Ngomong-ngomong, ini adalah kisah nyata. Aku menulisnya dengan sedikit improvisasi. Sampai sekarang aku tidak tahu motif dan alasan apa yang membuat si penelpon iseng ini mengerjaiku.
Waktu masih kuliah, aku sedang dekat dengan seorang mahasiswi beda fakultas. Sebut saja namanya Tia. Kami belum berpacaran, tapi sepertinya dia mulai membuka hatinya untukku.
Jumat malam aku mencoba mengajaknya makan malam sambil pendekatan dan dia tidak menolak. Aku tak bisa menjemputnya karena aku belum tahu rumah Tia. Jadi agar mudah, kami bertemu di kampus setelah selesai kuliah.
Singkat cerita, sekitar pukul 8 malam kami selesai makan. Sebagai pria yang baik, aku mengantar Tia sampai di rumahnya. Ini pertama kalinya aku ke rumah Tia. Rumahnya berada di samping sebuah rumah kosong tak berpenghuni. Bahkan tak ada lampu yang menerangi rumah itu. Hanya mendapat sinar dari lampu-lampu di sekitarnya. Sempat sekali aku melirik rumah itu lalu berpamitan pulang.
Sesampainya di rumah, aku membersihkan diri dan langsung masuk kamar. Tentu saja aku mengirim pesan pada Tia kalau aku sudah sampai rumah. Lalu obrolan chat berlanjut sampai pukul 10 malam dan dia pamit tidur. Sedangkan aku masih sibuk bermain game sampai jam 12 malam.
Tiba-tiba ditengah permainan ada sebuah panggilan telepon dari nomor yang tidak di kenal. Aku langsung mengangkatnya.
"Halo." Sapaku.
"Niel, kamu kok belum tidur?" Terdengar suara perempuan dari seberang sana.
"Ini siapa?"
"Ini aku."
Perempuan yang hobi tebak-tebakan seperti ini sudah jelas ingin aku bersikap peka dan langsung menjawab tebakannya dengan benar.
"Tia?"
Aku reflek menyebut nama Tia karena suaranya sama persis. Lagipula wanita yang kadang ku telpon selain mama adalah Tia.
Tapi tak ada validasi dari seberang sana. Hening. Jadi kuanggap memang Tia yang menelpon.
"Ini nomor siapa? Kamu punya dua nomor?" Tanyaku lagi.
"Aku melihatmu. Kamu sedang pakai kaos merah, kan?"
Wanita di seberang sana tidak menggubris pertanyaanku dan langsung beralih topik. Aku memang berganti pakaian setelah bertemu Tia, seperti yang penelpon ini katakan.
"Ya. Katanya mau tidur? Ada apa? Nomor yang biasanya kenapa?" Tanyaku.
Aku masih mengobrol dengan biasa tanpa merasa ada yang aneh. Dan lagi dia tak menjawab pertanyaanku yang jauh lebih penting.
"Kamu sedang rebahan. Menghadap ke arah utara."
"Apa?"
Aku mulai menyadari kalau semua ucapan perempuan misterius ini selalu tepat. Dia bahkan tahu dengan detail bagaimana aku saat ini. Padahal aku sedang berada di kamarku. Kamarku pun tanpa jendela. Tidak mungkin orang dapat mengintipku. Tunggu, lagipula untuk apa perempuan mengintipku tengah malam begini?!
"Kamu ternyata ganteng ya." Ucapnya lagi.
Suara perempuan yang terdengar enak ditelinga ini tiba-tiba terasa menakutkan untukku. Biasanya aku akan menanggapi candaan orang dengan sikapku yang narsistik. Tapi aku tahu tak mungkin Tia yang cuek dan polos itu memujiku ganteng. Apalagi tengah malam begini. Apa dia sengaja menggodaku? Aku mulai yakin kalau ini bukan Tia.
"Niel?" Panggilnya membuyarkan lamunanku.
Ia sepertinya tahu aku mulai menyadari keanehan ini. Ku pikir dia memata-mataiku. Tanpa menutup telepon itu, aku langsung keluar rumah. Melihat sekeliling rumah dengan seksama. Sepi tak ada siapapun di sekitar sini. Kalaupun dia memantauku dari jauh, mana bisa menebak sedetail ini?
"Kamu siapa?!" Tanyaku sedikit kesal.
Lagi-lagi tak ada jawaban dari sana. Mungkin karena aku mulai sedikit takut, dengan cepat ku tutup teleponnya.
Tapi beberapa detik kemudian nomor tak dikenal itu kembali menelponku. Aku tidak ingin mengangkatnya lagi. Perasaan kesal dan takut bercampur aduk. Aku menolak panggilan itu lalu fokus mencari kontak Tia di handphoneku. Ternyata tersambung tapi berkali-kali aku menelpon, Tia tidak mengangkatnya. Jangan-jangan memang sudah tidur. Lalu yang tadi siapa?
Aku menyerah. Aku mematikan handphoneku agar si penelpon misterius itu tidak menggangguku lagi. Lalu aku kembali ke kamar. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan siapa si penelpon barusan.
Awalnya kupikir dia temanku yang iseng dan mencoba menggodaku. Tapi aku sangat jarang dekat dengan teman perempuan sampai dia bisa bicara "sok akrab" denganku. Dan lagi bagaimana dia bisa menebak semua yang ku lakukan dengan tepat? Anggaplah tadi hanya tebakan kebetulan tapi kenapa bisa sedetail itu?
Dan kemungkinan paling tidak masuk akal adalah ada yang memata-mataiku. Tapi untuk apa orang memata-mataiku? Aku bukan orang penting apalagi orang terkenal. Ini sangat aneh.
Kejadian semalam sukses membuatku tidak bisa tidur sama sekali. Alhasil paginya aku mengantuk dan bolos kuliah. Siangnya aku bertemu Tia di kampus.
"Kamu menelponku semalam?" Tanyaku penasaran.
"Semalam? Tidak. Bukankah kita hanya chat biasa?" Ucap Tia masih santai.
"Maksudku tengah malam. Apa kamu menelponku?"
"Tentu saja aku sudah tidur. Untuk apa menelponmu tengah malam?"
"Kamu menelponku pakai nomor lain. Suaranya jelas seperti suaramu."
"Kamu bicara apa sih? Nomorku yang mana? Nomorku hanya satu."
Tanpa basa basi, aku menjelaskan kejadian aneh tadi malam dan menunjukkan riwayat panggilan di handphoneku.
"Jadi karena ini kamu menelponku tadi malam?" Tanya Tia. Aku hanya mengangguk. "Coba di telepon ulang."
"Aku sudah mencobanya berulang kali tapi nomornya tidak aktif."
"Sudahlah. Mungkin orang iseng."
Tia mengakhiri rasa penasaranku yang belum terjawab sampai sekarang. Aku juga tak ingin berargumen lagi dengannya. Lebih baik melupakan kejadian itu.
Sebenarnya mendapat telepon misterius seperti ini bukan pertama kalinya untukku. Sebelumnya, pagi-pagi sekali aku pernah di telepon dengan nomor dan suara temanku yang sangat ku kenal. Kali ini teman laki-laki. Ia mengabari kalau jadwal mata kuliah Fisika II dimajukan. Aku sudah terburu-buru berangkat di jam tersebut. Sesampainya di kampus tak ada orang sama sekali, dosen atau teman sekelas pun tak ada. Lalu aku kembali menelpon temanku untuk konfirmasi. Dia bilang, dia tidak menelponku tadi pagi.