringkan tubuh dengan ayah di kasur, namun sayangnya aku masih sibuk menangis karena yang ada dibenak ku hanya rasa takut sampai-sampai aku tidak merespon tanggapan ayahku, akan tetapi rasa takut itu tidak berlangsung lama karena pukul 07.00 pm
Aku langsung tertidur karena kecapean menangis, ayahku tidak bisa berkata apapun, sampai dia beranjak dari tempat tidur lalu keluar dari kamar untuk menyusul istrinya, pada saat itu sang ibu masih menggendong dan mengayunkannya secara perlahan, sampai sang adik tidur di pergelangan tangan sang ibu
"Dek, kira-kira ada apa ya, dengan tari sampai segitunya dia ketakutan?" tanya ayah kepada ibu
"Adek juga gak tahu mas tapi tadi Tari sempat berkata hantu"
Mendengar perkataan istrinya kini ayah tidak bisa berkata-kata dan segera mengajak keluarganya untuk tidur lebih awal
Keesokan harinya atau bisa dibilang subuh karena matahari belum terbit dari timur, waktu itu aku terbangun lebih awal dan langsung bergegas untuk ke dapur untuk membantu ibuku di sana, sampai aku melihat ibu sedang memotong bawang dengan sebuah pisau tajam ditangan
Karena bingung aku pun bertanya dengannya, "Ibu ingin masak apa?" tanyaku yang masih mengantuk
"Eh,.. Anak ibu udah bangun, gimana tidurnya?" bukan menjawab sang ibu malah bertanya balik pada anaknya
"Gak ada yang aneh kok ibu" balasku sehingga ibuku menghela nafas lega walaupun aku tidak tahu apa maksudnya tapi karena tidak ingin berfikir panjang aku kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama yaitu 'Ibu sedang masak apa'
Sampailah sang ibu berkata kalau dia berencana untuk membuat bakwan supaya bisa dijual sekolah nantinya, sehingga dengan antusias aku menawarkan diri supaya bisa berguna bagi ibuku namun ibuku hanya menyuruhku untuk menunggu api di belakang
Karena tidak ingin membantah aku pun mengikuti apa yang diperintahkan ibu, lagian waktu itu kami masih memakai media bakar alternatif dari kayu bakar sehingga membuatnya harus di perhatikan setiap saat agar apinya tidak padam
Sembari menatap api aku juga melihat keluar rumah dari cela dinding untuk melihat suasana apa yang ada diluar sampai tiba-tiba aku melihat sesosok gadis berambut panjang dengan menggunakan kain putih dari pundak hingga kebawah namun yang membuatnya aneh adalah gadis itu tidak ubah dari posisinya
Karena sembari tadi aku menatapnya dengan tatapan penuh selidik, sampai gadis itu menghilang secara tiba-tiba, aku yang melihat sontak langsung terkejut dan tidak percaya dengan apa yang aku lihat tadi sehingga dengan cepat aku berlari ke tempat ibuku dan langsung memeluknya dengan wajah ketakutan hingga ia berkata kepadaku
"Kamu kenapa, Nak?" tanya ibu yang terkejut melihat tingkahku
"Tadi aku lihat hantu" jawabku dengan ketakutan
"Masa sih" ragu nya yang langsung melepas pelukan lalu berjalan kebelakang, setelah itu ia mengintip dari balik cela namun tidak melihat apapun
"Tidak ada kok nak, mungkin kamu tadi sedang berhalusinasi saja" ujar ibuku dengan membelai rambutku dengan lembut
"Tadi ada ibu dan aku tidak pernah bohong kepada ibu" jawabku dengan mata berkaca-kaca
"Sudah ibu, percaya kok" jawabnya lalu memelukku agar tidak menangis
Setelah kejadian itu aku merasa kalau tempatku tinggal saat ini sudah tidak aman, sehingga mulai hari itu aku meminta ayah untuk pindah dari tempat ini namun kata ayah sebaiknya kita tahan dulu sampai hati esok
Karena itu keputusan ayah, akhirnya aku cuman menurut dan tidak membantah sedikitpun sampai malam ke-2 pun datang dimana suasana saat itu lebih mencengkram dari biasanya, karena aku merasa kalau aku tidak diberi tidur nyenyak oleh mahluk itu sampai di jam 11.58 aku terbangun dari tidur dan melihat kedua orang tuaku sudah tertidur di atas kasur yang sama
Karena aku haus, aku pun beranjak dari tempat tidur lalu berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air, awalnya tidak ada masalah ketika aku sedang mengambil namun ketika aku hendak balik tiba-tiba aku mendengar suara kucing dari belakang rumah, karena aneh aku pun segera memeriksanya pada waktu itu aku tidak memiliki rasa takut Karena yang ada dibenak ku
Hanya suara kucing tersebut, ketika aku sudah di dekat tumpukan kayu bakar yang letaknya dekat alat masak ibuku, aku pun melihat dari balik cela dan di sana tampak dengan jelas sesosok putih yang sedang duduk di salah satu dahan pohon, aku yang melihat langsung tahu kalau itu hantu sehingga dengan tergesa-gesa aku berlari ke depan
Namun entah apa yang terjadi, tiba-tiba kakiku tersandung yang membuatku terjatuh ditempat awalnya tidak masalah karena aku masih bisa bangun walaupun lutut ku masih sakit, namun yang membuatku tak habis pikir adalah ketika di ambang pintu ruang tamu aku melihat seseorang mahluk besar yang sedang menatapku dengan mengerikan
Sampai pada waktu itu juga aku berteriak dengan kencang akibat rasa takut yang mendominasi seluruh jiwaku, dan membangunkan kedua orang tuaku, "Suara apa itu, Mas?" tanya ibu kepada suaminya
"Itu suara Tari" dengan cepat mereka beranjak secara bersamaan lalu melihat apa yang terjadi dan di sana mereka hanya melihat aku pingsan akibat ketakutan yang luar biasa dan ketika aku tersadar aku sudah berada didalam kamar dengan ditemani orang tuaku, di sana mereka tampak bahagia dan mencoba mengajakku berbicara secara pelan-pelan
"Nak, apa yang terjadi sama kamu?" tanya ayah kepadaku dan entah kenapa bukannya menjawab aku justru malah seperti orang ling-lung yang berbicara sendiri seakan-akan sedang ketakutan dan badanku panas dan gemetar secara hebat sampai orang tuaku membawa aku ke permungkiman untuk mengantar ku ke bidan supaya aku diperiksa lebih lanjut
Aku tidak tahu pasti apa yang dibicarakan oleh ibu bidan itu tapi yang aku tahu setelah kejadian itu kami pindah rumah dan meninggalkan tanah yang sering disebut daerah angker oleh warga setempat
SELESAI....