Ctak..ctek..ctak..ctek...suara itu mengganggu tidurku .. suara sakelar lampu ditekan tiada henti mengganggu telingaku.
Tubuhku tertutup selimut tebal.
Jantungku berdetak kencang, tanpa henti.
"Hentikan!, teriakku. "apa mau mu", aku memberanikan diri bertanya pada makhluk itu.
"Hi..hi..hi..aku ingin bermain..hi..hi..hi", jawabnya dengan suara yang kecil dan tinggi, sehingga membuat orang yang mendengarkannya menggigil ketakutan.
Tubuhku terasa dingin, seakan-akan ada angin dingin yang berhembus memasuki sela-sela pori-pori selimutku.
"Ayo bermain", suara itu semakin mendekatiku.
Tempat tidurku perlahan ada yang menaikinya, bau busuk mulai mengganggu indera penciumanku.
Aku semakin mengeratkan selimutku.
"Hentikan!", aku kembali berteriak.
"Apa salahku!, mengapa kamu selalu menggangguku!", tanyaku, suaraku mulai serak, tubuhku pun terasa berat, entah sampai kapan aku bisa bertahan.
"Begini saja, aku tidak akan mengganggumu lagi dengan satu syarat, apabila dalam satu bulan kamu bisa bertahan menghadapi diriku, aku akan melepaskan dirimu, bagaimana?", nafasnya yang bau bangkai menguasai hidungku, aku menahan nafas, "sampai kapan aku akan bertahan.
Ia lalu berkata lagi," aku ada di kegelapan, hi..hi..hi". Setelah itu keberadaannya menghilang.
Aku menarik nafas lega, membuka selimut, menghidupkan lampu, lalu mengambil obat nyamuk bakar, menghidupkannya untuk menghilangkan bau yang ditinggalkan makhluk gaib tersebut.
Dengan tubuh yang sedikit menggigil, aku pergi ke dapur untuk membuat teh manis hangat.
Aku tinggal di panti asuhan, walau begitu, kesejahteraan anak-anak panti sangat diperhatikan disini, di dapur selalu tersedia teh dan gula, siapapun boleh mengambilnya.
Satu hal yang selalu aku syukuri sampai saat ini. Kami diberi satu kamar untuk masing-masing anak, dikarenakan kamar itu sangatlah kecil, hanya cukup untuk satu tempat tidur yang hanya bisa menampung satu orang dan satu laci kecil untuk tempat baju dan peralatan, sementara buku dan peralatan sekolah aku letakkan di kardus dan aku simpan di bawah tempat tidur.
Temanku sebelah kamar yang bernama Arman juga terbangun dan ke dapur untuk membuat mie rebus, di panti ini kami juga mendapatkan jatah tiga bungkus mie untuk satu Minggu setiap anaknya.
"Jack, kamu tadi mimpi buruk ya, Aku tadi kaget dengar Kamu teriak", tanyanya sambil mengucek mata.
"Iya jelas sekali ya, maaf, gara-gara teriakan Ku, Kamu jadi terbangun", jawabku.
"Tidak apa-apa, memangnya Kamu mimpi apa?", tanyanya lagi.
"Apa Kamu percaya kalau Aku bilang itu bukan mimpi", aku menghela nafas panjang.
"Maksudmu?", tanyanya sambil membuat mie.
"Aku didatangi hantu, Dia mengajakKu bermain, Dia berkata bahwa Dia tidak akan menggangguKu lagi kalau Aku bisa bertahan dalam satu bulan dari gangguannya", jelas ku.
"Satu hal lagi, Dia juga bilang kalau Dia suka kegelapan", aku melanjutkan ceritaku.
"Berarti Dia tidak suka cahaya, Kamu harus mempersiapkan senter, serta harus menghidupkan lampu kamar setiap hari, begitu juga kamar mandi", ujar Arman lagi.
"Aku juga memikirkan hal itu, nanti temani Aku beli senter dan juga baterai ya untuk satu bulan", pintaku.
"Baiklah, mau mie?", Arman menawariku mie buatannya.
"Tidak, terima kasih, makanlah, jatah mie Ku masih utuh", jawabku sambil menyeruput teh manis hangat.
Pagi harinya, selesai mandi, aku dan Arman bersiap-siap ke toko untuk beli senter dan baterai dan juga sekotak lilin plus korek apinya.
Tanpa terasa malam menjelang, kamarku kubiarkan terang, bahkan ketika aku tidur pun lampu tetap kubiarkan menyala. Malam itu aku aman, tidur dengan nyenyak sampai keesokan harinya.
Begitu juga dengan hari-hari selanjutnya. Tapi hari mengerikan itu akhirnya datang juga. Kami mendapatkan pemberitahuan akan ada pemadaman listrik tiga hari lamanya. Pemilik panti, membeli lilin dengan jumlah banyak, dan juga lampu minyak disiapkan, semua tong air diisi penuh.
Tak ada seorangpun kecuali Jack yang mengetahui bahaya yang sesungguhnya sedang mengintai mereka semua.
Jack lalu memberitahu anak-anak panti yang lain untuk berhati-hati dengan kegelapan, tapi seperti biasa, tidak ada yang mau mendengarkannya.
Hanya Arman yang percaya. Kegelapan pada malam pertama listrik padam pun dimulai, banyak anak-anak panti yang memanfaatkan momen mati lampu tersebut untuk saling menakuti.
Tidak bagi Jack dan Arman, mereka lebih memilih duduk didekat lilin yang menyala, sedikitpun mereka bergeming dari tempat itu.
Waktu tidur tiba, banyak anak-anak yang mematikan lampunya, benar saja tak berapa lama terdengar teriakan ketakutan bersahutan, Jack dan Arman memberanikan diri mendatangi kamar teman-teman mereka dengan membawa lilin yang menyala di tangan mereka.
Ketika mereka berdua memasuki kamar temannya, wajah temannya terlihat pucat pasi, Jack lalu menyuruh mereka semua untuk menghidupkan lilin.
Malam itu dilalui dengan tenang, begitu juga malam keesokan harinya.
Pada malam ketiga pemadaman listrik, entah mengapa Jack maupun Arman mengalami kantuk yang luar biasa, mereka dengan cepat terlelap dengan lilin yang masih menyala di atas meja laci masing-masing.
Tepat tengah malam, Jack merasakan sesak, ketika membuka mata ruang kamarnya gelap, lilin yang berada di atas laci padam, dengan menahan sesak, Jack mencari korek api, ia mengutuk keteledorannya sendiri, rasa sesak semakin memenuhi rongga dadanya. Dengan menajamkan penglihatannya di kegelapan kamar ia tersentak. Seorang wanita berambut panjang sedang menduduki dadanya, senyumnya menyeringai, wajah pucat serta mata yang menghitam menatapnya dengan sadis.
Jack ingat, ia menyimpan senter dibawah bantalnya, dengan tangan yang gemetar, ia menghidupkan senter dan mengarahkannya langsung dimuka hantu itu, teriakan melengking, memekakkan telinga pun terdengar. Hantu itu menghilang, meninggalkan Jack dengan tubuh yang berkeringat dan nafas yang ngos-ngosan.
Jack bersyukur ia masih diberikan umur yang panjang.
Keesokan paginya Jack menceritakan hal tersebut ke seluruh penghuni panti, mereka semua kali ini mempercayai perkataan Jack, mereka juga mempersiapkan senter untuk jaga-jaga.
Tapi tetap saja, yang namanya manusia pasti ada khilaf nya, salah satu anak panti ada yang tidur dengan nyenyaknya seperti halnya Jack, tapi kali ini ia lupa menghidupkan senter. Besok paginya ia ditemukan meninggal dunia.
Seluruh penghuni panti berduka, termasuk pemilik panti. Semenjak saat itu pemilik panti yang juga seorang konglomerat memperbanyak pencahayaan di setiap sudut panti, begitu juga halamannya.
Tapi mereka melupakan sesuatu, bahwa kegelapan yang sesungguhnya menanti setiap manusia di luar rumah di malam hari, di malam yang gelap, di tempat-tempat yang minim cahaya, serta didalam hati manusia itu sendiri.
👻TAMAT👻