seorang gadis MTS kelas tujuh bernama widya baru saja menyelesaikan PTS dia sekarang bahkan sedang berjalan hendak menuju rak sepatu
tanpa sengaja widya melihat ke arah kanan dimana di situ terdapat lorong yang sangat gelap, namun bukan itu yang widya herankan tapi terdapat seorang wanita berpakaian putih lusuh dengan rambut panjang yang rapih di tambah kulit pucatnya perempuan tersebut tengah menatap ke arah depan entah melihat siapa
sementara widya yang baru sadar bahwa itu bukan manusia hanya bisa tersenyum lalu melanjutkan langkahnya
•••
di arah jalan pulang widya pasti selalu melewati sebuah sungai kecil yang di pinggiranya terdapat pohon bambu
tapi widya samar-samar melihat sebuah tangan seperti sedang menyingkirkan pohon bambu tersebut
karna penasaran widya langsung mempercepat langkahnya namun ketika sudah sampai tepat di dekat tangan yang widya tadi liat
ternyata di sana kosong tidak ada orang satupun merasa tau widya langsung berucap "percuma kamu nakutin aku, aku gak bakal takut"
setelahnya widya langsung melanjutkan langkahnya menuju rumah
•••
sore hari sekitar jam lima sore terlihat widya tengah duduk di kursi sembari memainkan ponselnya
lalu terlihat seekor kucing mendekat ke arah widya lalu berdiam sembari melihat ke arah widya tanpa kedipan
awalnya widya tidak mempermasalahkan namun ketika melihat suara orang seperti di cekek widya langsung menoleh ke sana kemari namun tidak ada siapapun
Widya biarkan suara itu namun tidak juga berhenti sampailah ketika Widya sudah merasa risih lalu berkata "Percuma kamu nakut-nakutin aku gak bakal takut kalo bisa tunjukin wujudmu" setelah berucap widya langsung bangkit lalu masuk ke dalam rumah
***
Sore hari sekitar jam 18:30 Widya sendirian di rumah ibu dan adiknya sedang ke warung
Ketika Widya sedang bermain ponsel tanpa sengaja ia melihat plastik yang ada di atas meja bergerak dengan sendirinya ke atas dan ke bawah
Widya penasaran siapa yang menggerakan plastik tersebut sampailah ia bangkit berjalan lebih dekat lalu melihat kesana kemari namun tidak ada apapun bahkan plastik tersebut sudah berhenti
Tapi malah gantungan kunci yang ada di pintu bergerak sendiri merasa tau siapa pelaku dari semua ini Widya langsung berbicara "Tunjukan wujudmu"
Widya tunggu dan tunggu tapi tidak ada wujud apapun sampai akhirnya Widya memutuskan untuk menuju kamar
***
Satu minggu telah berlalu sekarang Widya sedang berkumpul di kamar bersama keluarganya masing-masing sedang bermain dengan ponselnya begitu juga dengan Widya
Namun anehnya Widya merasa telinganya panas seperti sedang di tiup lalu Widya menepuk telinganya berharap akan berhenti namun malah berpindah menjadi lehernya yang panas
Widya sudah tau ulah siapa dengan cepat Widya berbicara di dalam hati "Percuma aku gak bakal takut kalo bisa tunjukin wujudmu" setelah itu bukanya berhenti malah semakin panas tiupan di leher Widya
Akhirnya Widya membaca doa yang ia hafal sedikit demi sedikit lehernya sudah tidak panas akhirnya Widya sudah bisa tenang
Tapi ternyata malah dirinya mendengar suara berisik dari luar bahkan seperti sedang memanggil seseorang namun tidak jelas siapa yang di panggilnya
Widya awalnya di luar rumah ada tamu akhirnya Widya hendak bangkit namun niatnya ia urungkan ketika melihat keluarganya seperti tidak mendengar apa-apa karna sadar Widya merebahkan tubuhnya kembali mulai fokus ke ponselnya
***
Seminggu telah berlalu kini Widya sedang berjalan pulang bersama temanya setelah acara khataman di TPQ tempat dia mengaji
Ketika pulang Widya harus melewati kuburan keluarga tetapi tidak sengaja Widya menoleh ke arah kuburan tersebut, Oh... tidak Widya malah melihat pocong yang lebih dari tiga
Sebenarnya Widya tidak merasa takut malah biasa saja dia bahkan tersenyum kepada tiga pocong tersebut
Tapi entah kenapa dirinya ingin lari padahal tidak takut sama sekali dengan langkah cepat widya segera meninggalkan kuburan tersebut
***
Malam hari sekitar pukul 18:25 Widya sedang melewati pohon bambu, jembatan, rumah kosong,
Tetapi sebelum melewati jembatan Widya tidak sengaja melihat anak kecil botak di jembatan dengan tubuh agak berwarna hijau, yang sering disebut oleh masyarakat yaitu Tuyul
Namun Widya malah tersenyum sambil berbicara "Hay..." entahlah kenapa Widya tidak merasa takut akan tetapi Tuyul tersebut menghilang entah kemana
"Lah kok ilang?" gumam Widya merasa heran kenapa Tuyul tersebut malah menghilang
***
Kurang lebih satu minggu telah berlalu dengan kejadian mistis yang ia alami seperti ketika malam hari Widya selalu mendengar seperti ada kegiatan di dalam rumahnya
Sampailah ketika Widya merasa risih dengan apa yang ia alami akhirnya di ceritakan semua tanpa terkecuali kepada ibunya
Setelah selesai menceritakan ibu mwnjawab "Kita ini hidup memang selalu berdampingan dengan 'Mereka' tapi asalkan kita tidak mengganggu mereka juga tidak akan mengganggu" itu yang ibu katakan, Namun sesaat kemudian ibu berbicara "Untuk suara yang sering kamu dengar itu bersumber dari Pasar Gaib yang ada di sekitar rumah sini, Banyak yang melihat Tuyul, Pocong, Genderuwo, Kuntilanak, Siluman, atau apapun"
Widya mengangguk tanda mengerti bahwa suara yang setiap malam dia dengar itu memang ada
Lalu ibu berkata lagi "Nanti kamu ke ustadz amin buat buang mata batinmu kalo entar kita ke Tegal"
Mendengar itu entah kenapa Widya merasa tidak ingin mata batinya di buang tapi dirinya juga merasa risih
Satu alasan Widya tidak mau membuang mata batinya adalah takut teman Gaibnya yang selalu menemaninya, menghiburnya, mengajak dirinya berbicara, ikut hilang
***
Satu bulan telah berlalu sekarang Widya sudah ada di tegal tempat tinggal neneknya
Sesuai janji ibu Widya hari ini akan ke rumah Ustadz Amin untuk membuang mata batinya namun sebelum itu Widya ingin makan mie ayam entahlah kenapa Widya ini
Di perjalan Widya melamun bahkan air matanya tanpa di sadari terjatuh tapi berkat suara tantenya yang biasa di panggil lilik oleh Widya berhasil membuat Widya sadar "Wid, kalo liat sesuatu bilang aja"
"Iya lik" sahut Widya tetapi sebenarnya sedari tadi Widya melihat putih-putih entah apa itu
"Wid, di gunung manik jangan ngelamun" ucap tantenya mengingatkan, Gunung manik adalah sebuah bukit yang terkenal angker di daerah situ bahkan banyak kecelakaan di sekitar Gunung Manik
***
Setelah selesai berjalan-jalan sekarang Widya sudah berada di rumah Ustadz Amin bahkan dirinya sudah berhadapan dengan Ustadz
Sebelum itu ibu sudah menceritakan semua yang di alami Widya mewakili Widya yang belum buka suara
"Kalo lihat saya kamu takut gak?" tanya Ustadz Amin, Sementara Widya menggeleng tanda tidak takut
"Mata batinmu mau saya buang?" tanya Ustadz Amin lagi Dengan cepat Widya menjawab "nggak mau" jawabnya
Sontak keluarga Widya yang ikut mengantar menoleh ke arah Widya "Buang aja" ucap ibu yang tidak setuju dengan jawaban Widya
"Begini, kalo mata batinya di buang paksa tanpa si pemilik setuju itu akan berbahaya, bisa membuat depresi atau gila karna mental yang tidak kuat" jelas Ustadz Amin
"Dibuang aja yah?" tanya ibu menatap Widya namun Widya masih menolah "Nggak mau aku masih pengen liat" Jawab Widya
"Buat temen yah?" Tanya Ustadz Amin dengan cepat Widya mengangguk jujur
"Widya!" panggil ibu lalu menatap tajam Widya "Buat temen ma, lagian 'Mereka' gak ada yang ganggu" jawab Widya menatap ibu
Dengan terpaksa ibu mengiyakan walau dengan berat hati, Akhirnya mata batin Widya tidak jadi di buang
***
Setelah hari itu entah kenapa Widya menjadi lebih peka dengan orang yang ia temui dirinya bisa merasakan apa yang orang lain rasakan bahkan hanya dengan melihat, Dirinya juga bisa merasakan aura jahat dari orang maupun aura baik dari orang yang Widya lihat
Bahkan feling dan insting Widya menjadi lebih kuat sampai sekarang dirinya masih sering mendengar suara seperti ada ke giatan di rumahnya maupun suara lain seperti menangis suara seperti sedang bersenandung bahkan tertawa
♡⃛◟( ˊ̱˂˃ˋ̱ )◞⸜₍ ˍ́˱˲ˍ̀ ₎⸝◟( ˊ̱˂˃ˋ̱ )◞♡⃛
INI ADALAH KISAH NYATA YANG DI ALAMI AUTHOR, SEKARANG TERSERAH MAU PERCAYA ATAU TIDAK YANG TERPENTING AUTHOR SUDAH JUJUR SELAMA MENULIS