"Cantik", ia melihatku dengan tatapan memuja.
Aku diam, tanpa merespon perkataan lelaki itu, aku pergi menjauh.
Allah memang Maha adil, tidak ada satu pun di dunia ini yang bisa mengalahkan kesempurnaanNya.
Aku memang memiliki segalanya, kecantikan fisik, kekayaan, popularitas, semuanya aku punya.
Pandangan memuja selalu terarah padaku, terutama lawan jenis.
Tapi semuanya tidak berguna bagiku, aku sadar perhatian mereka itu semu, hanya sekedar fatamorgana.
Aku menatap indahnya taman yang terletak di samping rumah makan ini.
Bunga-bunga bermacam warna dan jenis, memuaskan mataku.
"Bianca?, kau kah itu?", sebuah suara maskulin menyadarkan ku dari keindahan sesaat yang aku nikmati beberapa menit tadi.
"Erick?, how are you?", jawabku dengan sedikit terkejut.
"I am fine Bianca, senang rasanya mengetahui dirimu masih mengingatku", Erick mengambil tempat duduk disebelah ku.
Semua mata memandang kami, pasangan yang serasi begitulah mereka membicarakan kami.
"Sebegitu bahagianya kah kamu mengetahui kalau aku masih mengingatmu", Bianca menjawab dengan nada yang sendu.
Erick memandang aneh ke arah Bianca yang tiba-tiba saja bicara seperti itu.
"Hey, what's wrong with you", kali ini wajah Erick terlihat khawatir.
Melihat hal itu Bianca tertawa terbahak-bahak dan ia pun menjawab," just kidding, why are you so serious?, come on, it's a joke".
"What!, Bianca kamu itu selalu saja mempermainkanku di saat aku benar-benar serius", jawab Erick dengan raut wajah yang sulit dilukiskan.
Bianca meneruskan tertawanya, saat ini hatinya menghangat, karena berhasil mengerjai lelaki yang dulu pernah ada di hatinya.
Sayangnya belum sampai mereka menjadi dekat Ferdinand lebih dulu menyatakan cintanya ke Bianca. Semenjak itu hubungan mereka menjadi renggang, Erick menghilang entah kemana.
Mengingat nama Ferdinand hatinya menjadi nyeri, lelaki yang sudah mulai bisa mengambil hatinya itu memutuskan hubungan sepihak, dan itu sangatlah menyakitkan.
"Hey", Erick melambaikan tangannya didepan wajah Bianca. "What are you thinking about?", tanyanya.
"Ah, apa aku terlihat sedang melamun?, aku hanya sedang memikirkan hotel milik Ayahku yang agak sedikit sepi semenjak wabah Corona, nothing else", jawab Bianca sambil mengambil minuman yang ada didepannya.
"Apakah sebegitu gawatnya", tanya Erick.
"Tidak juga, hanya saja aku ingin membahagiakan Ayahku saja", ujar Bianca.
"Kamu memang anak yang berbakti", balas Erick.
Bianca menghela nafas", bagiku aku saat ini belum cukup berbakti".
"Cukup bicara tentang diriku, kemana saja kamu menghilang selama ini?, kalau boleh tahu apa benar kamu akan menikah dengan Celine?", Bianca mengalihkan pembicaraan.
"Berita itu tidak benar, aku dan Celine hanya sekedar teman, tidak lebih dari itu, seseorang yang aku cintai bertunangan dengan orang lain, dan itu menyakiti hatiku, jadi aku menenangkan diri untuk sementara waktu", jawab Erick, kali ini nada suaranya terdengar sendu.
"Siapa orangnya, tega sekali orang yang sudah menolak dirimu, you have everything, is she blind?", tanya Bianca dengan sedikit emosi.
"Dia tidak salah, akulah yang salah, aku terlambat mengatakan perasaanku, aku terlalu pengecut", jawab Erick.
Sebuah suara menghentikan pembicaraan mereka.
"Well, well, Bianca, cepat sekali kamu menemukan lelaki lain menggantikan diriku, pantas saja Mommy tidak suka denganmu", Ferdinand menatap Bianca dengan wajah yang merendahkan.
"Jaga bicaramu", Erick menatap tajam Ferdinand
Bianca menundukkan wajahnya, rasa sakit itu kembali menusuk ke dalam hatinya, ia merasa cengeng dan tak berdaya, sebutir air menetes dari matanya.
Ferdinand tidak salah, ia tidak tahu apa-apa.
"Kau tahu, wanita ini mengkhianati ku, Mommy mengatakan kalau dia bermain api di belakangku", Ferdinand melanjutkan omongannya," dan parahnya lagi dia selama berbulan-bulan menghilang tanpa berita, jadi aku putuskan pertunangan kami lewat handphone".
Bianca terisak, Erick dengan cepat memberikan saputangannya ke Bianca.
"Please sit down, mari kita bicarakan ini baik-baik, pasti ada penjelasan dibalik semua kejadian ini", Erick berbicara dengan bijak.
Ferdinand akhirnya duduk tanpa melepaskan pandangannya dari Bianca.
"Sekarang jelaskan", tanya Ferdinand masih dengan nada yang sedikit sinis.
"Baiklah, kejadiannya dimulai ketika kamu sedang dalam perjalanan bisnis menuju Swiss, Mommy Rosemary memintaku untuk memeriksakan diri ke dokter", jelas Bianca secara perlahan.
"Untuk apa!", Ferdinand menyela perkataan Bianca.
" Sabar, biarkan Bianca menyelesaikan pembicaraannya", Erick menatap Ferdinand dengan aura yang sedikit menindas.
"Untuk memeriksa keadaan rahimku, apakah aku kelak bisa memberikan anak untukmu", Bianca menarik nafasnya.
Bagian yang terberat akhirnya datang juga.
"Dan hasilnya, dokter memvonis aku mandul, ada masalah dengan rahimku, dan aku tidak mau mencari tahu apa itu, semua itu bagaikan petir di siang bolong, lalu Mommy mengatakan bahwa dirinya tidak mau punya menantu mandul, dan agar ia tidak menyebarkan berita ini ke media dan merusak nama Ayahku, aku terpaksa mengikuti skenarionya", Bianca tidak dapat menahan tangisnya.
Ferdinand dan juga Erick kembali terdiam.
Bianca kemudian membuka tasnya dan memberikan surat hasil pemeriksaan dari rumah sakit.
"Maaf, ke depannya tolong jangan ganggu aku lagi, aku sangat menyayangi Ayahku, biarkan aku berbakti padanya, aku tidak mau berhubungan dengan seorang lelaki tanpa ada restu dari orang tuanya, jangan membenci Mommy, ia hanya ingin memberikan yang terbaik untuk putra kesayangannya, tak ada yang salah dengan itu. Jadi terimalah semua ini dengan lapang dada, terima kasih karena pernah mencintaiku, dan itu cukup bagiku", Bianca mengusap air matanya.
"Bianca, maafkan perkataan yang aku ucapkan tadi, maafkan keegoisan Mommy, aku masih mencintaimu dan akan tetap mencintaimu", Ferdinand kembali menatap wajah Bianca, ada rasa penyesalan tersirat di wajah itu.
"Lupakanlah, kita tidak mungkin bersama, aku wanita cacat, tolong jangan temui aku lagi, anggap saja kita dulunya tidak pernah bertemu, aku menyayangi keluargaku, aku tidak ingin mereka tersakiti karena keegoisanku", jawab Bianca, ia mencoba tegar.
"Baiklah, apabila semua itu bisa membuatmu bahagia apapun akan aku lakukan, sekali lagi maafkan aku dan Mommy", Ferdinand berdiri dan meninggalkan Bianca dan Erick. Setetes air mata meluncur di pipi Ferdinand, hatinya terasa perih.
Sepeninggal Ferdinand, Erick tersenyum menatap Bianca, dan ia pun berkata," Bianca, kamu tahu?, aku suka melihat kamu punya kekurangan, selama ini kamu tuh terlalu sempurna, memiliki kecantikan yang luar biasa, kekayaan yang tidak akan habis tujuh turunan, populer, semua mendambakan betapa enaknya menjadi dirimu, jadi biarkanlah aku yang menjadi penutup kekuranganmu, aku sudah lama mencintaimu, kamulah wanita yang pernah membuatku patah hati, kamulah wanita yang membuat duniaku tanpa warna, aku tidak perduli dengan kekuranganmu, yang aku butuhkan hanya kamu".
Wajah Bianca memerah dan ia pun berkata," Jangan bercanda, ini tidak lucu".
"Aku bersungguh-sungguh", Erick tersenyum sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Bianca.
Wajah Bianca memerah semerah kepiting rebus.
💞TAMAT💞