Ada satu keahlian tersendiri yang dimiliki oleh seorang Fifi. Keahlian itu bernama mencocokkan pasangan. Sejak ia berhasil mencocokkan kata dengan benda, ia kemudian belajar mencocokkan pasangan untuk teman temannya. Mula mula ia gagal, namun untuk belakangan ini, track recordnya tak perlu diragukan lagi. Ia seperti telah memiliki sihir sendiri untuk membuat seseorang yang dicocokkannya bisa mendapatkan pasangan.
Teranyar, ia sanggup membuat seorang kapten tim basket sekaligus idola sekolah berpacaran dengan wanita culun dan dekil yang kata pacaran saja tak pernah terpikir olehnya. Sungguh amat mustahil untuk pikiran orang awam, tapi bagi Fifi, ini cuma masalah kecil. Ia bisa menyelesaikan ini dengan sebuah pena saja. Ya, pena.
Sejatinya, Fifi tak benar benar menjadi mak comblang untuk dunia nyata. Ia adalah seorang penulis novel yang biasa menulis dengan genre romansa. Jadi, ia tak benar benar mencocokkan satu manusia dengan manusia lainnya. Ia hanya menjodohkan pasangan di dalam novel saja.
" Hah.. ? " Fifi berteriak keras di depan layar komputernya. " Gila ! Bilang novelku nggak realistis ? Nggak worth it ? Not my cup of tea, lah. Dasar ! Mikir dong ! Emang buat novel itu gampang ? " Amarahnya begitu meledak setelah membaca salah satu komentar pedas tentang bukunya yang baru saja diterbitkan.
Dengan terburu-buru, ia mulai mengetik pada keyboard untuk membalas komentar itu dengan jawaban yang lebih pedas lagi. Tentunya disertai kosa kata kasar yang memenuhi isi otaknya saat ini.
" Eh, ada apa sih ? " tanya Mikha dari arah belakangnya. Fifi segera berhenti mengetik, dan langsung menoleh kepada sahabatnya itu. " Parah ! Novelku dikatain nggak realistis. "
" Hm, emang. " Mikha mengatakan hal itu seperti halnya membuang sampah. Begitu ringan dan terang-terangan. " Bagiku novelmu kurang bahkan tidak terasa realistis apalagi relate. "
" Apa ?! " Fifi bangkit dari duduknya. Nafasnya memburu, seolah hendak menerkam Mikha yang tak disangkanya akan berpendapat seperti itu. " Novelku itu dibuat dengan perjuangan. Tiga bulan lebih aku membuatnya dan aku sampai berhari hari begadang. Apa kau pikir itu nggak cukup ? "
Sekalipun Fifi tampak marah, namun Mikha terlihat santai. Ia bahkan sempat mengambil biskuit cokelat yang ada di meja Fifi sebagai camilannya. " Memang begitu faktanya. " Mikha perlahan melangkah, berjalan menuju lemari penuh buku yang berada di ruangan itu juga. Lemari itu adalah koleksi buku buku milik Fifi. Di sana juga ada buku yang menjadi karya tulis dari Fifi.
" Contohnya aja novel ini. " Mikha mengambil salah satu novel dari lemari itu. Novel itu terlihat cantik, dengan pemandangan cahaya hijau di langit sebagai sampul depannya. " Aurora in Love. Sangat tidak realistis. Bagaimana kau bisa membuat dua orang pasangan melihat Aurora Borealis di Oslo pada saat bulan Juli. Itu kan lagi musim panas ! " Mikha sampai berteriak saking kesalnya menjelaskan kesalahan sahabatnya itu.
" Ya.. " Fifi mulai gugup, berpikir keras untuk bisa menjawab Mikha. " Ya.., kan nggak ada yang tahu. Bisa aja ada Aurora di musim panas. "
" Dengan 24 jam di siang hari ? Di khayalanmu, tentu saja ! " Mikha mengembalikan buku novel itu sambil menggelengkan kepala. Ia tak habis pikir dengan Fifi yang tetap mengelak meski kesalahannya tampak jelas. Untunglah ia telah paham betul sifat sahabatnya, jadi ia masih bisa bersabar. " Itulah maksudku tentang novelmu yang tidak realistis. Kau tidak riset mengenai hal yang akan kau tulis. Jadi kau harus terima kritikan itu. "
" Aku riset, kok, " ucap Fifi bersikeras mempertahankan pendapatnya. " Di internet, informasi ini bisa didapatkan dengan mudah. "
Mikha memutar bola matanya kala mendengar itu. " Ya, tapi tetap aja nggak sama. Rasa dan kesan yang didapatkan dari pengalaman langsung, lebih realistis daripada informasi yang kau ambil dari internet. " Fifi terdiam, tak menjawab apapun. Agaknya ia telah menyadari kesalahan yang dimaksud oleh sahabatnya itu.
" Mungkin kau jago dalam menulis kata kata puitis. Mahir untuk membangun adegan yang romantis. Tapi, kau kan nggak tahu bagaimana rasanya cinta. " Mikha mengatakannya dengan lancar di depan Fifi yang hanya tertunduk. " Kau harus mengalami suatu peristiwa sebelum menuliskan peristiwa itu. Hal itu akan memberikan pengalaman yang lebih realistis kepada para pembacamu. "
Fifi mengangkat kepala, memandang penuh minat pada Mikha. " Jadi, aku harus apa sekarang agar novelku bisa dikatakan realistis ? "
Mikha tersenyum, senang karena Fifi akhirnya mendengarkan pendapat darinya. Ia kemudian berjalan menuju meja Fifi, mengambil toples berisi biskuit cokelat dan kemudian membukanya. " Mungkin kau bisa memulainya dengan membuka diri, " katanya sambil mengunyah biskuit cokelat yang kini sudah ada di dalam mulutnya.
" Membuka diri ? Maksudmu.. aku harus keluar gitu ? " tanya Fifi dengan nada penuh keraguan.
" Ya. " Mikha mengangguk. " Itu bisa membuatmu lebih mengenal dunia nyata yang sebenarnya. Bukan hanya berdiam di dalam rumah saja. "
Fifi kemudian terlihat cemas. Ia tak yakin untuk melakukan itu. Selama ini, kesehariannya hanya dilakukan di dalam rumah. Ia pergi hanya untuk kepentingan bukunya atau orangtuanya. Bahkan terakhir kali dirinya berlibur adalah sepuluh tahun lalu, saat sekolahnya mengadakan study tour ke Bali.
" Kau tahu kalau aku nggak bisa. Aku nggak suka keluar. Aku nggak nyaman, Kha. " Fifi sampai memegang kedua bahu Mikha untuk menyatakan ketidaksanggupannya menjalankan saran dari sahabatnya itu.
" Bahkan bila ada undangan makan malam dari seorang pria tampan berusia dua puluh tujuh tahun, dengan gaji belasan juta, dan terlebih lagi single. " Mikha mengucapkannya dengan begitu cepat sampai sampai Fifi kelabakan mendengarnya dan memintanya untuk mengulangi kata katanya lagi. Ketika ucapan itu diulang dengan tempo selambat selambatnya, Fifi pun tertawa keras.
" Hahahaha ! Nggak mungkin ada pria yang mengirimkan undangan itu untukku. Dia bodoh pastinya, " kata Fifi sambil menunjuk-nunjuk Mikha, yang kemudian menunjukkan surat yang ternyata bukan hanya sebuah bualan. Surat itu terbuat dari karton keras, dilapisi kertas cantik dan pita pita, serta ditulis dengan rapi seperti halnya surat pada undangan perkawinan.
" Hah ? Alam ? " Fifi terkejut melihat nama yang ada di dalam surat itu. Ia tak menyangka bila seseorang yang selama ini ia taksir, ternyata juga merasakan hal yang sama. " Mungkinkah.. ini saatnya aku berpacaran ? "
~~~