Aku takut jika masa lalu kelamku terulang. Dimana para pria tulus yang mencintaiku di manfaatkan demi kepentingan pribadi. Tanpa peduli pada perasaan mereka. Bagaimana kalau saja aku melakukan dosa masa lalu ku lagi dengan memanfaatkan pria di hadapanku ini?
Sungguh menyakitkan hati, Aku tak tega melukainya.
Alvaro memperdalam lumatan bibirnya menyelami dahsyatnya perasaan yang terpendam. Dia memberikan sentuhan lembut sehingga Ailyn terlena dan jatuh dalam rengkuhannya menikmati permainan. Dia yang terduduk di atas meja memangku Ailyn di atas pahanya benar benar posisi sempurna untuk melampiaskan emosi satu sama lain.
Kedua tangannya yang bermain di tempat lain berhasil merangsang gairah seorang Ailyn yang terkenal pasif nafsu. Gadis yang dia sentuh penuh cinta ini cukup susah di sulut hasratnya sebab pendirian teguh yang di genggamnya. Namun, mungkin Tuhan berpihak padanya malam ini membantu meruntuhkan pertahanan istrinya dan terjatuh dalam pelukannya.
Bibir ranum yang manis itu bergerak lembut membalas lumatan nya. Ailyn melingkarkan lengan kanannya ke leher Alvaro dan satunya lagi membelai halus tengkuk leher pria itu. Dia mampu mengartikan setiap sentuhan Alvaro yang tersirat gejolak emosi dan itu adalah cinta. Dia menyukai jamahan penuh rasa pria ini.
Seolah olah kesabaran menipis untuk memiliki sepenuhnya gadis yang dia cintai. Akal sehat memudar perlahan membiarkan nafsu menggelora menguasai kedua insan itu. Tatkala berada di puncak gairah pelan pelan tangan kiri Ailyn meraih rahang Alvaro lalu mendorongnya lembut memisahkan tautan bibir keduanya.
Tersisa tanda tanya dalam benak pria itu, dia meraih pergelangan tangan kiri Ailyn kemudian mengecup kecil di telapaknya.
" Why? " Alvaro menggenggam tangan Ailyn seraya menatap wajah cantik itu yang merona tersipu. Hanya bisa tertawa geli dalam hati namun terukir senyum bermakna di bibirnya.
" Aku lupa kalau harus menghadiri rapat dewan." Entah kerasukan apa dia bisa sampai ke tahap seperti ini. Menerima sentuhan Alvaro walau ini bukanlah pertama kalinya bagi mereka berhubungan. Tapi dia tersadar akan suatu hal kala di pertengahan hubungan keduanya.
" 3 jam lagi rapat akan dimulai, selama itu apa yang akan kau lakukan? " Alvaro mengalihkan tatapannya menuju jemarinya yang memainkan jemari tangan kiri Ailyn.
" Merevisi laporan, ya ... a ... aku aku harus memperbaikinya." Pikirannya kacau dan tak mampu mendapatkan alasan tepat untuk menutupi kegugupan nya. Aneh, apa baru kali ini dia merasa tak berdaya hanya karena pria ini. Biasanya rasionalitas dan wibawa selalu melekat kuat pada dirinya sehingga tak mudah goyah.
" Aku yakin tadi kau sudah membereskan laporan rapat dan aku sendirilah yang membantumu, benar bukan? " tutur Alvaro yang semakin membuat rumyan isi kepala Ailyn teruntuk mencari pembelaan diri selanjutnya. Tidak bisa! ini tak bisa dibiarkan, bagaimana kalau dia tahu akan seperti ini?
Ailyn akhirnya terdiam sejenak memikirkan cara melepaskan diri. Begitu pula Alvaro yang bergelut dalam pikirannya mencari cara agar Ailyn tidak pergi begitu saja sementara dirinya menghadapi kerumitan sendirian.
Sekian menit berlalu, Ailyn tersenyum tipis lalu mengusap kepala Alvaro dan menatap lekat netra biru safir itu.
" Kau ingin aku tidak pergi kan? Rapat dewan kali ini sangat penting karena membahas permasalahan Raja." Ailyn dan Alvaro saling bertatapan. Wajah mereka sama sama merona merah tapi tidak menyadari bila wajahnya sendiri merah tersipu.
" Tapi 3 jam waktu yang cukup lama, Apa tidak bisa tinggal bersamaku sebentar saja? " tanya Alvaro dengan sorot mata berharap dan Ailyn peka soal itu.
" Besok Kau akan pergi ke Celestine dan entah kapan kembali, Aku.. aku hanya ingin kau bersamaku malam ini meski sebentar saja." Alvaro menundukkan pandangannya kembali memainkan jemari tangan Ailyn. Dia tak mampu menampakkan kelemahannya di tambah gejolak perasaan menggedor gedor pintu hatinya ingin terlepas.
Ailyn tidak akan pergi meninggalkan Alvaro tapi di sisi lain ia merasa ragu akan ketetapan hatinya. Bercermin pada masa lalu lantas menghambat hubungan mereka dan meninggalkan status tidak jelas di antara keduanya. Status suami istri hanyalah tertulis di atas kertas tetapi tak berlaku di kehidupan nyata.
" Aku.. aku tidak paham, "ucap Ailyn sembari mengedipkan mata beberapa kali dan sedikit menjaga jarak dengan tangan kanannya mendorong sedikit bahu Alvaro.
" Apa yang tidak kau pahami? " merasa wanita itu menjauhinya seketika ia mencekal lengan kiri Ailyn lalu menatap netra ruby itu yang terlihat bimbang.
" Lily jika kau terus menguburnya jauh di lubuk hatimu dan tak menjelaskannya maka menurutmu apa yang akan terjadi? " Alvaro mencoba membujuk secara tersirat pada Ailyn. Dia tahu wanita ini menyembunyikan sesuatu dan itu terbaca olehnya meski Ailyn pandai merangkai ekspresi.
" Aku tahu tapi.. ini sulit." kegelisahan mulai menggerogoti Ailyn dan dengan cekatan Alvaro meraih kedua sisi pundaknya lalu menciptakan kontak mata antar keduanya.
" Look at my eyes.. kau melihat apa di mataku sekarang? " pupilnya membesar mendominasi irisnya yang berwarna biru safir, Ailyn dapat melihat proses pembesaran pupil Alvaro dan itu cukup memompa detak jantung menjadi sedikit lebih cepat.
" Ya.. Yakin? keyakinan? " jawabnya gugup.
" lalu? "
" percaya. "
" Dan? " pertanyaan terakhir ini membutuhkan sekian detik lebih lama untuk mendapatkan jawabannya. Ailyn tampak enggan mengatakan yang sebenarnya karena takut menyakiti perasaan Alvaro.
" Lily.. jawab aku maka kubantu masalahmu." perintah Alvaro dengan nada ketegasan yang selalu dia lontarkan saat menghadapi para bawahannya. Hening sejenak namun ribut dalam pikiran, itulah yang di alami Ailyn sekarang.
" Perasaan." Ailyn.
"... ." Alvaro.
" Tatapan penuh rasa kasih dan.. "
" Cinta." Suasana langsung sunyi senyap. Alvaro tertegun mencerna semuanya tapi berbeda dengan Ailyn yang terlihat lesu dan tak berenergi. Dia pada akhirnya mengungkap suatu hal yang sedari awal bertekad tidak akan di beritahukan kepada siapapun termasuk Alvaro sendiri.
Baginya, saat dimana kita tahu dia mencintai kita tetapi tak membalas dan hanya memanfaatkannya demi kepuasan pribadi itu merupakan bentuk kekejaman batin. Menyiksa perasaan orang tersebut hingga terluka begitu parah dan berimbas kepada kesehatan fisiknya.
" Ya.. seperti yang dikatakan aku memang mencintaimu." Alvaro menyaksikan bagaimana Ailyn spontan menghindari berkontak mata dan perlahan bangkit berniat pergi. Tapi semua itu sia sia sebab tangan kanannya secepat kilat tetapi lembut itu menyentuh bawah dadanya tempat dimana jantung berada.
Manik biru safir itu memperhatikan gerakan jemari tangan yang mengelus area jantung. Sedangkan Ailyn tak mengerti mengapa pria ini tiba tiba membelai halus bagian tubuhnya yang cukup sensitif bila di jamah.
" Alvi ... ."
" Lalu apa yang membuatmu tak paham dengan perasaanmu sendiri? " tanya ia berhasil membungkam Ailyn.
" Tidak peka? aku rasa itu salah karena jika memang begitu maka kau takkan menyimpulkan bahwa aku mencintaimu." Ia bisa merasakan debaran jantung Ailyn tak beraturan.
Jadi ini masalahnya, hati dan pikirannya tidak sejalan maka terjadilah kebingungan. Alvaro sangat tahu artinya dan menyimpulkan bila Ailyn bukan tak bisa mengenali perasaan tetapi,
" Lily menurutmu mengapa kau bilang tidak paham? sementara kau peka namun sesuatu menghalangimu membuat keputusan. Kau bukannya tak paham dengan perasaanmu tetapi trauma dengan masa lalu." Ailyn mendengarkan seksama penjelasan Alvaro terkait dirinya yang bermasalah dengan hatinya.
Bersamaan pula memori pedih terputar ulang hingga terlintas perasaan kecewa dan malu. luka masa lampau dan dosanya telah membelenggu hati sehingga tak mudah baginya mengulang sesuatu yang sudah di alami seperti jatuh cinta. Menjalin hubungan spesial dengan seorang pria sudah ia alami beberapa kali dalam ribuan tahun ini. Tetapi sebab banyaknya faktor menyakitkan, mendorong dirinya untuk membangun benteng pertahanan bertuju melindunginya juga sekitar agar terhindar dari hal hal yang tak di inginkan.
Ketika ia di khianati
ketika ia di bohongi
ketika ia di sakiti
ketika ia di fitnah oleh kekasihnya sendiri.
Lalu saat mendapatkan siksaan fisik dan batin yang semua itu berasal dari orang yang dia cintai, dimanfaatkan secara keji tanpa mempedulikan perasaannya.
Terlepas semua itu ada magnet yang selalu menariknya kembali pada pria ini. Jujur saja ia masih sakit hati dengan masa lalunya dan sulit berdamai atas segala tragedi dan kesalahannya. Karena inilah Ailyn enggan merajut ulang apa yang dia lakukan saat di masa lampau.
Matanya menghangat dan ia palingkan wajahnya berusaha menahan tangis serta menetralkan emosinya. Ailyn merasa jika kondisi dirinya sedang tak baik sekarang kemudian berniat pergi menyendiri di suatu tempat. Namun itu semua sudah terbaca oleh Alvaro, seketika ia mendekapnya mencoba menenangkan Ailyn.
" Manusia memang sulit melupakan kesalahan beserta keburukan, tapi sangat mudah bahagia karena hal hal yang dia sukai. Apapun yang membuatmu gembira sesaat mungkin obat sementara bagi kesedihan, tapi satu satunya penawar sakitmu adalah orang orang yang kau cintai." Alvaro membelai lembut punggung Ailyn dan berempati atas apa yang telah di alami Ailyn baik dari masa kini maupun yang sudah berlalu.
" Kau bisa datang padaku kapanpun itu dan aku selalu bersedia menjadi sandaran untukmu. Pulanglah Lily.. pulanglah ke rumahmu jika kau sudah merasa lelah dan membutuhkan wadah untuk mencurahkan isi hatimu. Dan ingatlah aku sangat bersedia untuk itu."
Kisah cinta antara si Hitam Ailyn dan si putih Alvaro mungkin terlihat biasa saja di mata orang lain. sama seperti kisah cinta lainnya mengarah pada sepasang insan yang saling melengkapi dan menyembuhkan luka. Namun, bagi mereka yang mengalaminya merupakan bagian hidup yang berharga dan luar biasa.
Ailyn dengan latar belakang hidup dan kepribadiannya selalu identik warna hitam. Sementara Alvaro dengan latar belakang dan kepribadiannya selalu identik dengan warna putih.
Ketika mereka bersatu, warna keduanya pun bercampur menjadi Abu abu. Menghasilkan warna umum untuk menggambarkan sifat seorang manusia yang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing masing. Tak terlalu gelap maupun terang tetapi seimbang, itulah Abu abu.
Dari pernikahan inilah, keduanya saling melengkapi. Baik Ailyn yang melengkapi Alvaro dan Alvaro yang melengkapi Ailyn, Menjadikan perpaduan sempurna dalam menjalin hubungan.