Hari itu team Marching Band Sekolah kami akan tampil mengisi atraksi menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Karena tempat berlangsungnya acara cukup jauh dari Sekolah, team harus sudah kumpul satu jam sebelum acara dimulai.
Kulihat jam yang melingkar di dinding kamar sudah menunjukkan angka 14:10, aku bersiap berangkat karena Pak Giri memberikan intruksi bahwa jam 14:30 harus sudah sampai di Sekolah.
Aku segera berangkat, perjalanan dari rumah ke Sekolah butuh waktu 10 menit. Dengan Kostum lengkap aku sudah sampai di sana. Namun betapa terkejutnya aku ketika tidak kutemukan kaus tanganku di dalam tas. Aku harus kembali ke rumah untuk mengambilnya.
Namun waktuku tidak lama 10 menit lagi gladi bersih dimulai.
Tanpa pikir panjang aku menuju ruang kelas 9A yang sedang pembekalan ujian. Meski dengan kostum Marching Band aku mantapkan diri untuk mengetuk pintu. Yang ada dalam pikiranku saat ini menemui seseorang di sana.
Tok.. tok..tok
aku mengetuk pintu
"Masuk"
"Permisi pak, bisa ketemu Haskaryo sebentar? saya mau pinjam motor," aku minta ijin Guru pengajar.
"Silahkan," jawab beliau memberikan ijinnya.
aku menghampiri meja Haskaryo kakak kelasku itu
" Mas pinjam motor sebentar mau pulang ambil kaus tangan" kataku to the poin.
Haskaryo kebingungan karena kami memang tidak pernah ngobrol sebelumnya, bahkan kalau ketemu kami hanya saling pandang. Nekat juga aku ya kalau kepepet😁
"Kamu.. kamu tahu aku?" Haskaryo membetulkan kacamatanya yang melorot.
"Iya tahu kamu Haskaryo kan?" dia mengangguk masih bingung.
"Ayo cepatlaah" pintaku, dia langsung memberikan kunci motornya.
Setelah minta ijin aku keluar meninggalkan kelas 9A. Aku segera mencari Heru team Marching Band juga, karena hanya dia yang bisa bawa aku kembali lagi dalam waktu 10 menit.
"Awas pegangan yang erat" pesan Heru, motor melaju dengan kecepatan tinggi. Kami ngebut.
Jam 14:28 kami sudah kembali sampai di sekolah.
Masih dalam mode palpitasi aku kembalikan kunci ke kelas Haskaryo.
Aku tidak perduli riuh rendah kakak kelasku menyoraki kami. Yang penting tujuanku tercapai.
"Formasi" Pak Giri memberikan aba-aba melalui Toa yang dipegangnya.
Dua Mayoret sudah siap memimpin. Pasukan siap dengan formasi yang telah disepakati. Gladi bersih berjalan lancar.
"Kita berangkat" Pak Giri memberikan intruksi.
Team siap berangkat, sesampainya di Alun-alun kami menempati area dekat inspektur Upacara. Untuk memudahkan akses pada saat team melakukan atraksi.
Usai upacara dilanjutkan kirab dengan berjalan kaki sambil beratraksi memainkan beberapa lagu. Rute cukup jauh namun kami menikmatinya dengan penuh semangat.
_________________
Esok harinya Salsa sekretaris OSIS memanggilku.
"Kris, kamu dicari Pak Danis," Aku segera mempercepat langkah untuk menghampirinya
"Aku? ada perlu apa memangnya? apakah ada salah pasang karya seni di Mading?" aku mengerutkan kening sambil mengingat apa saja yang telah aku tempel kemaren. Rasanya tidak ada yang salah.
"Nggak tahu, kamu salah apa? sepertinya beliau marah tadi," wajah Salsa pias.
"Ada apa ya Sal? bukankah pengampu Mading Pak Satrio ya?" aku masih menerka-nerka apa yang terjadi.
"Semoga kesalahanmu tidak fatal Kris, oh ya pesan beliau kamu harus menemuinya nanti setelah kelas usai."
"Iya, terimakasih ya," Aku kembali duduk dan mengikuti pelajaran sampai usai.
Aku ambil tas dan menyilangkannya di pundakku menuju Ruang Guru mencari Pak Danis.
Sampai di depan kantor, ruangan sepi. Ku angkat tangan hendak mengetuk pintu. Namun kuurungkan karena tiba-tiba kudengar suara orang dehem dari arah belakangku.
"Ehem.. ehem, cari siapa?" ternyata suara Pak Danis
Spontan aku menoleh, "Eh.. anu.. e.. maaf bapak memanggil saya?" kataku gugup.
"Kamu..Lola Lolita Krisantiya" kata Pak Danis sambil berjalan menuju mejanya.
Aku mengikuti dari belakang
"Benar pak, Saya," jawabku cepat
"Kamu kemarin yang masuk kekelas 9A?" pak Dani menatapku tajam
"iya pak, saya masuk kelas 9A menemui Haskaryo untuk pinjam motornya," aku berusaha menjelaskannya.
"Saya tidak bertanya, siapa yang menyuruhmu menjelaskan?" Suara pak Dani semakin meninggi.
Aduuh .. matilah aku, pasti sebentar lagi habislah diriku dimarahi. Badanku rasanya sudah panas dingin tak tentu. Aku semakin menunduk memandangi lantai.
"Lola Lolita Krisantya, lihat saya di sini bukan di bawah sana," aku semakin tidak paham dengan maksudnya.
"M-maafkan saya pak, sebenarnya ada apa bapak memanggil saya?" aku mendongakkan kepala menatapnya.
"Kenapa masih berdiri? nggak capek apa? duduk sini!" titah pak Danis sambil menunjuk kursi di depannya.
"B-baik pak" Aku duduk di sana, "mengapa bapak memanggil saya? apakah ada tugas yang harus saya kerjakan," aku mengulangi pertanyaanku
"Kenapa kamu ulangi lagi pertanyaanmu? nggak percaya dengan saya iya?" pak Dani masih marah.
Aku semakin tidak mengerti apa maunya.
"Apakah kamu tahu kamu salah?" pertanyaan yang membuatku semakin puyeng saja.
"Tidak pak", jawabku "saya salah apa pak?" aku mulai jengkel
"Hadew.. kamu! tidak tahu salahnya masih saja emosi,"
Ya Allah.. apa salah dan dosaku?
"Lola Lolita Krisantiya, kamu tahu tidak namamu itu unik?" pak Dani semakin tidak jelas saja
"Saya tidak tahu pak, itu nama pemberian nenek saya, jadi.. nama saya salah pak?" tanyaku bingung
"Jangan mengambil kesimpulan sendiri," bentaknya.
"Jadi salah saya apa pak? tolong jelasin pak, apakah ada hubungannya dengan slide Mading?" tanyaku kesal ditambah lagi cacing di perutku mulai protes.
"Kamu kenapa?" tanya pak Danis
"S-saya lapar pak," jawabku malu.
"Hm.. mari ikut saya," pak Danis berdiri mengambil kunci dan berjalan menuju pintu keluar.
Aku mengikutinya
"Kemana pak?" tanyaku semakin bingung.
"Makan, kamu lapar kan ?" jawabnya enteng
"Tapi pak? bapak belum menjawab apa salah saya," Semakin lelah rasanya.
"Jangan protes, atau saya hukum kamu?" bapak yang satu ini bener-bener bikin pegel. Rasanya lebih pegel daripada kena asam urat kayaknya.
Akhirnya aku harus nurut lagi dan lagi.
"Masuk," aku masuk dan kututup pintunya
"Kamu pingin makan apa Lola Lolita Krisantiya?"
"Bapak panggil saya Kris saja cukup daripada terlalu panjang."
"Eeh..siapa yang suruh kamu ngatur-ngatur saya? enak saja ngatur-ngatur."
Sungguh aku sudah nggak bisa mikir lagi saat itu.
"Ayo turun sudah sampai," titahnya setelah sampai di warung Bakso.
Kami duduk setelah pesan 2 porsi.
"Kamu beneran nggak tahu kesalahanmu apa?"
"Tidak pak, mengapa bapak kesannya mengulur waktu? harusnya langsung saja bapak sampaikan biar saya segera memperbaikinya."
Dua porsi bakso dan dua gelas es jeruk sudah sampai dimeja.
Aku segera mengambil sambal kemudian mengaduknya dalam mangkuk bakso.
"Sudah makan dulu keburu dingin, nih buat kamu biar tambah sexy," katanya membuat aku tak percaya dengan apa yang ku dengar. Gelondong bakso isi telur itu telah berpindah ke mangkuku, membuat semakin penuh.
"Terimakasih pak, maaf bapak bilang apa?"
"Kesalahan kamu, bahwa kamu terlalu sexy dan manis pakai kostum Marching Band itu."
"uhuk.. uhuk," kalimat pak Danis sontak membuat hidungku perih karena tersedak. segera aku minum es jeruk sampai tinggal setengah gelas
Pak Danis menatapku
"Jujur sejak melihatmu sore itu aku selalu saja memikirkan kamu Lola Lolita Krisantiya,"
Aku bingung mau jawab apa? yang jelas aku menahan amarah karena merasa dipermainkan. Habis bentak-bentak sekarang malah ngerayu.
"Aku tanyakan nama kamu sama Haskaryo, aku suka nama kamu," pak Danis mulai ngomong aku, kamu.
Aku masih diam membiarkan pak Danis menuntaskan apa yang ingin diutarakan.
"Aku pikir kalian pacaran, ternyata kata Haskaryo tidak. Jadi.. maukah kamu menjadi istriku?" pak Danis memegang tanganku.
Hampir saja jantungku berhenti berdenyut saking kagetnya.
"Maaf pak, saya belum bisa menjawabnya sekarang, saya masih syok mendengarnya. semoga jantung ini masih ditempatnya," kataku sambil mengelus dada.
"Maafkan aku yang to the poin Kris, aku memang bukan laki-laki Romantis," pak Danis menggenggam tanganku. Aku merasa tidak nyaman karena banyak mata melihat ke arah kami.
Aku tarik tanganku dan tersenyum ke arah pak Danis
"Owh.. jadi karena nggak romantis terus marah-marahi saya seenak bapak? begitu pak?" Rasanya pingin aku timpuk wajahnya dengan sayur Kol di gerobak yang punya warung. Saking tidak terimanya aku dengan perlakuan pak Danis.
"Saya begitu karena saya gugup. Jadi kapan saya mendapat jawaban?" desaknya tidak sabar.
"Ini masalah kritis menurut saya pak, karena melibatkan banyak pihak,"
"Aku tahu itu Kris, aku akan ke rumah kamu malam ini juga kalau kamu setuju," katanya semakin membuat aku khawatir.
Bagaimana mungkin pak Danis langsung meminta aku dari orang tuaku? aku yakin Ayah tidak akan mengijinkannya.
Pak Danis mengantarkanku pulang.
"Pikirkan lagi permintaanku tadi Kris, aku harap secepatnya," pak Danis memegang pundakku.
"Saya rasa bapak yang harus jujur, apakah keinginan bapak itu tulus cinta atau sekedar nafsu karena melihat body sexy," kataku setengah minta kejelasan.
"Jangan menggurui aku Lola Lolita Krisantiya! aku lebih faham dengan diriku! Selamat malam, aku pulang,"
Aku pandangi mobilnya sampai hilang dalam kegelapan malam. Pak Danis menembakku dan ajukan permohonan agar aku jadi istrinya? aduuh belum jadi suami saja bikin palpitasi tiap detik. Bagaimana kalau sampai jadi istrinya tinggal satu atap dan melihatnya dengan segala perlakuannya?
Hal ini tidak boleh terjadi.
Muncul ide konyolku untuk membuktikan ucapannya.
Di Sekolah saat pelajaran selasai aku temui pak Danis di ruangannya. Dengan wajah berseri pak Danis menyambutku. Namun wajah itu menjadi kusut saat aku menyampaikan hasil pemikiran semalam.
"Maaf pak Danis, saya itu orangnya tidak mudah percaya dengan orang lain apalagi orang jauh yang belum saya kenal dengan baik, saya butuh meyakinkan hati seseorang bahwa orang itu mampu menjadi orang yang saya percayai," aku duduk di kursi depan pak Danis seperti malam kemaren. Pak Danis mengernyitkan dahi.
"Aku rasa aku pantas untuk kamu percayai Kris. jadi...?" kalimatnya menggantung menginginkan jawabanku.
"Jadi saya butuh waktu Dua tahun untuk membuktikannya." Dua tahun dihitung dari aku kelas 8, berarti dalam waktu dua tahun aku sudah kuliah saat itu. Wajah pak Danis memerah, namun tampak susah payah untuk bisa menahan emosinya sehingga tidak marah. Berkali kali membuang nafas kesal. Akhirnya..
"Deal! aku akan menunggu dua tahun sampai kamu percaya bahwa akulah yang menjadi suamimu" pak Danis ulurkan tangan dengan senyum dipaksakan.
"Deal," kataku.
Ada perasaan lega saat meninggalkan ruangan pak Danis. Sebenarnya aku belum yakin dengan keputusanku karena aku juga belum pernah pacaran. Dan sebenarnya aku memang sulit untuk jatuh cinta. Semoga Dua tahun waktu yang cukup untuk membuat aku percaya bahwa ada cinta yang menunggu. Cintanya pak Danis pak Guruku.
-Selesai-❤
😊😊😊🙏🏻🙏🏻