"Kkrriinngg"
Bunyi itu membuatku melompat dari tempat tidurku, tak biasanya malam-malam begini ponselku berbunyi sedemikian kerasnya.
"Shit," umpatku, "Siapa tengah malam begini meneleponku, merusak mimpi indahku saja," keluhku dalam hati.
Dengan malas, aku meraih ponsel yang terletak pada meja tak jauh dari tempat tidurku. Aku memicingkan mata, sinar ponsel benar - benar membuat mataku silau, tapi aku bisa melihat siapa si pengganggu itu dan mataku terbelalak lebar manakala dalam monitor layar tercantum nama 'Yuniar'.
Haruskah aku merasa senang atau bersedih saat menerima telepon darinya padahal 3 bulan yang lalu membuat hatiku terluka dengan memutuskan hubungan cinta kami yang sudah berjalan lebih dari 3 tahun itu. Tapi, jikalau dia meneleponku pada tengah malam begini, pastilah ada sesuatu yang tidak beres terjadi padanya.
"Halo..." sapaku.
Di seberang sana, kudengar Isak tangis seorang wanita, suaranya tidak asing bagiku, Yuniar.
Di sela-sela Isak tangis terdengar kata-katanya, sekalipun lemah tapi aku dapat mendengarnya jernih dan jelas.
"Mas Roni ... meninggal, mas,"
Aku tersentak, "Apa, bagaimana mungkin ? Padahal kemarin dia baik-baik saja, bahkan sempat bercanda denganku,"
"7 hari yang lalu, sebelum meninggal, ia menerima sebuah MMS / foto aneh dan mengerikan, mas. Aku tak tahu darimana asalnya, setelah ia meninggal foto itu hilang,"
Aku terkejut. Yah, beberapa hari yang lalu ia sempat menunjukkan foto tersebut; Foto seorang wanita berbaju putih berambut panjang terurai... wajahnya tidak jelas... apakah foto itu yang dimaksud oleh Yuniar ?
"Dia meninggal secara mengerikan, mas... aku, aku, aku tak bisa melukiskannya, terlalu mengerikan untuk kuceritakan,"
"Baik, sekarang juga aku berangkat ke rumah kalian. 10 menit lagi...."
"Tidak... tidak... jangan ganggu aku... pergi! jangan, tidak!! AAAKKKHHH..."
"Halo, Yuniar..." seruku. Tak ada jawaban, yang terdengar adalah dengungan panjang, buru-buru, aku menutup ponselku, meraih jaket kulitku yang tergantung pada dinding kamar dan bergegas menuju garasi. Tak lama kemudian, mesin sepeda motorku menderu dan kupacu menuju rumah Yuniar yang jaraknya cukup jauh dari rumah.
***
Sesampainya di rumah Yuniar, halaman rumah yang biasanya sepi, tampak 2 unit mobil Dengan plat nomor berwarna merah. Ambulan dan polisi. Selain dua mobil tersebut, juga tampak orang-orang berkerumun dengan pandangan tertuju pada 2 buah kereta mayat yang didorong beberapa orang petugas forensik menuju pintu belakang mobil ambulan tersebut.
Diantara orang-orang tersebut, tampak pula sahabat-sahabat karib Yuniar : John, Rudy, Amel, Rita dan Carla. Wajah mereka tertunduk dan lewat sorotan lampu sirine mobil, air muka mereka tampak sedih dan prihatin. Amel yang sempat melihat kedatanganku, ia berlari kecil menuju ke arahku.
"Roni dan Yunia meninggal, Den," katanya.
Kabar meninggalnya Roni tidak membuatku terkejut, tapi, ketika nama Yuniar disebut pula, aku tersentak, "Bagaimana, mungkin ? 15 menit lalu Yuniar meneleponku, lantas mengapa ia juga meninggal ?"
"Entahlah, menurut John... mereka meninggal karena Monica ?!" kata Amel.
Aku tertegun, ingatanku segera kembali pada kejadian 7 hari yang lalu.
***
Berawal dari link biro jodoh, kami, khususnya yang belum memiliki pasangan. Rudy mencetuskan ide konyol untuk mencari pasangan lewat biro jodoh tersebut. Siapa yang pertama kali mendapatkan pasangan baik pria maupun wanita, dari biro tersebut, dialah pemenangnya.
Ada sebuah nama yang membuat teman-teman tertarik, "MONICA". Aku tak tertarik, sebab identitas nya tidak tercantum lengkap.
'Hei, perkenalkan namaku Monica, tempat tinggal Malang, umur 18 tahun. Saya butuh teman untuk curhat, siapa yang bersedia menjadi temanku hubungi no. 0895 3767 6666', demikianlah yang tercantum di akun Biro Jodoh tersebut.
"Aku memilih cewek ini," ujar Roni bersemangat.
"Kalau begitu, akupun memilih dia," sahut Rudy.
"Curang," dengus Roni, "Masih banyak wanita lain, kenapa kau memilih dia, Rud ?"
"Kita bersaing secara sehat, bro... lagipula, kau sudah punya Yuniar, harusnya kau berikan aku kesempatan," ujar Rudy.
"Kalian seperti kucing berebut makanan saja," Amel ikutan berbicara, "Ron..., jaga perasaan Yuniar, dong,"
"Aku sudah membicarakannya dengan Yuniar, dan dia tidak mempermasalahkannya, toh, Minggu depan kami menikah. Ingat, Monica bilang ingin berteman bukan kekasih. Tidak ada salahnya. Mumpung masih lajang... ha...ha...ha... Kalau sudah nikah, kan tidak bisa melirik ke cewek lain," canda Roni.
"Bagaimana denganmu, Den ?" tanya Rudy.
Aku tertawa kecut, "Ah, suka-suka kalian, dech... aku tidak mau ikutan,"
"Baiklah, jangan sampai kau gigit jari, Den..." goda Roni sambil memainkan jari jemarinya pada keypad, tak lama kemudian ia terlibat pembicaraan via ponsel.
"Halo..."
Suara itu terdengar begitu merdu, memanjakan siapa saja yang mendengarnya, yah, speaker pada ponsel Roni dinyalakan sehingga kami semua bisa mendengarnya.
"Halo, apa betul kamu bernama Monica?"
" Iya. Kalau boleh tahu, dengan siapa saya berbicara,"
"Oya, perkenalkan namaku Roni..." Roni mulai basa basi dan kami semua mendengarkan dengan cermat, hingga ujung pembicaraan via ponsel itu mengarah pada Roni meminta foto lawan bicaranya.
"Baiklah... tunggu sebentar, saya akan mengirim foto ke ponsel Mas Roni,"
Tak lama kemudian, ponsel Roni berbunyi, ia melompat kegirangan manakala menerima pesan gambar dari no. Monica. Buru-buru, pria bertubuh tegap dan kekar itu menggerakkan jari jemarinya pada keypad dan matanya terbelalak lebar menggelitik rasa penasaran kami.
Pada layar lcd ponsel terpampang foto seorang wanita berambut panjang, terurai dan kusut menutupi 2 sisi wajahnya, mengenakan pakaian putih. Ia duduk sementara kedua tapak tangannya diletakkan pada paha. Foto itu tampak kusam sehingga tidak jelas bahkan terlihat mengerikan.
"Cewek ini suka bercanda rupanya," ujar Rudy.
"Ah, sudahlah, mungkin dia malu menunjukkan wajahnya," ujar Amel.
Aku tersenyum melihat air muka Roni yang merah karena .... entah malu, entah marah. Foto tersebut memang berukuran, semisal dicetak mungkin hanya 2x3 saja. Saat dia menerima foto itu sekitar pukul 7 malam.
Besoknya, sekitar pukul 7, Roni datang ke rumah sambil membawa berita yang cukup mengejutkan.
Foto dari Monica ukurannya berubah menjadi 4x6, padahal kemarin sekalipun mengutak-atik layar ponsel, foto tersebut tetap tidak bisa dilihat dengan jelas. Demikian pula pada saat dia memperlihatkan foto tersebut di rumah, hasilnya sama. Tak kudengar lagi berita hubungan Roni dengan wanita bernama Monica itu.
3 hari kemudian... Roni dan Yuniar menikah. Kami datang menghadiri resepsi pernikahan tersebut.
Aku mendengar bahwa mereka juga mengundang Monica, tapi, tak ada kabarnya, yang membuat mereka terkejut lagi adalah Foto wanita misterius itu ukurannya membesar dan tampak lebih mengerikan, dihapus dari galeri lewat komputer atau aplikasi pembersih sampah juga tidak bisa hilang, sepertinya foto tersebut menyatu dengan ponsel Roni.
Tepat hari keenam setelah menerima foto tersebut Roni dan Yuniar bagaikan orang linglung. Ukuran foto tersebut makin membesar, lebih jelas dan mengerikan. Kulit wanita dalam foto tersebut tampak pucat, pada sela-sela rambut yang menutupi dua sisi wajahnya tampak 2 titik cahaya merah. Tajam menusuk. Padahal 2 pasangan muda itu sudah menjual ponsel dan mengganti nomornya yang lama namun, foto itu masih saja tersimpan di memori ponselnya.
Hari ketujuh, aku mendengar berita yang mengejutkan. Roni dan Yuniar meninggal secara mengerikan. Apa sebenarnya yang terjadi?
bersambung..