Every time I think of a poem called 'you'
I want to memorize it, so I can remember you
Kedekatan Naufal dan Linda itu sangat mencurigakan bagi teman-teman mereka. Nyatanya, keduanya begitu dekat dan saling memberikan afeksi satu sama lain. Jika mereka bertanya soal sejauh apa hubungan keduanya, Naufal dan Linda hanya menjawab bahwa mereka hanya sebatas sahabat. Dekat sudah pasti karena mereka sahabat sejak kecil. Tapi, meskipun mereka berdua selalu menjawab pertanyaan dengan jawaban yang sama, teman-teman terdekat mereka tetap saja tak percaya. Karena mereka yakin, perasaan manusia itu kadang berubah seiring berjalannya waktu.
Seperti saat ini, Hany tampak sibuk memperhatikan Linda yang tengah fokus membaca buku novel. Gadis itu pecinta buku, jika sudah memegangnya dia pasti melupakan segalanya. Termasuk mengabaikan ocehan Hany beberapa saat lalu. Linda yang merasa di perhatikan tampak menggerutu dalam hati, pasalnya Hany masih setia menunggu jawaban Linda terhadap pertanyaannya kurang lebih 5 menit yang lalu mengenai hubungannya dengan Naufal. Saat ini keduanya berada di ruang kelas, berhubung masih pagi jadi kelas masih sepi karena hanya beberapa siswa yang berada di dalam dan percakapan pagi masih terkesan santai sehingga kelas tidak tampak bising oleh banyak ocehan siswa siswi yang suka berkelompok. Posisi keduanya, Hany yang duduk di depan meja Linda dengan membalikkan badan menghadap gadis itu. Mereka berhadapan, namun tatapan keduanya tak bertemu sama sekali, karena Linda yang terus menerus sibuk dengan buku novelnya.
“By the way, gue gak minta penonton dadakan.” ucap Linda mencibir namun enggan untuk menoleh karena lebih memilih membaca deretan tulisan pada buku tebal dalam genggamannya. Hany terkekeh sejenak menanggapinya.
“Loe beneran gak suka sama Naufal?”
Lagi, untuk kesekian kalinya Hany melontarkan pertanyaan konyol menurut Linda. Mana mungkin, Naufal sahabatnya sejak kecil dan mereka dekat karena memang dari dulu begitu, tak ada yang berubah.
“Loe gak bosen selalu menanyakan hal yang sama hampir setiap hari. Dan bahkan satu hari loe bertanya hampir sepuluh kali.” Linda menggerutu.
“Nggak. Karena gue emang hobi mengorek isi hati loe. Siapa tahu, loe tiba-tiba kasih jawaban yang sukses buat gue menjerit.” jelas Hany sambil menyunggingkan senyumnya. Menurut Linda, Hany itu cantik tapi sayang penyakit kepo nya akut dan itu sukses buat Linda pusing setiap kali gadis itu banyak melontarkan pertanyaan aneh-aneh baginya.
“Terserah!” pada akhirnya Linda menyerah saja. Dan, temannya yang satu ini tak mau kalah berdebat dengannya. Percuma saja, karena sampai kapan pun gadis itu akan tetap pada pendiriannya.
Mendengar respon Linda, Hany tersenyum lebar. “Gue suka kata terserah.” ucapnya dan sukses membuahkan decakan kesal dari Linda.
Hany menopang dagunya, menatap Linda dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya. “Kalau gitu, gue mau kasih tahu satu hal sama loe.” Hany menjeda ucapannya sementara Linda masih menunggu kelanjutan ucapan Hany. “Gue denger, Naufal suka sama loe.” lanjutnya dan membuat Linda terkekeh.
“Tuh kan, loe mulai lagi.”
“Gue serius, Linda. Coba deh loe lebih peka lagi. Sadar! Naufal suka sama loe.” tegas Hany dengan raut wajah seriusnya. Sementara, Linda tampak acuh dengan mengedikkan bahunya.
“Emang apa yang salah sih sama kedekatan gue sama dia sampai-sampai banyak yang kasih kesimpulan kalo gue sama dia ada apa-apa?” tanya Linda bingung sambil menatap lawan bicaranya. Hany menegakkan posisi duduknya, menatap penuh minat pada Linda yang tampak meminta penjelasan.
“Kalian itu deket, di tambah sikap Naufal yang protect banget sama loe. Menurut gue, Naufal yang mencoba memendam dan masih belum bisa memastikan perasaannya sama loe dan nunggu puisinya jadi.” jelas Hany, dahi Linda seketika berkerut mendengarnya.
“Puisi?”
“Iya, loe masa lupa kalo dia itu puitis banget. So, buat bikin loe jatuh dia harus buat puisi yang telak bisa meluluhkan hati loe.”
Demi apapun itu, Linda menyesal karena harus mendengarkan penjelasan Hany tentang Naufal. Pada akhirnya, Linda selalu sibuk bergelut dengan segala pemikirannya. Dan ocehan Hany selalu terngiang dalam benaknya.
Sementara di lain sisi, Naufal tampak sedang berkumpul dengan teman-temannya di kantin. Itu sudah menjadi kebiasaan para laki-laki tersangkut di kantin pagi-pagi.
“Gosip tentang kedekatan loe sama Linda jadi trending topik, ya. Hebat.” ucap Galih antusias sambil tepuk tangan.
“Loe beneran suka sama Linda?” tanya Juan santai sambil meminum segelas air putih. Naufal menoleh dan menatap Juan sambil tersenyum.
“Emang salah kalo gue suka sama Linda?” tanya Naufal dan membuat Juan terkekeh menanggapinya.
“Gak salah, gue cuma mau memastikan satu hal.” jawab Juan sambil tersenyum. “Loe protect banget sama dia. Jadi, gue langsung bisa simpulkan kalo loe beneran suka sama dia.” lanjutnya.
Naufal tersenyum, “Kalo gue beneran suka emang apa masalahnya?” tanyanya.
Juan berdehem sekilas, “Loe saingan terberat gue soalnya.” jawabnya sambil menyunggingkan senyum simpulnya. Mendengar itu Naufal sontak terkekeh di ikuti Galih dan Aldy.
“Juan, loe bercanda, ya?” tanya Aldy dan membuat Juan semakin menarik sudut bibirnya.
“Gue serius.” jawabnya. Dan hal itu sukses membuat raut wajah Naufal berubah seketika. “Fal, kalo loe suka sama Linda, setidaknya izikan dia untuk menemukan kemana hatinya berlabuh. Loe jangan egois karena selalu jadi benteng buat para cowok-cowok yang mencoba deketin dia. Setidaknya, kasih dia kebebasan buat memilih.” jelas Juan dan membuat Naufal menggerutu dalam hati.
“Gue kayak gini cuma mau melindungi Linda dari para cowok playboy. Termasuk dari loe, mulai sekarang.” ucap Naufal dengan nada seriusnya.
Juan terkekeh sekilas. “By the way, gue bukan playboy.” jawabnya.
Naufal menarik sudut bibirnya sejenak, “Loe manusia. Pikiran loe pasti bisa berubah suatu saat.” ucap Naufal.
Juan menyeringai, “Berarti loe juga sama.” sindirnya. Dan Naufal terkekeh.
“Iya, loe bener.” jawab Naufal dan sukses buat Juan tersenyum. “Tapi, kalo soal perasaan gue sama Linda, cap playboy itu gak bakal nempel ke gue karena gue tetap pada pilihan gue sejak dulu. Menjaga dan selalu menyayangi Linda.”
Ucapan Naufal sukses membuat Juan bergeming. Mereka saling melempar tatap, terkesan sebuah tatapan yang saling menyiratkan akan sebuah pertarungan panas. Naufal memutuskan pandangan mereka dan menatap kedua temannya yang terdiam sejak tadi.
“Ck~ Kebiasaan! Kalian jadi penonton doang.” cibir Naufal sementara Galih terkekeh.
“Gue gak berani ikut campur urusan orang ganteng.” ucap Galih.
“Gue ganteng dari lahir.” jawab Naufal percaya diri.
“Iya gue tahu, soalnya loe itu jelas banget egois.”
“Apa hubungannya ganteng sama egois?” tanya Naufal bingung. Sementara Galih tampak berdecak.
“Loe sadar dong, Bro! Loe punya muka ganteng gak bagi-bagi. Itu namanya egois.” gerutu Galih dan sukses buat semuanya terkekeh kecuali Aldy yang tampak melamun.
“Thank, bro.”
“Mulai sombong.”
“Hahahahaha.”
“Kampret emang orang ganteng mah.”
Seketika mereka berhenti tertawa saat melihat Aldy yang sibuk melamun. Dari wajahnya sudah tampak jelas terlihat bahwa Aldy menyimpan kesedihan mendalam.
“Aldy, loe diem aja kayak patung Pancoran.” kata Juan sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Aldy.
“Dia baru putus sama Viona.” jawab Galih sambil terkekeh. Juan maupun Naufal tampak tersenyum dan mengangkat kedua tangan mereka dengan merapatkan dan membuka telapak tangan menunjukkan bentuk sedang berdoa.
“Al-Fatihah.” ucap mereka sambil terkekeh saat melihat raut wajah Aldy yang tiba-tiba merenggut kesal.
“Kampret emang punya temen gak ada yang baik.” cibir Aldy buka suara.
“Loe mutusin cewek lagi?” tanya Naufal penasaran. Aldy itu di kenal playboy. Pacaran, putus ganti, putus ganti lagi. Tak heran sih sebenarnya karena dia memang tipe-tipe cowok seenaknya. Saat akan menjawab, Galih sudah lebih dulu menjawabnya.
“Salah, Fal. Yang bener itu dia di putusin. Loe gak liat mukanya udah kayak mayat hidup. Dia kan cinta mati sama Viona.”
“Kenapa sih? Ketahuan selingkuh sama yang lain apa udah bosen?” tanya Juan kepo.
“Dia nyosor. Viona kan anaknya Pak Ikhsan, guru PAI. Sudah jelas anak gadis nya itu sholehah.” Galih kembali menjawabnya. Mereka tergelak bersama, kecuali Aldy yang tampak kesal. Merasa di ejek oleh teman-temannya. Kampret emang, batinya.
“Loe kenapa antusias banget jelasin masalah gue, kampret.” Aldy nyolot.
“Wow, santai bro. Loe jangan amnesia soal yang namanya karma.” setelah mengucapkan itu Galih langsung lari karena melihat Aldy yang tampak akan memukulnya. Mereka akhirnya kejar-kejaran dan membuat Juan maupun Naufal tertawa puas.
“GALIH! SINI LOE!”
“LOE YANG SINI! LARI LOE PAYAH!”
“NANTANG GUE LOE, YA.”
“SINI KALO BERANI, TANGKAP GUE!”
Di saat kedua temannya sibuk berlari-lari sambil saling meneriaki satu satu lain. Juan kembali berbisik pada Naufal yang mulai mengalihkan atensinya pada laki-laki itu.
“Kalo loe beneran suka sama Linda. Ayo bersaing secara sehat.” kata Juan sambil tersenyum.
“Gue gak suka taruhan.”
“Kenapa? Loe takut kalah? Takut Linda tetap menganggap loe sahabat sampai akhir?”
Naufal tersenyum simpul, “Gue gak mau menjadikan gadis sebaik Linda sebagai bahan taruhan. Soal siapa yang menang dan taruhan atau nggak, Linda tetap harus menjadi milik gue.” final Naufal dan berlalu meninggalkan Juan yang masih duduk sambil terkekeh.
“Kita liat nanti.” gumam Juan.
***
Linda sudah terlampau malas berdiam diri terlalu lama didalam kelas, apalagi Hany berada dalam radius kurang dari 1 meter darinya. Gadis itu sudah berhasil meracuni otaknya dengan berbagai macam hal aneh tentang Naufal. Perasaannya menjadi resah, jika benar apa yang dikatakan Hany adalah kenyataan apa yang akan dia lakukan selanjutnya?
“Ah, Hany beneran bikin gue gak karuan.”
Linda mencoba untuk mengambil buku bacaannya yang lain didalam lokernya. Menghembuskan nafas jengah saat dirinya melihat dari kejauhan dimana lokernya sudah dipenuhi dengan sticky note yang menempel disana. Ah, sebenarnya dia heran dengan dirinya sendiri. Apa yang membuatnya special sampai-sampai banyak orang yang mengaguminya.
Yang lebih parahnya lagi, Linda selalu diberikan setangkai bunga atau ada juga yang memberinya sebuket bunga. Ini berlebihan.
“Lin? Ngapain diem aja disana? Loe gak kesurupan kan?”
Suara Naufal menyadarkannya dari segala lamunannya. Sedikit canggung, dan ini menyebalkan sekali. Gara-gara Hany, Linda jadi tersiksa sekarang.
“Lin? Linda?”
“Sorry, Fal... Gue lagi males ngobrol sama loe.”
“Lho? Lin?”
Aneh, karena Linda memilih pergi menjauh dari Naufal sehingga membuat laki-laki itu bingung dan kini hanya bisa memandang kepergian sang sahabat. Lebih tepatnya, sahabat yang dia cintai.
“Lin, apa loe udah tahu soal perasaan gue dan milih buat jauhin gue? Asal loe tahu, perlakuan loe bikin gue sedikit kecewa.” gumam Naufal.
***
Hari ini, adalah hari pertama dimana Linda memilih pulang seorang diri tanpa Naufal. Biasanya, dia selalu pulang bersama laki-laki itu. Semenjak gosip beredar jika Naufal menyukainya, Linda sedikit menjauh karena bimbang dengan perasaannya juga sedikit resah akan sesuatu.
Sore ini, Linda memutuskan untuk mengurung diri didalam kamarnya dan memilih untuk mengerjakan tugas sekolah agar terlupakan segala macam hal yang berhubungan dengan Naufal.
Saat dirinya membuka buku tugasnya, terselip satu lembar kertas putih yang terlipat menjadi dua bagian. Dia buka dengan hati-hati.
Lisanku tak cukup nyali selama ini
Untuk mengungkap hanya sebaris frasa
Aku menjadi pengecut
Bersembunyi dibalik topeng persahabatan kita
Entah sejak kapan rasa itu hadir
Merengkuh semua perasaanku
Diam-diam aku mengagumimu
Maaf, jika aku hanya bisa menyampaikan dengan cara lemah
Aku mencintaimu, Linda
—Naufal—
Setelah membacanya, Linda menjadi bimbang kembali. Menimang baik buruknya jika dia menerima atau menolak perasaan Naufal padanya?
“Naufal, maaf.... Gue bingung sama perasaan gue.”
***
Satu minggu berlalu, dan Linda memilih untuk menjauh. Naufal yang tampak murung dan selalu mencoba untuk mendekati Linda namun selalu dihindari gadis itu. Tetap saja, Linda selalu menjauh. Mengabaikan segala presensi Naufal. Dan, hari itu Naufal meminta Hany untuk mencoba menyampaikan pesannya pada Linda.
Hari itu Linda berhasil dibujuk dan akhirnya mereka berdua bertemu. Naufal menjanjikan satu tempat untuk bertemu. Disinilah mereka, satu tempat dimana mereka bisa menikmati indahnya senja. Suasana sedikit canggung, namun Naufal benar-benar tak ingin membuang waktu.
“Lin, liat gue!”
Linda menurut, dengan perlahan dia menoleh dan melihat segaris senyum tulus sahabatnya. Tatapan teduh serta senyum Naufal menyamarkan rona jingga senja itu. Linda balas menatapnya. Ini adalah obrolan pertama mereka semenjak selama seminggu lalu Linda mencoba menghindari laki-laki itu karena dia tiba-tiba menyatakan perasaannya lewat puisi dan membuat Linda merasa ada yang salah dengan hubungan persahabatan mereka akhir-akhir ini.
“Gue mau bilang satu hal, tentang puisi yang gue selip dibuku tugas loe. Gue pengen ngomong langsung sama loe.”
Jeda sejenak. Angin senja seakan menghanyutkan perasaan mereka. Sejuk namun mendebarkan.
“Gue sayang sama loe, Lin. Dan loe jelas tahu sebatas apa rasa sayang gue sama loe. Gue gak masalah soal loe balas perasaan gue atau nggak. Gue emang berharap loe juga punya perasaan sama kayak gue, tapi gue juga berpikir dua kali akan hal itu. Sebab, gue gak mau loe terpaksa suka sama gue.”
Suara Naufal mengalun menyapa gendang telinganya. Tatapannya mengunci kedua netra Linda yang tampak gelisah. Linda mencoba menemukan celah kebohongan dalam setiap kata yang terucap. Namun, gadis itu tak menemukan sama sekali. Naufal bersungguh-sungguh kali ini.
Frasa yang terucap cukup membuat detak jantungnya beradu dengan saraf otaknya yang mulai mencerna segala yang dia dengar. Atmosfer kali ini terasa berbeda, ada getaran lain merajalela dan sungguh membuat Linda kebingungan. Dia tak akan langsung menyimpulkan jika detak jantung ini menggambarkan perasaan lebih pada Naufal. Dia yakin, detak jantung ini di karenakan dia yang terlalu terkejut dengan segala kejujuran Naufal.
Sibuk bergelut dengan segala pemikirannya, tanpa sadar Naufal menggenggam tangannya dan sontak membuat Linda tersadar dari lamunan panjangnya. Tersungging senyum simpul di bibir Naufal, keduanya kembali menyelami tatapan satu sama lain.
“Sekarang, gue cuma minta dua hal sama loe. Jangan hindarin gue dan izinkan gue untuk tetap menyatakan perasaan gue di saat gue mau. Loe gak perlu jawab. Loe cukup dengar, gue udah seneng. Apa loe gak keberatan?”
Entah apa yang membuatnya tersihir, pada akhirnya Linda mengangguk sambil tersenyum simpul pada Naufal yang semakin memperlebar senyumnya.
“Gue sayang sama loe, Linda.”
Hati Linda kembali berdetak lebih cepat dari biasanya. Linda belum bisa menemukan apa arti dari perasaannya saat ini. Karena Linda masih tetap menyangkal. Satu alasan, Linda takut untuk mencintai Naufal. Karena sejatinya, perasaan seseorang bisa berubah. Dan Linda takut disaat itu terjadi, dia takut Naufal meninggalkannya dan kenangan indah persahabatan mereka hancur karena perasaan lebih mereka.
‘Gue takut, Fal’
TAMAT
***
Hello,
Terima kasih yang sudah menyempatkan untuk berkunjung dan membaca cerpen ini.
Semoga kalian terhibur😄