Senja Terindah
A Story By : Mom Alfi
Jika senja mengalah pada malam, Aku disini mengalah pada rindu.
Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat untuk sekedar mecintai dalam diam.
Ya, sebegitu menyakitkan memang. Hanya mampu mengagumi tanpa dicintai. Hanya bisa menutup luka, menahan api cemburu, memendam rasa kecewa, karena mau marah pun Aku sadar. Siapa Aku?
Tujuh tahun aku hanya mampu memandang dari kejauhan, ikut tersenyum saat Dia tersenyum, bahkan turut bersedih saat wajah itu terlihat mendung. Bukan Aku tidak tau apa-apa tentang dirimu. Justru Aku lah Orang yang paling mengerti siapa dirimu. Semua tentangmu bahkan sudah kuhafal diluar kepala.
Keputusanmu untuk pergi 3 tahun yang lalu justru membuatku berada padi titik terendah dalam mencintai. Tiada salam perpisahan atau hanya sekedar berpamitan. Karena bagimu Aku hanyalah Orang asing yang tidak saling mengenal. Selama itu pula Aku hanya mampu memelukmu dalam doa, melangitkan namamu dengan harap sang semesta akan mendengar jerit hati ini, jerit hati mana kala rindu semakin menggerogoti.
Hingga dering ponsel mengagetkanku pada malam itu, “Siapakah gerangan yang menelpon tengah malam begini?” Hingga kugeser tombol hijau, “Halo.” Sapaku, namun tidak terdengar jawaban. “Halo siapa disana?” lagi-lagi hanya hembusan nafas yang terdengar menembus indra pendengaran. Tapi Tunggu! Hembusan nafas itu justru terdengar tidak asing di telingaku. Ya, Aku hafal betul suara itu, Suara hembusan nafas yang selalu Aku rindukan selama 3 tahun terakhir sejak kepergianya.
Bagaimana bisa Aku tidak hafal suara itu, bahkan Aku ingat betul betapa dulu Aku menjadi Orang yang sangat menyebalkan bagi nya. Setiap malam Aku mengganggu nya dengan dering telepon dari nomor yang selalu kuganti, Ya, tentu saja Aku memiliki puluhan bahkan mungkin ratusan nomor telepon. Setalah Diblokir nya Aku ganti nomor dan kembali mengganggu nya dengan telepon. Tidak ada obrolan diantara kami, Aku tidak seberani itu untuk sekedar menyapa atau mengatakan hallo. Begitu panggilan terhubung Aku hanya mampu diam dan tersenyum mendengar suara nya. Entah itu makian karena terlalu kesal, atau hanya suara deru nafas yang begitu tenang. Aku sangat menyukai nya.
Terdengar konyol memang, hanya suara hembusan nafas namun Aku begitu menyukai nya. Aku menyukai apapun yang ada pada nya. Atha Rayhan Shakeil. Bahkan hanya menyebut nama nya saja mampu membuat jantung ini bergemuruh hebat,
Thret.. Thrett..
Detak jantungku belum kembali normal setelah menerima panggilan misterius barusan, namun kini ponselku kembali bergetar menandakan sebuah pesan masuk. Kembali kubuka gawai yang masih di genggaman. Dan, Ya. Pesan dari nomor yang sama. “Terimakasih untuk mu yang tidak pernah lupa menyebut namaku dalam setiap doamu. Karena Doa mu Allah selalu melindungi setiap langkahku. Terimakasih untuk tidak berhenti berjuang mengangguku selama tujuh tahun. Maaf, saat itu Aku harus pegi demi masa depan yang lebih baik. Sekarang Aku kembali. Sekarang bukan lagi soal Kamu yang harus berjuang, kini saatnya Aku yang akan berjuang. Tunggu, tunggulah Aku, sampai saat nya Aku datang dan memintamu pada seseorang yang paling berhak atas dirimu.”
Luruh, Ya, seketika air mata ini luruh setelah membaca pesan nya. Dia telah kembali, Dia siapa? Siapa yang sedang berjuang, Siapa Dia? Siapa? Batin ini terus bertanya tentang siapa. Karena hati ini tak ingin terlalu bahagia dengan sebuah harapan yang belum pasti kebenaran nya. Aku tak ingin terluka, Aku tak ingin kecewa karena terlalu percaya diri. Percaya diri jika memang Dia lah sosok nya, Sosok Pria yang selalu Aku rindukan.
Hingga satu minggu telah berlalu, tidak ada lagi sebuah pesan ataupun panggilan. Aku pun tidak berani untuk sekedar menghubungi atau mengirim pesan, lagi-lagi Aku takut. Takut jika malam itu hanya sebuah pesan dari Orang iseng. Aku takut terlalu berharap, dan berujung kecewa.
Tepat bakda Shalat magrib. Pintu rumah ini terdengar diketuk beberapa kali dan diringi suara salam. Tunggu! Suara itu, Ah Ya Allah.. Apa Aku ini sudah benar-benar gila? Hingga apapun yang Aku ingat hanya tentang dirinya.
Dengan langkah gontai Aku berjalan kearah pintu, tanpa terasa tubuh ini justru bergetar hebat, Detak jantung bahkan sudah tidak terkendali. “Bismillah..” Lagi-lahi Aku memantapkan hati.
Klek.
Seorang Pria berbadan atletis, tinggi besar dengan senyum lebar menyambutku saat pintu telah terbuka sempurna. Ya Allah.. siapapun tolong sadarkan Aku! Mimpi, ini Mimpi. Bahkan saat ini Aku melihat nya berdiri dan tersenyum dihadapanku.
“Sa..Khalisa, Khalisa Salsabila.” Pria itu menggoyang-goyangkan tangan nya didepan wajahku saat Aku hanya terbengong dengan mulut terbuka lebar. Seketika lamunanku buyar. Namun setelah tersadar justru Sosok itu masih tersenyum hangat di depanku. Sontak tangan ini mencubit pipiku. “Aww..! sakit.” Ya Allah ini nyata, ini bukan mimpi ya Allah.
“Hey.. kenapa di cubit?” Protes nya seraya menyentuh pipi yang kemerahan karena ulahku sendiri. Sentuhan itu terasa begitu lembut, Ya Allah.. jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan Aku Ya Allah.. Maaf.. Maafkan Hambamu yang telah mencintai mahlukmu secara berlebihan Ya Allah. Sungguh Hamba tidak mampu mengendalikan rasa.
“Eh ada tamu rupa nya.. Khalisa. Tamu nya kok gak disuruh masuk?” Suara Mama terdengar dari arah belakang.
“Eh. I...Iya Ma.” Memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam adalah caraku untuk menetralkan detak jantung ini. Nyata, Ini nyata, Dia benar-benar datang.
“Ma...mari silahkan masuk!”
“Perkenalkan..Nama Saya, Atha Rayhan Shakeil. Maaf jika kedatangan Saya kesini terlalu mendadak atau menganggu atau justru terkesan tidak sopan. Kedatangan Saya kesini Insyaaallah dengan membawa niat baik. Saya ingin melamar Putri Bapak dan Ibu yang bernama Khalisa Salsabila untuk menjadi Istri Saya.”
Luruh. Lagi-lagi Air mata ini luruh. Ya Allah.. terimakasih. Terimakasih karena kini telah tiba hari yang selalu Aku tunggu, Hari yang selalu menjadi bagian dari doa-doa ku. Dia benar-benar datang dan memintaku pada Seseorang Yang paling berhak atas diriku.
Ayah terlihat mengusap sudut mata nya tang basah, begitupun dengan Mama. Wanita Paruh baya itu memelukku erat dengan tangis yang sama, tangis kebahagiaan.
“Terimakasih atas niat baikmu Nak, Kami menerima lamaranmu. Sebagai seorang Ayah Aku selalu menunggu hari ini. Terimakasih telah datang, 10 Tahun Sejak Putriku mulai mencintaimu dalam diam, Aku selalu menunggu hari ini.”
Tiga hari kemudian. Tepat pukul Lima sore saat semburat jingga terlihat begitu indah dilangit Senja, Tangis haru tidak lagi dapat terbendung saat janji suci itu telah terucap dengan begitu lantang. “Saya terima nikah dan kawin nya Khalisa Salsabila Binti Joko Purnomo dengan mas kawin seperangkat alat Shalat dan perhiasan emas 20 gram dibayar tunai!”
Sah! Sah! Sah! Riuh suara dari tamu yang hadir menjadi saksi terucapnya janji suci yang diringi dengan Doa. Menjadi titik terbaik sepanjang sejarah menunggu dan mencintaimu dalam diam. Senja terindah sore itu turut menjadi saksi, atas cinta dua insan manusia yang telah menjadi satu dalam ikatan suci sebuah pernikahan.
Tamat.