Ini adalah kisah kehidupan, seorang anak yang tinggal dalam lingkungan broken home.
Bertahan dalam keluarga broken home bukanlah hal mudah bagi setiap anak, tumbuh tanpa ayah akan mempengaruhi mental dan kepribadiannya, apalagi jika anak tadi tumbuh dengan menyaksikan berbagai kekejaman dunia. Tak jarang hal ini membuat anak-anak broken home menjadi berandalan tingkat tinggi, hingga mempengaruhi kehidupannya dimasa depan.
“Pergi dari rumah ini!.” Terlihat seorang pria tengah membuka pintu dengan beberapa tas ditangannya.
“Ma, papa mau kemana? .” Melihat sang papa angkat kaki dari rumah, seorang anak kecil berlari menuju kearah seorang wanita.
“Laskar anak mama yang baik.” Wanita tadi adalah sang mama, ia berjongkok dihadapan Laskar. “Mulai sekarang kita akan hidup tanpa papa. Tenang saja mama akan menjamin kebahagiaan mu.” Kemudian mendekap laskar di dalam pelukan.
Tanpa disadari bulir-bulir bening mulai menetes di mata mereka berdua, terutama Laskar Isak tangis sama sekali tak dapat ia bendung, dikala menyaksikan langsung kebenaran akan orang yang ia cintai meninggalkan dirinya beserta sang mama.
“Ta-tapi kenapa kita cuma berdua saja ma?, Hiks... bagaimana dengan papa...hiks hiks.”
Laskar Argantara Prasetya, adalah salah satu korban dari keluarga broken home. Merasakan kehidupan tanpa ayah telah ia arungi sejak usia delapan tahun, kepahitan dunia pasti telah ia rasakan sejak saat itu, tapi untungnya ia memiliki seorang ibu yang dapat menggantikan sosok ayah di hati Laskar.
Mama, itu sebutan Laskar kepada sang ibu. Berprofesi sebagai guru menjadikan mama Laskar sangat berpotensi membesarkan sang anak menjadi orang hebat, meski tanpa didampingi seorang suami mama Laskar berhasil menjadikan Laskar sebagai generasi muda berpotensi tinggi.
Tentu hal itu melalui proses yang sangat panjang, tak jarang Laskar juga pernah merasakan kesal dihatinya, karena sang mama sangat disiplin, teliti, dan selalu menuntutnya menjadi anak yang lebih.
Laskar kecil tak menyadari apa alasan dibalik semua itu, hingga ia pun menjalani semua perintah sang mama tanpa rasa tujuan sama sekali.
Mama menyuruh Laskar les, maka ia ikuti, mama menyuruh Laskar belajar membersihkan rumah, ia turuti dengan sepenuh hati, bahkan saat mama juga menyuruh Laskar belajar walau libur, maka dia ikuti juga. Tak ada yang Laskar bantah dari sang mama, tapi yang ia kerjakan hanya semata-mata untuk berbakti kepada orang tua.
Awalnya begitu...
“Laskar adalah anak yang bodoh.” Kalimat itu menghantam kepala Laskar, ditatapnya dengan tajam guru yang menyatakan dirinya seperti itu.
Laskar hampir berkata tidak baik, karena selama tiga tahun ia adalah anak juara di kelas, sedangkan saat dikelas empat ia langsung dikatakan bodoh oleh sang guru.
“Dimana letak anak saya bodoh.” Sebelum Laskar berkata kasar, mama telah menghujam pertanyaan kepada guru itu.
“Saya mengatakan Laskar bodoh karena....”
Banyak hal yang diucapkan guru Laskar, alasan serta kalimat menjatuhkan pun tak lupa ia tekankan didalam kalimatnya. Mama hanya mendengarkan, wajah tak percaya, sang mama diam saja tergambar begitu jelas diwajah Laskar.
Setelah guru diam baru mama angkat bicara.
“Saya dan ibu adalah sama-sama seorang guru, kriteria yang ibu sampaikan sebagai orang bodoh sudah saya dengar dengan baik. Jika begitu, apakah ini semua pantas dikatakan bodoh jika dilihat dari sudut pandang kriteria bodoh menurut ibu ?.” Ucap mama Laskar sambil membentangkan semua nilai Laskar.
Sang guru terdiam seketika, matanya hanya melihat kearah nilai Laskar yang didominasi oleh angka 100 dan paling rendah 80.
“Yah, itu hanya tugas Bu, tapi kalau ulangannya Laskar mendapat nilai rendah.” Alasan kembali keluar lagi.
“Ini rendah Bu ?.” Lembaran kertas ujian pun kembali keluar dari dalam tas mama Laskar.
Sang guru langsung kaget seketika, cerita yang ia karang kini terbukti salah seratus persen, alasan sudah tak dapat keluar lagi dari mulutnya, ketika perbandingan nilai Laskar dengan nilai si juara satu baru dikelas terpampang jelas dihadapan guru itu.
Laskar fikir setelah kejadian ini ia akan memiliki kehidupan sd yang tenang, tapi itu tidak berlaku !!. Gurunya membuat cerita konyol tentang Laskar, hingga berhasil memperdaya pola fikir sebagian besar guru terhadap sosok Laskar.
Rasa tersiksa perlahan-lahan merundungi nasib Laskar, bahkan sampai teman-teman pun jadi membully Laskar secara tidak langsung. Selama tiga tahun ia diperlakukan bak anak terbuang oleh semua guru, nilainya dipermainkan, sedangkan temannya Laskar mengucilkan serta selalu mengejek Laskar.
Laskar terkadang menangis dipelukan mamanya, bercerita tentang nasib sekolah dasar yang menyengsarakan batinnya. Tapi mama selalu menguatkan Laskar, dengan kalimat motivasi. “Laskar tenanglah, Laskar itu anak yang pintar jadi wajar banyak yang iri, sekarang mereka memperlakukan laskar tidak baik, kalau begitu tunjukkan kepada mereka bahwa Laskar itu anak yang luar biasa. Buat nilai Laskar menjadi tinggi hingga tak ada yang bisa mengalahkannya, setelah itu tidak akan ada yang bisa meremehkan Laskar.”
Kalimat mama itu selalu menjadi penguat untuk Laskar, kalimat itu pula menjadi kekuatan bertahan Laskar menimba ilmu di tempat yang sama.
Sampai tak terasa sudah waktunya Laskar harus menghadapi ujian nasional. Ia pun belajar mati-matian guna mencapai apa yang ia inginkan. Belajar dari pagi hingga malam selama seminggu tak menjadikan lelah didalam tubuh Laskar, semangat membaranya membuat fisiknya kuat. Sampai perjuangan itu membuahkan hasil yang manis, Laskar berhasil menjadi nilai tertinggi di sekolah, dan menjadi urutan nomor empat diseluruh kabupaten.
Laskar puas atas hasilnya, ia merasa dirinya kini tak dapat diremehkan lagi oleh guru di sekolah dasar tersebut.
Meski sudah tamat dan menempuh jalan pendidikan Laskar tetap membawa kenangan itu didalam hatinya, menjadikannya pembangkit semangat dikala Laskar sedang lelah.
Karena kenangan itu juga Laskar berhasil menjadi sukses. Kesuksesan tak luput dari dorongan sang mama. Berkat kedisiplinan dari mama, Laskar selalu mendapatkan juara satu umum di sekolah menengah pertama. Di masa seharusnya ia mencari jati diri, Laskar malah sudah menjadi penulis dengan pembaca cukup banyak, cerpen yang ia keluarkan juga selalu disukai orang lain, bahkan novelnya selalu berhasil mengaduk-aduk perasaan pembaca.
Namun Laskar tidak lupa kalau semua ini perjuangan dari mama, Laskar sekarang mengerti apa alasan dari mama mendidik nya dengan keras, ini semua demi masa depan gemilangnya, dan juga agar ia tumbuh menjadi sosok kuat tanpa kehadiran seorang ayah serta saudara, karena Laskar terlahir sebagai anak tunggal, jadi ia harus bisa membahagiakan mama sampai akhir waktu.
Perjalanan Laskar semangkin meningkatkan setiap tahunnya, kemampuan melukis dan mengarang cerita juga ikut meningkat karena mama mendukung hobi Laskar dengan fasilitas lengkap.
Hingga kini telah sampai perjalanan Laskar pada puncaknya, ia berhasil mendapatkan beasiswa yang ia idam-idamkan.
Beasiswa kedokteran dengan seluruh biaya ditanggung pemerintah. Iya...dia mendapatkannya, dengan memegang teguh didikan sang mama, dan memacu diri dengan kenangan pahit kehidupan masa SD.
Sekarang Laskar pun menjadi orang berguna bagi bangsa dan negara. Keinginan ia untuk membahagiakan mama juga sudah ia wujudkan, tawa bahagia mama selalu menyemangati diri Laskar setiap saat, setiap waktu.
Sampai sekarang Laskar yakin, kalimat bodoh tidak pantas disandingkan oleh dirinya. Ini bukan hanya opini Laskar saja, banyak orang yang berkata begitu. Bahkan ada yang berkata. “Pasti orang tuanya menyesal meninggalkan anak sehebat ini.”
Kalimat itu menjadi momok pemacu Laskar untuk menjadi orang yang lebih, lebih, dan lebih lagi. Kini tak ada yang bisa meremehkannya, tidak para guru Laskar, tidak pula seluruh teman-teman Laskar.
Semua pencapaiannya ini bisa membuka mata semua orang. Pencapaiannya tidak terlepas dari cinta mama, kasih sayang mama, dan peran ganda mama dalam kehidupan Laskar.
“Ma terimakasih sudah hadir didunia ini, terimakasih mama sudah kuat menjalani tahun-tahun yang berat hanya bersama Laskar saja. Laskar selalu bersyukur kepada Tuhan karena bisa terlahir sebagai anak mama, Laskar sangat senang mama adalah orang tua Laskar, tidak pernah ada penyesalan dihidup Laskar ma.”
“Laskar juga berharap mama selalu ada di setiap perjalanan Laskar. Perjuangan mama kini telah berhasil, Laskar sudah sukses sekarang. Semua karena mama, tidak ada kalimat yang bisa keluar dari mulut Laskar, selain rasa syukur dan terimakasih kepada Tuhan beserta mama. Sekali lagi Laskar berterimakasih kepada mama.”
~Tamat~