Namaku Akira, aku bekerja disebuah tokoh kecil yang kubangun. Tahun ini umurku 29 tahun dan masih belum menikah. Namun suatu hari aku mendapat sebuah panggilan yang aneh dan pesan yang tidak masuk akal bagiku.
Drtt, drtt, drtt.
Akira yang sedang memasak segera mengambil handphonenya dan mengangkatnya.
"Halo?"
Hening, tak ada jawaban dan sapaan.
"Hallo?!!"
Akira mulai kesal melihat nomor yang tak dikenal itu.
Tutt.
Panggilan terhenti, Akira menghela napas dan melanjutkan memasaknnya. Dia menyatap makanannya dengan lahap.
Tin.
Akira menatap pesan itu dan terkejut.
Aira kau dimana? kau tidak merindukanku? Tanpamu disisiku bagai dinereka. Aira kumohon kembalilah... aku akan jadi suami yang baik untukmu.
Tak.
sendok yang dipegangnya jatuh begitu saja.
'S-suami????'
Akira membalas membalas pesan itu.
Kau siapa? Aku bukan Aira.
Akira segera mematikan handphonenya, mungkin orang itu salah kirim. Nama mereka cuma beda satu huruf.
....
Pagi hari, toko Akira.
"Pagi Akira," sapa sahabatnya.
"Pagi Zan," balas Akira.
Zayn menatap Akira lekat-lekat.
"Tidurmu tidak nyenyak?" tanya Zayn melihat kantung mata Akira.
"Hahah ... iya," tawa canggung Akira.
"Apa ada masalah?" tanya Zayn.
Akira menggeleng dan tersenyum.
"Kalau ada sesuatu yang aneh beritahu aku saja," jelas Zayn. Akira mematung, dia bersikap seolah tidak mendengarnya. Entah mengapa, dia merasa Zayn suka bersikap aneh. Jika dia menyukainya, itu tidak mungkin. Akira malah merasa Zayn lebih mirip seorang kakak untuknya.
"Gak kerja?" tanya Akira.
"Ini mau kerja," ucap Zayn mengambil seutas bunga dan pergi, dia melambai dan tersenyum kearah Akira.
'Bunga itu pasti untuk pacarnya,' pikir Akira. Walau dia tidak pernah melihat pacar Zayn.
Akira membuka toko bunga, awalnya Zayn tidak setujuh entah alasannya banyak macam yang tidak bisa diterima oleh Akira. Akira tetap menjalakan toko bunganya tanpa mempedulikan pendapat Zayn. Namun itu tak berlangsung lama, Zayn segera setujuh dan mulai sering menghampirinya lagi.
Triiinnngg.
"Selamat datang ditoko Bunga Akira," sopan Akira dengan sedikit menunduk.
Sepasang matanya menatap Akira lekat-lekat. Pria itu terus menatap tanpa henti.
"Tuan ingin bunga apa?" tanya Akira, dia merasa pria didepannya menakutkan.
"Menurutmu bunga apa yang bagus?" ucapnya pelan mendekati Akira.
Akira mundur beberapa langkah, sebab mereka terlalu dekat.
"Kalau saya, suka bunga mawar. Walau memiliki duri, tapi dia cantik. Tuan mau bunga mawar 999. Katanya bisa membuat orang yang diberikan bersama kita selamanya," jelas Akira.
Seutas senyum merekah diwajahnya, di melepas kacamatanya dan membersihkannya. Dia mengangguk pelan sebelum memasangnya kembali.
Akira dengan cepat menyusun bunga-bunga tersebut dan memberikannya. Pria itu menaruh sebuah kartu nama beserta uangnya.
"Andra Margha ... !!!"
Akira terkejut, bagaimana bisa seorang miliader terkenal yang tinggal dieropa ada disini, ditempat yang kawasannya hanya menengah.
Akira menghela napas panjang, dia tersenyum kecil. Toko bunganya beruntung didatangi orang hebat. Kira-kira siapa yang ingin diberikannya bunga.
17:35.
Akira menutup tokonya dan berjalan menuju rumahnya. Angin yang bertiup pelan membuat suasana hatinya ikut tenang.
Deg.
Akira terkejut, sejuta pertanyaan mengambang dipikirannya.
"Tuan butuh sesuatu?" tanya Akira pelan.
Andra berbalik dan dia memberikan bunga yang dibelinya kepada Akira.
"Maaf, apa bunganya jelek?" tanya Akira takut.
Andra tersenyum senduh, ucapan yang keluar dari bibirnya membuat dunia Akira terasa berhenti.
"Akira!!! Aku bawa kue untukmu." Zayn menghampiri Akira dengan penuh semangat.
Deg.
Langkahnya terhenti, saat dia melihat sepasang mata yang kejam itu.
"Andra ... " ucap Zayn sinis.
"Lama tidak bertemu, Zayn."
Zayn segera menarik Akira kesisinya. Andra yang melihat tangan Zayn dan Akira memasang wajah dingin.
"Lepaskan Akira!!!" teriak Zayn.
Andra tersenyum menyeringai. Dia berdiri tepat dihadapan Zayn.
"Aku yang pergi atau kau yang membawanya pergi?" tanya Andra pelan.
Mereka terlihat begitu membenci satu sama lain.
"Cukup!!! Aku ingin sendiri!!!" teriak Akira, dia segera masuk kerumahnya dan menguncinya.
Brak.
Dia memegang kepalanya yang terasa berdenyut.
"Namamu bukan Akira, tapi Aira. Istriku ... Kembalilah bersamaku. Zayn bukan sahabatmu ... Tapi kakakmu."
...
"Belum puas kau buat kami menderita?" tanya Zayn dengan menggempalkan tangannya.
"Aku minta maaf soal kekasih kita," Andra berucap dengan datar, seolah tidak ada rasa kasihan dibalik kata-katanya.
mereka mencintai wanita yang sama. Namun perempuan itu memilih bunuh diri ditengah frustasinya. Dia anak diluar nikah keluarga Akira, dia tidak memiliki hubungan darah dengan mereka berdua. sedangkan Akira, dia memiliki hubungan darah dengan Zayn dari ayahnya, mereka satu ayah beda ibu.
Karna merasa ini semua salah keluarga Akira, dia menekan bisnisnya dan menikah Akira untuk membalaskan dendamnya. Akan tetapi Akira begitu tulus menganggapnya suami. Kekerasan, penyiksaan selalu dideritanya. Tapi yang didapat oleh Andra hanya ketulusan dari Akira bukan kebencian.
Zayn yang mengetahui adiknya disiksa habis-habisan bahkan hampir merenggang nyawa, membawanya pergi. Hidup Andra terasa sunyi dan menyiksa tanpa kehadiran Akira dirumahnya.
"Jangan berlagak kau mencintai AIRA!!!" Zayn mencekram baju Andra.
"Tapi kau bener," ucap Andra tersenyum.
Bugh.
satu pukulan keras mendarat diwajah Andra. Dia tersungkur cukup jauh.
"Aku tetap akan mengejar AIRA," Andra berucap pelan, kemudian pergi.
Zayn berusaha menenangkan dirinya sebelum menghampiri Akira. Dia memilih pergi sebelum bicara hal yang menyakitkan jika bertemu Akira sekarang.
....
Zayn membuka matanya.
Deg.
'Sialan, Bisa-bisanya aku lengah.'
Saat ingin pulang kerumah, dia tiba tiba dipukuk hingga pingsan.
"Wah, wah, wah. Bukankah ini pewaris utama keluaraga Aryha." Dia tersenyum begis.
'Kertha.' Zayn menatapnya sinis. Dia adalah sepupunya yang selalu mengincar hak waris mutlak.
"Nantikan kehancuranmu!!!''
Kertha pergi dengan angkuh, dia melempar korek api yang menyala dihadapan Zayn. Api membesar dengan cepat. Zayn meronta-ronta berusaha melepaskan diri.
"Kakak!!!!''
Dari balik kobaran api Akira berlari meghampiri Zayn.
"Akira apa yang kau lakukan!!!" bentak Zayn.
Akira berusaha melepaskan ikatan Zayn namun susah.
Bhuarrr.
Api semakin besar, ruangan itu sudah hampir roboh.
"Tidak!!! Kakak gak boleh pergi!!! Aku ingat, Aira ingat. Ketika saat itu Aira kecelakaan karna Andra meninggalkanku sendirian ditaman!!! Kakak gak boleh tinggalin Aira!!!!" tangis Akira pecah.
Akira melihat api itu, dia mengambil kayu yang terbakar dang mengarahkannya ketali Zayn.
"AKIRA!!!!"
Talinya terbakar, Zayn segera menarik Akira pergi.
"Jangan lakukan hal bodoh lagi!!!!"
Zayn terus berlari dengan manarik Akira keluar.
Dhuak.
Kaki Akira terselandung.
"Akira!!!!"
Teriak Zayn dengan air mata, bangunan tua itu roboh.
Syut.
Deg.
Tes.
Tes.
Akira yang memejamkan mata karna takut, membuka matanya.
Tes.
darah menetes diwajahnya.
"A-andra ... ," Akira berucap pelan
Buahkk.
tubuhnya berusaha menahan bangunan yang akan menimpa Akira.
"Maaf Aira. Maaf saja, gak mungkin cukup."
Tes.
Air mata Akira menetes dengan deras. Dia memegang wajah Andra yang kini pucat pasih.
"Aira aku mincintaimu, aku mencintaimu, a ... aku mencintaimu. tetaplah hidup untukku."
Pemadam kebakaran langsung datang
memadamkan api. Tim penyelamat segera menolong mereka berdua.
Wiyyyuuuu.
Suara mobil ambulance yang terdengar ditelinga Akira mulai memudar. samar-samar ia melihat Andra yang dibawa. Zayn segera menghampirinya dengan begitu khawatir, air mata tampak menetes diwajahnya.
...
Andra membuka matanya perlahan. Namun semuanya terasa gelap.
"A-Aira k-kau d-dimana??"
Saat dia ingin bangun, dia dibantu oleh seorang suster. Matanya yang diperban dibuka oleh mereka.
Andra mengedipkan matanya berkali-kali akibat silau cahaya ruangan. Dia melihat sekeliling yang tampak tidak ada siapapun selain dokter.
"Apa kau ingat siapa dirimu?" tanya dokter.
Andra mengangguk pelan.
"Bagaimana penglihatanmu? Apa ada yang sakit?" tanya dokter.
Andra memegang wajahnya, dia tau wajahnya memiliki bekas luka karna bangunan yang ditahannya menggores wajahnya. Andra menggeleng pelan.
nyittt.
Kepalanya terasa sakit. Dia memejamkan mata berusaha menetralkannya. Saat membuka mata lagi, semua terlihat buram dimatanya. Dokter segera memeriksanya.
"Sepertinya mata anda masih belun terlalu menyesuaikan..." jelas dokter.
Andra menatap sang dokter dengan bertanya-tanya.
"Saat anda menahan bangunan yang akan menimpa. Mata anda terkena belingan kaca hingga mengakibatkan mata anda buta. Saat mengetahui itu, ada seorang pasien yang mendonorkan matanya."
Deg.
"Dimana dia?" tanya Andra khawatir.
Cklak
pintu kamar itu terbuka, terlihat Zayn menatapnya dengan tajam.
Deg.
Jantung Andra terasa berhenti. Akira berjalan dengan dituntun Zayn.
"Mereka sudah datang. Kalau begitu kami permisi," pamit sang dokter dan juga susternya.
Akira terlihat buru-buru menghampiri Andra.
"Andra ... Andra." Dia terus meraba-raba sekitarnya. Andra segera memegang tangan Akira. Air matanya menetes.
Saat Akira sadar dan tahu Andra tak mungkin bisa melihat, dia dengan cepat menawarkan matanya. Betapa murkanya Zayn saat tahu apa yang ditawarkan Akira. Namun setelah Akira menangis dan memohon kepada Zayn, dengan berat hati dia mengikhlaskannya.
"Mulai sekarang, Aku matamu, Aira," ucap Andra pelan.
"Zayn ... bisa restui kami?" tanya Andra.
Zayn tampak kesal. Dia jelas tau adiknya begitu mencintai pria ini.
"Akira kenapa kau begitu mencintainya?" tanya Zayn pelan.
Akira terdiam, kemudian dia tersenyum.
''Kakak ingat saat aku hilang. Saat itu aku hampir tengelam ... Kak Andra yang menyelamatkanku!!!" Senyum Akira begitu lebar. Tanpa Andra mungkin dia sudah tidak ada. Dia tidak mungkin tidak mencintai Andra.
Deg.
"Tunggu dulu!!! Bukankag gadis itu Chamara?" tanya Andra.
Zayn tersenyum kecut.
"Chamara tidaklah sebaik yang kau kira Andra," pelan Zayn.
yang tahu kejadian itu cuma dia dan orang yang diselamatkannya. Perkataan Zayn memiliki arti bahwa Chamara yang mendorong Akira.
"Lalu kenapa kau mencintainya?" tanya Andra tajam.
"Kau tau ... dia melakukan itu karna suruhan ibunya. Dia selalu menangis didalam kamar sejak hari itu."
Zayn melangkah pergi dengan membawa perasaan berat.
3 bulan kemudian.
Mansion Andra.
Aira terlihat sedang duduk ditaman. Walau dia tidak bisa melihat, dia menikmati angin yang bergemiri disisinya.
" Aira!!!'' Andra menghampirinya dengan membawa sebuah bunga mawar.
Aira meraba-raba dan memegang wajah Andra.
"Maafkan aku. Aku belum bisa menenukan pendonor untukmu." pelan Andra.
Aira menggeleng, dia tersenyum dan mengambil bunganya. Mungkin dia tidak bisa melihat, namun dia lebih bahagia sekarang. Cinta yang tak terbatas kini hadir dihidupnya. Kakaknya mulai akur dengan Andra, mereka sama-sama membantu Aira untuk bisa melihat indahnya dunia ini lagi.
TAmAT.