Aku memainkan kalung bintang yang sedang aku pakai. Seperti orang gila aku senyum-senyum sendiri, sesekali kuhentakkan kakiku ke udara bahagia karena mengingat sesuatu. Kalung berbentuk bintang sederhana berbahan monel itu cukup panjang untuk aku mainkan.
'Ra, sorry nih gue gak beliin lu hadiah. Tapi gue beliin ini nih di babang jual mainan di depan.' Aku ketika itu cemberut ketika Raka melupakan hari ulang tahunku. Padahal dia yang aku harapkan pertama kali untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Tapi kalung yang diberikannya membuatku lupa bahwa aku sedang kesal padanya.
Itu satu tahun yang lalu, aku masih menyimpan kalung itu dan diam-diam memainkannya seperti orang gila. Entah apa yang membuatku tertarik pada cowok urakan itu. Selain urakan, dia juga seperti tak punya masa depan. Tapi semua tingkah laku dan perbuatan kecilnya padaku membuatku terkesan.
'Ra, duduk sini aja. Di sana banyak cowok. Ntar lu digodain lagi.'
'Ra, nih gue beliin makanan. Lu belum sarapan kan. Tadi malem kan lu begadang, tau gue lu bangun siang.'
'Ra, ntar pulang gue anterin aja.'
'Ra, contekin donk.'
Yang terakhir tolong diskip. Saking banyaknya perhatian kecil yang Raka berikan, membuatku lupa bahwa kami berteman dari kecil. Rumah kami pun hanya berbeda gang. Dari SD sampai SMA, kami sekolah di sekolah yang sama. Jadi hampir setiap hari kami bertemu. Harusnya aku bosan, tapi nyatanya tidak sama sekali.
***
Siang hari di SMA Anugerah.
"Ra! Tungguin gue." Raka mengemas tasnya cepat-cepat, padahal dia tahu aku masih mengemas tasku juga.
"Bro lo mau langsung pulang? Ayolah mabar dulu," ajak Hendro teman sekelasku membujuknya. Raka membalasnya dengan kibasan tangannya, tidak.
"Gue ada sesuatu yang harus gue omongin. Sorry nih. Mabarnya besok-besok aja." Raka segera berlalu ke arahku. Kami pun keluar kelas bersama.
"Tumben lu langsung pulang?" tanyaku heran.
"Iya. Eh Ra, bentar lagi kan ujian akhir sekolah. Gimana kalo ntar habis ujian, gue ajak ke suatu tempat?" Raka bertanya hati-hati padaku. Ada rasa tak nyaman yang tersirat di matanya. Entah sejak kapan, tapi aku tak bisa menatap matanya lama-lama. Aku berdehem mengalihkan pandanganku.
"Iya, terserah. Emang lu mau ajak gue kemana?"
"Solo."
"Solo? Emang ada apaan dah di Solo?"
"Lihat aja ntar," ucap Raka tersenyum penuh arti. "Ayuklah, kita belajar. Bantuin gue lulus ya. Gue janji bakal serius belajar. Dan lu gak bakal nyesel punya temen kek gue," sambungnya membuatku makin keheranan.
"Ka, habis lulus lu mau kemana?" tanyaku mengalihkan pembicaraan sekaligus penasaran.
"Gue pengen jadi dokter Ra." Pfft jawabannya sontak membuatku tertawa. "Lu ya, temen punya cita-cita bukannya didukung, malah diketawain." Protesnya. Aku tak bisa membayangkan cowok seperti Raka memakai seragam putih dokter. Yang aku bayangkan justru bagaimana pasien-pasiennya komplain karena salah diagnosa atau salah obat.
"Lah lagian ngapain jadi dokter."
"Biar keren aja. Lu kan tau ayah gue dokter juga. Ntar kalo lu sakit gue bisa periksa lu gratis. Enak kan?" candanya membuatku tersipu.
***
Setelah belajar sangat giat, hari kelulusan pun tiba. Aku dan Raka sama-sama lulus. Dengan nilai yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya. Semua diatas 9. Raka bersorak kegirangan memelukku.
"Liat Ra! Nilai gue keren nih," tunjuknya serasa memelukku. Aku yang bahagia atas pencapaianku pun tambah berbunga-bunga. Raka menatapku tersenyum.
"Besok minggu gue jemput ya? Kita naik kereta aja. Gak usah bawa pakaian banyak-banyak. Oke?" Ucapnya.
***
Minggu pagi.
"Pak Jun, maaf ya anaknya di bawa jalan-jalan Raka dulu," ucap ayah Raka yang akan mengantar kami ke stasiun. Pak Jun menimpali dengan candaan.
"Iya bawa aja, yang penting pulang masih utuh." Mereka pun tertawa. Aku pun ikut tertawa. Membayangkan akan berduaan dengan Raka membuat hatiku berdebar.
"Ka, jaga Rara baik-baik. Pamanmu bakal nunggu di stasiun, kamu sms aja kalo udah sampe." Pesan ayah Raka ketiga kalinya. Raka sabar mengiyakan dan itu membuatku geli.
Ketika di dalam kereta kami tak banyak bicara. Raka terlihat sangat gugup. Ketika kutanya kenapa, dia hanya bilang kedinginan. Aku yang tak merasa dingin beberapa kali menaruh tanganku di jidat. Apa aku panas?
"Ra, di sana nanti aku ajak ke suatu tempat ya?" tanyanya lagi. Aku yang bosan karena jawabannya selalu rahasia, memilih menjawabnya singkat.
"Hm." Tiba-tiba aku merasa sebuah tangan mengusap rambutku. Raka mengusap rambutku barusan? Apa ini mimpi? Raka yang di sebelahku beneran Raka temanku kan? Raka tak pernah melakukan itu padaku. Berbagai pikiran berkecamuk di otakku. Mengirimkan sinyal ke jantungku untuk berdegub lebih kencang, kencang, dan makin kencang. Pipiku memerah. Sepertinya aku memang sakit, aku kepanasan.
***
Kami dijemput seorang pria jangkung, berumur 40an. Dengan baju santai, pria berkulit putih juga berhidung mancung itu tertawa begitu menemukan kami. Sosok itu memberiku gambaran Raka dewasa.
Kami terhipnotis dengan hamparan hijau persawahan dan para petani yang tengah bekerja di sana. Seperti lukisan hidup. Sangat asri dan tenang. Sapi dan lembu melenguh menarik traktor. Aku tak tahu mereka masih menggunakan sapi, karena beberapa channel youtube yang biasa aku lihat beberapa petani menggunakan traktor mesin. Tapi pemandangan itu sangat menarik perhatianku. Aku tak menyadari tatapan Raka yang melihat ke arahku. Sepertinya tanpa sadar aku membuka mulutku terlalu lebar akan pemandangan itu.
Akhirnya kami sampai di sebuah rumah besar. Paling besar di antara rumah yang lain. Rumah berdinding putih itu kontras dengan tetangganya yang menggunakan kayu sebagai penahan atapnya.
"Paman, kami mau pergi ke suatu tempat. Keburu sore soalnya," ucap Raka. Kami telah berganti pakaian dan makan siang.
"Iya sana. Paman gak perlu khawatir to? Udah tau jalan pulang, wong tiap tahun ke sini," ucap Paman dengan logat khas Solonya.
Kami berjalan membelah tanaman padi yang telah merunduk. Aku beberapa kali memetik beberapa helai padi karena tergoda dengan kemontokannya. Tapi Raka bilang aku tak boleh melakukannya.
"Padinya nanti mubazir kalo lu comotin. Tuh kan lu buang." Ucapnya.
"Aduh." Aku terperosok ke sebuah petak padi dibawahku. Sepertinya kakiku terantuk sesuatu. Aku berusaha berdiri. Raka malah menertawakanku. Dasar. Walaupun begitu dia membantuku bangun dan naik lagi. Tapi kakiku terkilir. Rasanya nyeri sekali.
"Lu gimana sih, jalannya kan udah gue ajarin." omel Raka membersihkan celanaku yang penuh lumpur. Tapi percuma, seluruh punggung dan lenganku juga penuh lumpur. Dan sekarang aku tak bisa jalan. Sungguh hari yang sempurna. Tiba-tiba Raka berjongkok di depanku.
"Naik. Buruan."
"Gak ah, malu-maluin." tolakku.
"Masih jauh tempatnya. Buruan, capek nih." Akhirnya aku mengalah. Ini demi apa adegan seperti ini. Aku sangat khawatir Raka mendengar degub jantungku saat ini.
"Ka! Bentar! Kalungku!" Aku berusaha turun, karena aku kehilangan kalungku. Kalung bintangku.
"Kalung apaan?"
"Kalung dari lo lah."
"Ntar gue beliin lagi. Udah ayo." Aku berusaha turun ke petak sawah tempat aku terjatuh tadi, tapi Raka menahanku dan berjanji memberikan yang lebih baik. Dengan perasaan kehilangan aku memilih melanjutkan perjalanan di atas tubuh Raka. Wangi rambutnya membuatku tenang kembali. Dan lekuk lehernya membuatku ingin terus memeluknya. Aku menyandarkan kepalaku ke pundaknya. Nyaman.
Beberapa lama kemudian.
"Ra, lu gak tidur kan?" tanya Raka menggoyang-goyangkan punggungnya membuatku menjitaknya menyuruhnya berhenti.
Kami berada di belakang sebuah rumah beratap jerami. Beberapa sapi tampak sibuk mengunyah rumput kering, menggoyangkan ekornya mengusir lalat-lalat yang hinggap. Aku pun turun dari gendongan Raka. Menatapnya bingung.
Dengan gugup, dia menggenggam tanganku. Tangannya sangat dingin. Aku menatapnya tak mengerti. Apa dia mau menyatakan cinta? Di sini? Jantungku rasanya hampir berhenti berdetak.
"Ra, gue tau gue banyak nyusahin lu. Gak bisa jadi temen yang bisa lu andelin. Tapi bantu gue Ra, sekali ini aja. Tolong bilangin donk ke dia, gue suka sama dia. Plis Ra."
.
.
Aku berusaha mencerna kata-kata Raka barusan. Raut muka Raka sangat serius saat ini.
"Apa?" tanyaku tak mengerti. Dia menunjuk seorang gadis yang sedang mengambil jemuran di samping rumah yang kusebut gubuk itu. Gadis dengan jilbab coklat sepinggang, tanpa alas kaki itu tak menyadari ada dua pasang mata yang memperhatikannya dengan pikiran masing-masing. Mata indah dan bibir merona, tanpa polesan sama sekali.
Jadi Raka mengajaknya ke sini untuk membuatnya menyatakan cinta pada gadis desa itu? Aku tergelak dengan pikiranku yang mungkin Raka akan menyatakan cinta padaku.
Hatiku untuk beberapa saat tak terasa apa-apa, namun semakin dekat kami dengan gadis itu semakin membuatku merasa seperti tersayat. Aku tak mengerti perasaan apa itu, dan tak bisa pula menjelaskannya. Cuma... . Rasanya sakit, tapi tak tahu dimana letak sakitnya. Rasanya aku ingin menjauh dari sana. Tapi aku tak ingin mengorbankan persahabatanku dengan Raka.
Itulah hari sempurna bagiku. 5 tahun yang lalu. Aku masih mengenakan kalung bintang pemberian Raka yang ternyata terjatuh ketika aku ganti baju siang itu. Paling tidak, kalung itu menjadi saksi bagaimana aku pernah menjadi gila karena pria itu. Mereka akan menikah tahun ini. Setelah Raka menyelesaikan sekolah kedokterannya. Dia bilang Anisa setia menunggunya dan memilih menemaninya menjadi dokter yang sesungguhnya. Ya, kami masih sering bertemu. Karena kami kuliah di universitas yang sama, lagi.
"Gue jadi dokter, lu gak perlu bayar gue Ra. Lu sahabat terbaik gue pokoknya." ucapnya tertawa lebar merangkul pundakku.
"Apaan? Gue juga dokter ya jangan lupa!" ucapku mengingatkannya.
Kami tertawa bersama, namun hatiku masih mengernyit menyimpan sesuatu yang tak pernah dan tak akan pernah tersampaikan.
END.