Dengan sedikit berlari, Gadis keluar dari dalam lift menuju unit 7B yang terletak di ujung dekat jendela besar. Sebelumnya saat melintasi unit 7A, ia melirik pintu yang sedikit terbuka dan terdengar suara kartun sponge bob dari dalam kamar tersebut.
"Oh, orang baru. Punya anak kecil juga," Gadis bergumam agak heran.
Setelah sampai di depan pintu, Gadis buru-buru melempar tas kerjanya dan masuk ke kamar mandi. Tempat dimana ia melepaskan hasrat mulesnya sejak siang tadi.
Ini semua karena seblak level 3 buatan Mbak Ina, OG kantor yang setiap hari Rabu membuat list pesanan seblak untuk anak kantor.
"Astaga, perut!" jerit Gadis sambil berjalan ke arah pantry kemudian menyeduh teh hangat dan duduk di sofa kecil dekat balkon. Tepat pukul setengah 6 sore, Gadis menutup pintu balkon dan masuk ke dalam.
Sudah 4 bulan ini, Gadis tinggal di kota kembang. Di sebuah apartemen tipe studio yang di dalamnya ada tempat tidur, pantry kecil dan sofa di dekat balkon. Sebenarnya apartemen ini memiliki tipe exclusive di setiap lantainya, hanya saja gaji sebagai karyawan baru dan setelah ditinggalkan partner satu kosan, Gadis memilih untuk berhemat dan menyewa tipe termurah yang harganya beda tipis dengan kosan namun punya tingkat keamanan yang lebih baik.
Pukul 8 malam, Gadis telah duduk manis di atas ranjang sambil cek email dengan tv yang sejak tadi menayangkan drama romantis anak SMA. Sesekali ia menajamkan telinga, berusaha mendengarkan suasana sekitar namun hasilnya nihil. Padahal kamar sebelah sudah terisi dan sepertinya punya anak kecil. Enak ya punya kamar exclusive yang kedap suara, tidak seperti kamarnya ini yang ia yakin suaranya bisa keluar jika ia mengencangkan volume tv sedikit saja.
Gadis melepas kacamata baca, kemudian membuka laci kecil di sebelah ranjang. Dua butir sehari. Vitamin yang besarnya sepertiga jari ini sudah beberapa bulan Gadis minum dan kadang membuatnya muak. Tapi ya mau bagaimana lagi.
Setelah perutnya tidak bergejolak, Gadis tertidur dengan lampu yang masih menyala terang. Ia takut gelap.
Menjelang tengah malam, Gadis terisak dan dadanya naik turun seperti sedang dikejar sesorang. Kemudian...
Dddrrttt, dddrrttt, dddrrttt
Mata Gadis terbuka secepat kilat karena panggilan di handphone yang ia taruh di atas meja. Ragu, Gadis melihat layarnya yang memunculkan tulisan private number.
Diangkat takut, kalau di diamkan takut info penting. Menurut Gadis hanya hal urgent yang memungkinkan seseorang untuk menghubungi orang lain ditengah malam.
"Halo..." sapa Gadis.
"Halo?"
"Halo???"
Tidak ada jawaban di ujung sana. Akhirnya Gadis memilih untuk mematikan panggilan tersebut. Dengan lemas Gadis berjalan ke arah kulkas kecil. Kemudian menenggak air mineral dingin yang selama beberapa bulan ini jadi sahabatnya.
Kemudian ada getar yang masuk lagi. Kali ini getarannya pendek yang berarti hanya ada pesan singkat masuk.
Halo, Gadis
Begitu isi pesan singkat yang muncul di layar handphone. Seketika Gadis merasa mual dan lemas. Tepat pukul 2 dini hari ia baru bisa memejamkan mata.
"Pagi mbak Dina, hari ini aku ijin nggak masuk ya mbak. Aku kurang enak badan," suara Gadis masih terdengar lemas di telepon.
Hari ini ia meminta ijin kepada Dina, Wakil Manager HRD tempatnya bekerja.
"Kamu kenapa Dis? Sakit? Mau mbak anter ke dokter? Apa nanti sore mbak minta Ina mampir ke tempat kamu?" tanya Dina panik. Ia tahu betul kondisi Gadis yang sedang sensitif.
"Nggak apa-apa kok mbak. Semalam aku kurang tidur jadinya lemes. Cuma kalau butuh ke dokter nanti aku jalan sendiri aja."
"Yakin?"
"Iya, mbak."
Setelah berleha-leha sebentar, Gadis berjalan menuju kulkas dan mengeluarkan bahan makanan serta segelas susu dan sepotong roti untuk sarapannya. Mungkin setelah masak Gadis akan melanjutkan ritual tidurnya lagi.
Sarapan sambil masak sudah, mandi sudah, kini Gadis membawa sekantung sampah yang akan ia buang di tempat sampah besar di ujung dekat lift. Tidak ada yang aneh di sini, bekali-kali Gadis menyakinkan diri. Namun setelah ia berjalan kembali ke kamar, pintu di sebelah lagi-lagi terbuka sedikit dan mengeluarkan suara kartun sponge bob yang agak keras hingga terdengar di lorong.
Tengkuk Gadis merinding, ia langsung mengunci pintu kamar dan mengambil handphone untuk mengetik pesan kepada Dina, satu-satunya karyawan yang mengakrabkan diri setelah tahu latar belakang Gadis.
"Oh, shit!" Gadis mengumpat karena ada getaran panggilan masuk dari private number lagi ketika ia sedang mengetik.
2 kali, 3 kali...
Akhirnya Gadis memutuskan untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Halo," sapa Gadis, masih ramah.
"Halo..."
"HAL..."
DEGH! Gadis terdiam ketika mendengar suara kartun sponge bob dari panggilan tersebut. Telinganya tidak salah dengar. Berarti panggilan tersebut berasal dari...
Gadis keluar kamar, masih dengan handphone yang menempel di telinga kiri, dan sapu di tangan kanan. Gadis berjalan menuju unit 7A, yang sejak kemarin menyetel film sponge bob. Yang setiap Gadis lewat selalu membuka pintu sedikit, seolah menyuruh Gadis untuk masuk.
Dan kini, Gadis berdiri di depan tv ini. Yang sejak Gadis lewat tadi masih menyala dengan pintu yang terbuka sedikit.
Dada Gadis mencelos, ketika suara di telinga kirinya adalah sama dengan yang muncul di tv namun terasa gemanya.
Seketika itu pula muncul tangan dari belakang Gadis dan mengambil sapu tersebut serta melemparkannya ke dalam kamar. Gadis menunduk, takut dan diam tidak berkutik.
"Halo, Gadis."
Ya Tuhan, suara berat itu beserta barisan brewok halus yang belum dicukur menyentuh telinga kanan Gadis. Demi apapun, Gadis sudah menghindar dari orang ini namun ia tertangkap!
Gadis menoleh dengan tatapan tajam. Ia mundur ke arah jendela kamar, menghindar dari lelaki yang tinggi bandannya jauh melebihi Gadis.
"Nggak usah aneh-aneh, kalau kamu berniat lompat, maka kamu akan lihat aku lompat lebih dulu!" ancam lelaki itu.
Gadis menunduk dan masih berjalan mundur perlahan. Lelaki yang biasanya selalu tampil rapi dan bersih tanpa brewok, kini terlihat acak-acakan dan tampak lelah.
"Pulang yuk, Dis. Aku nggak bisa kamu tinggalin begini. Dan kamu jangan pernah bawa calon anak aku itu pergi dari sisi aku!"
Ya Tuhan, bagaimana lelaki ini tahu bahwa Gadis sedang hamil. Sedangkan saat Gadis kabur mereka baru sebulan merasakan jadi pengantin baru.
Pikiran Gadis berkelana...
"Saya berjanji akan selalu menjaga Gadis Jelita."
Suara lantang Abimanyu kala itu masih terngiang di kepala Gadis. Sebuah janji di depan kedua Orang Tua mereka berdua dan keluarga dekat. Yang diucapkan sore hari dengan latar sebuah danau buatan yang cantik.
Sebuah pernikahan yang sah dimata manapun. Saat itu meskipun bingung, namun Gadis cukup bahagia karena dinikahi oleh lelaki yang tampan dan mapan seperti Abi.
Mereka menikah, bulan madu dan merasakan manisnya menjadi pengantin baru. Sampai suatu hari, sakit kepala yang amat sangat datang menyerang kepala Gadis. Ia hampir pingsan, dan ketika itu ingatan tentang alasan ia dirawat di Rumah Sakit sebelum hari pernikahan pun berputar.
Gadis sedang dalam perjalanan menuju Ibu Kota bersama Riyan, kekasih yang belum sempat ia kenalkan kepada keluarganya. Lalu suara klakson beserta cahaya terang muncul dihadapan mereka. Seketika jeritan Gadis memecah malam yang sunyi di jalan tol itu. Riyan tergeletak dengan jarak 3 meter dari dirinya yang sama-sama penuh bercak darah. Gadis bahkan tidak bisa mengeluarkan tangisannya. Namun seseorang mengulurkan tangan, membopong tubuh Gadis yang saat itu juga hampir meregang nyawa.
Sayangnya ketika sadar, ingatan Gadis pada malam itu hilang. Dan Abi masuk bagai seorang pahlawan kesiangan. Ia memperkenalkan diri sebagai kekasih Gadis dan betapa bahagia keluarga besar Gadis ketika Abi berkata bahwa sebulan lagi mereka akan menikah.
Begitulah akhirnya.
Setelah sadar tentang masa lalunya, ditambah Gadis merasa perubahan pada tubuhnya, malam itu ia putuskan untuk kabur dari Abi.
Hanya Dina, orang yang tahu bahwa Gadis hamil. Makanya ia over protective pada hal apapun yang menyangkut Gadis. Ia merasa iba ketika ada wanita berusia 23 tahun melamar kerja dengan kondisi hamil muda dan ia berkata bahwa suaminya telah tiada.
Hemn, Abi berdehem. Membawa khayalan Gadis kembali ke dalam kamar luas ini.
"Dan kamu, berhenti nyebarin hoax ke orang-orang kalau suami kamu udah meninggal!" protes Abi, seolah bisa membaca pikiran Gadis.
"Aku nggak mau tinggal sama pembohong!" jerit Gadis. Untungnya sejak tadi Abis telah menutup pintu kamar yang kedap suara ini.
Abi melemah, ia bersimpuh di hadapan Gadis dan memeluk perutnya yang mulai terlihat menonjol.
"Iya maaf, aku mau ngomong tapi segan, Dis. Aku takut kamu marah. Meskipun aku tahu kalau sejak sore itu, jiwa raga kamu udah buat aku."
"Itu karena kamu nipu aku!" Gadis masih kesal. Kemarin ia memutuskan kabur karena merasa tidak cinta pada Abi. Tapi hari ini melihat lelaki rapi itu tampak semrawut, Gadis agak melemah.
Lagipula selama mereka bersama, tidak ada yang aneh dalam diri Abi. Dan dengan wajah Abi, maka masalah mereka sebenarnya masih bisa dibicarakan baik-baik.
"Ayo Nak, ajak Ibu pulang. Kasur Ayah kelebaran ditempatin sendiri," rayu Abi pada perut Gadis.
Gadis Jelita. Sebuah nama yang awalnya terdengar sangat PD ketika tidak sengaja Abi dengar dari meja sebelah. Namun begitu melihat wajahnya pertama kali, barulah Abi sadar bahwa Orang Tuanya begitu pas memberi nama. Seorang perempuan berambut panjang, wajah oval, hidung mancung dan bertubuh mungil itu terlihat berbinar ketika bicara dengan lelaki yang Abi artikan sebagai kekasihnya.
Pada sore menjelang malam itu. Di sebuah kafe bertema outdoor di kota kembang. Saat Abi sedang janjian dengan klien untuk membahas kerjasama. Begitu mobil plat Ibu Kota itu melaju, kebetulan Abi selalu berkesempatan jalan di belakangnya. Dan tragedi itu pun terjadi. Untungnya Abi sempat membanting stir dan tidak terlibat dalam kecelakaan. Lalu Abi hanya bisa menyelamatkan Gadis karena pria yang berlumuran darah itu menunjuk ke arah Gadis.
Begitulah awal mula kebohongan Abi. Ia hanya tidak rela kalau Gadis punya pacar lagi sepeninggal lelaki itu.
"Aku nggak suka dibohongin," isak tangis Gadis terdengar. Bagaimanapun juga, kebohongan Abi cukup fatal.
"Iya sayang, maaf."
"Mana bisa sih kamu paksa-paksa orang buat nikah sama kamu?!" protes Gadis masih dengan air mata yang mengalir deras. Hormon kehamilannya benar-benar membuat sensitif.
"Tapi kan pas malemnya kamu nggak terpaksa," lawak Abi.
Gadis menggetok kepala Abi. Biarin deh sama yang tuaan. Siapa suruh bikin kesal!
Setelah melihat wajah Gadis luluh, Abi menuntun Gadis duduk di atas ranjang. Tangannya membelai pipi putih Gadis, kangen sekali ia pada perempuan galak ini.
"Tadi udah makan? Vitamin yang segede jempol itu udah diminum?" tanya Abi yang sudah tahu jadwal makan Gadis karena sudah sebulan ini ia memasang CCTV di kamar Gadis. Bantuan terakhir yang teman lama kosan Gadis berikan pada Abi.
Sejak tahu kalau hamil, hidup Gadis memang berubah teratur. Dari jadwal makan hingga tidur. Makan pun hanya mau yang bergizi, makannya seblak yang nggak seberapa pedas itu ditolak mentah-mentah sama ini anak bayik. Karena ya, memang se-teratur itu. Mirip dengan Ayahnya!
Abi mengecup kening Gadis, kemudian kedua pipinya. Ketika ia sedang mengambil ancang-ancang lebih jauh, tubuh Gadis bergeser dan...
"HALO, PATRICK!" suara khas sponge bob menggema di dalam kamar. Ambyar sudah rencana Abi.
Gadis tertawa kencang dengan Abi yang masih menggaruk kepalanya, menahan emosi.
***
Gimana, gimana? Sudahkah kalian lelah baca cerpen tapi panjang ini? Sama, aku juga pegel ngetiknya wkwk.
Halo, perkenalkan aku Ndin. Ini pertama kalinya aku tulis cerpen di NT. Semua ide ini murni dari aku, jadi kalau ada kesamaan nama, tempat dsb mohon maaf itu diluar kendali aku ya. Karena diantara banyaknya cerita yang aku baca belum nemu model begini. Dan jangan bingung karena ini alurnya maju mundur syantik. Waktu dan tempat dipersilahkan untuk seluruh sarannya. Terima kasih semua.
Salam hangat, Ndin ❤️