Aya Rosaldi duduk termangu didepan cermin. Matanya menatap bayangan gadis cantik didepannya yang memakai gaun pengantin. Tangannya menyentuh permukaan cermin dengan tidak percaya. Bayangan itu bergerak mengikuti gerakannya.
“Apa yang terjadi?” Gumam Aya, lagi-lagi bayangan itu menggerakkan bibirnya seperti dirinya.
Menunduk mengamati buket bunga mawar ditangannya, Ia bertanya-tanya apakah Ia tengah bermimpi. Ruangan disekitarnya terlalu jelas untuk disebut mimpi. Tapi wajah asing didepannya tidak bisa dijelaskan kecuali dalam mimpi. Ingatan terakhir yang Ia miliki adalah pemandangan balok-balok kayu yang berjatuhan dari atas.
Ya, dia adalah seorang karyawan sebuah perusahaan kontraktor. Ia bekerja menjadi asisten seorang arsitek. Meskipun pada kenyataannya Ia diperlakukan seperti tukang bangunan. Atasannya selalu menyuruhnya untuk mengangkat batu-bata, peralon, atau alat-alat bangunan lainnya di area konstruksi. Ia merasa atasannya itu salah mengartikan kesetaraan gender.
Mungkin Aya tengah sial hari itu, kecelakaan terjadi ditempat Ia bekerja. Tumpukan balok diatas gedung tiba-tiba jatuh menimpanya. Seharusnya Ia telah mati terkubur puluhan balok yang beratnya mencapai ratusan kilogram. Tapi saat membuka matanya, Ia telah terduduk didepan cermin dengan gaun yang pasti tidak akan mampu dibelinya. Wajah asli miliknya yang kusam dan gelap karena bekerja sebagai kuli telah digantikan dengan kulit putih bersih dan halus.
“Nona, acara akan dimulai dalam waktu sepuluh menit. Presdir tengah menuju kesini menjemput Nona.” Seorang wanita paruh baya membuyarkan lamunannya, Ia berbicara dengan tatapan hormat kepadanya.
“Presdir?” Tanya Aya bingung saat pintu diketuk dengan pelan dan seseorang masuk.
“Putriku! Kau terlihat menawan hari ini, ayah hampir tidak mau melepasmu!” Ujar pria berjas hitam itu sambil menitikkan air mata.
“Presdir Jang, anda tidak boleh menangis diacara pernikahan Nona muda,” saran wanita paruh baya itu sembari menyerahkan tisu kepadanya.
Aya yang kini telah bereinkarnasi menjadi wanita muda yang selalu diimpikannya berkata dalam hati, ‘Hey, sepertinya aku menjadi nona muda dari keluarga kaya. Bukankah ini Presdir dari perusahaan Jang Electronic? Aku melihatnya beberapa kali di TV!’
“A-ayah bercanda!” Ucap Aya menyambut tangannya yang terulur membantunya berdiri. Meskipun panjang, gaun yang dipakainya terasa ringan dan nyaman.
“Meskipun sudah menikah, kau tetap putri ayah. Jangan segan untuk menghubungi rumah jika kau memiliki masalah!” Presdir Jang yang mengaku sebagai ayahnya berkata dengan serius. Ia membantu Aya menutupi wajahnya dengan cadar putih yang membuat padangannya seperti berkabut.
“Terimakasih ayah,” Jawab Aya dengan kaku. Ia sendiri seorang gadis yatim piatu dikehidupan sebelumnya. Tanpa disangka, setelah meninggal semua keinginannya terkabul. Ia selalu berharap memiliki keluarga dan kemampuan makan tiga kali sehari tanpa kekhawatiran.
Mereka berjalan keluar menuju ruang upacara pernikahan. Suara MC yang meminta mempelai wanita untuk memasuki altar pernikahan terdengar menembus pintu yang tertutup. Aya berjalan masuk didampingi ayahnya dan dua anak kecil penyebar bunga didepannya.
Ia mengangkat kepalanya berusaha melihat calon suaminya. Apa yang membuatnya terkejut adalah sosok pria tinggi yang berdiri tegap didepan altar dengan wajah tampan.
Pria ini calon suaminya? Wow! Ia pasti telah memenangkan lotre di kehidupan ini!
Ayahnya mengantar Aya duduk disebelah pria itu, Ia berpesan agar Denis menjaga buah hatinya. Pria itu menyanggupinya dan duduk didepan penghulu disaksikan beberapa saksi pernikahan.
“Apa kau Denis Yanuar Ramdhan menerima Ayla Young Saputri sebagai istri sahmu…”
Pertanyaan penghulu itu tidak lagi diperhatikan Aya saat Ia mendengar nama suaminya.
Denis Ramdhan? Bukankah Ia CEO muda misterius yang namanya bahkan tersebar luas dikalangan bawah?
Denis menarik ujung baju Aya dengan pelan saat gadis itu terdiam saat gilirannya menjawab pertanyaan penghulu. Aya tersentak dari keterkejutannya dan menjawab dengan terbata.
“Y-ya, saya bersedia!”
Setelah mendengar keduanya setuju dan bersedia menikah, ucapan ijab qobul mulai diperdengarkan dengan suara mantap. Proses itu terjadi seperti mimpi bagi Aya, Ia seakan melihat adegan film didepannya.
“Sekarang kalian sah menjadi pasangan suami istri.”
Suara saksi pernikahan terdengar lega mendengarkan ucapannya. Pria disampingnya bergerak membuka cadar yang menutupi wajah sang istri. Keduanya terpaku saat akhirnya mereka bertatapan secara langsung. Denis mencium dahinya dengan pelan dan mendapatkan tepuk tangan serta teriakan selamat dari tamu undangan.
Sisa acara pernikahan itu terasa kabur bagi Aya, Ia sibuk menata ingatannya akan nama keluarga dan sahabat dekatnya yang bermunculan. Ia bersyukur memiliki ingatan asli Ayla, jika tidak Aya hanya bisa berpura-pura amnesia.
“Ante Aya… ante cantik!” Seru seorang anak kecil yang duduk dipangkuan ibunya. Denis memberitahunya bahwa anak itu adalah keponakan kecilnya. Ibunya merupakan kakak tertuanya.
“Rion, panggil yang benar, Tante Ayla.” Ucap sang ibu berusaha membenarkannya.
“Tidak papa kak, nanti juga akan jelas kalau Rion sudah besar. Anggap saja itu panggilan sayang Rion khusus untuk tante.” Ujar Aya dengan senang. Setidaknya di dunia ini masih ada satu orang yang memanggil nama aslinya.
Denis menaikkan alis mendengar ucapan gadis disampingnya. Haruskah Ia juga memanggilnya Aya?
Mereka menyapa tamu undangan dan sesekali mengambil foto. Setelah acara selesai, Aya sudah mendapatkan kembali semua ingatan Ayla dan mengenali keluarga dan tamu undangan yang hadir.
“Denis, bunda titip jaga Ayla ya. Kalian sudah dewasa, seharusnya tahu hak dan kewajibannya masing-masing.” Bunda Ayla menatap Denis setelah memeluk putrinya. Mereka berpamitan saat akan meninggalkan gedung hotel tempat acara pernikahan dilaksanakan.
“Iya bunda, jangan khawatir.” Dengan jawaban mantap Denis, orang tuanya merasa lega. Mereka melihat pria itu membantu Ayla memasuki mobil sebelum melambai kepada keluarganya.
Sepanjang perjalanan, Ayla menatap keluar jendela. Ia bertanya-tanya apakah tidak masalah baginya menerima semua ini? Bukankah ini sama saja Aya mencuri identitas istrinya? Hey, itu calon suami orang.
Denis melihat sekilas istrinya yang terdiam menatap jalanan. Ia mengira Ayla sedih meninggalkan keluarganya.
“Jangan khawatir, meskipun kita dijodohkan, aku akan tetap menjaga hak dan kewajibanku sebagai suami.”
“Ah! Bukan itu… aku hanya merasa belum siap.” Cicit Aya beralasan, Ia belum pernah memiliki hubungan asmara sebelumnya. Tapi jika mereka dijodohkan, maka Denis dan jiwa asli Ayla belum tentu menjalin hubungan.
“Aku akan menghormati keputusanmu.” Jawab Denis.
Sesampainya di rumah mereka, Aya memperhatikan lingkungan yang akan ditinggalinya. Ia hanya bisa berdecak kagum: lingkungan elit memang yang terbaik!
“Aya, kamarku disana, jika kau belum siap kau bisa menempati ruangan ini.” Denis menunjuk dua ruangan yang berlawanan.
Mendengar ucapan Denis, Aya menatapnya terkejut.
“Ada masalah? Jika kau tidak menyukainya…”
“Mengapa kau memanggilku Aya?” Tanya gadis itu memotong ucapannya dengan curiga. Apa Denis mengetahui identitas aslinya?
“Ckck, bukankah kau lebih suka dipanggil Aya?”
“Aku mengatakan hal seperti itu?” Aya menatap Denis bingung.
“Anggap saja sebagai panggilan sayang untukmu.” Denis menirukan ucapannya saat berbicara pada Rion tadi siang.
Wajah Aya memerah, apakah Ia baru saja membayangkan bahwa pria itu cemburu pada keponakannya?
Dengan cepat Aya mengambil kopernya dari tangan Denis masuk ke kamarnya. Ia berpikir bahwa itu mungkin hanya imajinasinya saja.
Denis terkekeh melihat tingkah malu istrinya. Ia berbalik menuju kamarnya saat bibi pembantu rumah tangga menanyakan bagaimana Ia harus menyiapkan makan malam mereka.
“Siapkan sesuatu yang enak, aku tidak tahu apa yang disukainya.” Jawab Denis memasuki kamarnya dan menutup pintu.
Pria itu melepaskan jas yang dipakainya dan melangkah menuju balkon kamarnya. Ia teringat telinga Aya yang memerah dan ekspresi malu diwajahnya.
Apakah seorang gadis berubah setelah menikah?
Tersenyum menggelengkan kepalanya, Denis memutuskan untuk mandi menghilangkan rasa lelahnya.
Saat keluar dari kamar mandi, telepon genggamnya di atas meja berdering ringan.
“Hey perjaka tua, akhirnya kau akan mengakhiri masa lajangmu!” Ucap sahabatnya di seberang telepon.
“Rafi… apakah kau kurang kerjaan? Haruskah aku menyerahkan proyek di Sulawesi kepadamu?”
“Tidak, terimakasih. Aku tidak ingin berpisah dari kekasihku. LDR sulit untuk dipertahankan.”
Denis hanya tertawa mengejek mendengar jawaban sahabatnya itu.
“Jadi… kau menerimanya? Kukira kau tidak menyukai calon istrimu itu.” Rafi mengalihkan pembicaraan.
“Apa maksud ucapanmu itu?”
“Hey, kau sendiri yang mengatakan bahwa sifat gadis itu terlalu dingin saat kalian bertemu pertamakalinya. Aku harus mengagumimu karna mendapatkan istri secara taaruf.”
Denis terdiam mendengar ucapan sahabatnya, memang benar bahwa Ia tidak menyukai gadis dingin dan sombong yang dikenalkan orangtuanya itu. Tapi melihat sifatnya yang berubah setelah menikah, Ia tidak merasa buruk.
“Aku rasa Ia tidak buruk saat bertemu hari ini.”
“Ya, kau sudah memutuskannya.”
“Kami sudah menjadi pasangan suami istri, pada akhirnya aku juga harus menerimanya. Sudahlah, aku harus makan malam dulu.” Denis menutup panggilannya.
Mengetuk pintu kamar Aya, Denis mengajaknya untuk makan malam. Ia memperkenalkan bibi Yu kepadanya.
“Nyonya bisa mengatakan pada bibi jika membutuhkan sesuatu.” Ucap bibi sambil tersenyum menyajikan makanan untuknya.
“Terimasih bibi,” Balas Aya dengan malu mendengar panggilannya.
Bibi Yu mundur kedapur membiarkan pasangan muda itu berdua. Ia sedikit khawatir saat tuannya membiarkan istri yang baru dinikahinya tidur diruangan yang berbeda. Tapi setelah melihat interaksi keduanya, Ia merasa lega.
Mereka makan malam tanpa rasa canggung sama sekali. Denis menuangkan sup dan makanan lainnya untuk Aya dengan penuh perhatian.
“Terimakasih, seharusnya aku yang melayanimu.” Ucap Aya dengan suara pelan.
“Tidak apa, kau bisa melakukannya mulai besok.” Denis tersenyum menanggapi ucapannya.
Setelah makan malam, Denis mengantar Aya berjalan mengelilingi rumahnya. Ada taman dan kolam renang di belakang rumah, ruang santai dan gym diruang atas, kamar tamu, perpustakaan, ruang kerja, area dapur, sampai garasi dengan beberapa mobil terpakir rapi. Ia juga memperkenalkan seorang tukang kebun, dua sopir, petugas keamanan dan seorang asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya.
Aya jarang melihat mereka kecuali saat dibutuhkan. Ia merasa Denis masih termasuk sederhana dibandingkan dengan keluarga konglomerat di drama-drama TV.
“Apa kau memiliki SIM?” Tanya pria itu.
“Ya, aku memilikinya.”
Aya memikirkan bahwa di kehidupan sebelumnya Ia memiliki SIM untuk truk dan alat berat lain dikarenakan tuntutan keraa pekerjaan. Seharusnya menyetir mobil tidak sesulit mengendarai truk dan bego kan?
“Kau bisa memakai mobil di garasi jika ingin pergi keluar. Kalau tidak, ada seorang sopir yang akan mengantarmu.”
Aya hanya mengangguk ringan. Ia tidak semanja jiwa asli Ayla yang memerlukan bantuan untuk beraktivitas. Aya sudah sepuluh tahun menjadi wanita karir yang mandiri sejak lulus sekolah teknik.
Menyelesaikan tur singkat mereka, Denis mengantarnya beristirahat setelah melihat wajah lelah Aya.
Ditengah malam, Aya merasa ada sesuatu yang salah dengan tubuhnya. Ia merasa pusing dan mual, tubuhnya melemah dan penglihatannya kabur. Ia berusaha berjalan mengetuk kamar Denia. Nafasnya mulai memendek dan terasa sesak.
Denis yang tengah tidur terbangun mendengar suara ketukan dan panggilan halus Aya. Ia beranjak dari tempat tidur, mengira gadis itu mungkin akhirnya sadar bahwa ini malam pertama mereka.
Tersenyum membuka pintu, Ia melihat Aya yang jatuh kepelukannya dengan lembut. Ia baru saja akan memeluknya memasuki kamarnya saat melihat wajah Aya yang sepucat kertas. Senyumnya membeku menyadari wajah Aya yang sedikit membengkak.
“Apa yang terjadi?!”
Dengan sigap Denis menggendongnya menuju garasi saat gadia itu tidak bisa menjawab.
“Pergi ke rumah sakit! Cepat!!” Teriaknya pada sopir yang baru saja terbangun dari mimpinya.
“Ya, Tuan!”
Mereka berlari memasuki mobil dan melajukannya dengan kecepatan cepat. Beruntung tidak banyak kendaraan ditengah malam, mereka bisa sampai dalam waktu sepuluh menit dengan kecepatan itu.
“Aya, jangan takut… bertahanlah sebentar lagi, lihat! Gedung rumah sakit sudah terlihat!” Ucap Denis sambil memeluknya saat mendengarnya merintihan kesakitan, Ia meminta istrinya untuk tetap menjaga kesadarannya.
Aya merasa badannya sangat sakit, perutnya terasa panas dan mual. Apakah Ia akan mati? Ia sudah mati satu kali, bukankah tidak adil jika Ia mati lagi saat Ia baru saja mulai menkmati hidupnya?
Ini karma. Karna Ia serakah dan mencuri identitas wanita ini. Tuhan membalasnya.
Bahkan saat Ia kelaparan karna tidak ada makanan dikehidupan masa lalunya, paling parah Ia hanya menderita sakit maag. Tapi rasa sakitnya kali ini membuatnya serasa ingin mati.
Sopir yang melihat kedua tuannya menderita itupun menambah kecepatan lajunya. Ia menerobos beberapa lampu merah dengan hati-hati.
Setelah mereka tiba didepan pintu masuk Unit Gawat Darurat, Denis segera membawa Aya masuk. Ia menjelaskan keadaan Aya pada seorang perawat saat mereka mendorongnya ke ruang pemeriksaan.
“Maaf, keluarga bisa menunggu diluar!” Ucap perawat itu sebelum menutup pintu. Menghalangi Denis yang bergegas menyusul istrinya.
Denis melihat pintu itu dengan kalut. Ia berpikir apa yang menyebabkan gadis itu menderita. Apakah Ia keracunan? Tapi mereka makan malam berasama, Ia sendiri baik-baik saja.
Dokter menanganinya selama lebih dari satu jam. Selama itu pula pria itu berdiri tak bergerak didepan pintu ruang UGD.
“Bagaimana keadaannya?” Tanya Denis begitu Ia melihat dokter keluar.
“Pasien telah melewati masa kritis, kami akan memindahkannya ke ruang rawat untuk observasi.” Jawab dokter itu yang membuat Denis mengucap puji syukur.
“Apakah anda keluarganya?”
“Saya suaminya, apa yang terjadi pada istri saya?” Setelah lega, tubuhnya yang sedari tadi tegang mulai mengendur.
“Istri anda memiliki alergi jamur yang parah, bagaimana anda sebagai suaminya tidak tahu? Jika terlambat menanganinya sedikit saja, tenggorokannya akan membengkak dan organ pernafasannya bisa gagal berfungsi.”
Penjelasan sang dokter yang memarahinya membuat Denis terkejut. Ucapan dokter itu jika diartikan secara langsung, Aya bisa saja meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.
“Maafkan saya, tolong lakukan tes pemeriksaan apakah ada alergi atau penyakit yang lain. Istri saya sepertinya tidak tahu Ia memiliki alergi jamur.” Jawab Denis, punggungnya sudah berkeringat dingin.
“Kami akan melakukannya, anda bisa menyelesaikan administrasi terlebih dahulu.”
Denis duduk lemas setelah dokter itu pergi, Ia mengusap matanya dengan kesal. Suami macam apa yang membuat istrinya masuk rumah sakit sehari setelah tinggal di rumahnya?
“Tuan, bagaimana keadaan Nyonya?” Tanya Pak sopir yang mengantar mereka sambil menyerahkan sekaleng kopi dan berkas identitas tuannya.
Denis tidak menyadari kedatangan sopirnya itu. Ia menerima sekaleng kopi dan meminumnya. “Nyonya sudah baik-baik saja, katakan pada Bibi Yu agar menjauhkan segala macam jamur dari rumah.”
Nyonya alergi jamur? Pak sopir itu terkejut. Bibi Yu pernah mengatakan bahwa tuan mereka menyukai segala macam olahan jamur. Sepertinya tuan mereka sangat mencintai nyonya. Ia harus menjelaskannya pada pegawai yang lain. Jangan pernah menyinggung Nyonya.
“Kau yang urus registrasi ke bagian administrasi, aku akan menemani nyonya.” Denis menyerahkan kembali surat-surat itu dan memberikan kartu kreditnya.
“Saya mengerti.” Ucap Pak sopir dengan patuh, memperhatikan tuannya yang berjalan gontai menuju gedung rawat inap nyonya.
-o0o-
Aya mencoba membuka matanya yang terasa berat begitu kesadarannya kembali. Tubuhnya seperti berbobot ratusan kilogram saat Ia mencoba menggerakkannya.
“Aya?” Suara serak Denis yang belum beristirahat terdengar seperti mesin yang pelumasnya habis.
Aya merasakan tangan hangat menyentuh pipinya dengan lembut sebelum Ia berhasil membuka mata.
“Kau sudah bangun? Bagaimana perasaanmu?” Tanya Denis dengan suara yang sama.
Aya mencoba menjawabnya, tapi wajahnya yang kini sudah tidak membengkak tertutupi masker oksigen. Ia hanya bisa membuka mulutnya sedikit tanpa bersuara.
“Aku mengerti, jangan berbicara. Aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu terlebih dahulu.” Sela Denis menghentikan usahanya sebelum beranjak menekan tombol panggilan darurat.
Tak lama kemudian dokter yang menangani Aya datang dan memeriksanya. Meskipun sudah lebih baik, keadaan Aya masih mengkhawatirkan. Ia harus menunggu efek racunnya menghilang sebelum melepaskan alat bantu pernafasannya.
“Aku hampir saja membunuhmu.” Bisik Denis saat mereka hanya berdua. Tangannya menggenggam Aya dengan kuat saat mengingat kejadian semalam.
Aya menatapnya dengan mata terkejut. Bukakah Ia hanya salah makan?
“Akulah yang menuangkan sup jamur yang kau makan semalam, itu sama saja dengan memberikanmu racun mematikan.” Jawab Denis memahami tatapan mata istrinya yang melebar.
“Jangan khawatir, aku akan menjagamu lebih baik di masa depan. Tapi bagaimana bisa kau tidak tahu kalau kau alergi jamur? Seharusnya kau memberitahuku.” Denis mengatakannya dengan sedih.
Aya yang tidak tahu bagaimana menjawabnya hanya menutup matanya. Bagaimana Ia tidak tahu? Karna ini bukan tubuhnya. Siapa yang menyangka bahwa makanan kesukaannya di kehidupan sebelumnya akan menjadi racun di tubuh ini?
Untuk beberapa saat, Ia tidak bisa mengingat memori tubuh ini. Aya tidak bisa mengingat semua kejadian yang terjadi selama 23 tahun kehidupan seorang Ayla Young. Setelah memikirkannya, Ia teringat bahwa Ayla hampir mati karna memakan jamur goreng di usia lima tahun. Seberapa lemahnya tubuh ini?
Melihat Aya yang memejamkan matanya tidak bisa menjawab, Denis menduga bahwa Ia benar-benar tidak tahu.
“Aku akan menghubungi orang tua kita. Mereka pasti akan memukulku karna membuatmu sakit.” Ucap Denis berusaha meringankan atmosfer di ruangan itu.
Ia beranjak keluar dari ruangan itu, meninggalkan Aya yang menatapnya sedih.
Seperti yang dikatakan Denis, orang tuanya memukul pundak dan lengannya dengan keras saat mereka datang menjenguk menantunya. Adegan itu terjadi di ruang tunggu diluar kamar rawat Aya.
“Apa yang kau lakukan sampai membuat menantuku sakit begitu memasuki rumah hem? Apa kau tidak merawatnya dengan baik?!” Mama Denis memarahi putranya, Ia akan terus memukulinya jika ayahnya tidak menghentikannya.
“Sudahlah Ma, malu dilihat pengunjung yang lain.” Ucap Papa memeluk istrinya yang masih emosi.
Denis hanya terdiam membiarkan orang tuanya memarahinya. Terlihat jelas Ia merasa bersalah dan bersedia menjadi sasaran amukan orang tuanya.
“Besan benar, lagipula Denis tidak mengetahui alergi makanan Ayla. Istrinya juga salah, seharusnya Ia tahu tapi tetap rakus memakan sup jamur.” Bunda Ayla melerai keduanya. Ia merasa lega melihat wajah lelah Denis yang merawat putrinya semalaman di rumah sakit.
“Ayah akan mengirimkan informasi Ayla yang lebih rinci agar tidak mengulang kejadian ini!” Berbeda dengan Bunda, Ayah Ayla masih marah melihat putri semata wayangnya menderita.
“Ayah, biarkan pasangan baru itu melakukan sesuai kemauan mereka. Lagipula Denis sudah merawat Ayla dengan baik semalaman.”
Bunda Ayla memahami sifat suaminya, Ia pasti memberikan daftar panjang kesukaan dan kebiasaan putrinya itu. Termasuk kebiasaan memalukan yang Ia sembunyikan. Ia harus menjaga harga diri putrinya didepan menantunya.
“Tidak, kurasa itu ide yang baik. Ayah, tolong berikan informasi tersebut.” Denis yang sejak tadi dimarahi dengan patuh menyetujui pengaturan ayah mertuanya.
Ayah Ayla hanya mendengus kesal mendengarkan ucapannya. Ia tidak bisa memarahi menantunya didepan orangtuanya meskipun Ia sangat pantas mendapatkannya.
Aya yang masih tertidur beristirahat mungkin tidak akan mengetahuk bahwa rahasianya akan terbonhkar karna daftar informasi yang diberikan orangtuanya sendiri.
Setelah menjalani perawatan selama seminggu, dokter memperbolehkan Aya untuk keluar dari rumah sakit. Dokter itu menekankan agar Aya beristirahat di rumah. Beliau juga memberi saran agar gadis itu mulai membangun daya tahan tubuhnya yang terkikis selama sakit. Aya tidak pernah mengira bahwa setelah meninggal dan hidup kembali, Ia harus berolahraga untuk memperkuat otot tubuh. Saat Ia menjadi pekerja bangunan, Ia mampu mengangkat dua karung semen seorang diri!
Sejak saat itu, kehidupannya yang membosankan dimulai. Denis melarangnya keluar rumah, Ia menjaganya seperti benda antik yang rapuh dan berharga. Saat Aya ingin mulai berolahraga, Denis memanggil seorang trainner perempuan profesional ke rumah.
“Aku berangkat kerja dulu, pelatihmu akan datang nanti siang…” Seusai menyantap sarapan berdua, Denis berpamitan pada istrinya.
Aya mencium tangan suaminya, dan pria itu mencium pipi Aya sebelum pergi ke kantornya.
Gestur dan perlakuan mesra Denis kini sudah menjadi kebiasaan mereka sehari-hari. Keduanya tidak terlihat canggung sama sekali. Aya mulai menikmati kasih sayang Denis, dan pria itu terkadang mencuri ciuman saat merayunya.
Denis menatap Ayla yang mengantarnya keluar. Ia mendesah begitu masuk kedalam mobil. Gadis itu sudah menjadi istrinya, tapi sulit sekali membuatnya setuju untuk tidur satu ranjang. Sepertinya Ia harus bersabar untuk mendapatkan hatinya sebelum memperoleh haknya.
Aya menghabiskan harinya membaca buku di perpustakaan. Meskipun Ia memiliki pengetahuan manajemen dasar dari ingatan Ayla, Ia tidak memiliki ketrampilan penerapannya sedikitpun. Sementara pengetahuan yang dimiliki Aya hanyalah penerapan teknik dari pengalaman tanpa pendidikan formal.
Ia ingin bekerja, tapi tidak mungkin Ia meminta suaminya untuk menjadikannya supir kontainer atau operator bego dalam proyek perusahaannya. Kecuali Ia mengatakan rahasianya.
Pada siang hari, pelatih yang disebutkan Denis datang dan mulai membuat rencana jadwal latihan penguatan tububnya. Pelatih itu melihat kolam renang di halaman belakang dan menyarankannya untuk berenang diwaktu luang.
“Berenang adalah olahraga yang efektif untuk tubuh nona. Semua anggota tubuh akan bergerak saat anda berenang. Tapi latihan ini tidak akan membuat nona merasa lelah.”
Begitulah ucapan sang pelatih. Ayla memang bisa berenang dengan baik, tapi Aya yang tidak memiliki kesempatan di kehidupan sebelumnya tidak bisa berenang sama sekali.
Setelah menyelesaikan pembuatan jadwal, mereka pergi ke ruang gym untuk mencoba peralatan yang ada.
“Nona bisa memulainya dengan berlari diatas tredmil sejauh satu kilometer sebelum menambah jaraknya secara bertahap.”
Akhirnya Aya berhasil menyelesaikan dua kilometer sebelum duduk menggelepar diatas sofa. Dokter itu memang benar, Ia memiliki daya tahan tubuh dan kekuatan otot yang sangat lemah.
Pada saat makan malam, Aya menyinggung latihannya hari ini dan mengatakan keinginannya.
“Aku ingin belajar berenang, pelatih bilang Ia bisa mengajariku.”
Denis yang mendengarnya mengernyitkan wajahnya. Apakah Apakah Aya tidak bisa berenang? Berenang memang bagus untuk kelenturan dan melatih daya tahan jantungnya, tapi membayangkan istrinya memakai baju renang bersama orang asing membuatnya tidak nyaman.
“…aku sendiri yang akan mengajarimu.” Ucap Denis membuat keputusan.
“Hm? Baiklah… kata Bibi Yu kau pandai berenang, bahkan pernah mengikuti pelatihan PON saat masih remaja.” Aya setuju dengan mudah, Ia merasa lebih nyaman jika berlatih dengan suaminya.
“Ya, tapi tidak di bulan ini. Aku harus ke Sulawesi untuk meninjau proyek pembangunan gedung disana.”
“Berapa lama?” Tanya Aya tertarik. Bukankah proyek pembangunan dulu merupakan tempat bermainnya setiap hari?
“Mungkin satu minggu.”
“Aku ikut!” Meskipun jauh, Ia yang belum pernah pergi ke Sulawesi penasaran untuk pergi.
“Kau bisa ikut, tapi berjanjilah untuk tetap disisiku selama disana. Jangan berlarian.”
Memikirkan istrinya yang belum pernah pergi meninggalkan rumah setelah menikah, Denis menyetujui permintaannya.
“Memangnya aku anak keci?” Gumam Aya dengan cemberut. Tapi setelah memikirkan Ia akan naik pesawat, wajahnya kembali tersenyum bahagia.
Denis tersenyum tak berdaya melihat istrinya, bukankah ini terlalu mudah untuk membuatnya senang?
Mereka berdiskusi mengenai rencana keberangkatannya seminggu lagi. Denis menyuruhnya beristirahat saat jam sudah menunjukkan pukul sembilan.
Beberapa hari kemudian, Mama Denis datang dan mengajaknya berbelanja. Ia menyanggupinya setelah memperoleh izin dari Denis. Ia akhirnya keluar dari bayang-bayang tahanan rumah.
Mereka tidak berbelanja banyak, tapi Aya menikmati sensasi menggesek kartu kredit tanpa limit nya setiap kali Ia membayar. Sekarang keluarganya kaya. Ia memiliki beberapa kartu kredit dan ATM di dompetnya. Selain pemberian Denis, Ia juga masih memiliki pemberian ayahnya.
“Sepertinya hubungan kalian sangat baik, mama bisa mengantisipasi seorang cucu dalam waktu dekat.” Ucap mama Denis dengan senang saat melihat menantunya memakai kartu putranya.
“Kan sudah ada Rion… kami nggak buru-buru kok ma.” Jawab Aya dengan canggung. Hey… mereka tidur sekamar saja belum, apalagi mempunyai anak.
“Ya beda dong, Rion kan dari kakak Denis, dari kalian belum. Mama pingin yang cewek… hahaha.” Mama Denis tertawa melihat wajah menantunya memerah karna malu.
Setelah makan siang di Mall, Aya menyuruh supirnya mengantar Mama kerumah lebih dahulu sebelum mereka pulang.
Rumah mertua Aya berada di area pinggir kota dekat dengan rumahnya dikehidupan sebelumnya. Ia melihat daerah yang akrab dari mobilnya dan tidak bisa menahan diri untuk meminta supirnya berhenti.
“Mau beli batagor nyonya? Bapak belikan kalau mau…” Ucap pak supir itu saat Ia melihat penjual dipinggir jalan. Ia mengira nyonya metasa ingin makan batagor.
“Iya, bapak tolong belikan dua bungkus… batagor disini enak.” Jawab Aya dengan sedikit linglung.
Pak supir melihat toko penjual yang terlihat cukup bersih. Ia agak ragu memikirkan sifat tuannya yang overprotektif, tapi nyonya terlihat pernah kesini.
“Baik nyonya, tunggu sebentar.” Akhirnya Ia memutuskan untuk membelinya. Ia berniat untuk bertanya pada tuannya saat sampai di rumah nanti.
Aya menatap gang diseberang jalan yang Ia kenal, jika Ia mengikuti gang itu, akan ada toko kelontong milik Pak Samingin yang sering memperbolehkannya berhutang saat diakhir bulan. Lima rumah dibelakangnya, Ia akan menemukan rumah tua bercat abu-abu miliknya dulu. Apakah rumah itu masih terawat?
Karna Ia meninggal secara tiba-tiba, mungkin bibinya yang serakah itu akan mengambil hak kepemilikan rumahnya. Tidak apa-apa, akhirnya rumah itu akan diberikan kepada sepupu laki-lakinya yang memiliki baik kepadanya dulu.
Tak kuasa menahan rindu akan kampung halamannya, Aya keluar dari mobil dan menemui supirnya yang tengah mengantre membeli batagor.
“Pak, saya ke rumah teman dulu sebentar ya. Nggak sampai dua puluh menit kok.” Ucapnya sambil menunjuk ke gang disebelah.
“Eh, mau bapak temenin? Jangan lupa bawa hpnya nyonya, ntar tuan marah kalo nyonya ngilang.”
“Nggak usah pak,” ucapnya sambil memperlihatkan hp ditas selempang kecilnya.
Aya menoleh kearah kanan kirinya sebelum menyebrang dan memasuki gang kampung. Ia menyusuri jalanan kampung itu sebelum sampai di toko kelontong yang familiar.
Melihat ada pelanggan mendatangi tokonya, pak samingin datang dan bertanya ingin membeli apa. Pria berusia 45 tahun itu melihat orang asing di depannya dengan heran.
Karena letak toko yang terlalu masuk kedalam gang, pembeli biasanya terdiri dari tetangganya atau agen yang menawarkan barang ke tokonya. Tapi gadis didepannya terlihat asing dan memakai pakaian mahal.
“Mie instannya empat sama bakpianya dua kotak pak.” Jawab Aya familiar dengan letak barang di toko itu.
Hampir semua barang yang Ia perlukan ada di rumah Denis, kalaupun tidak ada Bibi Yu akan membelikannya saat keluar. Tapi makanan tidak sehat seperti mie instan tidak mungkin bisa ditemukan disana. Bibi Yu dan Denis akan menolak permintaannya bahkan memarahinya jika Ia bilang ingin memakannya.
Pak Samingin yang mengambil plastik untuk membungkusnya agak terheran-heran. Gadis itu terlihat nyaman dan familiar dengan tokonya.
“Ada lagi neng?” Tanya Pak Samingin yang menghitung total pembeliannya.
“Sudah pak, totalnya berapa ya?”
“empat puluh dua ribu, neng.”
Aya mengambil dompet didalam tasnya, Ia menatap dengan ragu-ragu sebelum kembali bertanya, “Bapak kenal Aya Rosaldi yang tinggal di rumah sebelah sana?”
“Oh… Nengnya teman almahumah mbak Aya, ya? Pantes bapak kok ngeliatnya asing. Kesini mau ikut tahlilan Neng?” Tanya Pak Samingin, Ia tersenyum lebih ramah saat mengetahui gadis itu teman Aya.
Meskipun sederhana, Aya terkenal ramah dan baik dilingkungan tetangganya. Mereka kadang membantunya saat Ia mendapat masalah ekonomi.
Deg!
Mendengar gelar almahumah sebelum namanya membuat hatinya sedikit sakit. Baru kali ini Ia menerima kenyataan bahwa tubuhnya benar-benar sudah meninggal.
“Iya pak, Mbak Aya punya hutang di toko ini berapa ya pak?” Tanya Aya langsung, Ia mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan dari dompenya. Perasaannya tak karuan semakin lama Ia disini.
“Oh, nggak usah neng… bapak udah ikhlas. Biar Allah yang membalasnya.” Tolak Pak Samingin dengan senyum sedih saat Ia mengingat pribadi Aya yang ceria disela himpitan masalah ekonominya.
“Nggak papa pak, saya pernah berhutang sama mbak Aya saat di Jogja dulu… biar hutangnya lunas waktu dihitung nanti. Kita sama-sama nggak punya beban” Aya mengambil kantong plastik pembeliannya dan memberikan uangnya.
Karna sifat Pak Samingin yang cenderung mudah mengalah, banyak tetangga sekitar yang berhutang ditokonya. Meskipun tetap dibayar, tapi Ia tahu bahwa beliau sering kesulitan diakhir bulan karna saldo penjualannya yang minus.
Pak Samingin segera sadar bahwa gadis muda ini mungkin teman Aya saat di Jogja dulu. Menurut ucapan tetangganya, pekerjaan Aya di Jogja memang lebih baik dibanding saat dia disini.
“Terimakasih ya Neng.” Ucap Pak Samingin setelah mengucap syukur.
“Sama-sama Pak, kalau saya boleh tahun, makamnya disebelah mana ya? saya terlambat tahu, jadi nggak datang ke pemakamannya.”
“Karna kecelakaan, keadaan jasadnya tidak terlalu baik. Jadi langsung dimakamkan setelah disembayangkan. Makamnya diujung lapangan Neng, masih banyak ditaburi bunga. Temannya ada yang dateng setiap hari Kamis.”
Teman? Apakah itu Mas Harun yang jadi kepala proyek? Tapi Ia tidak sedekat itu hingga beliau datang setiap minggu.
“Terimakasih Pak, sudah terlalu sore, mungkin besok kalau ada waktu saya mampir ziarah. Permisi.” Aya keluar dari toko itu.
Ia melihat lingkungan sekitar yang sudah agak gelap. Hanya ada beberapa lampu jalan yang menyala remang-remang.