"Sampai kapan aku harus begini? Terus berpura-pura mencintaimu..." Dhani menggerutu di dalam hati.
Semakin lama, Dhani merasa semakin hambar dengan perasaannya sendiri. Bahkan tak bisa dipungkiri, kini ia mulai merasa bosan melihat wajah Nindi, istrinya.
Belum genap dua tahun usia pernikahan mereka, namun Dhani sudah merasa sangat tersiksa. Ia sendiri bingung dengan kondisi hatinya. Dulu ia sangat mencintai Nindi. Hingga hubungan mereka hari demi hari semakin dekat saja. Sampai tiba suatu hari, dosa itu pun terjadi begitu saja.
Nindi hamil di luar nikah. Kuliah mereka menjadi kacau dan tertunda akibat konflik antara orang tua Dhani dan orang tua Nindi. Hingga saat ini, kuliah mereka masih saja tersendat-sendat, seolah jalan di tempat. Dhani merasa mudanya yang penuh kebebasan telah terenggut begitu saja.
Kedua orang tua Nindi memaksa Dhani untuk bertanggung jawab dan mengancam akan melaporkan ke pihak berwajib jika Dhani mencoba melarikan diri. Maka tidak ada pilihan lain bagi Dhani dan kedua orang tuanya. Dhani terpaksa menikahi Nindi setelah kelahiran putri pertama mereka.
Anehnya, rasa suka dan rasa cinta Dhani perlahan memudar setelah pernikahan dilaksanakan. Semuanya terasa berbeda, tidak seindah masa-masa pacaran dulu.
Kebahagiaan sebagai pengantin baru tentu saja tidak pernah dirasakan oleh Dhani dan Nindi. Justru cibiran dan umpatan masih saja bergaung kuat sampai saat ini.
Sebenarnya bukan tidak beralasan jika Dhani merasa bosan dengan Nindi. Setelah melahirkan, Nindi banyak mengalami perubahan. Khususnya perubahan bentuk badan.
Salah satu alasan terkuat mengapa dulunya Dhani begitu menyukai Nindi adalah karena Nindi memiliki body yang sexy dan paras wajah yang cantik.
Tetapi kini Dhani tidak bisa menipu dirinya sendiri bahwa Nindi sama sekali sudah tidak menarik lagi di matanya. Ditambah lagi sikap manja Nindi yang tidak pada tempatnya, membuat Dhani semakin merasa jengah.
Setiap kali melihat putri kecil mereka merengek atau menangis, Dhani mudah sekali merasa kesal. Kadang-kadang dia merasa putri kecil mereka adalah penyebab utama hidupnya menjadi kacau begini.
Nindi juga bukanlah tipe seorang ibu yang telaten mengurus bayi. Rumah mereka selalu saja dalam keadaan berantakan. Tangisan Echa, putri mereka, selalu saja terdengar nyaring di telinga sehingga membuat Dhani tidak betah berlama-lama menghabiskan waktunya di rumah.
Seperti saat ini. Sejak tadi Echa rewel sekali. Nindi akhirnya kewalahan menghadapi putri kecilnya.
"Beib... Bawa Echa main dong... Aku mau ngerjain tugas kampus nih..." Rengek Nindi.
"Eh... Kamu ga lihat apa?!! Aku baru pulang kerja!" Dhani berkata dengan nada tinggi.
"Iya... Iya... Aku tahu! Sebentar aja, beib... Main sama Echa, biar dia ga nangis. Please..." Nindi masih mencoba membujuk Dhani.
"Ah... Aku capek! Antarkan saja dia ke rumah mamamu yang banyak duit itu!" Bentak Dhani.
"Heiii... Jaga mulut kamu ya! Apa maksud kamu ngomong gitu?!" Nindi mulai berang.
"Kamu punya otak ga sih? Suami baru pulang cari uang, udah kamu suruh ini-itu!" Dhani berteriak dan menunjuk ke arah kepala Nindi.
Dhani betul-betul emosi karena merasa Nindi tidak mau mengerti keadaan dirinya. Ia merasa lelah hari ini karena harus bekerja dan juga kembali ke kampus untuk mengejar ketertinggalan kuliah selama ini. Itu benar-benar melelahkan!
Namun Nindi merasa sangat marah mendapat perlakuan begitu dari Dhani. Dia tidak suka Dhani berkata-kata kasar pada dirinya, apalagi menghina kedua orang tuanya.
"Dasar laki-laki ga tahu diri! Kamu kan punya anak, punya istri. Udah tugas kamu nyari uang." Nindi membalas teriakan Dhani dengan kalimat yang membuat Dhani makin emosi.
"Apa!? Anak? Istri?" Dhani menatap Nindi dengan tatapan sinis sekali.
"Ini semua kan kemauan orang tua kamu yang sok kaya itu!" Umpat Dhani.
"Jangan bawa-bawa orang tuaku! Kamu yang salah! Sudah tahu miskin, masih malas-malasan juga cari duit." Tuding Nindi sekenanya.
"Begitu hasil didikan orang tuamu ya! Pantas saja hidupku jadi sesulit ini..." Ujar Nindi lagi.
PLAAAAKKK!!!
Sebuah tamparan keras melayang mengenai wajah Nindi. Nindi terhuyung sambil memeluk putrinya yang hampir saja lepas dari gendongannya. Nindi terkejut bukan main. Ia tidak menyangka Dhani berani berbuat kasar padanya. Ini bukan Dhani yang dikenalnya dulu!
"Kamu yang bawa sial dalam hidupku!" Bentak Dhani sebelum masuk ke kamar dan membanting pintu kuat-kuat.
Echa tiba-tiba menangis kuat dalam pelukan Nindi. Bayi itu seolah mengerti perseteruan yang sedang terjadi di antara kedua orang tuanya. Nindi menangis terisak sendiri. Dia sungguh menyesali semua yang telah terjadi. Dia tidak pernah merasakan kebahagiaan lagi sejak Echa, putrinya, hadir di tengah-tengah kehidupan mereka berdua.
Sambil menahan isak tangisnya, Nindi mengelus pipinya yang terasa perih akibat tamparan dari Dhani.
Mungkin ada benarnya, kehadiran anak hasil hubungan haram, tidak bisa menjadi penenang dalam kehidupan. Justru menjadi cobaan dan beban. Namun bagaimana pun juga, Nindi menyayangi putrinya tersebut. Darah dagingnya sendiri.
Sementara itu, Dhani sudah memutuskan di dalam hatinya. Dia sudah lelah dengan semua ini. Dia lelah berpura-pura menjadi suami yang baik.
Pura-pura cinta tidaklah mudah. Dia akan segera mengurus perceraian mereka. Dia sudah muak melihat Nindi dan kedua orang tua istrinya itu yang selalu saja mencampuri urusan rumah tangganya.
"Aku ingin bebas! Persetan dengan mereka semua!" Ujar Dhani geram.
Di luar kamar terdengar raungan tangis Echa. Nindi sedang merapikan pakaian dan memasukkannya dengan cepat ke dalam koper. Dia akan pulang ke rumah orang tuanya secepatnya. Dia juga sudah merasa tidak tahan lagi dengan sikap Dhani.
Sepertinya perpisahan yang sesungguhnya akan segera terjadi.
***TAMAT***