Menara Bintang : Puisi
——————————————————
Catatan :
Cerita ini hasil dari pemikiran acak penulis. Jika ada kesamaan dengan cerita, latar belakang & waktu, dan tokoh, penulis mohon maaf.
Genre : Fan Fiksi (The Mortal Instruments series), Spiritualitas, Psikologi
————————————————
Seorang pemuda berambut perak berhasil menarik seluruh atensi untuk tertuju kepadanya ketika dirinya memasuki ruang auditorium.
Dia berpakaian serba putih lengkap dengan atribut gemerlap, hitam dan emas berpadu apik membuat warna iris perak bak pisau es kian dalam dan tajam.
Si pemuda terus berjalan secara perlahan dan mantap, mengikuti jejak samar yang tertinggal sepanjang perjalanan.
Yang pada akhirnya langkah panjang si pemuda terus akan membawanya, menembus orang-orang yang memerhatikan, iris perak si pemuda telah terkunci oleh sepasang iris jelaga yang berada di sudut ruangan.
"Kau benar-benar berpakaian seperti pangeran, Sebastian."
Pemilik iris jelaga—seorang gadis berpakaian semi-resmi serba hitam—lantas berujar demikian tatkala Sebastian telah berdiri di hadapannya.
Meski begitu, Sebastian tidak buru-buru menanggapi, sudut bibirnya tertarik tipis.
Sebastian menarik lengan kiri ke belakang punggung bersamaan dia meletakkan tangan kanan yang terkepal di dada kiri, lalu membungkukkan tubuhnya ke depan sedikit.
"Cukup, Sebastian," ucap si gadis, dia menatap tajam Sebastian yang masih membungkuk hormat. Tetapi,
Rahang si gadis lantas mengeras, iris jelaga itu membulat kesal, "Apa yang kau lakukan?!"
Sebastian tidak kembali berdiri tegak, dia hanya mendongak sambil mengulurkan tangan kanan ke depan, "Tuan Putri Jessica, apakah Anda berkenan untuk berdansa satu tarian dengan saya?" katanya.
Hal paling menyebalkan bagi June adalah mendengar nama depannya disebut, ditambah melihat bagaimana Sebastian berbicara sambil tersenyum congkak penuh kemenangan dan tantangan.
Ucapan Sebastian bagaikan petir di siang bolong yang menyambar, padahal langit tidak menunjukkan tanda-tanda akan badai, hujan saja tidak.
June tidak menanggapi, si gadis menarik nafas dalam dan menghembuskan secara perlahan, bersamaan dengan itu sorotan tajam iris jelaganya perlahan berubah kosong.
Melihat perubahan emosi June yang begitu signifikan sontak membuat Sebastian menarik diri. Di sisi lain itu tanda bagus, namun di sisi lain hal tersebut juga bukan tanda yang bagus.
"Aku salah," Sebastian mengangkat kedua tangan terkepal ke udara, riak congkak telah meninggalkan suaranya. "Maafkan aku, oke, June?"
June tidak menanggapi, si gadis hanya melirik ke belakang Sebastian. Lebih tepatnya kepada sepasang pemudi yang baru saja memasuki ruangan.
Jocelyn dan Jeremiah, keduanya mengenakan pakaian dengan konsep yang sama seperti Sebastian kenakan, Kerajaan.
Hanya saja, Sebastian perpaduan biru, emas dengan putih sebagai dasar warna. Menunjang warna perak pada rambutnya dan kedua irisnya.
Sementara Jocelyn, memakai gaun beludru bewarna hijau ditambah ornamen ulir emas menghias di beberapa bagian, benar-benar membuatnya serasi dengan Jeremiah yang juga berpakaian dengan nada yang sama.
Tampak seperti Pangeran dan Putri sungguhan dengan mahkota di kepala mereka.
"Kau jangan memerhatikan kedua kakakmu seperti itu, June." Kata Sebastian, sedikit menggoda. "Kedua obsidian berharga-mu bisa lepas, lho."
Suara Sebastian memang menarik perhatian June, meski obsidian miliknya justru menemukan seseorang yang serasi dengan Sebastian.
"Kenapa kau tidak menjemput Tuan Putri-mu yang sesungguhnya, Pangeran Sebastian?"
Sebastian sontak menoleh, terkejut mendengar June berkata demikian. Dia berujar bingung, "Apa maksudmu?" kata Sebastian, lalu mengikuti arah yang June tunjukkan.
Iris perak Sebastian membulat sempurna tatkala seorang gadis, berpakaian dengan perpaduan sama dengan dirinya, tengah menatap dirinya dari sudut ruangan.
Kedua tangan si gadis tampak saling bertaut sebelum akhir terlepas, karena pandangannya bertemu Sebastian.
Si gadis lantas menyembunyikan kedua tangannya ke balik punggung, persekon kemudian mengambil langkah.
"Viesta," Sebastian membeo, iris peraknya mengikuti sosok si gadis, Viesta, yang berjalan mendekati pintu dan akhirnya keluar dari ruangan.
Melihat Sebastian yang mematung di tempat, alis June terangkat bingung, dia menemukan suaranya kembali setelah agak lama menekan emosi turun ke bawah, "Kau selalu memuja Nona Muda-mu di depanku. Tapi kenapa kau tidak ahli dalam memuji perempuan seperti Avis, misalnya?"
"Apa?" Sebastian kembali membeo, dia menatap June yang menatap dirinya. Bohong kalau dia tidak mendengar dan mengerti apa yang June katakan. "Kau bilang apa?"
Hening. June menatap Sebastian dalam diam. Pun dengan Sebastian. Si pemuda tampak enggan untuk mengubah fakta yang ada dan memilih untuk diam. Menatap obsidian milik June yang lebih menggoda.
Sebastian memuja Nona Muda-nya, itu benar. Dulu, dia sempat bertanya kenapa Will begitu memuja Nona Muda mereka. Dan dia bahkan baru menyadarinya beberapa waktu belakangan setelah pergi jauh dari rumah.
Terutama ketika Sebastian berada di dekat June, dia merasa di rumah. Gadis itu memiliki hampir semua yang di miliki dengan Nona Muda-nya.
Wajah, warna dan model rambut, suara khas, tinggi badan—Sebastian tidak yakin dengan ini, sebab Nona Muda masih lebih tinggi darinya, sementara tinggi June tidak lebih dari bahunya.
Sebastian ingat, wibawa dan karisma dengan jelas terpancar ketika Nona Muda di sekitarnya dan Will, untuk mengajari sesuatu hal yang baru atau yang memang belum kedua pemuda mengerti.
Meski pada kenyataannya Will lebih sering berputar di sekitar Nona Muda dibanding dirinya.
Dan sialnya, sekarang Sebastian melihat Nona Muda di dalam diri June. Riak sesak karena rindu mendadak merambat naik dan memeluk dirinya.
"Karena kau menyebutkan Nona Muda," Sebastian berujar pelan, June tidak menurunkan pandangan dari Sebastian. "Aku jadi merindukan rumah."
Jam berlalu dengan cepat. Setelah percakapannya dengan June, Sebastian memilih untuk diam. Bahkan ketika kedua kakak June berada di panggung untuk penobatan sebagai Pangeran dan Putri Satu Malam, keduanya tidak banyak berbicara.
Hingga di penghujung acara, Sebastian masih tidak menemukan Viesta, sekeras apa pun dia berkeliling ruangan, jelas gadis itu memilih untuk tidak kembali ke auditorium sejak saat itu.
Acara berakhir, Sebastian menatap June yang juga bersiap akan pergi dari acara sekolah yang ternyata memakan waktu hampir sepanjang malam.
June tidak berkata apa-apa selain, "Seperti katanya kepadamu, 'Temukan versi Menara Bintang-mu, maka kau dapat meredakan Bumi yang mengamuk karena Angkasa yang bersembunyi'."
Untuk sesaat, Sebastian tertegun. Dia hampir tidak menemukan suaranya kalau bukan karena June tertawa ringan. Lalu, "Pergi saja, dan temukan Avis. Aku akan baik-baik saja." tampak mencoba menenangkan dirinya.
"Tidak," Tegas, Sebastian tersenyum lebar, "Aku tidak mau seperti William yang kehilangan yang saku selama 6 bulan."
June terkekeh, "Benarkah?"
Sebastian mengangguk mantap, lalu melempar pandangan ke sekeliling dan kembali menatap June.
Ruangan tersebut hampir kosong, beberapa murid dan guru masih berbincang di beberapa sudut, tidak terlalu memerhatikan. Tidak akan.
Sebastian melakukannya lagi, hal yang dia lakukan saat pertama kali dia berada di hadapan June malam ini.
June menyambutnya dengan baik kali ini, menyelipkan lengannya di antara lengan kiri Sebastian. Dia mendengarkan Sebastian berbicara,
"Adik Perempuan-ku adalah Menara Bintang versiku, Nona Muda adalah Angkasa versiku, dan Bumi versiku adalah diriku sendiri."
Seraya keduanya meninggalkan auditorium, Sebastian melanjutkan, "Jika aku tidak memindahkan Surga, Aku akan membangkitkan Neraka."
"Kau ingin mengikuti Setan, Pangeran Sebastian?" June dengan sengaja mengeluarkan suara terkejut yang dibuat-buat.
"Tentu tidak, Tuan Putri yang menyamar menjadi warga sipil." Sahut Sebastian. "Tidak hanya Nona Muda, Will juga akan dengan hati untuk membunuhku kalau aku mengatakan puisi itu dengan bersungguh-sungguh."
+
Setelah mengantarkan June ke asrama, Sebastian memilih untuk pergi mencari Viesta.
Dia masih memikirkan Viesta yang tidak kunjung kembali ke asrama, bahkan yang sudah pergi sebelum acara pesta sekolah berakhir, begitu kata petugas keamanan asrama perempuan tadi ketika ditanya.
Kini Sebastian berdiri di puncak bangunan tertinggi sekolah, menatap ke berbagai arah, menentukan jalur yang akan dia pilih kemudian. "Ke mana aku harus pergi?"
(Deg)
Perasaan tidak nyaman mendadak menyeruak tidak sedap bak bau bangkai yang tertiup angin.
Sebastian lantas membuang wajah, sedikit memijat pelipis yang berdenyut, "Sialan, aku lupa kalau di Tanah ini juga masih ada makhluk selain manusia."
"Baiklah," Sebastian menghela napas dalam sambil memejamkan mata, kedua tangannya terentang ke samping, sementara bilah bibirnya terus bergerak tanpa suara.
Hingga akhirnya, "..., terbuka!" Tepat ketika kedua mata Sebastian terbuka, dua lingkaran cahaya kecil berwarna ungu terbuka secara bersamaan; satu di atas tangan kanan, dan yang lain di tangan kiri.
Dalam hitungan detik, sebuah Mahkota dan tongkat besi, keluar dari masing-masing lingkaran ungu tersebut, beruntung Sebastian dapat menangkap keduanya tepat waktu.
"Wah," Sebastian tampak masih merasa takjub dengan kedua benda tersebut yang memiliki warna emas dan bertakhtakan berlian. "Aku masih tidak percaya kalau di sini sihir lebih mudah dikendalikan."
Dengan cekatan Sebastian memakai Mahkota tersebut, lalu memutar beberapa kali tongkat yang berukuran kurang lebih panjang dari setengah lengannya.
"Mari kita lihat, lebih baik aku atau Pangeran William dalam hal mengendalikan Hud."
Pada tongkat Sebastian terdapat bongkahan batu kristal Emeralds dengan ukuran kepalan orang dewasa, secara memperlihatkan cahaya yang bersinar lembut.
Sebastian menghentikan kegiatan memutar tongkatnya, memerhatikan sekitar sekali, "Dyasta, bawa aku di mana gadis bernama Aviesta Greg berada," katanya, lalu menghilang.
.
.
.
—The End—
20 Juni 2022