Liburan....
Siapa sih yang nggak pengen?!
Kerja dari pagi ampe malem, bos galak nggak jelas, dicuekin temen kerja sendiri lagi.
Parah pokoknya...!
Makanya, pas waktu ada liburan, aku langsung aja pergi ke banyak tempat. Great Wall, Forbidden City, sebutin semua lah pokoknya. Hasilnya, aku dijulukin sebagai master tempat liburan.
Dan sekarang, 22 april di tahun ke-10 ku kerja, aku pun langsung siap-siap buat liburan ke tempat lain yang belum pernah aku tapaki di dataran tiongkok ini. Teman kerjaku, Li, ingin ikut bersamaku dan sekarang membantuku menyiapkan barang-barangnya dan beberapa hal yang ingin dia bawa jikalau aku memang lupa. Sesudahnya, aku dan Li tidur bareng di apartemen murahku.
“Li! Kau kenapa nggak tidur di kamarmu sendiri!!!!” ucapku dengan ngamuk temanku yang bongsor itu.
“Ayolah Jun, hari ini juga kita masih harus nyiapin barang-barangnya...,” cakapnya sembari memelas kepadaku.
Sumpah, gue jitak juga lama-lama!!!!
Dah gede masih melas kayak kucing!
Dahlah, lanjut lagi....
“Memangnya apa lagi?!!!” tanyaku dengan geram.
“Bensin...?” jawabnya dengan ragu.
Aku pun memiringkan kepalaku seraya menggantikan emosiku dengan rasa penasaran secara instan. Biasanya, aku selalu memenuhi Jeep milikku sebelum aku pakai berkendara ketika liburan. Atau mungkin..., dia bermaksud untuk mengecek kondisi mobilku?
“Maksudmu..., mengecek mobilku dulu?” tanyaku sembari masih memiringkan kepala.
Dia hanya mengangguk cepat. Aku pun tersenyum dan kembali meluruskan kepalaku ketika melihatnya mengangguk. Namun, aku kembali berekspresi bingung begitu melihat wajahnya yang khawatir.
Entah mengapa, aku punya firasat buruk tepat ketika dia menunjukkan wajahnya.
Eh, terserahlah....
Seharian penuh aku dan temanku habiskan untuk mengecek keadaan mobilku. Semuanya terlihat masih baik-baik saja. Akan tetapi, Li membeli beberapa jerigen bensin, oli, dan cairan-cairan yang digunakan untuk merawat kondisi mobil lainnya. Aku tak banyak bicara melihatnya seperti itu.
Namun, perasaanku semakin tak nyaman melihat semua barang yang dia beli saat ini.
Ya udahlah, mungkin dia emang orangnya sedia payung sebelum ujan.
Lalu ketika malam hari, Li kembali mencoba menanyakanku tentang rencana liburanku, yang anehnya aku malah terasa sangat tenang dan dia terasa sangat khawatir.
Karenanya, aku hanya mengikuti alur pembicaraan saja sebelum kita tertidur.
“Jun, apa kau yakin, pergi ke gurun kematian itu?” tanyanya dengan sangat ragu.
“Ya, memangnya kenapa?” jawabku dengan yakin.
“Aku dengar kabar kalau disana terdapat cacing maut yang selalu memangsa setiap makhluk hidup di permukaan bumi.”
Serius...? Kau masih percaya sama rumor begituan? Bukannya kau udah gede?
Inginnya aku bilang seperti itu. Namun rasanya, dia cukup ketakutan dengan hal itu. Karenanya, aku mengutarakan rasa heranku akibat perkataannya sendiri.
“Terus, kenapa kau malah takut? Bukannya kau yang bilang terus maksa aku buat pergi melintasi gurun kematian itu?”
Dia terdiam, seolah-olah dia tak ingin membicarakan hal ini lagi, pikirku. Ada yang mencurigakan darinya, namun aku sama sekali tak mengetahui itu karena dia baik ataupun jahat. Aku sama sekali tak ingin melihat wajahnya karena aku memang malas....
Sejujurnya, aku ragu untuk berangkat liburan....
Namun biarlah, akan hancur moodku ketika bekerja jika ada salah satu dari liburanku menjadi kacau.
Esok harinya, aku dan Li berangkat melintasi gurun kematian itu. Rasa takutku sama sekali tak terasa di pikiran maupun hatiku. Dan benar saja, sugesti yang diberikan Li sama sekali berpengaruh padaku, pikirku.
Selama dijalan, aku dan Li hanya mengobrol mengenai banyak hal secara acak. Jujur, aku cukup senang karena ada teman bicara membuat liburanku terasa berbeda dari sebelumnya. Karenanya, aku sangatlah menikmati liburan ini.
Begitu memasuki gurun kematian itu, aku, Li, dan mobilku sama sekali tak mengalami masalah. 1-2 jam berlalu, aku sama sekali tak mengalami masalah. 6-7 jam kemudian, aku masih tak terganggu dengan liburan ini.
Sehari kemudian, aku pun tanpa sadar mengendarai mobilku keluar dari jalur aspal. Tanah pun terasa bergetar, yang seharusnya itu nggak terjadi sama sekali. Karenanya, aku mencoba untuk menenangkan diri sebisa diriku karena memang aku sudah cukup panik.
Anehnya, meski aku tahu aku sudah keluar jalur, namun Li tak mengatakan apapun. Aku tak berani mengatakan apapun kepadanya. Bukan karena apa-apa, aku hanya takut jika apa yang aku pikirkan ternyata sama dengannya.
Dan, hal itu benar saja terjadi....
“Umm, apa seharusnya berjalan di pasir bisa bergetar hebat...?”
Dia ternyata berpikiran sama denganku. Dia menyadari jika tanah memang sedang berguncang, yang mana seharusnya itu tak terjadi mengingat mobilku ini sedang melintasi daerah pasir yang tidak bergelombang. Lantas, rasa takut terukir pada wajahku seraya menengok ke arahnya untuk menjawab perkataannya.
“Nggak, aku nggak pernah tau jika berkendara di pasir yang rata bisa bergetar seperti ini..., apalagi memang nggak ada batu....”
Dia mulai mencerminkan ekspresiku dan perlahan melihat ke arah belakang, berhubung dia sudah ku peringatkan untuk tidak mengganti posisi spion mobil sedikitpun.
“I-i-i-i-i-i-i-i-i-i-i-i-itu, apa...???”
Aku mencoba memberanikan diri untuk melihat ke arah spion tengah. Sebuah pemandangan mengerikan aku lihat dengan jelas meski visualku cukup sempit. Aku hanya bisa terdiam untuk sesaat.
Pemandangan itu merupakan kepulan pasir yang bergerak menuju mobilku. Dibalik kepulan tersebut, terdapat sebuah cacing berwarna merah. Dan, cacing tersebut semakin menyeramkan ketika sudah dekat dengan mobilku.
Cacing tersebut berukuran raksasa. Memiliki gigi yang sangat tajam pada bagian mulutnya dan dua buah taring untuk menangkap mangsanya.
“Ayo, tancap gasnya!!!!!”
Refleks mendengar perkataannya, aku segera menginjak pedalnya dan menaikkan gigi mobil secara berkala. Mobilnya pun ikut semakin tak seimbang seiring bertambahnya laju kecepatan, yang mana, aku harus menyeimbangkannya secara ekstra dengan memutar stir ke kanan dan kiri. Efeknya, aku juga harus menjaga kecepatanku supaya tetap sama, bahkan harus bisa lebih tinggi lagi.
Sayangnya, aku tak bisa mempertahankan kecepatanku. Bukan karena aku belum terbiasa dengan situasi seperti ini, meski itu salah satunya. Tetapi juga, kejaran cacing monster itu sangatlah cepat.
Bahkan, semakin lama aku mencoba membawa mobil ini untuk menjauh dari cacing itu, semakin berkurang pula jarak antara cacing itu dengan mobilku.
Hingga..., cacing itu muncul dari dalam pasir dan mencoba untuk menerkam kita sekaligus. Bayangannya sangatlah besar, bahkan rasanya mobilku terasa seperti seekor serangga saja. Karenanya, aku segera membanting stir ke kiri dan menghindari titik perkiraan cacing itu akan kembali kedalam pasir.
Sialnya, aku tak berhasil menghindarinya dan mobilku terbanting keras juga terguling ke bagian kiri mobil. Cacing itu kembali menyelam diantara pasir-pasir panas tersebut lebih cepat dari perkiraanku. Setelahnya, aku tak mengingat apapun....
***
“Tuan Jun...?”
Seseorang memanggilku. Suaranya terdengar seperti seorang wanita. Akan tetapi, aku hanya mendengar bagian namaku saja.
Aku mendengarkan dari suara yang sama jika dia sedang marah. Aku tak mengetahui apa yang terjadi. Namun, kedua mataku cukup sulit untuk aku buka.
“Tuan Jun, dia bukannya....”
Seseorang yang lain memanggilku. Dia juga seorang wanita. Namun, kalimatnya berhenti disitu saja, karena memang aku masih belum bisa mendengarnya dengan jelas.
Dia melanjutkan perkataannya dengan nada arogan. Jelas jika pikiranku mengatakan jika dia itu berbahaya. Namun sekali lagi, aku masih belum bisa membuka kedua mataku.
Apa memang ini untuk kebaikanku...?
“Tapi..., Tuan Jun akan menjadi saksi hidup....”
Suara wanita yang lain...? Entah mengapa, wanita tersebut terdengar ragu, untuk yang kali ini.... Rasanya seperti..., aku memang tak layak untuk suatu hal....
Tak lama kemudian, aku mendengar suara sesuatu yang keluar dari pasir yang kencang. Setelahnya, suara nyaring terdengar dan mengintimidasi pikiranku, seolah-olah suatu makhluk yang tak aku inginkan akan muncul dari gelapnya ruangan....
Huh...?
Aku..., berada di ruangan gelap...?
Lalu, kenapa semuanya terdengar cukup dekat juga tak terlihat sama sekali...?
Aku pun merasakan suatu makhluk sedang membuka mulutnya selebar mungkin ke arahku. Hawanya terasa sangat menyeramkan, dan semakin mendekatiku. Aku mencoba memutar badanku, akan tetapi suaranya masih tetap datang dari arah depanku.
Langsung setelahnya, mulut yang berisi gigi taring terbuka lebar dan melahapku dengan cepat.
Begitulah pikiranku, namun....
Aku terbangun- membukakan kedua mata, dan mencoba menggerakan badanku sekuat tenaga. Akan tetapi, tubuhku sama sekali tak bisa aku gerakkan. Bahkan, semakin aku mencoba menggerakkan tubuhku, semakin aku merasakan sakit di sekujur tubuhku.
Aku berada di kasur suatu kamar di rumah sakit. Aku tak yakin alasan yang benar-benar sangat khusus untukku berbaring disini. Namun, aku yakin jika hal ini berhubungan dengan satu hal....
Cacing kematian....
Memikirkannya saja sudah cukup membuatku merinding....
Lalu, terdengar suara dari kananku, dia menyapaku dengan santai.
“Jun...? Apa kau telah sadar...?”
Suara itu, sangatlah familiar. Setiap hari, aku mendengarkan suaranya. Mungkin..., aku tak bisa menghindari suaranya.
Suara lelaki, terdengar bodoh, namun cukup bisa untuk dipercaya.
Suara itu..., suara Li....
Aku langsung memaksakan kepalaku untuk mencoba menengok ke arahnya. Dan tentunya, kepalaku terasa nyeri. Setelah itu, gempa bumi pun terasa.
Bukan..., bukan gempa bumi....
Rasanya seperti guncangan makhluk raksasa....
Bahkan, guncangan itu semakin mendekat.
Kemudian, mimpi burukku muncul kembali....
Cacing raksasa tersebut muncul jauh didepanku. Namun, makhluk tersebut tak perlu menghabiskan waktu lama untuk segera sampai ke rumah sakit. Lalu..., makhluk tersebut kembali menerkamku, bersama dengan Li....
Kali ini..., aku tak yakin jika aku benar-benar bisa selamat dari mimpi buruk ini....