Rumah itu begitu sunyi, tanpa suara, ya iyalah yang namanya sunyi sudah pasti tanpa suara iyakan?, ada-ada saja.
Kanaya ibarat patung, tak bergeming dan tak bergerak, dihadapannya terdapat tiga buah foto.
Walaupun hanya berjumlah tiga buah dan berbentuk persegi panjang dan ada gambarnya tapi itu mampu membuat dunia kecilnya serasa mengalami gempa 7 skala Richter.
Tsunami saat ini sedang bergejolak di hatinya. Bagaimana tidak?, suaminya yang dia banggakan dan dianggapnya setia ternyata punya peliharaan baru diluar sana.
Tidak main-main kali ini wanita itu sekelas dengan ular Python.
Masih jelas dalam ingatannya, Cynthia sahabatnya, telah memperingatkannya bahwa Dewa suami Kanaya sedang berselingkuh dengan tetangganya yang bernama Grace, tapi pada saat itu Kanaya sama sekali tidak menggubris perkataan sahabatnya itu.
Dipikirannya paling juga hanya rekan bisnis, dan hari ini ia mendapat kiriman tiga buah foto tanda bukti ketidaksetiaan suaminya itu.
"Benar-benar harus diberi pelajaran Mas Dewa, kurang apa aku?, berani-beraninya dia mengkhianati aku, aku buat jatuh miskin baru tahu rasa", geram Kanaya.
Perusahaan yang saat ini dipimpin oleh Dewa Dirgantara adalah milik Kanaya. Semenjak mereka menikah, Kanaya mempercayakan kepemimpinan perusahaan itu kepada suaminya.
Sekarang seenaknya saja dia menjadi pawang ular untuk wanita yang bernama Grace itu.
Kanaya mulai bergerak mengambil hp dan mulai menelpon Bayu salah seorang kepercayaan Papanya.
"Selamat siang Om, bisa kita bertemu hari ini?, Kanaya butuh nasehat dari Om saat ini, baiklah, besok kita bertemu di tempat biasa ya Om, terima kasih Om", Kanaya menutup pembicaraan.
Kanaya berpikir dirinya harus bertindak saat ini juga. Jangan sampai terlambat.
Malam itu Dewa pulang seperti biasanya, tetap mesra, tetap baik, begitu juga dengan Kanaya, dia tetap melayani suaminya dengan baik, Dewa sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya telah membangunkan macan betina dari tidurnya.
Keesokan harinya setelah suaminya berangkat kerja ia bergegas menemui Om Bayu di Cafe Breakfast Q milik Kanaya, salah satu dari tiga usaha yang dimiliki Kanaya selain toko bunga dan butik yang tidak diketahui Dewa.
Kanaya adalah wanita yang cerdas, sedari awal dia tidak pernah sepenuhnya percaya begitu saja dengan makhluk yang namanya Laki-laki.
Usaha itu dirintisnya dari sebelum bertemu dengan Dewa.
Di cafe, Kanaya menceritakan semua permasalahannya dengan Dewa kepada Om Bayu, sengaja ia tidak memberitahukan masalah ini kepada Papanya dikarenakan ia tidak ingin membuatnya khawatir.
Om Bayu mengerti akan hal itu. Oleh karena itu Om Bayu berjanji akan menyiapkan segala sesuatunya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Setelah mendatangi ketiga usaha miliknya, Kanaya kembali ke rumah, diperjalanan secara kebetulan ia melihat suaminya sedang menuju sebuah toko perhiasan yang terkemuka di kota itu bersama dengan seorang wanita.
Kanaya tidak ingin mencaritahu, biarlah mereka menikmati semuanya sepuas hati, sebelum jatuh di lubang yang terdalam tanpa bisa keluar dan menikmati cahaya lagi.
Setibanya di rumah, Kanaya mengambil semua perhiasan dan surat-surat berharga, membawanya ke bank milik pamannya dan menitipkannya di sana. Betapa enaknya bukan? apabila kita memiliki koneksi yang bisa dipercaya.
Kanaya lalu menikmati istirahat siangnya tanpa khawatir akan apapun, bagian terberatnya adalah melepaskan laki-laki yang sejujurnya masih ia cintai sepenuh hati.
Tanpa sepengetahuan Dewa, Om Bayu juga mulai bergerak cepat menguasai aset-aset perusahaan yang dipercayakan kepada Dewa serta mengembalikan semuanya ke pemilik semula yaitu Kanaya.
Sang ular betina mulai menunjukkan bisanya, karena merasa di atas angin dan yakin akan bisa menguasai semua harta, ia pun mulai menunjukkan wajahnya.
Dari mulai mendatangi Dewa di kantornya sampai dengan beraninya menemui Kanaya di rumah.
Kanaya yang sudah mengetahui gerak-gerik wanita itu, ia dengan senyum terkembang menemuinya. Saat ini keduanya sedang menunjukkan taring masing-masing, hanya saja Grace tidak sadar bahwa dirinyalah yang saat ini dalam bahaya karena memasuki singgasana sang macan betina.
"Silahkan, jelaskan siapa anda dan apa maksud anda menemui saya", tanya Kanaya dengan nada yang tegas.
"Saya Grace, istri Dewa, dan maksud saya kemari adalah saya ingin anda meninggalkan rumah ini, karena bagaimanapun juga, sayalah yang berhak menempati rumah ini beserta isinya, karena saat ini saya sedang hamil anak Dewa", jawabnya dengan sombong.
"Oh, sedang hamil ya, baiklah, tunggu sebentar, saya akan mengambil baju-baju saya dulu, karena terus terang anda pasti tidak akan mau bukan memakai baju bekas saya", Kanaya berdiri meninggalkan Grace yang terperangah karena tidak menyangka bisa semudah itu mengusir Kanaya pergi dari rumah itu.
Lima belas menit kemudian Kanaya sudah keluar dengan membawa dua buah koper, pelayan di rumah itu sudah ia pindahkan ke rumah lamanya yang ia miliki pada saat ia belum bertemu Dewa.
Jadi saat ini tidak ada siapa-siapa lagi di rumah selain dirinya dan Grace, dan apabila ia juga pergi, otomatis hanya ada Grace.
"Selamat menikmati tempat ini, hati-hati loh rumah ini berhantu, tuh ada yang melihat kita dari tadi", Kanaya menunjuk ke salah satu sudut rumah yang terlihat agak gelap.
Seketika tengkuk Grace merinding, maksud hati hendak menikmati rumah ini, apa daya rasa takutnya mengalahkan kesombongannya, ia pun berjalan cepat keluar rumah mengejar Kanaya yang lebih dulu meninggalkan rumah itu sambil tertawa.
Di perjalanan Kanaya berhenti di sebuah tempat, di dalam mobil ia menangis sepuasnya, teganya Dewa mengkhianati dirinya, kemana perginya semua rasa cinta itu, kemana hilangnya kenangan masa-masa saat mereka bersama.
Apakah semua itu tidak cukup. Kanaya berteriak dan menangis, perih seperti teriris pisau yang tak nyata.
Dewa merasakan perasaan yang tidak enak, di kantor pikirannya tidak tenang, nalurinya mengatakan sesuatu hal yang tidak menyenangkan akan terjadi, ia lalu menelpon Kanaya, tapi sepertinya hpnya non aktif.
Dengan cepat ia membawa mobilnya kembali ke rumah, betapa terkejutnya ia, mendapati rumah itu kosong, keberadaan Kanaya bagai ditelan bumi, Dewa lalu bertanya kepada satpam, satpam lalu menjelaskan bahwa tadi ada seorang wanita menemui Nyonya, tapi setelah itu satpam hanya melihat Nyonya nya pergi membawa dua buah koper besar tanpa berkata sepatah kata pun.
Tangannya mengepal, pasti ini ulah Grace, gagal sudah rencananya membicarakan hal ini secara baik-baik.
Ia lalu pergi, kali ini tujuannya adalah menemui Grace.
Sesampainya di apartemen tempat ia biasanya memadu kasih dengan Grace, secara tidak sabar ia lalu berteriak," Grace, apa yang sudah kau katakan pada istriku!".
"Sayang, ada apa? kok pulang marah-marah?, mengagetkan aku saja", jawabnya dengan suara manja.
"Jawab aku!, apa yang sudah kamu katakan pada Kanaya istriku!", teriak Dewa lagi.
"Akulah istrimu mas!, aku sedang hamil anakmu, dan aku memintanya keluar dari rumah itu, karena hanya aku dan anakmu yang berhak tinggal di situ", jelas Grace dengan sedikit emosi.
"Apa kau bilang!, Grace!, rumah itu milik Kanaya, dia yang lebih berhak atas rumah itu!, kau tidak tahu akibat dari semua yang telah kau lakukan!, kau tidak tahu semua kekayaan yang aku miliki sebenarnya adalah milik Kanaya, kita akan kehilangan segalanya, bersiaplah Grace, akibat keserakahan mu, kita akan kehilangan segalanya", Dewa terduduk lemas.
Rasa sesal memang datangnya belakangan.
"Kanaya, maafkan aku", setengah terisak mengusap wajahnya, hubungannya dengan Grace adalah sebuah kesalahan, ia berencana akan menjelaskan semuanya ke Kanaya, setelah Grace melahirkan anaknya, ia akan menceraikan Grace, dan berjanji setia kepada Kanaya serta tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Tapi semuanya terlambat, entah kapan ia bisa menemui wanita yang sangat dicintainya itu lagi.
"Grace, aku akan meninggalkanmu, jangan khawatir, aku akan membiayai semua biaya hidupmu sampai anak itu lahir, setelah itu aku akan menceraikan mu, kalau kamu tidak mau merawatnya, biarkan aku yang merawatnya, bagaimana pun aku tidak mencintaimu dan tidak akan pernah mencintaimu", Dewa kembali pergi.
Grace tidak menyangka semua ini akan terjadi, dia pikir dengan menjebak Dewa ia akan mendapatkan cintanya sepenuhnya, tapi usahanya sia-sia. Grace hanya bisa terduduk lemas.
Beberapa hari kemudian Dewa menghilang, rumah besar tempat saksi bisu cinta Dewa dan Kanaya di jual, dengan seizin Om Bayu, Dewa meminjamnya untuk membuka usaha baru, Dewa sudah mengakui semua kesalahannya kepada Om Bayu dan juga kedua orang tua Kanaya. Mereka memberikannya satu kesempatan lagi.
Sementara Kanaya, tidak ada satu orangpun yang mengetahui keberadaannya, ya tentu saja yang tahu tentu kedua orang tua Kanaya dan Om Bayu, tapi mereka semua menutup rapat mulut mereka.
Nafsu kadang kala mengalahkan segalanya, cobalah untuk setia.
🥀TAMAT🥀
Dari kemarin penulis bikin cerita sedih melulu, dari ga punya pacar, dipaksa menikah cepat, ga diterima mertua gara-gara mandul, sampai diselingkuhi, waduh bisa-bisa penulis yang masih sekolah ini jadi takut jatuh cinta. Selamat membaca, dilarang baper ya Kakak semua.