Buah mangga milik pak Danu mulai matang, warnanya dari kejauhan terlihat sedap. Kuning kehijauan, sudah waktunya panen.
"Kira-kira kalau kita meminta beberapa saja dikasih tidak ya?" ujarku pada kedua sahabat, sepulang sekolah saat melewati kebun mangga pak Danu.
"Mimpiii, kau tahu siapa pak Danu itu kan? Juragan buah super pelit pahit perhitungan keked mengkene merege hese," cibir Udin dengan bibir dimonyong-monyongin.
"Barang satu atau dua biji aja, buahnya dari jauh aja sudah kelihatan ranum. Sayang kalau keduluan kampret," ungkap Joni sahabatku yang kedua setelah Udin.
Tiba-tiba sebiji mangga jatuh tepat dihadapan kami bertiga yang sedang berjalan menuju rumah, mangga itu berguling menyentuh sepatu yang dikenakan Joni. Kami saling pandang, buah matang yang jatuh sendiri terlihat ranum.
Kami spontan mengedar mata untuk memastikan tidak ada siapapun. Selain pak Danu yang pelit, buruh yang bekerja padanya pun sama menyebalkannya mereka sering mengadu jika ada warga yang mengambil buah mangga walaupun buah yang terjatuh atau buah yang hampir busuk.
Biasanya pak Danu akan mendatangi rumah orang yang mengambil buahnya untuk dimintai uang, sebagai imbalan karena sudah mengambil mangga di kebunnya walau mangga terjatuh atau mangga setengah busuk.
"Ambil gih!" Aku menyikut Joni karena buah itu tepat di depan sepatunya.
"Tapi ...," Joni merasa ragu, takut tiba-tiba pak Danu datang atau pekerjanya melihat ia mengambil buah yang terjatuh itu.
"Aman kayaknya," Udin menimpali matanya diedarkan berulangkali memastikan tak ada orang selain kami bertiga.
Joni memungut mangga itu dengan tangan gemetar, sigap ia masukkan ke balik seragam sekolahnya yang lusuh.
"Ayo!"
Entah siapa yang mengomandoi kami bertiga langsung berlari setelah Joni menyembunyikan buah mangga itu, sekuat tenaga menyusuri jalan aspal berlari tanpa henti sesekali kami bertiga menengok. Takut jika ada yang mengetahui perbuatan kami, lalu diadukanlah pada pak Danu. Bisa repot kami dicambuk sapu lidi oleh emak-emak kami karena sebiji buah mangga.
Kami berhenti di sebuah pos ronda di ujung kampung, duduk di bangku menguliti mangga yang terjatuh tadi. Joni yang pertama memakannya, lalu kemudian ia menyerahkannya padaku. Kugigit daging buah yang berwana kuning cerah, manis sekali dan segar rasanya. Lalu terakhir Udin, hingga buah ituh habis menyisakan biji berserabut.
"Manis banget, duh gak nyesel aku memakannya," ungkap Joni menjilati jari-jari tangannya.
"Iya, tapi gak halal kita gak izin dulu sama pemiliknya," Udin merengut.
"Ah kamu ini giliran dah habis baru bilang begitu, seharusnya pas di jalan dekat kebun tadi kamu bilang seperti itu," sungut Joni tak terima.
"Tapi Jon kata pak ustad ...."
Aku hanya tertawa dengan kelakuan dua sahabatku.
"Sudahlah, udah kadung dimakan ini. Sebaiknya berdoa saja pak Danu tak datang ke rumah, menagih uang buah mangga yang kita makan tadi." Ujarku sambil membersihkan sisa mangga di tangan dengan sapu tangan yang disiapkan pagi tadi oleh Emak.
Kami mengubur sisa kulit dan biji mangga supaya tidak ada yang tahu kami mengambil mangga jatuh itu, lalu berlekas pulang menuju rumah masing-masing. Kami bertiga akan bertemu lagi saat mengaji maghrib nanti.
***
Sore itu, selesai mandi aku bersiap menuju masjid untuk salat maghrib berjamaah dan mengaji. Namun kulihat emak dan bapak pun sedang bersiap akan pergi, Nadya adikku merengek minta ikut.
"Mau kemana mak?" tanyaku penasaran.
"Ada tetangga yang meninggal Rif, kamu di rumah saja jaga Nadya. Libur ngaji dulu, jangan lupa mengunci pintu selepas emak sama bapak pergi ya!" kata Bapak.
Ada rasa kecewa hari ini tak bisa bertemu dengan Udin dan Joni, tapi tak mungkin aku pergi jika disuruh menjaga Nadya. Kutelepon satu-satu sahabatku, tak dinyana ternyata mereka juga sama tak pergi ke masjid. Alasannya sama orang tua mereka akan melayat tetangga yang meninggal di kampung kami, entah siapa orangnya? Aku tak mau ambil pusing.
Jam menunjukkan pukul 22.07, orang tuaku belum juga pulang. Nadya sudah terlelap di kamar orang tuaku, menekan tombol remot memindahkan chanel televisi.
"Tak ada yang seru," gerutuku sambil mematikan televisi, beranjak dari sofa hendak menuju peraduan.
Saat akan merebahkan badan, terdengar ketukan di pintu depan. Orang tuaku pulang, begitu pikirku tak jadi merebahkan diri berjalan mendekati pintu untuk membuka kunci. Aku tak mengintip dulu lewat jendela, karena yakin orang tuaku yang mengetuk pintu minta dibukakan.
Namun alangkah kagetnya, ternyata saat dibuka pintu depan tak ada seorang pun. Aku menggaruk-garuk kepala, melongok mencari orang yang mengetuk pintu. Nihil, jalanan depan sepi tak satu pun orang yang lewat.
"Ah sudahlah," bisikku kembali menuju kasur untuk merebahkan diri.
Tok tok tok.
Suara ketukan di pintu terdengar lagi, aku pun kembali membuka pintu dan hasilnya tak ada siapapun di depan pintu. Mendadak bulu kuduk meremang, aku banting pintu memutar kunci sebanyak dua kali. Kali ini aku menuju kamar orang tua, merebahkan diri memeluk Nadya sambil menutup kepala dengan selimut.
Tok tok tok.
Lagi, terdengar ketukan. Namun kali ini ketukan berpindah ke jendela kamar orang tuaku yang tertutup tirai, aku terkesiap ketakutan. Merapatkan pelukan pada Nadya yang pulas, sedangkan aku menggigil ketakutan.
Bulan sepertinya bersinar terang malam ini, terbukti siluet seseorang di jendela terlihat jelas olehku saat mengintip di balik selimut. Sesosok bayangan seperti guling, dengan ikatan di pucuk kepalanya. Aku gemetaran hebat, keringat dingin mulai membanjiri.
Nadya berontak dari pelukanku, mungkin terlalu kencang. Ia pun menendang selimut yang kupakai untuk bersembunyi, karena gerah. Aku hanya terpaku, Nadya mengubah posisi tidurnya memunggungiku. Sosok itu masih berdiri di sana di depan jendela tertutup tirai.
Tok tok tok.
Aku berusaha mengucap doa, tapi suara malah tercekat di tenggorokan. Sosok itu masih disana, mengetuk pintu.
"Emak, Bapak cepat pulang!" batinku, terasa mata ini mulai memanas. Berusaha memejam mata, selimut yang ditendang Nadya tak aku ambil saking ketakutan. Hawa kamar ini menjadi sangat panas, sedikit membuka mata menuju jendela. Sosok itu sudah tak disana.
Fiuh, aku menghembus napas lega. Jam di dinding kamar orang tuaku menunjukkan pukul 22.20. Bangkit perlahan, beranjak menuju kamarku meninggalkan Nadya yang pulas.
Akhirnya aku merebahkan diri di kamar sendiri, nyaman memang rasanya. Tak lama aku memejamkan mata, tapi entah kenapa telingaku medengar bisikan lirih.
"Kembalikaaan manggaku ... kembalikaaan manggaku ...," suara serak berat terdengar saat aku terpejam.
Sontak aku membuka mata, suara itu dekat sekali. Bukan dekat lagi, tapi memang bisikannya benar-benar di telingaku. Aku yang kala itu dalam posisi terlentang, mendadak kaku hanya mata saja yang bisa digerakkan. Suara itu berada di sebelah kiri, kutolehkan mata ternyata ....
Sesosok pocong sedang menatapku dalam posisi tidur menyamping, wajah penuh kapas dengan mata tinggal putihnya saja menatapku. Aku sepertinya mengenal wajah itu, seorang laki-laki paruh baya pemilik kebun mangga sang juragan pelit, Pak Danu.
"A - aaa ...," hanya suara tak jelas yang keluar dari mulutku, sukses aku nangis saat itu.
Bau bangkai menyeruak dari mahluk berkafan, jantungku serasa berhenti berdetak. Sekali lagi terdengar ucapan lirih dari sosok tersebut, kenapa sosoknya harus seperti pak Danu. Ia meminta buah mangga yang kumakan bersama dua orang sahabatku dikembalikan.
"Kembalikan manggaku! Kembalikan manggakuuu!" Suara lirih sosok itu makin berat dan serak hingga memekakan telingaku. Akhirnya gelap, tak sadarkan diri.
***
"Rif, Arif!" Terdengar suara pintu digedor, jam menunjukkan pukul 02.30. Aku mengucek mata, ah rupanya setelah pingsan tadi aku tertidur.
"Rif, buka pintunya ini emak sama bapak pulang!"
Aku bergegas menuju pintu untuk membuka kunci, menghambur dipelukan emak. Aku nangis sejadi-jadinya. Emak sama Bapak keheranan dengan tingkahku.
"Kenapa kamu rif?" tanya Emak memapahku menuju sofa.
Sementara bapak masuk ke kamar mengecek Nadya, mungkin karena adikku masih lelap bapak menemui aku dan emak diruang tengah.
"Maaak, tadi aku diteror pocong yang wajahnya mirip pak Danu, juragan mangga."
Raut wajah emak dan bapak berubah tegang, mereka saling melirik. Aku menelan ludah, terbayang wajah penuh kapas di pelupuk mata.
"Mimpi kali kamu rif," ujar bapak sepertinya tak percaya dengan yang kualami.
"Sumpah demi Allah pak, masa arif bohong udah sumpah bawa-bawa nama Allah juga."
"Duh, gimana ya pak ... Arif sepertinya berbuat salah sama almarhum," imbuh ibu sambil mengusap kepalaku.
"Eh almarhum Mak? Emang siapa yang meninggal?"
"Wajar saja jika kamu salah, qorinnya datang menagih. Emak sama Bapak melayat Pak Danu, beliau meninggal terpeleset saat turun dari pohon mangga. Kepalanya terbentur batu cadas, sebelum maghrib."
Deg, jantungku berdetak kencang, jangan-jangan pak Danu menagih buah yang kami makan tadi. Sampai-sampai qorinnya datang menakut-nakuti. Akhirnya tangisku kembali meledak, merasa berdosa. Benar kata Udin, buah yang dimakan tak halal. Namun kalaupun kami minta juga percuma pasti akan dimintai uang atau buah yang kami pungut itu dikembalikan.
"Maafin Arif Maaak, Paaak, huaaaa ...,"
"Lah lah lah, kenapa kamu Rif?"
"Arif bareng Udin dan Joni, tadi siang mungut mangga jatuh di jalan deket kebun Pak Danu, kami memakannya di pos ronda, padahal Udin dah memperingatkan masalah kehalalan mangga tersebut tapi kami malah mengabaikannya mak ...,"
"Astagfirullah, kalian ini. Buah walaupun jatuh gak berhak kalian pungut lalu memakannya tanpa izin pemilik," sergah Bapak membuatku menyesal.
"Ya Pak, tapi kami terlalu takut jika pak Danu gak akan memberi atau bahkan meminta bayaran dari sebiji mangga. Bapak kan tahu pak Danu itu terkenal pelit lagipula hanya satu buah Pak itupun dimakan bertiga" Aku membela diri.
"Tetap saja kalian salah, bisa jadi karena tidak halal Allah memberi kalian hukuman dengan diganggu oleh qorin pak Danu supaya sadar telah memakan yang bukan hak," tegas Emak,"besok minta maaflah pada istri almarhum, gantilah mangga yang dimakan dengan sejumlah uang supaya menjadi halal."
***
Sepulang sekolah kami pergi kerumah almarhum pak Danu, Joni serta Udin mengalami hal yang sama semalam. Bahkan Joni mendapat gangguan lebih parah dariku, semalaman ia tak bisa tidur apalagi orang tuanya tak pulang. Hingga pagi ia terbangun tak sedetik pun ia dibiarkan lelap oleh pocong tersebut.
"Ranjangku diguncang-guncang, bahkan pocong itu terus saja menampakkan diri. Aku sampai kencing di celana saking takutnya," tukas Joni lemah.
"Aku malah diperlihatkan wajahnya yang berbalut kapas, bau busuk bangkai membuatku mual. Pocong itu melayang di atasku wajahnya dengan wajahku hanya berjarak 10 cm," timpal Udin.
Tiba di sebuah rumah mewah berlantai dua, di halaman rumah berjejer bunga ungkapan bela sungkawa. Ragu-ragu ketiga anak remaja kelas 8 SMP itu melangkah, nampak segan dengan angkuhnya bangunan mewah bak istana itu.
Setelah sekali memencet bel, seorang wanita paruh baya membuka pintu.
"Adek-adek ini siapa? Ada keperluan apa?" tanya ibu tersebut.
Joni dan Udin menyikutku supaya bicara, "euhm maaf bu, kami ada perlu dengan pemilik rumah ini. Perihal buah mangga."
"Oh, kalau begitu silakan masuk dulu! Saya akan bilang sama ibu nanti beliau akan menemui kalian," ibu tersebut membuka pintu mempersilakan kami masuk dan duduk di sofa putih yang empuk.
Ibu tadi naik ke lantai dua, kami bocah hanya bisa ternganga melihat isi rumah almarhum juragan buah. Serba mewah, bahkan sofa yang kami duduki selain empuk juga lembut. Beberapa menit kemudian muncul ibu tadi bersama seorang perempuan berhijab cantik dan wangi, parfumnya sampai tercium beberapa meter sebelum mendekat pada kami.
Terlihat perempuan wangi berbisik pada si ibu yang mempersilakan kami masuk, lalu ibu itu pergi ke belakang. Beliau adalah bu Nani istri pak Danu.
"Adik-adik ini ada perlu apa datang menemui saya?"tanya beliau lembut.
"I-itu, kami kemari karena mau minta maaf atas kelakuan kami bu," tuturku pelan, Udin dan Joni hanya menunduk memainkan kaki-kaki mereka.
Ibu yang ternyata adalah asisten rumah tangga tadi, membawa tiga gelas berisi jus jeruk dan sepiring cemilan di atas nampan. Ia menyajikannya di hadapan kami.
"Silakan diminum!"
Bu Nani mempersilakan kami minum, ragu-ragu kami bertiga saling berpandangan. Akhirnya aku yang pertama mengambil segelas jus jeruk, disusul oleh Joni dan Udin.
"Kelakuan apa yang kalian lakukan?" tanya Bu Nani.
Gelas kuletakkan kembali,"kemarin kami memungut sebiji mangga yang jatuh dari kebun almarhum."
"Tapi kan itu jatuh bukan kalian petik langsung dari pohon, tak jadi masalah koq. Saya tak marah," ucap bu Nani tersenyum.
Berbeda dengan suaminya Bu Nani memang terkenal baik dan dermawan, masyarakat walau tak suka dengan almarhum tapi mereka menghormati dan segan karena Bu Nani Istrinya yang tak perhitungan.
"Bukan begitu Bu, kami bertiga ini mengalami teror pocong yang mirip almarhum. Meminta mangga yang kami makan dikembalikan, untuk itu mohon maafkan kami dan ini sejumlah uang untuk menghalalkan mangga yang kami makan kemarin," aku menyerahkan uang 10 ribu rupiah pada bu Nani, tapi beliau menggeleng menolak uang tersebut.
"Saya tak akan menerimanya, sudah tak apa. Mangga tersebut sudah halal. Justru saya yang harusnya meminta maaf, karena kalian sampai diteror oleh pocong hanya karena sebiji mangga." Suara bu Nani bergetar,"selama hidupnya suami saya sering dzolim pada warga yang terkadang tak sengaja memungut mangga seperti kalian, meminta ganti rugi walau mangga itu sudah busuk. Sampai-sampai saat meninggal pun masih saja beliau meneror. Maafkan saya."
"Ah, Bu bukan beliau yang meneror, kata ustad orang yang sudah meninggal sudah tak ada urusan dengan duniawi. Yang selama ini selalu disebut menghantui itu ulah jin, menyamar jadi orang yang meninggal dan menakuti orang, makanya kami bilang pocong yang mirip almarhum pak Danu." jelasku.
Kami tak lama, setelah meminta maaf kami bergegas pulang. Namun, tiba-tiba bu Nani meminta kami menunggu sebentar.
"Tunggu adik-adik, saya mau kalian menerima sesuatu dari saya jangan ditolak ya!"
Tiga keranjang buah mangga di berikan pada kami masing-masing satu keranjang, senyum terkembang dari bibir kami bertiga.
"Terima Kasih bu," ucap kami berbarengan.
"Tak usah sungkan, jika kalian memang mau buah mangga jangan segan-segan datang kemari."
Kami bertiga pulang dengan hati lega, senang bukan main pula diberi sekeranjang buah oleh Bu Nani.
Alhamdulillah semangat menulis kembali, bikin cerpen dulu sebagai pemanasan sebelum lanjutin cerbung Tumbal Kejayaan