namaku Meyra Kusnadi, aku duduk dibangku SMP kelas IX. keluarga besarku penganut kepercayaan kuno bisa dikatakan kolot menurutku sih!!
dari kecil aku sudah dijodohkan dengan anak kerabat keluargaku, katanya sih yang sudah jelas bibit, bebet, bobotnya.
aku kan nggak kenal, nggak cinta, mana mungkin nantu bisa nikah sama dia? ah itu hal konyol banget bagi aku
saat ini aku sudah punya pacar, namanya Dion Saputra teman seangkatan aku tapi beda kelas.
aku sama Dion saling cinta, selalu belajar bersama walaupun beda kelas bukan halangan bagi kami untuk bertemu dan meluangkan waktu bersama
hingga ujian sekolah selesai, kami selalu bersama. tak terasa seminggu lagi perpisahan kelas IX akan digelar
malam ini tak seperti biasanya, papa mengumpulkan anggota keluarga.
ada papa, mama, kak Reno, Kak Ferdi dan aku
aku tiga bersaudara, kak Reno kuliah jurusan managemen bisnis sekarang lagi yudisium. kak Ferdi kuliah managemen keuangan sekarang semester 3. dan aku kini kls IX tinggal nunggu ijazah.
"May, seminggu lagi bertepatan dengan perpisahan acara ijab qobul kamu"
"apa!! kenapa harus nikah sekarang sih, pa? May masih ingin sekolah, mengejar cita-cita May, pa" protes aku mencari alasan
"kamu akan tetap sekolah, masih bisa menggapai cita-cita mu"
"aku juga nggak kenal sama dia, pa"
"nanti juga kenal, pacaran setelah nikah itu lebih indah, nak" ibunya yang bicara
"kakak saja belum nikah! kenapa aku harus nikah duluan sih. aku kan anak bontot, nikahnya ya paling akhir dong, mam" rengek ku masih berusaha mencari alasan untuk menolaknya
"tapi kamu anak cewek satu-satunya, dek" jawab Reno, kakak pertama dari Meyra
"udahlah, dek. nurut aja sama orang tua napa, semua juga untuk kebaikan kamu kan" ujar Ferdi
"hufhh" bagaimana ini? aku sangat frustasi menghadapi masalah seperti ini
bagaimana menjelaskan pada pacarku nanti? aku sangat mencintai nya.
setelah pembicaraan dianggap selesai, papa menyuruh semuanya untuk segera istirahat karena malam semakin larut.
*
*
*
waktu berlalu dengan cepat, tiba saat perpisahan kelas IX.
kesenanganku bersama teman-teman sejenak melupakan mesalah perjodohanku
hingga papa mengajakku untuk pulang, yang seharusnya aku masih bersama teman-temanku untuk mengabadikan momen bersama sebelum berpisah untuk menggapai masa depan masing-masing
"pa, kenapa pulang cepet sih. aku belum sempat pamit sama teman-teman" ucapku merasa kesal karena tak bisa menghabiskan waktu bersama Dion
"apa kamu lupa kalau hari ini kamu akan menikah?" ucap papaku tetap fokus menyatir
aku akan meneruskan sekolah dikota M, dan tinggal bersama keluarga suamiku nanti
orang tuaku memang sudah menitipkan aku pada keluarganya.
tiba saat ijab qobul, hanya keluarga inti yang ada. termasuk kakek dan nenek serta opa dan oma.
setelah ijab selesai, semua makan bersama.
"May, ambilin suami kamu makanan. dari tadi pastinya sudah lapar, nak" perintah oma
"iya, oma" jawabku segera mengambilkan makanan untuk suamiku
segera aku berikan padanya
"ini untukmu, makanlah" ucapku
"hmm" jawabnya dan meraih piring yang aku berikan
'hufh cowok dingin kayak es kutub gini, mana tahan disampingnya. ganteng sih ganteng, tapi kalau dicuwekin males deh' batinku
kutinggalkan suami cuwek yang dingin itu, aku kekamar untuk ganti baju karena sangat gerah memakai kebaya pengantin
aku turun bergabung dengan keluarga setelah selesai acara makan
"may, kamu sudah menikah. kamu berangkat bareng suamimu ke kota M besok" ucap papa
"baik, pa" aku hanya bisa nengiyakan permintaan papaku karena tak mau beliau malu didepan besannya
hari berlalu hingga saatnya tiba untuk pergi kekota M.
akupun akan mendaftar disekolah yang sama dengan suamiku, saat ini suamiku kelas XII-IPA
dan tak lupa, saling bertukar kabar dengan Dion. Dion juga mendaftar diseolah yang sama dengan aku
sungguh aku sangat bahagia Dion bisa satu sekolah samaku lagi.
waktu untuk masuk sekolah pun tiba, aku berangkat sekolah bareng suamiku
"kak" panggilku, tapi suami kulkasku hanya diam
"kak pras" suaraku aku tinggikan
"jangan tariak, kupingku masih normal" jawabnya tanpa melihatku
"kakak ngeselin. dipanggil diam saja, kukira gak dengar" ucapku kesal
setiap hari pulang pergi sekolah bersama tapi tak pernah ada obrolan selama diperjalanan
yang menemaniku dan menghilangkan bosanku hanya dion. dia selalu punya bahan untuk dibicarakan, kalau malam selalu telpon. pulang sekolah chat, walau sekedar menanyakan sedang apa? sudah makan apa belum? tapi aku merasa bahagia mendapat perhatiannya
ujian semester telah berlalu, liburan pun tlah tiba.
"kak, kita liburan jalan kemana gitu?" tanyaku karena ingin jalan-jalan
"aku sibuk" jawabnya sangat singkat
aku kesal dan pergi kekamar, mengambil barang pribadiku. kuhampiri suamiku lagi untuk berpamitan
"kak, aku mau keluar sebentar. kakak kan sibuk gak bisa ngantar, aku naik taksi" pamitku
"hmmm" lagi-lagi jawabnya sesimple itu
kuhubungi dion untuk bertemu di taman kota bagian selatan
dia selalu mengutamakan aku walau punya kesibukan sendiri.
sesampai ditaman, ku duduk dibangku ujung dan tak berapa lama dion datang.
"hai mey"
"hai, di"
say hello kami sekilas dan kami bercanda ria tanpa memperdulikan sekitar
hingga tak terasa seseorang datang dan memukul dion sampai babak belur.
dia menarik paksa tanganku untuk pulang dan meninggalkan dion yang terkapar
sampai dirumah, dia mengemasi bajuku ke dalam koper dan mengantarkan aku kerumah orang tuaku tanpa pamit mertuaku karena mereka sedang berada diluar negeri
sungguh, malu yang diterima oleh kedua orang tuaku. kecewa padaku karena tak bisa mendisikku dengan baik pikirnya.
akhirnya aku didaftarkan kepesantren untuk memperdalam agama. mereka bilang, agar aku tahu adab dan bisa menempatkan diri sebagai wanita yang sudah menikah
sumua fasilitas ditarik, hanya berbekal buku-buku keagamaan dan baju muslimah saja
tak bisa komunikasi dengan siapapun diluar pesantren, apalagi sama dion
saat inilah aku merasa sendiri, tak ada teman untuk berbagi.
aku hanya pasrah pada sang ILLAHI ROBBI
semoga salah dan khilafku termaafkan oleh suami serta keluargaku
hanya do'a dan harapan untuk aku lebih baik
inilah takdirku
*
~jangan lupa like and smile🙂~