Hari ini adalah hari tepat dimana usia pernikahan mereka genap berusia lima puluh tahun. Dan mereka bersiap untuk merayakan hari jadi tersebut. Di depan meja makan berbentuk bundar mereka pun duduk berdampingan. Di hadapan mereka tidak ada siapa-siapa cuma mereka berdua. Di atas panggung seorang lelaki paruh baya gesit memindahkan jari-jarinya dari satu papan tuts ke papan tuts lainnya, entah sudah berapa banyak lagu yang ia mainkan, tak ada pula orang yang senggang menghitung, lagi pula itu tak penting, yang terpenting adalah mereka, dua sejoli yang hari ini genap merayakan usia pernikahan mereka yang kelima puluh tahun, usia emas, begitu kata orang-orang.
"Ingat nggak waktu kau melamarku dulu ?" Tanya si perempuan sembari menatap mata serta sebelah tangan yang menggenggam erat tangan si lelaki. Oleh si lelaki, pertanyaan itu sebenarnya tak ingin ia dengar tapi... Akh, betapa malunya ia kala mengingat peristiwa itu lagi. "Aku tetap percaya padamu meski kedua orangtuaku..." Ucap si perempuan, si lelaki buru-buru menyela. "Ya kecuali kamu tidak satu orang pun yang percaya padaku, pada mimpiku. Cuma kamu, hanya kamu. Terimakasih."
"Tapi aku pernah ragu juga loh," Ucap si perempuan dengan sedikit merendahkan nada suaranya, ia agak sungkan sepertinya. "Masak?" Si lelaki membelalak kaget dan itu bukan sesuatu yang dibuat-buat. "Kapan...?"
"Setahun diawal-awal pernikahan kita." Ucap si perempuan dengan tenang, terkesan dari nada suara yang tidak lagi rendah seperti sebelumnya.
"Jujur aku juga..." Kata si lelaki seraya menarik nafas panjang, jeda beberapa menitan, lalu dengan agak terbatah-batah ia pun berusaha untuk melanjutkan omongan. "Bahkan hampir-hampir aku..." Namun sepercik kenangan mencegahnya untuk melanjutkan omongan. "Aku malu kalau mengingat kejadian itu lagi..." Si perempuan tersenyum sepertinya ia ingin menenangkan sambil buku jemarinya ia usap-usapkan ke kulit tangan si lelaki. "Terimakasih karena kau..."
"Iya itulah cinta..." Kata si perempuan santai.
"Tapi ketika aku tahu kalau ternyata kaulah yang telah membeli lukisan pertamaku dengan harga yang fantastis itu betapa..." Si lelaki tak berani melanjutkan omongan.
"Lukisan mu itu bagus. Orang-orang saja yang tidak mengerti." Kata si perempuan. "Buktinya, seminggu setelah aku beli,"
"Kau juga yang menyuruhnya kan? Jujur saja pada ku..." Si lelaki tampak terkekeh. Si perempuan menggeleng tegas. "Nggak!"
"Kenapa kau memilihku, kenapa bukan dia?" Tanya si lelaki sepertinya ingin mengorek masa silam mereka. Lagi-lagi, dengan tenang si perempuan menyahut. "Apa kau lupa kalau aku ini tipe perempuan yang menyukai tantangan."
"Menikah di usia yang belum genap dewasa. Dengan seorang lelaki dengan masa depan yang masih abu-abu. Dengan segala perbedaan... Mulai dari usia, strata, status dan kedudukan. Sangat menantang memang." Ucap si lelaki seraya mengangguk-angguk sambil-sambil tergelak juga.
"Begitulah cinta," Ucap si perempuan lugas.
"Penderitanya tiada akhir," Ucap si lelaki menukil pernyataan dari seorang tokoh di satu film serial tivi Mandarin, tayang di salah satu televisi swasta, yang dulu sempat fenomenal, Kera Sakti, dengan tokohnya Cu Pat Kai, siluman babi.
"Aku datang ke rumah meminta mu untuk bertanggung jawab karena kau..." Si perempuan terkekeh. Buru-buru si lelaki menimpali. "Dan dengan begitu bodohnya aku..."
"Karena kau mencintaiku." Si perempuan menyela.
"Tidak! Aku cuma takut kalau kau benar-benar..." Si lelaki berucap sungkan. Si perempuan kembali menyela. "Mana ada orang dicium bisa hamil."
"Ini semua karena cerita, dasar bapak..." Si lelaki menudingkan telunjuknya ke langit-langit. "Kau tahu kan kalau aku..."
"Iya kau lugu, polos, naif dan..." Ucap si perempuan dengan tersipu lucu.
"SOMBONG...!" Ketus si lelaki menyela. "Bukan! Kau itu seorang yang ambisius! Itu saja!" Si perempuan meralat ucapan si lelaki.
"Saking ambisiusnya hampir-hampir aku jadi orang gila!" Si lelaki menggeleng-gelengkan kepalanya, agak rusuh, sepertinya ia terkesan kecewa dengan dirinya di masa lalu. "Semua orang-orang hebat pernah mengalami apa yang kau alami." Si perempuan menenangkan.
"Kau tetap percaya pada mimpiku padahal aku..." Masih tersirat gurat kecewa pada sorot matanya. "Tidak! Dalam hatimu aku tahu, kau tetap percaya pada mimpi itu, aku bisa melihatnya dari pancaran sinar matamu, dan sampai hari ini." Ucap si perempuan menatap si lelaki jauh sampai ke lubuk hatinya. "Kau perempuan hebat!" Sanjung si lelaki.
"Bukan! Cintailah yang membuat kita hebat!" Kembali si perempuan meralat ucapan si lelaki.
"Apakah perasaan itu masih tetap sama?" tanya si lelaki dengan raut wajah yang tegas dan mata yang membulat dan genggaman tangan yang erat. Si perempuan tertawa lepas, berkata: "Pertanyaan apa itu? Ingat umur! Ada-ada saja kau!"
"Ketika kali pertama kau datang menghampiriku di studio lukis milik Rahmat, pada saat itu aku telah jatuh hati padamu. Kau dengan semua keanggunanmu, terlebih lagi dengan kecerdasanmu itu, aku sangat menyukainya. Terutama saat kau menilai dan mengkritisi gambar serta warna-warna yang kutorehkan di karya lukisanku, kau membuka mataku lebar-lebar, meski diawal kupikir kau sok asyik saja, sampai aku mencoba untuk mencerna kata-kata itu lagi... Dan ternyata kau benar, aku memang salah, tapi aku malu untuk mengakui.... Padahal sebenarnya, tahukah kau, kalau itulah hal yang selalu kupertanyakan dalam semua lukisanku, seperti ada yang kurang tapi aku tidak tahu itu apa, sampai kau datang... Dari situ aku ingin lebih tahu siapa kau sebenarnya. Aku benar-benar penasaran dengan dirimu... Sampai akhirnya aku tahu, ternyata kau berasal dari ... Ya, Tuhan aku menyukai anak perawan dari seorang kolektor lukis kenamaan. Pengusaha hebat Dermawan Wintarto. Dan satu hal yang benar-benar membuat aku takjub adalah sikap dan pembawaanmu, sangat-sangat jauh dan sangat-sangat berbeda dari orang-orang seusiamu pada saat itu, sungguh itu membuat aku terkecoh." Dari sorot matanya dari genggaman tangannya, gesture tubuh dan gerak bibirnya ketika berbicara jelas terlihat kalau si lelaki yang sampai di usianya yang mulai menua ini masih terkagum-kagum juga dengan sosok yang duduk di hadapannya sekarang. "Kau bidadari. Sungguh kau itu seorang bidadari."
"Tarik nafas. Ingat umur." canda si perempuan. "Gombalanmu sudah gak ngaruh lagi." Tak tanggung-tanggung si lelaki pun tertawa terbahak. "Aku ingat kali pertama aku menggombalimu, kau terlihat seperti... Ya, Tuhan aku seperti... tai!" Seru si lelaki.
"Ihhh... jorok!" seru si perempuan.
"Tapi benarkan?" Si lelaki berlagak penasaran. Si perempuan mendengus lucu. "Sampai akhirnya kau mendaratkan ciuman itu. Di situ aku sadar kalau kau serius dengan ku."
"Padahal di situ aku masih mencoba-coba saja, mencoba untuk memperaktekkan satu-satunya ilmu yang diajarkan oleh... Pak De Rahmat. Satu-satunya Pak De ku yang berotak cabul itu! Dialah yang telah mengajarkanku perihal ciuman itu. Ciuman orang-orang Perancis, begitu katanya. Kalau kau berhasil mendaratkan ciuman kayak begitu, aku yakin itu perempuan bakal gak mau jauh darimu, barang sedetikpun, begitu katanya. Hahaha...."
"Dan kau ketakutan akhirnya..." timpal si perempuan ikutan tertawa.
"Aku ketakutan. Benar-benar ketakutan. Ketakutan setengah mati. Sungguh..." Angguk si lelaki. Si perempuan menggeleng lucu, kemudian berkata: " Kau lelaki hebat. Kau berani mempertanggungjawabkan hal yang telah kau perbuat."
"Bukan. Untuk kesekian kali, lagi-lagi kau benar. Cintailah yang hebat. Cintailah yang membuat aku hebat. Cintailah yang membuat kamu menjadi hebat. Cinta itu hebat! Betapa dahsyatnya kata itu! Aku benar-benar kagum dibuatnya. Cintalah yang membuat orang menjadi hebat! Berbahagialah orang yang hidup penuh dengan rasa cinta!" Si lelaki mengangkat kedua tangannya ke udara. "Berbahagialah mereka, berbahagialah kita..."
Lembut dan mengayun merdu lamat-lamat suara denting piano pun mengalunkan lagi lagu kesukaan mereka berdua: Endless love... Dan untuk sekali lagi mereka pun melakukan lagi ciuman pertama itu, ciuman orang-orang Perancis, begitu kata orang-orang.