Jam menunjukkan angka setengah sebelas malam, aku baru keluar dari dapur tempat kerjaku karena malam ini pengunjung resto cukup ramai.
Aku berdiri di depan rolling door, di luar gerimis menghantarkan hawa dingin yang nenusuk kulit. Namun, tak mengurungkan niatku untuk menjemput anak dan istriku yang sedang berlibur di rumah neneknya.
Semalam istriku minta di jemput, katanya dia malas naik bus karena takut mabuk. Istriku memang pemabuk jika berhubung dengan kendaraan roda empat.
Ku langkankan kakiku menuju parkiran, tak mempedulikan gerimis tipis yang belum berhenti. Yang ku pikirkan saat ini agar segera sampai di desa mertuaku.
Ku nyalakan motor, setelah berpamitan dengan rekan rekan yang berada di parkiran, aku melajukan motor menuju rumah terlebih dahulu.
Sesampainya di rumah, ku masuki rumah yang selama seminggu ini tak berpenghuni. Aku memilih menginap di mess tempat kerjaku jika istriku tidak berada di rumah.
Tampak kotor, debu debu yang menempel pada lantai dan perkakas rumah, berpijak saja rasanya sangat aneh. Inisiatif ku bersihkan rumah terlebih dahulu sebelum berangkat.
Ku lirik jam sudah menujukkan angka sebelas malam kurang sepuluh menit. "Sebentar lagi, tunggu jam sebelas saja," gumamku lalu mengistirahatkan diri sebentar.
Aku harus menjemputnya malam ini, kalau tidak terpaksa menunggu sepuluh hari lagi setelah kepala koki selesai cuti dan kembali bekerja. Selama beliau belum masuk, maka tidak ada libur untukku.
Layar ponselku menyala, ku lihat jam sudah menunjukkan angka sebelas malam lewat seperempat. "Astagfirullah... kok bisa kelewatan sih?" gumamku. Lalu memasukkan ponsel dan rokok ke dalam tas, meraih jaket setelah itu bergegas ke luar dari rumah.
Gerimis telah berhenti. Namun hawa dingin masih terasa. Komplek perumahan sudah sepi, hanya sekumpulan pemuda yang berjaga di pos. Selebihnya tak ada lagi warga yang beraktivitas di luar rumah.
Setelah keluar dari komplek, barulah aku menambah kecepatan motorku. Hawa dingin semakin menusuk kulit, menembus ke dalam jaketku.
"Perjuangan!" batinku. Sambil fokus ke jalan.
Setengah jam kemudian, aku sudah keluar dari arena kota P dan mulai memasuki jalan menuju desa Mertuaku.
Tidak ada yang di takutkan, aku dan istriku sudah biasa pulang kampung tengah malam, lagipula jalannya tidak pernah sepi. Banyak truck truk yang melintas.
Blush!
Asap hitam mengepul dari knalpot truck, sangat menganggu pernapasan juga pemandangan. Di beberapa titik aku tak bisa melaju kencang sebab jalannya berlubang.
Tak lama kemudian segera ku salip truck besar tersebut dan mendahuluinya.
"Astagfirullah!" ucapku dalam hati.
" Apa itu tadi?" lagi, ucapku dalam hati. Seketika bulu bulu kudukku berdiri setelah benda putih melayang-layang di atas kabel listrik.
"Ah, pasti itu tadi layang layang yang nyangkut." Menyangkal pikiran anehku.
"Ya benar, pasti itu layang layang, nyangkut lalu di tiup angin."
Aku mulai memasuki jalan yang diapit oleh perkebunan karet, udara dingin semakin terasa, rasanya tubuhku mengigil.
Ku tambah kecepatan motorku menyalip truck truck besar agar segera sampai dan bertemu dengan anak dan istriku.
Sudah dua jam lebih aku di perjalanan, tak ada kendala apapun setelah layanangan nyangkut tadi. Sebentar lagi akan segera sampai. Senangnya hatiku dapat melihat wajah wajah orang yang ku sayangi. Walaupun mungkin mereka sudah terlelap.
Jarak semakin dekat, aku sudah tiba di perbatasan antar desa. Truck truck bermuatan besar itu semua melaju ke jalur kanan menuju provinsi J, semetara aku harus melaju di jalur S menuju desa mertuaku.
Sunyi semakin terasa, aku berkendara sendiri di jalanan yang sepi dan sedikit berkabut. Beberapa lampu jalan tidak menyala membuat suasana semakin mencekam. Sesekali terdengar lolongan anjing yang memekakkan telinga, tidak tahu mengapa anjing tersebut melolong. Dengan mengandalkan lampu motor aku semakin menambah kecepatan laju kendaraanku.
"Sepi sekali."
Aku mulai memasuki jalanan yang diapit oleh kebun karet lagi. Aku menggelengkan kepala karena penerangan jalan yang sangat minim. Beberapa kali roda motorku masuk ke dalam lubang.
Tiba tiba seorang nenek tua melambaikan tangan ke arahku, ia berdiri di bawah sebuah pohon cukup besar di pinggir jalan, lantas aku berhenti tepat di depannya.
"Mari saya antar, mau kemana Nek," tanyaku tanpa curiga.
Nenek tua tersebut diam, tiba-tiba sudah duduk di belakang. Tidak terasa gerakan nenek tersebut naik ke atas kendaraanku, aku cukup heran, pasalnya dia menggunakan kain. Bagaimana ia bisa naik dengan mudah?
Aku melajukan motorku, tak lama setelahnya dia menepuk pundakku tanda minta berhenti.
Nenek tua tersebut lantas turun. Tetap diam sembari menunjuk ke dalam area pemakanan, ku lihat tengah area pemakaman itu ada sebuah pondok kecil. Ku pikir rumahnya di sana.
Tanpa curiga, aku pun mengantarkan nenek tua tersebut ke tempat yang di tuju. "Mau buat apa di sini Nek?" tanyaku penasaran.
Beliau tetap diam, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Setelah dekat, barulah aku dapat melihat di sana ada sebuah keranda.
Langsung aku putar balik badan berjalan keluar area pemakaman itu dengan cepat, tanpa mempedulikan nenek tadi. Seketika bulu-bulu kudukku berdiri di tambah lagi hembusan again malam yang menusuk membuat suasana semakin menyeramkan.
Aku menyalakan motor, sebelum melajukan kendaraan roda dua tersebut, mataku melirik ke seberang, ternyata pemakaman juga. Ada sebuah plang yang bertuliskan TPU ASD, ini adalah TPU terakhir yang di lewati sebelum sampai ke rumah mertuaku. Sekali lagi ku layangkan padangan ke depan dan kebelakang, hanya terlihat hutan perkebunan karet, tak ada satu pun rumah warga.
Tak mau ambil pusing aku pun meninggalkan tempat itu dengan tanda tanya besar di kepala tenang siapakah nenek tua tadi.
Aku semakin bahagia, senyumku mengembang ketika badan jalan tak lagi dia apit kebun karet, melainkan perkebunan sawit. Itu artinya rumah mertuaku hanya tinggal beberapa kilo lagi.
Tiga puluh menit kemudian, akhirnya aku tiba di tempat tujuan hampir pukul dua pagi. Ku ketuk pintu rumah ibu, tak butuh waktu lama pintu pun terbuka. Istriku menyambutku dengan senyum manisnya, rupanya sejak tadi ia menungguku.
Aku langsung masuk ke dalam rumah, udara di luar sangat dingin. Semua penghuni rumah itu sudah terlelap kecuali istriku.
Ku peluk tubuh mungilnya, terasa hangat dan nyaman.
"Ayah kedinginan Bun," rengekku sembari melepaskan jaket di tubuh dan menyerahkan padanya.
"Mau langsung tidur atau Bunda buatkan kopi dulu." Tawarnya. Meraih jaket ku dan menggatungnya.
"Kopi dulu Bun." Pintaku.
Istriku bergegas ke dapur dan membuatkanku secangkir kopi panas, tak lupa dia mengambilkan makan juga. "Istriku memang baik," Batinku.
Segera ku lahap makan itu meski aku sebenarnya tidak lapar.
Keesokan pagi, kami bersiap kembali ke kota P.
Setelah berpamitan dengan ayah dan ibu, aku membawa istriku kembali ke rumah kami di kota P.
Di perjalanan, tepatnya di area pemakaman yang bertulis TPU ASD, aku melihat nenek yang ku tolong semalam, ia melambaikan tangan padaku tanda perpisahan.
Aku mengatakan pada istriku. Namun, istriku mengatakan dia tidak melihat siapapun di sana. Hanya pepohonan dan batu batu nisan yang di tangkap matanya.
Terima kasih sudah membaca cerpen ini 😊