Namaku Radea, aku seorang siswi dari sekolah negeri di kota Surabaya. Aku terbilang sebagai siswi yang selalu meraih peringkat pertama di sekolahku. Namun orang menganggapku sombong karena aku tak pernah menyapa dan tak pernah berbaur.
Emmm ya bukannya aku sombong namun aku kurang bisa berbaur dan terbilang malu saat berkumpul dengan teman-temanku. Bisa dibilang aku introvert. Aku lebih menyukai menyendiri sampai suatu hari aku bertemu dengan seorang yang bisa membuatku berubah, sampai saat ia sudah tiada pun aku akan tetap menjadi sahabat nya.
Oke persabahatan ku dan Irene berawal dari tahun ajaran baru saat itu ospek penerimaan siswa dan siswi aku satu kelompok dengan irene namun aku orang yang bisa dibilang introvert ini sering sekali di ganggu oleh kakak tingkat bahkan teman yang sama-sama menjalankan ospek. Hanya Irene yang menemaniku meskipun aku tak banyak bicara dan menanggapi ucapan Irene waktu itu.
Irene asalah sosok yang ceria dan juga cerewet namun anehnya aku merasa cocok dengannya. Hingga waktu kegiatan belajar mengajar telah dimulai pun aku masih berdua dengaNamaku Radea, aku seorang siswi dari sekolah negeri di kota Surabaya. Aku terbilang sebagai siswi yang selalu meraih peringkat pertama di sekolahku. Namun orang menganggapku sombong karena aku tak pernah menyapa dan tak pernah berbaur.
Emmm ya bukannya aku sombong namun aku kurang bisa berbaur dan terbilang malu saat berkumpul dengan teman-temanku. Bisa dibilang aku introvert. Aku lebih menyukai menyendiri sampai suatu hari aku bertemu dengan seorang yang bisa membuatku berubah, sampai saat ia sudah tiada pun aku akan tetap menjadi sahabat nya.
Oke persabahatan ku dan Irene berawal dari tahun ajaran baru saat itu ospek penerimaan siswa dan siswi aku satu kelompok dengan irene namun aku orang yang bisa dibilang introvert ini sering sekali di ganggu oleh kakak tingkat bahkan teman yang sama-sama menjalankan ospek. Hanya Irene yang menemaniku meskipun aku tak banyak bicara dan menanggapi ucapan Irene waktu itu.
Irene asalah sosok yang ceria dan juga cerewet namun anehnya aku merasa cocok dengannya. Hingga waktu kegiatan belajar mengajar telah dimulai pun aku masih berdua dengan Irene yang ternyata kita sekelas. Hal itu membuatku tersenyum bahagia saat melihat papan pengumuman yang menuliskan namaku dan nama Irene sekelas.
"Cupu! " Panggil salah seorang anak perempuan yang bernama Gisel. Sang ketua cheerleader di sekolah. Iya gisel terpilih sebagai ketua cheers meskipun ia masih kelas satu SMP, biasalah karena orang dalam ayah Gisel yang menjabat sebagai kepala sekolah. Dan iru membuat dirinya merasa berkuasa dan sering membully anak-anak disekolah.
Apalagi aku yang berpenampilan cupu dengan ke introvert an diriku ini membuat kelompok gisel juga sering membully ku.
Aku hanya diam mematung saat gisel dan kawan-kawannya memangilku dengan sebutan cupu.
"Kau tuli? Akumemanggilmu dan kau hanya diam saja? " Rutuk Gisel paadaku.
"Ada perlu apa? " Jawabku dengan lirih.
"Uang saku mu mana? Berikan padaku! " Titah Gisel padaku.
Aku tetap tak bergeming dan tak berniat memberikan uang saku ku setiap hari pada nya. Namun tanpa persetujuanku salah satu antek Gisel merogoh saku ku dan mengambil uang jajan untuk hari ini.
"Lumayan nih Sel Rp.20.000." Ucapnya dengan girang.
"Berikan itu uangku" Ucapku namun masih dengan suara lirih.
"Apa?, akutak mendengar ucapanmu" Ejek gisel padaku dan di selingi suara tawa para antek-anteknya.
"Itu uang ku kembalikan Sel, aku nanti tidak bisa makan siang" Ucapku dengan memohon sambil menahan agar air mataku tidak jatuh.
"Itu urusan mu makan atau tidak juga bukan urusanku yang penting kau sudah memberiku uang. Oiya satu lagi kerjakan PR matematikaku untuk besok, awas saja kalau kau tidak mengerjakannya! " Sambil melempar tiga buah buku tulis pada ku dan mereka bertiga pergi.
Sampai dikelaspun aku hanya diam bahkan saat Irene menyapaku aku hanya tersenyum tipis padanya.
"Diganggu lagi sama Gisel and the geng? " Tanya Irene khawatir.
Aku hanya mengangguk meng iyakan karena Irene juga tau aku sering di bully semenjak bersekolah disini. Irene lalu menghampiri meja Gisel saat bel masuk berbunyi. Ia menggebrak meja Gisel dan dengan beraninya Iren menjambak rambut Gisel.
Semua mata tertuju langsung pada Irene dan Gisel bahkan saat guru memasuki ruang kelas pun pertengkaran mereka belum usai.
"Irene Gisel apa yang kalian berdua lakukan? " Suara lantang pak Yarno guru Agama itupun memberhentikan pertikaian antara Gisel dan Irene.
"Gisel sering gsngguin Radea pak dan memalak Radea setiap pagi! " Ucap Irene langsung.
"Kalian ikut bapak ke ruang BK sekarang, dan kamu Radea juga ikut"
Mereka bertiga pun berurusan dengan guru BK. Di ruangan guru BK mereka di adili termasuk diriku.
"Lagi-lagi Gisel." Ucap bu Nia guru BK di sekolah.
"Saya tau kamu anak dari kepala sekolah gisel. Tapi bukan berarti kamu bisa merundung semua anak di kelas kamu! " Bu Nia yang sudah tau ulah Gisel dari pak Yarno itupun memberikan nasehat pada Gisel.
"Radea apa benar kamu setiap hari di rundung oleh Gisel? " Tanya bu Nia padaku.
Aku yang masih takut menjawab hanya bisa diam.
"Ayolah Ra kamu jujur saja selama ini sering di rundung oleh Gisel and the geng ada aku disini " Ucap Irene menyemangatiku agar berani jujur.
"I... Iyabuk! " Ucapku dengan lirih namun masih bisa terdengar oleh bu Nia.
"Baiklah Gisel hari ini kamu membersihkan toilet wanita di seluruh lantai sekolah kita. Dan untuk irene ibu tau kamu baik dan ingin menolong temanmu tapi ibu juga akan memberikan hukuman padamu berdiri di lapangan sampai jam istirahat bagaimanapun kamu juga salah main hakim sendiri. Dan untuk kamu Radea kamu juga berdiri di lapangan sampai jam istirahat karena kamu juga membuat seisi sekolah rame. "
radea dan Irene pun melaksanakan hukuman tersebut namun dengan tersenyum meskipun di hukum tapi Gisele juga di berikan hukuman dan mereka berharap itu membuat Gisel sadar.
Dan untukku sendiri setelah melaporkan perbuatan Gisel pada guru BK rasa sesak di dadaku akhirnya berkurang. Ternyata tidak buruk melaporkan orang yang membully ku. Yahh meskipun di bantu oleh sahabatku.
Waktu telah berlalu tidak terasa juga aku sudah naik kelas dua, dengan peringkat ke dua. Sekolah juga mengadakan acara study tour ke kota malang mengunjungi pabrik pembuatan mie hal itu membuat antusias seluruh siswa siswi kelas dua. Pihak sekolah menyewa dua bus pariwisata kami berangkat pukul tujuh pagi dari sekolah. Hiruk pikuk antusiasme para murid di perjalanan ada yang menyanyi dan ada sebagian yang memilih tidur. Aku dan Irene memilih berbincsng mendengar cerita Irene seperti biasanya.
"Tau nggak Ra tadi pagi sebelum aku berangkat aku ketemu sama kucing oyen yang ketabrak sepeda motor, untungnya kucing itu masih hidup buru-buru aku bawa ke dokter hewan makanya aku hampir telat tadi sampai sekolah" Cerita Irene padaku yang kali ini aku memberikan tanggapan.
"Untunglah kau sudah menolongnya ren, coba nggak mungkin kucing iru sudah tidak ada" Balasku.
Saat kami asyik berbincang salah seorang antek dari Gisel melemparkan sebuah kertas pada ku. Aku membuka kertas tersebut dan membaca isinya.
"Temui aku nanti di toilet sekolah sepulang dari acara study tour ini, aku masih tidak terima dengan aduan mu pada guru BK yang membuatku menerima hukuman. Dan membuatku di marahi oleh papa ku. Awas saja kau sampai mangkir dan mengadu lagi pada guru kau tanggung saja akibatnya. " Tulisnya di kertas tersebut.
Aku dan Irene saling tatap melihat isi dari surat itu kupikir Gisel sudah jera dan tak menggangguku lagi tapi ternyata belum usai.
Setengah hari berlalu sudah kita juga di beri tugas mengisi quisioner setelah berkeliling di pabrik pembuatan mie. Dan akhirnya kita kembali ke sekolah. Aku dan Irene memenuhi ajakan Gisel untuk menemuinya di toilet sekolah.
"Kupikir kalian mangkir seperti biasanya! " Ejek Gisel.
"Kau masih tidak jera dengan hukuman kemarin? Kenapa kau masih saja menggangu Radea.? " Tanya Irene dengan nada tegas.
Namun Gisel belum menjawab salah satu anteknya melemparkan sebuah asbak yang mengenai kepala Irene sontak darah keluar dari pelipis Irene dan itu mebuatku berteriak dengan histeris. Melihat Irene yang terkapar aku tiba tiba mendorong tubuh anak yang melemparkan asbak pada Irene. Perasaanku hancur melihat sahabatku terkapar karena membelaku.
Irene seketika di larikan ke rumah sakit namun sayangnya nyawa irene tak bisa tertolong. Mendengar kabar itu membuatku semakin merasa bersalah aku tidak bisa menolongnya dan karena akulah Irene tiada. Aku kehilangan sahabatku begitu saja. Berbulan-berbulan aku tidak bisa memaafkan diriku. Dan suatu ketika aku mendapatkan mimpi bertemu dengan Irene dan ia mengatakan padaku hal yang membuatku merasa sedikit tenang.
"Ra, aku tidak apa disini hidupku lebih indah aku berharap kau tidak lagi di rundung karena tidak ada aku di sisi mu bahagialah Ra disana aku tetap sahabatmu. " Irene mengucapkannya sambil tersenyum dan ada cahaya yang berpendar dari wajahnya. Dan membuatku terjaga.
Aku meneteskan air mataku, aku merindukan sosok Irene di hidupku seorang sahabat yang selalu menolongku. Aku lalu pergi ke makam nya dengan membawa seikat bunga aku memandang foto yang berada di atas pusara yang bertuliskan REST IN PEACE IRENE aku meleetakan bunga tersebut. Aku akan menepati janjiku agar tak di rundung.
Yah begitulah cerita singkatku yang kehilangan sahabat terbaik ku di sekolah, memang terdengar klasik kisahku dengan sahabatku tapi memang persahabatan itu tidak bisa di takar dengan berapa lama kalian berkawan jadi aku harap tidak ada lagi korban karena pembullyan, jauhi perundungan. Selamat jalan kawan ku aku juga tetap sahabat mu selamanya.
n Irene yang ternyata kita sekelas. Hal itu membuatku tersenyum bahagia saat melihat papan pengumuman yang menuliskan namaku dan nama Irene sekelas.
"Cupu! " Panggil salah seorang anak perempuan yang bernama Gisel. Sang ketua cheerleader di sekolah. Iya gisel terpilih sebagai ketua cheers meskipun ia masih kelas satu SMP, biasalah karena orang dalam ayah Gisel yang menjabat sebagai kepala sekolah. Dan iru membuat dirinya merasa berkuasa dan sering membully anak-anak disekolah.
Apalagi aku yang berpenampilan cupu dengan ke introvert an diriku ini membuat kelompok gisel juga sering membully ku.
Aku hanya diam mematung saat gisel dan kawan-kawannya memangilku dengan sebutan cupu.
"Kau tuli? Akumemanggilmu dan kau hanya diam saja? " Rutuk Gisel paadaku.
"Ada perlu apa? " Jawabku dengan lirih.
"Uang saku mu mana? Berikan padaku! " Titah Gisel padaku.
Aku tetap tak bergeming dan tak berniat memberikan uang saku ku setiap hari pada nya. Namun tanpa persetujuanku salah satu antek Gisel merogoh saku ku dan mengambil uang jajan untuk hari ini.
"Lumayan nih Sel Rp.20.000." Ucapnya dengan girang.
"Berikan itu uangku" Ucapku namun masih dengan suara lirih.
"Apa?, akutak mendengar ucapanmu" Ejek gisel padaku dan di selingi suara tawa para antek-anteknya.
"Itu uang ku kembalikan Sel, aku nanti tidak bisa makan siang" Ucapku dengan memohon sambil menahan agar air mataku tidak jatuh.
"Itu urusan mu makan atau tidak juga bukan urusanku yang penting kau sudah memberiku uang. Oiya satu lagi kerjakan PR matematikaku untuk besok, awas saja kalau kau tidak mengerjakannya! " Sambil melempar tiga buah buku tulis pada ku dan mereka bertiga pergi.
Sampai dikelaspun aku hanya diam bahkan saat Irene menyapaku aku hanya tersenyum tipis padanya.
"Diganggu lagi sama Gisel and the geng? " Tanya Irene khawatir.
Aku hanya mengangguk meng iyakan karena Irene juga tau aku sering di bully semenjak bersekolah disini. Irene lalu menghampiri meja Gisel saat bel masuk berbunyi. Ia menggebrak meja Gisel dan dengan beraninya Iren menjambak rambut Gisel.
Semua mata tertuju langsung pada Irene dan Gisel bahkan saat guru memasuki ruang kelas pun pertengkaran mereka belum usai.
"Irene Gisel apa yang kalian berdua lakukan? " Suara lantang pak Yarno guru Agama itupun memberhentikan pertikaian antara Gisel dan Irene.
"Gisel sering gsngguin Radea pak dan memalak Radea setiap pagi! " Ucap Irene langsung.
"Kalian ikut bapak ke ruang BK sekarang, dan kamu Radea juga ikut"
Mereka bertiga pun berurusan dengan guru BK. Di ruangan guru BK mereka di adili termasuk diriku.
"Lagi-lagi Gisel." Ucap bu Nia guru BK di sekolah.
"Saya tau kamu anak dari kepala sekolah gisel. Tapi bukan berarti kamu bisa merundung semua anak di kelas kamu! " Bu Nia yang sudah tau ulah Gisel dari pak Yarno itupun memberikan nasehat pada Gisel.
"Radea apa benar kamu setiap hari di rundung oleh Gisel? " Tanya bu Nia padaku.
Aku yang masih takut menjawab hanya bisa diam.
"Ayolah Ra kamu jujur saja selama ini sering di rundung oleh Gisel and the geng ada aku disini " Ucap Irene menyemangatiku agar berani jujur.
"I... Iyabuk! " Ucapku dengan lirih namun masih bisa terdengar oleh bu Nia.
"Baiklah Gisel hari ini kamu membersihkan toilet wanita di seluruh lantai sekolah kita. Dan untuk irene ibu tau kamu baik dan ingin menolong temanmu tapi ibu juga akan memberikan hukuman padamu berdiri di lapangan sampai jam istirahat bagaimanapun kamu juga salah main hakim sendiri. Dan untuk kamu Radea kamu juga berdiri di lapangan sampai jam istirahat karena kamu juga membuat seisi sekolah rame. "
radea dan Irene pun melaksanakan hukuman tersebut namun dengan tersenyum meskipun di hukum tapi Gisele juga di berikan hukuman dan mereka berharap itu membuat Gisel sadar.
Dan untukku sendiri setelah melaporkan perbuatan Gisel pada guru BK rasa sesak di dadaku akhirnya berkurang. Ternyata tidak buruk melaporkan orang yang membully ku. Yahh meskipun di bantu oleh sahabatku.
Waktu telah berlalu tidak terasa juga aku sudah naik kelas dua, dengan peringkat ke dua. Sekolah juga mengadakan acara study tour ke kota malang mengunjungi pabrik pembuatan mie hal itu membuat antusias seluruh siswa siswi kelas dua. Pihak sekolah menyewa dua bus pariwisata kami berangkat pukul tujuh pagi dari sekolah. Hiruk pikuk antusiasme para murid di perjalanan ada yang menyanyi dan ada sebagian yang memilih tidur. Aku dan Irene memilih berbincsng mendengar cerita Irene seperti biasanya.
"Tau nggak Ra tadi pagi sebelum aku berangkat aku ketemu sama kucing oyen yang ketabrak sepeda motor, untungnya kucing itu masih hidup buru-buru aku bawa ke dokter hewan makanya aku hampir telat tadi sampai sekolah" Cerita Irene padaku yang kali ini aku memberikan tanggapan.
"Untunglah kau sudah menolongnya ren, coba nggak mungkin kucing iru sudah tidak ada" Balasku.
Saat kami asyik berbincang salah seorang antek dari Gisel melemparkan sebuah kertas pada ku. Aku membuka kertas tersebut dan membaca isinya.
"Temui aku nanti di toilet sekolah sepulang dari acara study tour ini, aku masih tidak terima dengan aduan mu pada guru BK yang membuatku menerima hukuman. Dan membuatku di marahi oleh papa ku. Awas saja kau sampai mangkir dan mengadu lagi pada guru kau tanggung saja akibatnya. " Tulisnya di kertas tersebut.
Aku dan Irene saling tatap melihat isi dari surat itu kupikir Gisel sudah jera dan tak menggangguku lagi tapi ternyata belum usai.
Setengah hari berlalu sudah kita juga di beri tugas mengisi quisioner setelah berkeliling di pabrik pembuatan mie. Dan akhirnya kita kembali ke sekolah. Aku dan Irene memenuhi ajakan Gisel untuk menemuinya di toilet sekolah.
"Kupikir kalian mangkir seperti biasanya! " Ejek Gisel.
"Kau masih tidak jera dengan hukuman kemarin? Kenapa kau masih saja menggangu Radea.? " Tanya Irene dengan nada tegas.
Namun Gisel belum menjawab salah satu anteknya melemparkan sebuah asbak yang mengenai kepala Irene sontak darah keluar dari pelipis Irene dan itu mebuatku berteriak dengan histeris. Melihat Irene yang terkapar aku tiba tiba mendorong tubuh anak yang melemparkan asbak pada Irene. Perasaanku hancur melihat sahabatku terkapar karena membelaku.
Irene seketika di larikan ke rumah sakit namun sayangnya nyawa irene tak bisa tertolong. Mendengar kabar itu membuatku semakin merasa bersalah aku tidak bisa menolongnya dan karena akulah Irene tiada. Aku kehilangan sahabatku begitu saja. Berbulan-berbulan aku tidak bisa memaafkan diriku. Dan suatu ketika aku mendapatkan mimpi bertemu dengan Irene dan ia mengatakan padaku hal yang membuatku merasa sedikit tenang.
"Ra, aku tidak apa disini hidupku lebih indah aku berharap kau tidak lagi di rundung karena tidak ada aku di sisi mu bahagialah Ra disana aku tetap sahabatmu. " Irene mengucapkannya sambil tersenyum dan ada cahaya yang berpendar dari wajahnya. Dan membuatku terjaga.
Aku meneteskan air mataku, aku merindukan sosok Irene di hidupku seorang sahabat yang selalu menolongku. Aku lalu pergi ke makam nya dengan membawa seikat bunga aku memandang foto yang berada di atas pusara yang bertuliskan REST IN PEACE IRENE aku meleetakan bunga tersebut. Aku akan menepati janjiku agar tak di rundung.
Yah begitulah cerita singkatku yang kehilangan sahabat terbaik ku di sekolah, memang terdengar klasik kisahku dengan sahabatku tapi memang persahabatan itu tidak bisa di takar dengan berapa lama kalian berkawan jadi aku harap tidak ada lagi korban karena pembullyan, jauhi perundungan. Selamat jalan kawan ku aku juga tetap sahabat mu selamanya.