Namaku Salsa Anandita biasa dipanggil Salsa Umurku 17 tahun, sekarang aku kelas 3 SMA. Aku bersekolah di SMA favorite di kota ini. SMA Flamingow namanya. Hehe, unik ya nama sekolah ku, tentu saja karena tidak berbeda jauh dengan murid-murid nya. Unik.
Di kota ini aku tinggal sendirian, jauh dari orangtua dan sanak saudara. Orangtua ku tinggal di desa yang jarak tempuhnya 4 jam dari kota ini, sedangkan sanak saudaraku tinggal di kota lain.
Aku merantau ke kota sejak kelas 1 SMA. Aku tinggal di kos-kosan yang tidak jauh dari sekolah ku. Awal hidup terpisah dengan orangtua dan keluarga itu rasanya sangat menyakitkan terlebih ketika kita sedang sakit dan tidak ada siapapun yang bisa diharapkan membantu.
Kos-kosan tempat aku tinggal adalah rumah bertingkat yang mempunyai banyak kamar tapi anehnya rumah kos ini lumayan sepi padahal kawasan ini sangat strategis. Aku nyaman tinggal disini karena aku tidak suka keramaian. Orangtua ku juga sudah membayar kamar kosan ini sampai aku lulus sekolah. Disini aku punya satu teman dekat bernama Laila dan dia juga bersekolah ditempat yang sama denganku tapi kami berbeda tingkat. Dia adalah adik kelasku. Kami akrab karena satu tempat tinggal. Kamar kami sebelahan.
Ini adalah tahun terakhir ku di SMA Flamingow dan beberapa bulan lagi aku akan lulus. Aku sudah tidak sabar karena aku akan bertemu keluarga ku di desa. Entah kenapa sudah dua hari ini aku menelpon mereka tapi tidak ada yang tersambung. Aku sedikit khawatir karena biasanya setiap hari kami berkabar.
“Laila, hari ini kita makan apaan ya?” aku melihat Laila disamping ku, dia sedang duduk membaca novel bergenre romantic kesukaan nya. “Aku juga tidak tau kak, entah kenapa hari ini aku gak merasa lapar padahal belum makan dari pagi.”
Aku mengangguk menyetujui ucapan Laila. Aku juga heran padahal aku belum makan apa-apa dari semalam tetapi tidak merasa lapar sedikitpun biasanya aku paling suka makan. Aku melirik jam dinding, sudah pukul 15.00 WIB. Ternyata sudah menjelang sore, aku bangkit dan meregangkan badanku. Duduk berjam-jam didepan laptop membuat badanku kaku.
“Laila, aku mandi dulu ya. Kamu enggak mandi?”
Laila mendongak menatapku, “Kakak mandi duluan aja, nanti aku mandi dikamar ku aja.”
“Oh oke, aku mandi.”
Aku mengambil pakaian dalam dan handuk lalu masuk ke kamar mandi. Setiap kamar disini punya kamar mandi didalam nya. Kamarnya juga cukup luas, tempat ini termasuk kedalam golongan kos-kosan elit.
---
“Laila, buruan ayok. Udah jam sembilan malem nih.” Aku mengetuk pintu kamar Laila. Malam ini kami ingin berkeliling mencari udara segar karena bosan seharian dirumah. Huft, kenapa Laila lama sekali. Aku membalik badanku, mendekat ke dinding sebatas dada ku dan melihat kebawah, kamar kami berada di lantai 2. Aku memperhatikan sekitar, sepi dan gelap. Kemana semua penghuni kos-an yang lain? Apa mereka lupa menghidupkan lampu?
Suara decitan pintu yang terbuka mengalihkan fokus ku, aku kembali berbalik melihat pintu kamar Laila yang sudah terbuka namun tidak ada Laila yang keluar. Aneh sekali, kemana anak itu?
“Lailaaa” aku melangkah perlahan, kepala ku bergerak masuk mengintip kedalam kamar. Lampu nya menyala tapi kamarnya kosong. Kemana Laila?
Sepertinya aku harus masuk, aku takut Laila kenapa-napa. Aku masuk perlahan kedalam kamar, kenapa sepi sekali…
“Lailaaa”
“Kamu dimana Lailaaa?”
Angin berhembus menerpa kulitku, aku mencari sumbernya, kipas angin yang berada disudut ruangan itu menyala. Seingatku tadi tidak menyala.
Aku berjalan menuju kipas itu dan mematikan nya. Lalu aku mengecek ke kamar mandi yang kosong. Astaga Laila kamu kemana sih…
Deg.
Lampu tiba-tiba padam, pelan pelan aku berjalan hendak keluar namun lagi-lagi kipas itu menyala dan pintu kamar yang sudah tertutup. Ya Tuhan ada apa ini..
Aku membuka pintu kamar, “AAAAAAKK”
Spontan aku berbalik, aku menunduk seraya menutup kepala ku dengan kedua tangan. Tubuhku bergetar didalam gelap nya ruangan, aku bisa melihat barang-barang yang terbang menghantam tubuhku. “AAAKKK” aku menutup telinga ketika jeritan itu terdengar lagi, sangat nyaring menusuk telingaku.
Ada apa ini ya Tuhan...
Tolong aku..
Laila kamu dimana aku takut..
Aku merangkak keluar dari kamar dan menahan gagang pintu. Aku menghirup udara banyak-banyak rasanya jantungku akan berhenti tadi.
Prang!
Gedebuk!
Tanganku bergetar ketika gagang pintu yang ku pegang bergerak. Sekuat tenaga aku menahan agar pintu itu tidak terbuka. Apa yang harus ku lakukan sekarang, Laila tolong aku..
Aku melihat tangga yang tidak jauh dari kamar ini. Aku harus sampai ke tangga itu sebelum pintu ini terbuka, aku akan meminta tolong penghuni bawah karena aku tau di lantai ini hanya ada aku dan Laila.
Gedebuk!
Aku tidak kuat lagi. Aku sangat takut.
1..
2..
3..
Aku langsung berlari ke tangga. Secepat kilat aku turun ke lantai dasar. Aku harus apa sekarang? Aku segan mengganggu orang lain. Aku berlari ke gerbang, ku lihat ke lantai atas ternyata pintu kamar itu sudah terbuka lagi. Gawat!
Angin berhembus sangat kencang, tidak seperti biasanya. Sepertinya akan ada badai malam ini, aku membuka pintu gerbang dan langsung berlari keluar. Aku berhenti, mengatur nafasku yang ngos-ngosan, aku melihat ke belakang ternyata sudah aman.
Jalanan ini sepi, aku tau pasti karena sebentar lagi hujan makanya orang-orang berkurung diri dirumah masing-masing. Aku membuang nafas panjang, mengusap wajahku kasar, kemana aku pergi sekarang…
Aku memutuskan untuk mencari minimarket yang buka 24 jam, sepertinya disana tempat teraman untukku istirahat. Aku sangat takut kembali ke kamar itu terlebih tidak ada Laila. Sambil berjalan aku terus berpikir apa yang terjadi di kamar itu, apa ada hantu? Tidak mungkin, dua tahun lebih aku tinggal disana tidak pernah ada kejadian apapun, memang sih banyak gosip dari penghuni kos-an lama bahwa lantai atas dulu nya di jadikan gudang dan angker tapi masa baru keluar sekarang hantu nya..
Argghh, pusing!
Syukurlah akhirnya aku bisa melihat ada indomart di depan sana. Aku semakin cepat berjalan ke indormart itu.
Huft, semangatku patah. Indomart nya sudah tutup. Angin semakin kencang, rintik-rintik hujan mulai turun. Aku berteduh di indomart itu, setidaknya aku tidak kena hujan. Tidak apa-apa lah aku tidur disini sampai besok.
Semoga Laila sudah pulang besok.
Hujan semakin deras, sangat dingin. Aku berjongkok sambil memeluk diriku sendiri.
“Hihihihihiiiiii..”
“Hihihihihihihihiiiii..."
Aku tau suara ini. Suara tawa yang selalu ada di film horror.
Tidak! Ku mohon jangan sakitin aku..
Air mataku tak bisa ku bendung lagi, aku sangat takut. Aku menutup kuping ku, menunduk dan memejamkan mata. Ya Tuhan bantu aku..
Kenapa malam ini terasa sangat panjang…
“IKUT BERSAMA KU!”
“Aaakkkk..” suara bariton yang membentak menusuk telinga ku, “Jangan ganggu aku! Pergi kalian!”
Hikss hikss aku tidak sanggup. Ayah Ibu tolong aku..
Aku semakin merapatkan tubuhku ke dinding, aku ingin kabur tapi kakiku sudah tidak berdaya lagipula hujan sangat deras. Mataku masih terpejam, tubuhku semakin bergetar rasanya aku ingin mati saja sekarang.
Aku menarik nafas panjang, suasana kembali sepi, tidak ada suara tawa dan bentakan lagi, hanya ada suara hujan. Aku memberanikan diri mengangkat kepala ku, sedikit meregangkan pelukan ku sendiri tapi mataku masih terpejam.
Perlahan-lahan aku membuka mata, sedikit demi sedikit rintik hujan bisa terlihat. Aku membuka lebar mataku.
“BAAAAAA”
“AAAKKKK”
Sekuat tenaga aku bangkit dan berlari menembus derasnya hujan. Tangisku kembali pecah, jantungku masih berdetak kencang terbayang-bayang wajah penuh luka dan darah dengan mata bolong itu hanya berjarak 2 centi dari wajahku.
Dingin.
Aku harus berteduh dimana? Tidak ada tempat yang aman menurutku sekarang. Jika aku kembali ke rumah pasti akan bertemu hantu indomart tadi. Tubuhku sudah menggigil, derasnya hujan dan kencang nya angin semakin membuat suasana malam sangat mencekam.
“Hikss, hiksss..”
Ada suara tangisan pilu di tengah suara hujan. Di seberang sana samar-samar aku melihat tubuh seorang perempuan, dia memunggungi ku. Kenapa dia menangis disini?
Aku melihat sekitar, tidak ada orang lain. Aku kasihan padanya, tangisan nya sangat menyayat hatiku. Apa mungkin dia juga ketakutan seperti aku? Aku ingin mendekatinya namun aku ragu bagaimana kalau dia bukan manusia. Tapi kalau aku tinggal dan ternyata dia manusia juga bagaimana..
Tidak, jangan memikirkan orang lain. Aku
selamatkan diriku sendiri. Aku berjalan kearah lain, sebisa mungkin tidak menghiraukan nya. “Mau kemana kau?!”
Aku membalik badan, tidak ada siapapun. Aku melihat ketempat perempuan tadi, dia sudah tidak ada. Benar dugaan ku kalau dia bukan manusia.
“SELAMATKAN ANAKKU!!!”
“AAAAKKKK”
Aku berlari sekuat tenaga menjauhi perempuan yang tiba-tiba muncul didepan ku. Wajahnya pucat pasi, bola matanya hampir keluar, baju penuh darah, tangan nya terulur menyodorkan gumpalan daging busuk ke arahku.
Aku lari tidak tentu arah sambil tertunduk takut melihat hal-hal aneh lagi.
Bruk.
Tubuhku terhuyung ke belakang, mataku menatap sepasang sepatu pantofel hitam didepan ku, “Kamu tidak apa-apa?”
Tiba-tiba badanku tidak terguyur hujan lagi, aku melirik tangan yang terulur memegang payung. Aku yakin dia manusia. Semoga saja, meski ragu aku tetap mencoba melihat wujud orang ini.
Laki-laki berbalut setelan hitam, tidak ada cacat di tubuhnya. Dia seperti manusia normal. Aku bisa sedikit bernafas lega. “Tolong aku..” ucapku padanya. Semoga dia mau menolongku.
“Kamu ketakutan?” aku mengangguk.
“Ayo, ikut aku.” Dia berjalan mendului ku, ragu-ragu aku mengikuti langkah nya. Tidak ada pilihan lain untukku kalaupun dia hantu setidaknya tubuhnya masih enak di pandang.
Langkah kami berhenti disamping mobil berwarna putih, kaca mobil itu terbuka, seorang perempuan melihat kami. “Kamu bawa siapa kak?”
“Temen.”
Bisa kulihat perempuan tadi mengangguk-angguk dan tersenyum tipis.
Lelaki tadi berjalan masuk ke kursi kemudi, perempuan yang di dalam mobil itu menyuruhku masuk dan duduk di kursi belakang. Mobil melaju, aku tidak tau mereka membawaku kemana tapi aku lega karena sedikit merasa aman. Kepalaku bersandar di pintu mobil, mataku melihat hujan yang sudah mulai reda.
“IKUT AKU!!!”
“Aaakkkkk” aku terlonjak mundur.
“Ada apa?”
“Ti-tidak ada” aku menatap ke depan, aku tidak boleh terlihat aneh.
“Kenalkan, aku Lila. Kakanya teman mu Laila dan dia Arya kakak kelasku. Kamu pasti Salsa, kan?”
“Ah, i-iya. Bagaimana kakak tau namaku?”
“Kamu jangan takut. Kami akan melindungi mu, kita akan ke tempat yang sangat aman. Menunggu waktu kembali ke alam selanjutnya.”
“Apa maksudmu?”
Tiba-tiba cahaya putih menghantam mobil kami. Sangat silau, aku memejamkan mata dan setelahnya aku kehilangan kesadaran.
---
AUTHOR POV
Suasana SMA Flamingow sangat ramai, banyak murid berlalu-lalang di koridor penghubung antara kantin dan kelas-kelas. Sudah jam istirahat, kantin sangat penuh sekarang. Siswa-siswi yang berkumpul saling bertukar cerita, “Eh, kasian banget ya Salsa harus jadi korban.”
“Iya, semoga arwahnya tenang ya di alam sana.”
Seorang gadis duduk menyendiri di pojok kantin, dia melihat kertas yang tadi dia ambil di majalah dinding.
‘Pemilik yayasan SMA Flamingow berhasil diringkus polisi. Dia dipenjara seumur hidup atas kasus pembunuhan berantai yang terjadi di SMA Flamingow setiap tiga tahun sekali. Pembuhunan berantai ini selalu sama setiap tiga tahun nya, yaitu meledakkan ruangan lab IPA. Konon katanya korban ledakan itu menjadi tumbal pesugihan untuk memajukan bisnis nya. Ada 15 orang yang meninggal akibat insiden itu dan salah satunya adalah Salsa Anandita, sang ratu sekolah.’
Dia melipat kertas itu, memasukkan nya dalam saku.
“Semoga kamu tenang disana kak Salsa aku yakin mereka akan mengantarmu ke tempat yang aman. Tidak menjadi budak dari makhluk pesugihan papa bejatku.” Ucap Laila.
Iya. Laila adalah anak pemilik yayasan Flamingow namun tidak pernah ada yang tau karena Laila tidak tinggal dengan papanya sejak kecil. Dia juga yang nekat mencari bukti dan melaporkan papa nya demi membalas kematian kakak nya Lila, teman Lila yang menjadi sosok kakak laki-laki untuknya Arya dan kakak kelas yang menjadi sahabatnya Salsa.
Memang benar, Laila dan Salsa tinggal di kos-kosan yang sama. Malam itu Laila sengaja meninggalkan Salsa yang sudah bukan manusia demi melancarkan misi nya. Laila seorang indigo. Lila dan Arya belum tenang karena mereka terjebak menjadi budak makhluk pesugihan itu. Baru terlepas ketika Laila menghancurkan seluruh benda keramat yang membuat makhluk pesugihan itu juga musnah. Butuh perjuangan dan bantuan dari pelindung tak kasat mata Laila.
Dia juga menyuruh Lila dan Arya membawa Salsa yang masih tidak sadar kalau dia sudah meninggal itu ke alam baru mereka. Laila yakin tiga orang yang dia sayang itu sudah tenang. Yayasan Flamingow sendiri di ambil alih oleh adik papa nya.
TAMAT