"Ra apa gak bisa? aku hanya ingin kita berdamai itu aja aku gak minta lebih" ucap pria bertubuh jangkung itu menatap ku sayu.
"Oke kita putus baik baik dan kita juga akan berdamai tapi aku meminta satu hal darimu jangan pernah perlihatkan dirimu lagi dihadapan ku".
"Kenapa harus begitu?".
"Karena terlalu sakit Jun bagiku untuk menatap mu yang bukan milikku lagi" jawab Yura tersenyum kecil menatap ke arah lain.
Juna terdiam sejenak sambil menatap ku ntah apa yang ia pikirkan setelah semua yang terjadi diantara kita.
"Haaah, baik lah perlahan aku akan menghilang dari pandanganmu Ra, tapi aku berharap jika suatu saat kita bertemu lagi jangan pernah ragu untuk menyapa ku" pinta Juna.
.......
4 tahun kemudian
Saat ini Yura akan kembali ke tanah kelahirannya setelah Yura menjadi lulusan mahasiswi alias sarjana S1 di negeri seberang.
Betapa rindunya Yura pada kampung halamannya meskipun tak ada seorang pun yang menunggu kepulangannya. iya karena Yura hidup sebatang kara semenjak kematian sang ibunda dari situ juga ia hanya fokus mencari ilmu dan mencari pekerjaan.
Setelah beberapa saat Yura segera mengemasi barang bawaannya dengan ceria karena kereta yang ia naiki akan segera berhenti di stasiun.
Akhirnya kereta berhenti orang orang dalam kereta mulai berhamburan keluar gerbong. Yura pun menghela nafas setelah berhasil keluar "Ah akhirnya keluar juga, huffft".
Yura celingak celinguk untuk mencari tempat duduk dan beristirahat sejenak.
Drrt drrt... getar ponsel membuat Yura langsung melihat ponselnya. "hah Reno ?" batinnya. ia pun segera mengangkat telfon dari Reno teman yang sejurusan sekaligus seangkatan dengannya.
"Halo, tumben sih Lo telfon gue?".
"Lihat kebelakang dongg Ra' ucap Reno diseberang telfon.
Yura pun reflek langsung menoleh kebelakang.
"Ah" Yura tersenyum seketika melihat Reno ternyata ada dibelakang nya.
"Astaga Reno kenapa Lo bisa ada disini? " tanya Yura pada Reno yang masih berdiri.
Namun Reno hanya tersenyum balik menanggapi pertanyaan Yura lalu ia berjalan dan duduk disamping Yura.
"Gue kesini karna pingin ketemu sama Lo, tadi nya sih gue mau naik kereta nya bareng sama Lo tapi apalah daya takdir berkata lain dan akhirnya gue beda gerbong sama Lo" cerocos Reno.
Saat Reno sedang asik menjelaskan tiba tiba saja Yura tersentak karna ada perasaan yang tak asing datang begitu saja ketika melihat seorang pria bertubuh jangkung berkacamata mata hitam lewat tepat dihadapannya.
"Ah perasaan ini, kenapa hatiku tiba tiba jadi begini?" batinnya dan tanpa sadar air mata Yura menetes iapun segera mengusap air matanya tersebut.
"Ra Lo kenapa nangis, apa Lo terlalu menghayati cerita gue sampe Lo nangis gitu?" Reno tertawa kecil mengacak acak rambut Yura.
"Gue cuma kelilipan aja. dasarr resek banget sih" jawab Yura agak cemberut sambil menata rambutnya.
Yura memang sangat pintar menyembunyikan perasaannya pada orang lain. sehingga orang lain pun susah untuk menebak isi hatinya.
"Hemm, Lo mau langsung balik atau jalan jalan dulu gitu?"
"Gue capek ren gue mau langsung balik aja, oh ya Lo mau mampir ga ke rumah gue ?" tanya Yura pada Reno.
"Ehmm,yaudah nyampai rumah Lo harus cepet istirahat oke. kapan kapan aja deh gue mampir nya soalnya gue juga mau ada urusan dikit" jawab Reno tersenyum tipis.
"Oke thanks ya ren".
"Sama sama cantik" Reno pun beranjak meninggalkan Yura dikeramain stasiun.
Sedangkan Yura sendiri juga akan beranjak dari tempat duduknya namun tak disangka Yura malah bertemu dengan seseorang yang sangat sangat ingin ia lupakan dalam hidupnya tetapi Yura selalu gagal untuk melupakan sosok tersebut.
Dukkk...
Karena Yura terlalu fokus pada ponselnya ia jadi menabrak punggung seseorang pria yang ada didepannya.
"Awhhh, astaga !!".
"Ahh, saya minta maaf karena terlalu fokus saya jadi menabrak punggung anda,sekali lagi maafkan saya" jelas Yura meminta maaf sambil agak membungkuk kan badannya.
Pria itu akhirnya membalikkan badannya tanpa berbicara dan menatap Yura dengan tatapan yang sangat lembut begitu juga Yura setelah meminta maaf ia juga menatap pria tersebut.
"Yura..".
"Juna..".
Ucap keduanya bersamaan dan saling memandang satu sama lain.
Yura pun reflek langsung membalikkan badannya untuk melangkah pergi dari hadapan Juna serta menahan air matanya yang sudah mengalir namun Juna dengan sigap memegang tangan Yura.
"Hai Ra, udah lama banget kita gak bertemu" ucap Juna masih memegang tangan Yura.
Pikiran Yura saat ini terlalu campur aduk karena memori masalalunya tiba tiba muncul kembali dalam otak nya.
"Lepas Jun!" ujar Yura mengusap air mata nya yang sudah tak kuat untuk dibendung.
"Gak Ra, aku gak bakal lepasin tangan kamu sebelum kamu lihat kearah ku".
"Jun pliss, lepasin sekarang juga!" pinta Yura tanpa menoleh sedikit pun ke arah Juna.
Juna masih menggenggam tangan Yura tetapi tak menggubris ucapan Yura membuat Yura semakin tenggelam dalam ingatan masa lalu nya.
Dan tiba tiba saja Juna menarik tangan Yura dan memeluk Yura di dekapan nya namun Yura hanya bisa pasrah berada di dekapan sang mantan karena sebenarnya ia tak benar benar ingin melepaskan pelukan Juna.
"Kenapa harus kamu Jun, kenapa?!" ucap Yura bersuara pelan dan di iringi dengan Isak tangisnya.
"Aku sudah berusaha semampuku untuk melupakan mu Jun tapi semua itu usaha yang sia sia karena kamu yang telah mengingatkan ku lagi"
"Maaf Ra untuk selama ini dan karena aku gak bisa melupakan semua tentang kita. meski 4 tahun sudah berlalu sebenarnya aku selalu menunggu ke pulangan mu" jelas Juna masih memeluk erat Yura dengan mata yang berkaca kaca.
"Lepasin aku sekarang juga Jun, aku mohon padamu".
"Aku udah putus Ra sama winda. selama aku bersama dengannya yang difikiran ku hanya kamu dan cuma kamu jadi percuma saja jika aku masih bersama dengannya lagi " jelasnya lagi.
Namun lagi lagi Yura hanya terdiam mendengar penjelasan Juna yang masih memeluknya.
Juna akhirnya melepas pelukannya, memegang bahu Yura dan menatap Yura dengan tatapan lembut nan sayu. "Ra aku mohon kasih aku kesempatan sekali lagi buat bahagiain kamu" Ucapnya.
Hati Yura tak bisa berbohong jika sebenarnya ia masih sangat menyayangi dan mencintai Juna meski ia pernah tersakiti karena Juna yang tiba tiba memutuskannya tanpa alasan 4 tahun yang lalu.
"Sebenarnya aku meminta putus darimu 4 tahun lalu bukan karena tak ada alasan Ra".
"Lalu apa alasan mu hah !?" Sahut Yura langsung menatap Juna.
Juna pun menggandeng tangan Yura untuk mencari tempat duduk dan menjelaskan tentang 4 tahun lalu pada Yura.
"Jadi sebenarnya 4 tahun lalu papa ku bekerja dibawah perusaan milik papa Winda, setelah Winda tau tentang itu ia menjadikan papa ku sebagai senjata baginya agar aku mau bersama dengannya" jelas Juna masih menggenggam tangan Yura.
"Kenapa kamu gak pernah cerita itu, apa aku sebegitu gak bisa dipercaya ?!" balas Yura.
"Bukan kamu gak bisa dipercaya. itu karena aku ga mau kamu kenapa kenapa Ra. Winda bisa ngelakuin apa aja yang dia mau ke kamu makanya dulu aku yang meminta putus lebih dulu dari mu".
"Sekali lagi aku mohon padamu agar kamu bisa kasih aku kesempatan sekali lagi buat bahagiain kamu karena sekarang udah ga ada yang bakal ganggu kita kalo kita bersama lagi".
Hati Yura saat ini bimbang antara perasaan nya yang masih sakit disisi lain ia juga masih sangat menyayangi dan mencintai Juna.
"Berikan aku waktu untuk memikirkan semuanya Jun" jawab Yura melepas genggaman tangan Juna.
"Baik lah aku mohon agar kamu memikirnya baik baik karena aku tak mau menjauh darimu lagi" ucap Juna seraya tersenyum dan Yura yang sudah tak menangis pun menganggukkan kepalanya.
.........
3 Minggu pun berlalu semenjak pertemuannya dengan Juna di stasiun.
Saat ini Yura tengah menunggu Juna di taman yang sering mereka kunjungi dulu.
"Huffft, semoga aja keputusan ku ini adalah keputusan yang tepat" Gumam Yura sambil memandang indahnya danau yang ada di taman tersebut.
Selang beberapa saat Juna akhirnya datang.
"Ah maaf ya Ra aku telat, udah nunggu lama? dijalan tadi agak macet" ujar Juna agak ngos ngos an karena ia langsung berlari saat turun dari mobil.
Yura menggelengkan kepala dan menyodorkan botol air mineral pada Juna "Nih minum dulu" ucap Yura.
"Makasih, kamu masih sama kayak dulu hehe" setelah Juna meminum air tersebut suasana diantara mereka mulai serius.
"Jadi bagaimana ?" tanya Juna sambil melihat danau didepannya.
"Apa?" Yura berpura pura bertanya balik.
Juna merogoh sesuatu yang ada didalam saku baju nya.
"Ra apa kamu mau menjadi istri ku?" pinta Juna men membuka kotak cincin yang ia bawa.
Yura begitu terkejut karena ia tak memperkirakan jika Juna sampai melamarnya.
"Kamu ga bercandakan Jun ?" tanya Yura memastikan.
"Buat apa aku bohong Ra, karena yang aku cinta aku mau hanya kamu dan cuma kamu yang aku mau buat nemenin hidupku Ra ga ada yang lain" jawab Juna tersenyum dan mengambil cincin tersebut dalam kotak kecil.
"Jadi apa kamu mau jadi istri ku?" tanya Juna sekali lagi.
"Iya aku mau Jun karena aku juga masih sangat sangat menyayangi dan mencintaimu" jawab Yura tersenyum bahagia saat Juna memasangkan cincin di jari manis nya.
"I love you Ra I promise to always take care of you forever" Ucap Juna.
"I love you too Jun and thank you for promising me" jawab Yura.
Juna pun langsung memeluk dan mencium bibir Yura begitu juga dengan Yura yang sangat bahagia saat ini sampai ia meneteskan air matanya.
TAMAT
.
.
.
Gimana guys ceritanya? jangan lupa tinggalkan jejak yah 😉
Terimakasih untuk readers yang sudah mau mampir buat baca cerita author ini ❤️