Angin malam bertiup sepoi. Menimbulkan bunyi syahdu ranting pepohonan yang bertautan dengan dedaunan yang mengering, yang perlahan berjatuhan ke muka bumi.
Malam ini Rania terduduk seorang diri diteras balkon rumahnya. Tatapannya menerawang jauh menatap langit hitam yang tak berbintang. Senyum tipisnya terkadang terukir disela tangisnya yang tiba-tiba memecah. Rasa sesak itu terasa kembali lagi menyeruak relung hatinya, seakan kejadian dua puluh tahun silam bagai hadir lagi dipelupuk mata.
Sebuah kisah manis yang sejatinya tak ingin ia akhiri, namun terpaksa harus berakhir oleh karena keadaan yang tak pernah diinginkannya terjadi.
Dua puluh tahun yang lalu....
Suasana masih sangat pagi. Tetapi Rania sudah berangkat ke sekolah dengan senyum riangnya. Gadis itu masih kelas dua SMA. Langkah kakinya mengayun semangat dikala ia terbayang akan berjumpa kembali dengan kekasih pujaan hatinya, sumber penyemangat belajar tiap ke sekolah, dan apalagi kekasihnya itu merupakan satu-satunya pria paling tampan dan juga begitu cool. Pendapat itu bukan menurut Rania saja loh ya, sebab ketampanannya itu memang sudah diakui oleh seluruh kaum hawa yang sekolah ditempat ini juga.
Pria tampan itu adalah Fir. Firdaus Albushiri, nama lengkapnya. Sudah hampir tiga bulan Rania dan Fir saling menjalin ikatan kasih, meski sebenarnya tak banyak yang tahu jika mereka saling menyayangi. Bukan maksud ingin menutupi atau merahasiakan hubungannya itu, tetapi komitmen yang telah mereka sepakati agar hubungannya tak terendus oleh pemilik asrama yang Rania tempati, yang mana bila ketahuan pacaran oleh ibu pemilik asrama, maka siap siaplah Rania akan menghadapi sangsi yang sudah menjadi aturan ketat di asrama tersebut.
Rania sudah tiba dihalaman sekolah, lebih tepatnya saat ini ia sedang berdiri ditengah koridor panjang, bila ke kanan ia akan menuju kelasnya, bila ke kiri disitu ada kelas Fir, kakak kelas pencuri hati Rania.
Gadis itu masih tertegun ditempatnya berdiri. Otaknya sudah mulai berpikir antara pergi menemui Fir atau masuk kelas lebih dulu.
"Ah, kalau tidak kesana dulu, Fir nggak mungkin mengunjungiku."
Setelah menemukan jawabannya kemudian ia pun mantap melangkahkan kakinya menuju kelas Fir berada. Jangan tanyakan lagi bagaimana degup jantung Rania saat ini, selalu berdetak lebih dari biasanya tiap kali menatap pesona manis senyum Fir yang terukir indah. Itulah kehebatan Fir, pria itu selalu mampu membuat Rania semakin hari semakin menggila terhadapnya.
"Assalamu'alaikum, gantengku.." sapa Rania begitu mendapati Fir tengah duduk seorang diri didalam kelasnya.
"Waalaikumsalam," Fir tersenyum tipis, menatap syahdu pada Rania yang langsung duduk begitu saja pada bangku kosong disampingnya.
Pria itu menutup buku bacaan yang sedari tadi ia pelajari. Kemudian menopang pipi kirinya dengan tangannya, tatapan tajamnya masih menghunus pada kekasih centil yang sudah lancang mengutarakan perasaannya terlebih dahulu padanya. Yup, memang Rania lah yang terlebih dulu menyatakan perasaannya. Dan entah mengapa Fir juga membalas perasaannya. Apakah ini bukan berarti sebenarnya Fir juga menyukainya, cuma mungkin ia masih tinggi gengsi untuk menyatakannya terlebih dulu. Begitulah dugaan Rania, saat ungkapan cintanya itu disambut baik oleh Fir.
"Lagi belajar apa, sih?" Rania meraih buku tebal yang dibaca Fir tadi.
Fir menahannya, sembari sengaja menyentuh tangan Rania yang sedang memegang buku tebal itu. Tatapan elangnya masih terpasang, membuat Rania berdesir aneh seketika merasa akan diterkam olehnya.
"Jangan menatap gitu, dong... Malu tau!" Rania menarik tangannya, spontan ia jadi kikuk sendiri ditatap seperti itu oleh Fir.
Fir hanya terkekeh. Ia meraih tangan Rania lagi yang sengaja menutupi seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Pagi-pagi sudah kesini, kangen ya?" sapa Fir, ketika ia berhasil meraih tangan itu lagi dalam genggamannya.
Rania tertunduk malu, andai saat itu ada cermin mungkin Rania bisa melihat wajahnya yang memerah bak kepiting rebus.
"Ehem, tumben?" Fir menggeser jaraknya agar lebih mendekat pada Rania.
"Tumben apanya?" Rania pun sudah mengangkat wajahnya lagi, kembali saling bertatapan dengan Fir.
"Apa nggak ada kejutan gitu?" Sungguh pertanyaan yang sangat ambigu menurut Rania.
Gadis itu pun terdiam sejenak, meneliti makna dari pertanyaan kekasihnya itu. Kejutan apa coba? Minta kado?
"Ra, kok diem aja.." Fir menegur Rania yang terlihat bengong.
"Minta kejutan ya?" tanya Rania, setelah dirasa menemukan ide untuk jawaban pertanyaan Fir itu.
Fir hanya bergeming. Seperti sedang menunggu hal apa yang akan disampaikan oleh Rania setelah ini.
"Sini, aku bisikin.." Rania menuntun Fir untuk lebih mendekat padanya, dan bodohnya Fir menurut saja.
Cup.
Sebuah kecupan singkat mendarat di pipi Fir. Pria itu dibuat speechless oleh kelakuan kekasih bar-barnya itu. Terulas senyum Rania yang mengembang puas, tatkala menatap rona Fir yang bersemu merah.
"Oh my God!" tetiba sebuah suara melengking histeris dari arah pintu masuk kelas.
"Hemmm... pagi pagi dah dapat jatah, Fir?" godanya, yang sangat membuat Rania malu karena kepergok telah mencium Fir. Gadis itu adalah teman perempuan sekelas dengan Fir.
Fir tak menyahut apa-apa, ia hanya cengengesan sambil menggaruk tengkuknya, kikuk pastinya. Lalu setelah itu Rania nyelonong pergi dari kelas itu, sambil tertunduk malu dan rasanya tak berani menatap kepada Fir juga.
Setelah kejadian pagi itu, Rania dan Fir terus menjalani kisah asmaranya seperti biasanya. Rania yang selalu aktif mengunjungi kelas Fir, karena memang pada dasarnya Fir adalah tipikal pria pasif, jadi sudah pasti Rania harus aktif. Jika tidak begitu maka bisa dipastikan hubungan itu tak akan awet jika tidak ada yang bergerak salah satunya.
Akan tetapi tepat dihari ke seratus mereka jadian, saat itulah rahasia besar mulai terbongkar. Saat Rania mengetahui bahwa sebenarnya dirinya telah dijodohkan oleh ibu pemilik asrama dengan salah seorang pengajar di SMA Rania sekolah. Dan sialnya lagi rupanya kedua orangtua Rania juga menyetujui perjodohan itu tanpa setahunya.
Sakit. Itulah yang Rania rasakan. Tancapan pisau tajampun seakan kalah sakit dibanding kabar yang Rania ketahui. Gadis itu sering menangis seorang diri, tanpa ada yang tahu, bahkan tak pernah Rania mau ceritakan penyebab tangisannya itu meski sudah banyak dari teman dekatnya yang menanyai kesedihannya itu.
Semakin ia menyimpan kecewa yang menyesakkannya itu, semakin tak kuat pula ia membayangkan hubungannya yang harus berakhir dengan Fir. Karena memang Rania masih menyimpan rahasia itu dari Fir. Usut punya usut, calon yang dijodohkan kepada Rania adalah masih kerabat dekat dengan Fir.
"Ya Tuhan, aku nggak bisa. Aku nggak mau, aku nggak mau putus sama Fir. Aku sayang dia.." ucap Rania seorang diri, disaat ia sedang menunggu kedatangan Fir ditempat yang telah mereka sepakati, ketika tak sengaja berpapasan dengan Fir saat pulang sekolah tadi.
Memang semenjak Rania mengetahui dirinya telah dijodohkan, sejak saat itu Rania sedikit menghindar dari Fir. Bukan karena sengaja menjauhinya karena akan menjadi kakak sepupunya jika jadi berjodoh dengan calonnya itu, tetapi lebih pada rasa tak siap untuk berterus terang kepadanya tentang kabar itu.
Tak berapa lama setelah Rania menunggu Fir, akhirnya setelah itu Fir datang. Dari kejauhan ia sudah memasang senyum manisnya itu, tetapi tidak dengan Rania. Gadis itu menitikkan airmatanya lagi, tak kuat menahan sakit hatinya sebelum ia menceritakan yang sebenarnya kepada Fir.
"Hei, kamu kenapa?" sapa Fir, menatap iba pada Rania yang terduduk lesu dengan derai airmatanya yang terus menetes.
Rania tak segera menjawab. Ia hanya terus mencermati wajah Fir yang selama ini sukses menjadi penghuni hatinya, dan rasa itu terpaksa harus pupus oleh sebab keadaan yang tak pernah ia harapkan.
"A-aku..." Rania berusaha bersuara, disela isak tangisnya yang menjadi.
"Iya, kenapa? Kenapa harus menangis? Ada masalah?" Fir bertanya, masih terlihat tenang.
Rania mengangguk pelan. "Maaf, Fir..." ucapnya lagi, sudah menundukkan wajah, tak kuat lagi menatap lekat kepada Fir.
Fir terdiam. Ia menunggu ucapan Rania lagi.
"Maaf..." Rania bersuara lirih.
"Aku sayang kamu, aku nggak mau pisah sama kamu.." ucapnya lagi.
Fir masih bergeming, dengan kerutan tipis di keningnya. Pertanda mulai penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Rania.
"Aku dijodohkan, Fir. Ibu asrama diam diam menjodohkanku sama pak Sony, dan--" Rania memberi jeda ucapannya. Menghela nafas beratnya dan menghembusnya kasar.
"Dan dengan enaknya orangtuaku juga menyetujui perjodohan itu." Kali ini tangis Rania semakin menjadi, derai airmatanya yang meluap deras seakan menjadi bukti betapa sakit dan kecewanya ia pada keadaan itu.
Fir seketika tertunduk. Terdiam dengan wajah yang terus menatap tanah yang dipijaknya. Tanpa ada yang bisa menebak bagaimana lagi perasaan Fir saat mendengarnya. Dalam seperkian menit pula mereka sama-sama terdiam. Fir yang tetap termenung, Rania yang masih menangis lirih.
Dan sejak saat itu pula hubungan mereka mulai merenggang. Bukan putus hubungan, hanya sekedar menjaga jarak. Sebab memang tiada pernah terlontar kata putus dari keduanya. Sejatinya ikatan rasa cinta mereka tiada pernah berakhir, saling melempar tatapan rindu tiap kali tak sengaja bertemu. Saling mencintai dalam diam, dengan hati yang sama-sama saling berdoa semoga saja rasa ini masih terjaga seutuhnya.
Flashback off.
Rania mengusap derai airmatanya yang membasahi pipi tiada permisi. Rasa sesak itu kembali ia rasa meski sudah terjadi dua puluh tahun yang silam.
Memang cinta pertama itu sulit untuk dilupakan, meski harus berakhir pahit seperti yang pernah dialami Rania dengan Fir dahulu.
Wanita itu menghembus nafas beratnya berulang ulang, mengeluarkan paksa rasa sesak yang sama seperti dahulu tiap kali tak sengaja teringat tentang Fir.
"Semoga kau tenang disana, Fir. Do'aku selalu terpanjat buatmu." lirih Rania, sebelum akhirnya ia memilih masuk kedalam kamarnya, menuju peraduan menggapai mimpi pada malam yang terasa begitu hening.
RIP for Firdaus Albushiri. Dia pergi keharibaan Sang ilahi tepat setelah dua tahun saling menjaga hati yang tak pernah berakhir bersama Rania.
#The End