Aku kemasi peralatan gambar yang ku gelar tadi. Tak akan ku biarkan tercecer satupun. Kotak besar yang berisi kuas, cat warna pencil sudah aku tutup dengan rapi.
Lelah terasa mendera setelah aktifitas seharian.
Hingga aku tertidur lelap .
Riiiing...Riinggg
Terdengar ponselku meraung ingin segera aku angkat. Kuraih benda yang dari tadi diam diatas nakas. segera ku sambar dan menempelkan ke kupingku.
"Hallo.. Hallo..." Tak ada suara
"srrrkk...srrkk.. krek" panggilan terputus.
Masih penasaran dengan panggilan tadi, siapa kira-kira orang iseng tengah malam begini?
Aku check kontak panggilan masuk. Nomor itu benar-benar asing tidak ada di kontak ponselku.
Aku tunggu beberapa saat mungkin akan ada panggilan susulan. Setelah sekian lama tak ada tanda-tanda panggilan. Aku beranjak turun dari tempat tidur menuju dapur, tujuanku hanya water dispenser agar terlepas dari haus dahaga.
Aku kembali ke kamar..
tring...
Tanda SMS masuk .. "Sebaiknya kau lepaskan Dito jika kau masih sayang nyawa." Mendapati pesan ngeri tengah malam, menjadikan aku semakin tidak mengerti. Dito adalah tunanganku. Tapi pesan ini terasa aneh bukan? mengapa harus Dito? ada hubungan apa? aahh sial ganggu orang tidur saja.
Aku hendak kembali berbaring..
tring..
pesan masuk kembali .. "Segera angkat kaki dari situ, bawa serta bungkusan di depan pintu mungkin bisa kau jadikan petunjuk hahahaaaa"
Aduuuhh pesan apalagi ini, berkali ku tepuk jidat.
Kenapa harus angkat kaki? aku di usir dari rumahku sendiri? maksudnya?
Kepalaku semakin pusing. Ingin rasanya aku minum obat tidur biar gak dengar pesan masuknya.
tring..
"Aku tahu kamu merindukan aku, tapi aku tidak mau cincin itu melingkar di sana!"
Ya Allah pesan ini benar-benar membuat malamku frustasi.
Walau dengan mata setengah terpejam, aku berjalan keluar kamar hendak memeriksa bungkusan yang dimaksud dalam pesan tadi.
Aku nyalakan lampu yang sudah aku matikan sejak jam sembilan tadi karena aku hanya sendirian menempati rumah ini, jadi aktifitasku tidak berhubungan dengan orang lain.
Langsung saja aku buka pintu rumah, netraku menyisir sudut malam, tak ada tanda-tanda keanehan di sana.
Aku berjalan keluar mungkin ada sesuatu dipintu pagar.
Deg
Aku melihat bungkusan kecil dalam kantong kresek berwarna putih.
Dengan perasaan entah aku menghampirinya.
Ku ambil bungkusan itu dan membukanya setelah sampai di Teras rumah.
Tampak kain putih digulung, aku mulai merinding namun rasa penasaranku menutup ketakutanku.
"Astaga!" teriakku tak percaya. Sebuah boneka teddy bear kecil penuh bercak merah dan basah.
Aku mulai mengambil boneka dari gulungan yang sudah kubuka tadi, ada tulisan dipunggung boneka itu. "Selamat tinggal Rasya, I love you"-Tara
Ya Allah.. apa ini? siapa pengirimnya? pikiranku langsung berkelana teringat mantan pacarku.
Aku berlari celingukan ke luar pintu pagar, jalanan sepi tidak ada orang satupun di sana.
Bergegas aku masuk kembali ke kamar untuk mengambil ponsel.
Aku lihat ada beberapa pesan pada layar.
pesan : Terimakasih kita pernah bersama
satu yang harus kamu ingat, aku tidak
akan membiarkan orang lain menyentuh
mu, hanya aku.
Tapi aku harus mengubur semua itu
bersama ragaku.
Maafkan aku. Always love you Rasya
Aku terpaku menatap layar datar itu, serasa lunglai tiada berdaya, tubuhku melorot. Entah apa lagi yang aku rasakan kini. aku yakinkan diri bahwa Ini bukan mimpi. Siapa sebenarnya?
Tara adalah... kisah itu kembali menghantuiku.
Satu tahun lalu Tara kabur dari pernikahan kami, pernikahan atas dasar perjodohan bukan karna cinta. Walau berat hati aku tinggalkan jalinan kasih bersama Dika pacarku demi menuruti keinginan kakek. Aku pikir demikian halnya Tara, dia juga akan merelakan perpisahan dengan Yulia karena kami harus mengorbankan cinta demi wasiat kakek. Namun dugaanku salah, pada hari yang telah disepakati dia kabur, yang lebih menyesakkan lagi dia membawa bibi Tanti adik ibuku. Entah kemana mereka pergi, berbulan-bulan tiada kabar. Nomor ponsel keduanya juga tidak aktif.
Sampai suatu saat ada kabar bahwa mereka kecelakaan dan bibi telah meninggal. Akhirnya pencarian dihentikan karena nenekku jatuh sakit akibat memikirkan bibi. Akhirnya nenek juga meninggal. Dan kisah itu ditutup.
Lalu apa yang kini terjadi? aku coba hubungi nomor itu..
tuut..tuuutt..tuuuutt
tidak ada jawaban. Aku bersandar disamping almari pakaian hingga tanpa sadar terlelap disana.
tring
Jam 10 pagi, mataku terbuka saat ku dengar nada pesan masuk.
Dari nomor itu lagi
pesan : Rumah Sakit Dr. Santoso.
Ada apa sebenarnya? apakah aku harus ke sana? tapi untuk apa? apakah aku hubungi Dito? ahh tidak aku tidak akan melibatkan Dito dalam masalah ini. Aku takut akan mengganggunya. Saat ini aku tahu Dito sangat sibuk dengan pekerjaannya diluar kota.
Baik, aku turuti permintaanmu wahai pesan asing. Aku datang sendiri. Sampai Rumah Sakit aku menunggu di tempat pendaftaran.
Aku telephon nomor tadi. tapi ponselnya mati.
Seseorang dengan hoody dan wajah tertutup masker menyekapku, menutup mataku dengan cepat dan membawa aku pergi entah kamana. sosok itu Membawaku tanpa memberiku kesempatan untuk berontak.
Dibawanya aku ke sebuah tempat yang sepi dan ..
"Buka matamu," perintah suara itu, apakah itu suara dia? aku tarik ikatan yang menutup mataku.
Aku mencari orang itu namun tidak kutemukan.
Kini aku berada di ruangan dengan bed serba putih. kulihat dua sosok terbujur kaku penuh lumuran darah. Aku tidak merasa takut, justru aku menghampirinya, aku mengenalnya walau wajahnya tertutup luka namun dia orang yang sangat dekat denganku. Dito dan Tara! itu mereka.
Entah bagaimana kejadiannya mereka bisa bersama?
Panggilan itu tlah membawa aku ketempat ini. Tempat pertemuan terakhirku dengan dua orang yang pernah ada dalam hidupku.
kriinggg...
panggilan itu menggema lagi, tubuhku lunglai tiada daya. Dan semuanya gelap.
*******