Bagaimana jadinya ketika orang yang kamu sukai justru menyatakan perasaannya kepada orang lain dihadapanmu?
Kamu tiba-tiba mendapat ajakan ‘kencan’ diwaktu yang sama?
Tapi apa alasannya? Aku bahkan tak mengenal dirimu!
Honda miru, namaku.
Aku adalah gadis SMA yang mencintai sosok wali kelasku, sohma kakeru.
Bukan tanpa alasan atau cinta pandangan pertama, tapi kakeru adalah sosok kakak yang selalu menemaniku sejak kecil.
Dia bukan kakak kandungku tapi dia adalah anak dari sahabat ibukku.
Aku adalah gadis yang kesepian sejak kecil, ibukku pergi jauh untuk bekerja sedangkan ayahku.... aku tak tau dimana ayahku.
Hanya kakeru yang menemani ku sejak kecil
Aku bersyukur, kakeru adalah wali kelasku ketika aku SMA.
Aku selalu senang melihat senyumnya, bahkan hanya mendengar suara langkah kakinya membuat jantungku berdegup kencang.
Namun....
Suatu hari aku mengunjunginya di perpustakaan.
Aku berusaha menyatakan perasaanku, tapi.... di saat yang tidak tepat wanita itu datang.
Ya! Wanita itu! Guru bahasa, dia adalah Tachibana Yuri.
“Pak kakeru! Ada yang ingin saya bicarakan”
Dia menunjukan senyum manisnya.
Tapi dia melirik ke arahku diam-diam.
Aku menyadari itu.
Dia sengaja!
Tapi tak kusangka reaksi kakeru justru seperti seseorang yang sedang jatuh cinta.
Aku pergi meninggalkan mereka berdua di perpustakaan.
Aku benar-benar tak tahan.
Di waktu yang sama ada anak laki-laki yang mencegatku.
Dia berambut coklat, tinggi, putih dengan tahi lalat dibawah mata kanannya.
“Miru? Honda miru?”
Tanya anak laki-laki itu.
“Apa?”
Jawabku singkat.
“Ayo pacaran!”
Ucap pria itu dengan tegas.
“Tunggu... apa?!”
Jawabku, terkejut.
“Ayo kencan denganku! Honda Miru!”
Ucap pria itu sambil tersenyum dan menundukan kepalanya.
Aku tak bisa berkata-kata, aku terkejut.
Aku terdiam sejenak. Dengan tatapan heran, aku memegang pundaknya.
“Tolong jangan menunduk seperti itu”
Ucapku.
Aku menggenggam tangannya dan menuntunnya menuju ke lorong kelas.
“Kenapa? Kenapa kau mengajakku berkencan? Kita bahkan tak kenal satu sama lain.”
Aku bertanya dengan perasaan separuh ragu.
“Aku... aku menyukaimu”
Jawab anak laki-laki itu.
“Siapa namamu?”
Tanyaku.
“Togashi haru. Kau bisa memanggilku haru.”
Jawab anak laki-laki itu yang bernama haru.
Aku berpikir sejenak, aku merasa senang ada anak laki-laki yang menyukaiku. Namun tiba-tiba aku teringat kakeru dan wanita itu, yuri. Apa mereka berkencan? Apa wanita itu juga menyukai kakeru? Dia licik, dia tau aku menyukai kakeru sehingga dia menatapku dengan tajam dan sinis.
“Apa kau bisa memberikan aku waktu?”
Ucap miru
“Tentu, tapi apa kita bisa mencoba menghabiskan waktu bersama? Seperti pdkt?”
Ucap haru dengan tatapan memelas.
“Hm baiklah”
Jawab miru
Aku dan haru akhirnya memutuskan bertukar nomor telepon.
Keesokan harinya.
Sekolah, 09.30 jam istirahat.
Aku ingin menemui kakeru, untuk yang terakhir kalinya aku akan memastikan perasaanmu terhadapku.
Aku melihat kakeru tengah berdiri di ruang musik.
Tapi dia bicara dengan siapa?
Aku melihat lebih jelas lagi, ternyata ibu guru yuri.
“Ck”
Aku kesal melihat wanita itu.
“Aku... aku mencintai mu bu yuri”
Ucap kakeru dengan wajah memerah.
Aku terkejut, pandanganku teralihkan.
Aku menahan agar tak meneteskan air mata.
Wanita itu tersenyum.
Menjengkelkan.
Aku pergi dari tempat itu, berlari, belari secepat mungkin.
Aku sampai pada taman sekolah.
Aku sudah tak tahan aku meneteskan air mata.
Tapi....dia tiba-tiba hadir.
Seperti payung yang melindungi ku dari hujan.
Seperti pelangi yang datang setelah hujan membasahi tubuhku.
Dia bagai tempat bersandar bagiku.
Ya dia haru.
Dia datang entah dari mana menghapus air mataku.
“Jangan menangis, apa yang membuatmu murung akhir-akhir ini?”
Tanya haru.
“Bukan apa-apa”
Jawabku, singkat.
Kakeru yang dulu selalu datang setiap aku menangis, memberikan bahunya untuk bersandar dan memelukku dengan hangat.
Kenapa kau sekarang meninggalkan ku?
Aku kembali ke kelas dengan tanganku yang digenggam erat oleh haru.
Kami jadi pusat perhatian tapi itu bukan masalah bagiku.
Untuk apa aku mempertahankan dan memikirkan dirimu yang jelas jelas hati dan raganya sudah tak ada untukku lagi.
Sepulang sekolah. Pukul 14.30
Halaman belakang sekolah.
Aku menghampiri wanita itu.
Ya ibu guru Yuri.
Aku hanya berniat lewat saja pada awalnya.
Tapi... wanita itu memanggilku.
“Honda Miru?”
Ucap wanita itu dengan nada sok imut.
“Apa?”
Jawabku, singkat.
“Kamu..... menyukai pak kakeru bukan?”
Ucap wanita itu sambil tersenyum.
“Apa? Dia tau sejak awal, tapi mengapa? Mengapa dia bersikap seolah tak tau?!”
Aku terkejut, benar-benar semakin jengkel dan tak tahan dengan sikapnya.
“Bukan urusanmu”
Jawabku, ketus.
Aku berlari menuju gerbang sekolah.
Sore hari. Pukul 16.00
Ping!
Handphone ku berbunyi.
Ada pesan masuk.
“Ayo kita pergi ke caffe kecil dekat stasiun”
Pesan itu dari haru.
“Baiklah”
Aku menjawab dengan singkat.
Kami ( aku dan haru ) bertemu di dekat stasiun dan duduk berdua di sebuah caffe.
Kami memesan coklat hangat dan dua kue.
Kami memulai obrolan ringan.
Tiba-tiba sosok tak asing berdiri di hadapanku.
Mereka adalah Guru Yuri dan Kakeru.
“Miru sudah besar ya?”
Ucap kakeru sambil tersenyum.
“Ahh benar-benar bukan ini yang aku inginkan”
Ucapku dalam hati.
“Ahh~ miru~ kamu sedang bersama siapa?”
Ucap wanita itu sambil tersenyum.
“Ck menjengkelkan”
Ucapku dalam hati.
“Ah! Pakguru dan ibuguru, halo”
Haru menyapa.
“Kalian pacaran?”
Tanya wanita itu, Yuri.
“Ahh bukan begitu”
Jawab haru dengan pipi memerah.
“Haha maaf kami menganggu, kami pergi dulu ya”
Ucap wanita itu.
Aku hanya bisa terdiam dan melihat bahwa kakeru tengah pergi berdua dengan wanita itu.
Apakah mereka berkencan?
“Anu... apakah kau sudah punya jawabannya”
Haru memulai pembicaraan.
“Sebenarnya.... aku menyukai pak kakeru”
Jawabku dengan wajah kaku tanpa ekspresi.
Haru terkejut.
Tapi dia masih bisa tersenyum.
“Jadi begitu.... baiklah”
Haru hanya terdiam setelah mengatakan hal itu.
Aku benar-benar malu. Rasanya aku seperti mempermainkan perasaannya.
Padahal dia bukan orang jahat.
Aku berdiri dan berlari keluar dari caffe itu.
Aku tak menyangka dia ( haru ) akan menyusulku. Dia mengejarku.
“Miru~”
Teriak haru.
Aku tanpa sadar menghentikan langkahku. Aku terdiam.
Aku menangis. Aku sekali lagi menangis karena kakeru.
“Jadi dia penyebabmu menangis dan murung akhir-akhir ini. Aku senang, aku tau alasanmu menangis, sehingga aku tak perlu bingung lagi”
Ucap haru.
Aku terdiam, tangisku berhenti.
“Kenapa kau senang”
Tanyaku.
“Ah anu bukan begitu, aku senang aku tau alasanmu menangis jadi aku tak perlu bingung lagi tapi bukan berarti aku senang melihatmu menangis”
Jawab haru.
“Ohh”
Jawabku dengan singkat.
“Miru aku rasa kau harus memastikan perasaanmu terhadap pak kakeru, nyatakanlah.
Jika dia juga menyukaimu, aku ikut senang. “
Ucap haru.
“Tapi jika dia menolakku-“
Jawabku
“Tapi jika dia menolakmu, aku akan ada disini, sebagai tempatmu untuk kembali.”
Ucap haru.
Aku tersentuh, aku senang. Jika aku merasa tak tau harus meluapkan rasa sedihku pada siapa, aku senang kamu ada untukku, haru.
Aku berlari dan menghampiri pak kakeru.
Dia berdiri sendirian di depan sebuah toserba.
“Kak kakeru... anu”
Ucapku terbata-bata.
“Miru? Ada apa?”
Tanya kakeru. Kebingungan.
“Pak kakeru... aku menyukaimu”
Aku menyatakannya! Aku menyatakannya! Tapi aku takut, jantungku berdegup kencang.
“Ah! Miru-chan!”
Wanita itu lagi-lagi jadi penganggu!
“Miru... terimakasih kau sudah menyukaiku, tapi aku mencintai bu yuri, maaf”
Ucap kakeru, dia tersenyum.
“Ah! Maaf aku datang di saat yang tidak tepat ya~.”
Ucap wanita itu.
Aku menahan tangis, aku ingin pergi aku ingin kembali pada haru tapi kaki ku terasa berat.
“Miru, kau akan menemukan cintamu suatu saat nanti tapi dia bukanlah aku”
Kakeru menepuk punggungku dan tersenyum.
“Miru-chan kami pergi dulu ya~.”
Wanita itu tersenyum. Dia menang! Dia pemenangnya! Aku sedih.
Aku sudah tak tahan. Ketika mereka sudah pergi, aku meneteskan air mata. Untuk ke sekian kalinya aku menangis karenamu, kakeru.
Suara langkah kaki.
Ternyata wanita itu.
“Miru-chan. Kau tau bukan kakeru menyukaiku tapi kau masih saja berusaha. Tak apa itu bagus~ Tapi... kau seharusnya tak usah menyatakan perasaanmu itu hm? Bukankah rasanya memalukan?”
Ucap wanita itu, dengan nada mengejek.
“Kau... kau tak mencintai kakeru dengan tulus kan? Aku melihatmu kemarin dengan laki-laki lain di toko buku. Kalian berciuman!”
Aku berteriak.
“Oh! Hahaha kau melihatnya ya~ itu benar~ aku tak mencintai kakeru, tapi dia begitu mencintai ku~ aku suka dengan perasaannya itu. Rasanya.... benar-benar menyenangkan bukan?”
Wanita itu menatapku.
Dia pergi.
Aku tak tahan. Aku meluapkan semua perasaan kecewaku. Aku menangis.
Ada suara langkah kaki.
Apa wanita itu kembali lagi?
Tiba-tiba ada yang memelukku.
Haru! Dia adalah haru.
“Aku mendengar semuanya. Maaf Miru~ seharusnya aku tak memaksamu menyatakan perasaan pada pak kakeru.
Aku minta maaf.”
Haru memelukku
Rasanya hangat.
Aku memeluk balik haru.
Aku tak bisa menahan tangisku.
Semua perasaan yang aku pendam selama ini meluap pada saat itu juga.
Keesokan harinya, 07.00
Rumah Miru.
Aku membuka pagar rumahku.
Ada orang berdiri di depan pagar, siapa dia?
Setelah ku lihat lebih jelas lagi, dia haru.
“Haru? Ngapain?”
Tanyaku. Bingung.
“Bukankah aku sudah bilang kemarin, kita berangkat ke sekolah bersama ya?”
Tanya haru.
“Oh~ baiklah”
Aku bergegas berangkat bersama haru.
Di tengah jalan.
“Haru..”
Ucapku. Ragu.
“Kenapa?”
Tanya haru.
“Mengenai tawaranmu untuk pacaran...”
Ucapku.
Haru berhenti melangkah. Dia terdiam.
“Ke.. kenapa?”
Tanya haru. Terbata-bata.
“Apa aku boleh menerimanya sekarang?
Mungkin akan terkesan seperti aku sedang mencari pelampiasan, tapi... aku benar-benar ingin mencoba untuk pacaran denganmu. Sungguh. Aku tau kau orang baik. Kau selalu ada buatku. Dan kemarin, aku benar-benar berterima kasih.”
Jantungku berdegup kencang.
Aku tahu dia pasti akan menolakku.
Tapi....
Tiba-tiba haru memelukku.
“Aku... aku menerimamu dengan senang hati, Miru”
Haru memelukku dengan erat, dia tersenyum.
“Haru meneteskan air mata?!”
Aku terkejut.
Aku memeluk haru dengan erat.
Kini aku sadar, untuk apa membuang waktu mempertahankan perasaan bertepuk sebelah tangan seperti itu. Lebih baik memperjuangkan apa yang pantas diperjuangkan.
Aku terlalu fokus dengan orang yang tidak mencintaiku. Tanpa disadari ada seseorang yang memperhatikan ku tanpa aku sadari. selalu ada untukku.
Aku bersyukur. Haru kehadiranmu... bagai sinar mentari, menyinari kegelapan yang menyelimuti hidupku.
Terimakasih.
-TAMAT-