Mayang seorang janda muda beranak satu perempuan. Sebagai single parent bukanlah suatu hal yang mudah, namun bagaimanapun dia harus bertanggung jawab atas semua kehidupan mereka berdua. Suami yang dicintai meninggalkan mereka karena kecelakaan tragis saat Mareta anaknya berumur 1 tahun. Meskipun suaminya meninggalkan harta yang cukup banyak untuk hidup mereka. Namun bagaimanapun juga dia tidak mau berdiam diri menikmati peninggalan suaminya.
Tekadnya yang gigih untuk membesarkan anaknya sendiri membuat dia giat mengumpulkan rupiah, bekerja tak kenal waktu. Mulai dari dagang pakaian keliling, kemudian kios kecil sendiri hingga ruko yang sekarang ditempati, dan masih ada cabang yang dilimpahkan untuk dikelola adiknya.
Kegigihan dan keuletannya ini mengundang simpati beberapa pria.
Ada teman satu kantor dengan kakaknya yang terang-terangan meminta Mayang untuk menjadikan istrinya. Namun Mayang menolaknya dengan halus dengan alasan ada kekhawatiran terhadap keluarga atau orang terdekat lelaki itu yang tidak menerima kondisinya saat ini. Dan benar saja belum juga mereka mulai dekat Mayang sudah mendapatkan banyak teror dan surat ancaman dari berbagai pihak.
Ada dari seorang wanita yang mengaku sebelumnya sebagai kekasih laki-laki itu, namun ketika mengenal Mayang wanita itu langsung pindah status menjadi mantan kekasih.
Pagi itu Mayang membuka sebagian pintu Toko pakaian yang ada dilantai bawah rumahnya. Dia bersama anaknya cukup menempati lantai 2 Ruko tersebut.
Ruko lantai 2 dengan halaman parkir cukup luas dan ada taman kecil sepanjang pintu masuk halaman hingga samping toko.
Setelah menata pakaian, Mayang mulai melihat list pesanan masuk via online. Ada banyak pesanan yang harus dikirim hari ini.
Tiga Karyawan baru datang ketika jarum jam menunjuk ke angka 7, setengah jam sebelum toko mulai melayani pembeli. Satu diantara mereka membuka Pintu dibuka penuh.
Mereka langsung packing baju yang siap dikirim sesuai list yang ditunjukkan Mayang.
Toko juga ramai beberapa orang masuk melihat sepatu, ada juga yang sedang membolak-balik tas wanita.
Seorang lelaki menghampiri mereka
"Mana Mayang?" suara baritonnya mulai terdengar.
Dua orang karyawan Mayang menoleh
"Ada di atas sedang sholat dhuha." jawab salah satu dari mereka .
"Hm .. baiklah saya pergi dulu. Katakan besok saya kesini lagi menjemputnya!"
"Maaf apakah bisa tinggalkan sedikit identitas anda tuan?"
"Hm.. tidak perlu! katakan saja seperti itu, permisi!" laki-laki itu melambaikan tangannya dan pergi.
"Orang aneh," kata mereka saling pandang.
mereka kembali ke aktifitasnya sampai Mayang menghampiri mereka
"Ada yang nyari mbak Mayang tadi."
"Siapa?"
"Nggak mau ninggalin identitasnya mbak, tapi dia berpesan besok mau kesini lagi jemput mbak Mayang"
"Owh begitu," jawaban Mayang membuat dua orang itu saling pandang
"Sudahlah nggak usah dipikirkan lanjutkan saja aktifitas kalian. Dia kakaknya suamiku, pak dhe nya Mareta."
Senyum Mayang membuat mereka lega, bagaimanapun ada rasa was-was menyelinap di hati mereka setelah rentetan kejadian yang menghampiri Mayang bos cantiknya.
Mayang hafal betul sifat kakak iparnya itu. Lelaki yang kaku dan dingin. Mungkin itu yang membuatnya belum menikah sampai saat ini. Padahal lelaki itu tergolong mapan dan punya jabatan tinggi ditempat dia bekerja. Faikh Hermawan itulah namanya.
Sudah ada pembicaraan sebelumnya jika hari ini mereka akan pergi ke Magelang mengunjungi mertuanya karena sudah kangen dengan cucunya Mareta.
"Reta duduk depan sama pak dhe," kata anak umur 3 tahun lebih itu.
"Hm," jawab Faikh sambil memasang sitbelt Mareta dan mengelus pipinya.
"Reta duduk manis ya sayang, jangan merepotkan pak dhe." kata Mayang yang duduk di belakang Mareta sambil mengulurkan tangannya kedepan memasang bantal kecil disamping pintu sebelah Mareta.
Tampak Faikh melirik ke arah istri almarhum adiknya. Dan membuang nafas kasar entah apa yang sedang difikirkannya.
Perjalanan hening, Mareta tertidur, Mayang membuka chat toko online nya sesekali memejet tombol huruf mengetikkan sesuatu dan di kirim ke karyawannya.
"Abang ambil cuti senin besok?" tanya Mayang memecah sepi.
Faikh melihatnya dari kaca spion
"Tidak, aku ijin setelah meeting. Selesai jam dua belasan, usai itu langsung cabut Magelang" jelasnya sambil sesekali melihat Mayang yang mengangguk.
"Reta menginap sampai kapan?" mata Faikh belum berpindah dari kaca spion.
"Reta... sesuka hatinya nanti bang, Mama pasti senang kalau ada Reta beberapa hari di sana. Abang Senin siang ke sana trus pulangnya kapan?" tanya Mayang lagi
"Langsung pulang setelah acara Tahlil selesai, kenapa?" tanyanya masih saja kaku.
"Mmm.. kalau boleh.. Mayang pulang bareng abang" Mayang menatap ragu ke arah Faikh dan tatap mata mereka beradu saat ini, dengan cepat Mayang memalingkan wajah ke arah lain karena gugup. Jujur saja baru kali mereka ke Magelang bareng satu mobil.
Hening lagi tanpa suara Mayang menunggu jawaban kakak iparnya itu, diam-diam menghitung dalam hati 1.. 2.. 3.. 4... 10 sampai hitungan ke sepuluh tak ada respon dari Faikh. Dan akhirnya Mayang sudah terlelap. Faikh hanya menatapnya kesal.
Nah lhooh siapa yang memulainyaa 🤣 Salah siapa gak di jawab
"Assalamualaikum Eyang,"
"Waalaikum sallam.." wanita paruh baya itu menoleh ke arah pintu " Ya Allah cucu Eyang sudah besar, cantik sekali kamu sayang" Mertua Mayang langsung menggendong dan menciumi cucunya itu.
"Sehat Ma?" Mayang mencium pipi mertuanya.
"Ma" Faikh mencium punggung Mamanya.
"Alhamdulillah mama sehat, rasanya hari ini mama senang sekali melihat kalian?"
"Eyang," mendengar cucunya memanggil Wanita itu langsung menghujani pipi mulus itu dengan ciuman sayang. Mareta mengusap dan menatap lekat wajah Eyangnya. Mungkin karena sudah lama mereka tidak berjumpa. Bagaikan tersiram es, sejuk begitu yang dirasakan oleh wanita itu.
"Ayok bersihkan dulu badan kalian, nanti bobok sama eyang ya sayang," wanita itu masih menggendong Mareta yang merupakan cucu kedua di keluarga ini. Cucu pertamanya laki-laki, keturunan dari anak ke dua.
Tiga bersaudara itu hanya Faikh si Sulung yang belum menikah. Entah karena alasan apa, hanya Faikh sendiri yang tahu jawabnya.
Hari Senin kediaman Mama Risma cukup ramai, beberapa saudara dekat datang untuk membantu acara seribu hari Almarhum Fendra suami Mayang. Buku Yasin sudah selesai dimasukkan satu persatu kedalam tas yang siap diantar ke Panti Asuhan. Semua berjalan sesuai rencana, koordinasi yang cukup bagus masing-masing petugas membawa hantaran yang menjadi tanggung jawabnya.
Ada 2 panti Asuhan yang menjadi tujuan mereka. Feren kakak perempuan Fendra dibantu Mayang dan dua orang lainnya menuju panti terdekat.
Sementara Bram suami Feren dibantu tiga orang yang lain menuju Panti Asuhan Kasih Bunda yang letaknya cukup jauh. Dan malamnya ada acara tahlil yang dihadiri warga setempat.
Faikh sudah sampai sebelum adzan Maghrib.
Acara Tahlil dimulai jam tujuh dan berakhir setengah sembilan.
Faikh berniat pulang kembali nanti sekitar jam sepuluh. Namun Mama Risma tidak mengijinkannya kembali karena terlalu berbahaya berkendara malam-malam. Faikh pun mengurungkan niatnya.
" Faikh sebagai anak Sulung Mama ingin bertanya, sebenarnya bagaimana kriteria wanita pendampingmu? seperti apa yang kamu cari?" pertanyaan mama Risma membuatnya diam. Tidak hanya sekali ini mamanya bertanya tentang hal itu.
Faikh pernah punya pengalaman tragis tentang percintaannya dengan kekasihnya dulu.
Wanita yang lembut dan penurut, ternyata simpanan bosnya dan yang membuat Faikh shock berat karena saat dengan mata kepalanya sendiri dia melihat kekasihnya berpagutan mesra dengan seorang wanita yang Faikh kenal sebagai adik bosnya.
Kala itu hancur hatinya mendapati kekasihnya yang ternyata sakit.
Wanita macam apa yang sedang ada dihadapannya? bahkan dia juga masih kencan dengan Faikh. Atau mungkin masih ada orang lain juga tanpa sepengetahuan Faikh?. Tanpa dia sadari wanita itu telah merubah hatinya menjadi bongkahan es yang membeku.
"Faikh?" Mama Risma menepuk pundaknya.
"Eh," Faikh kaget dan menoleh ke arah Mama Risma kemudian mengangkat bahu.
"Heeehh... sampai kapan Faikh?" wanita itu membuang nafas kasar.
"Entah ma, belum ada yang bisa mencairkan es ini" katanya sambil menunjuk dadanya.
"Apa perlu mama carikan kompor?" mama Risma mulai kesal dengan sikap anak sulungnya.
"hm... kompor listrik saja ma biar stabil suhunya" jawab Faikh sambil mengunyah kueh Pokis kesukaannya.
"Hadeeehh.. kamu tuh!" Mama Risma menepuk dahinya sendiri.
"Ma, ada nggak wanita yang lembut dan konsisten kayak kueh Pokis ini?" Faikh memperhatikan kueh Pokis di tangannya dari beberapa sisi.
"Kondisional nak, manakala resepnya pas dia akan lembut, mana kala ada komposisi yang berubah sedikit saja akan pengaruh ke teksturnya. Tapi tergantung juga dengan karakter bahan yang digunakan saat itu" Jawab mama Risma. Wanita itu masih sibuk memasukkan kembali tikar usai hajatan tadi ke dalam plastik.
"Ck " Faikh berdecak kesal mengingat penghianatan itu. Bukankah perlakuan dia terhadap Anya tidak ada yang berubah? bisa jadi karakter yang ditunjukkan dihadapan Faikh kamuflase belaka. Beruntungnya Faikh ditunjukkan fakta yang sebenarnya.
"Faikh, kalau menurut kamu Mayang bagaimana?" tanya mama Risma lagi.
Gleg
Faikh menelan cepat Pokis yang dikunyahnya mendengar pertanyaan sang mama.
"Ma.." Faikh membulatkan mata menatap wajah cantik di sampingnya. Sungguh pertanyaan yang sulit untuk dijawabnya.
"Kenapa harus Mayang?" namun wajah Faikh sedikit memerah ketika menyebutkan nama iparnya, itulah yang ditangkap dari mata jernih seorang Risma.
Faikh celingukan mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan, takut jika tiba-tiba Mayang muncul di sana. Kemudian dia mendekatkan bibirnya ketelinga mamanya dan membisikkan sesuatu.
"Apakah mama merencanakan sesuatu?" wanita itu bergidig geli, kemudian tertawa kecil.
"Apa kamu setuju Faikh?" tanya mama Risma kembali
"Aku... aku...." Faikh garuk-garuk kepala tidak melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba pintu pembatas ruang keluarga dan ruang makan tempatnya sekarang dibuka seseorang.
"Mama belum tidur?" Mayang mengambil air dingin dari kulkas, selanjutnya duduk di kursi kosong diantara Faikh dan Mama Risma.
"Eh Mayang, belum sayang? ini sedikit lagi kelar, kamu belum tidur tah?" tanya Risma
"Sudah tadi ma, Mayang kebangun karena haus"
"Oh iya besok kamu jadi pulang bareng Faikh kan?" mama Risma menepuk lembut pundaknya.
"Mmm..." Mayang melihat Faikh, pria itu cuek seperti tidak mendengar apa yang sedang mereka
bicarakan.
"Apakah bang Faikh cerita sama Mama? bukankah kemaren dia tidak merespon pertanyaanku?" batinnya
"Mayang? saran mama sebaiknya kalian pulang bareng saja." Mayang mengangguk pasrah dengan saran mertuanya, meskipun terlintas sedikit kekhawatiran tentang perjalanan mereka besok. Bagaimanapun mereka hanya berdua, karena Mareta masih ingin tinggal bersama Eyangnya.
Usai sholat subuh mereka berangkat, pulang kembali ke Semarang. Magelang-Semarang tidak begitu jauh.
Namun bagi Mayang perjalanan itu begitu lama karena senyap sekali. Faikh sesekali melirik Mayang yang duduk disampingnya.
Mayang tak lepas dari benda pipih yang selalu ada dalam genggaman tangannya.
Hari ini banyak Chating masuk di toko onlinenya.
"Ehem" suara bariton itu memecahkan keheningan, memaksa Mayang untuk menoleh menatapnya.
1.. 2..3..4..5
"heeh.." Mayang kembali menghembuskan nafasnya. Tak ada suara lagi, ternyata pria itu hanya mengurai sesuatu di tenggorokannya.
"Kenapa jadi canggung begini" rutuknya dalam hati.
"Abang kalau capek istirahat dulu, toh masih jam setengah enam " akhirnya Mayang membuka suara
"Hm.." jawab singkat Faikh sambil menggeleng.
Mayang membuang muka menatap lampu-lampu jalan Raya. Hanya itu yang bisa dilakukannya untuk menghilangkan gemuruh rasa di sana, antara bingung, sebel dan aahh entah apalagi.
Faikh memperhatikan Mayang yang sejak tadi menatap kaca disampingnya itu, kemudian tatapannya kembali lurus.
Faikh juga tidak mengerti dengan dirinya saat ini, kenapa bisa mati gaya begini di depan Mayang adek iparnya.
Faikh mengetuk-ngetukkan jarinya pada benda bundar yang dipegangnya saat ini, sambil sesekali memutarnya untuk mengendalikan arah kemudinya.
"Abang nanti kalau sampai Pom Bensin berhenti sebentar ya, perut Mayang mules banget." pinta Mayang. Faikh menoleh dan mengangguk saja tanpa suara.
Faikh menepikan mobilnya sesampainya di pelataran Pom Bensin.
Mayang langsung membuka pintu mobil, dengan langkah cepat segera menuju Toilet.
Faikh ikut turun dan ternyata ke Toilet juga, namun dia lebih cepat kembali ke mobil.
"Arem-arem mas? kacang, tahu asin" wanita pedagang asongan menghampirinya. Faikh melihat dari kaca mobil yang sengaja dia buka, tampak uap keluar dari Arem-arem, pasti baru matang.
"Arem-arem 10 , tahu asin 10" kata Faikh
Wanita itu dengan cekatan memasukkan dalam plastik.
"Tiga puluh ribu mas" kata penjualnya dan langsung pergi setelah menerima tiga lembar uang pecahan sepuluh ribu.
Faikh meletakkannya diatas dashboard mobil, menunggu Mayang kembali.
"Wah ada Arem-arem," kata Mayang setelah dia kembali. "Abang belinya banyak banget," Mayang mengambil 1.
"Hm.. mungkin kamu sudah lapar, makan saja tahunya juga!" Suara Faikh terdengar juga, meskipun kaku.
"Iya .. abang kok tau kalau Mayang sudah lapar he..hee.." Dengan senang hati Mayang makan jajanan itu. Faikh tersenyum senang karena Mayang menyukainya.
"Eh .. abang tidak makan?" tanya Mayang menyadari kalau daritadi tidak ada pergerakan dari Faikh.
"Hm.. mau bantu bukakan daunnya?" tanya Faikh malu-malu, dia lapar tapi tidak ingin tangannya kotor.
Mayang membuka daun pembungkus arem-arem sedikit. dan menyerahkannya pada Faikh.
"Mm... bisa bantu kasih tisu? aku tidak mau tanganku kotor." akhirnya Faikh jujur
"Oh begitu, begini?" Mayang membungkus bagian bawah arem-arem dengan tisu lalu memberikannya pada Faikh.
Faikh mengangguk dan mulai makan jajanan itu.
"Bisa bantu buka plastik tahu? aku tidak mau kena minyak." kata Faikh lagi.
Mayang menurut saja apa yang diminta Faikh.
Mayang baru menyadari kakak iparnya ini orangnya suka jijik gitu ya.
Faikh meminta tisu untuk memegang plastik tahu, kemudian mulai menikmati menggigit tahu itu.
Mayang tersenyum sendiri melihat tingkah kakak ipar.
"Habisin!" Faikh menunjuk jajanan itu dan menatap mata Mayang.
"Heheh.. abang yang bener saja, masak iya Mayang harus habisin jajanan sebanyak ini. Perut Mayang sudah gak muat" Mayang menjawab setenang mungkin.
"Hm.. kata mama kamu kurus harus banyak makan." jawab Faikh.
Dia mulai memutar stir, dan .. mobil melaju meninggalkan Pom Bensin.
Ada semburat merah di pipi Mayang.
"Kata Mama Risma ya ? kok gak ngomong langsung ya? kenapa lewat bang Faikh sih?" batinnya.
Rupanya Faikh menikmati pemandangan itu.
"Mayang semakin manis kalau merona begitu" senyum Faikh jahil.
Eeh sejak kapan Faikh mengamati wanita lagi? apakah dia memang mulai membuka hati? es itu mulai mencair kah? dan apakah Mayang?😁
Sejak hari itu tak ada komunikasi lagi. Sepertinya Mayang juga sudah melupakannya. Bagaimana dengan Faikh? Apakah dia harus jujur? Apakah Mayang mau dengannya? Dari banyak wanita yang dikenalnya kenapa harus Mayang sih?
Malam itu usai menyelesaikan laporan bulanan, Faikh memutar-mutar Handphone yang ada digenggamannya.
Riiingg.. Riiingg..
tiba-tiba benda itu bergetar. sebuah nama terpampang di sana PP wanita paruh baya penyejuk jiwanya.
"Assalamualaikum Ma.." sapa Faikh
"Waalaikum salam nak? belum tidur tah? jangan terlalu lelah nak, jaga kesehatanmu ya." suara diseberang sana yang ternyata mama Risma.
"Pasti ma, Faikh jaga kesehatan kok. Faikh selalu minum vitamin biar tetep fresh. Mama jangan khawatir ya. Ini Faikh baru selesaikan laporan buat meeting besok ma, mama kok belum tidur? Mama sama Reta kan?"
"Iya nak, ini cucu mama yang cantik" Mama Risma merubah mode panggilan vidio dan mengarahkan kewajah Mareta.
"Wajahnya persis seperti almarhum ayahnya," Faikh tersenyum memandangi wajah imut Mareta. sangat menggemaskan. Ada sesuatu mulai menggelitik hatinya.
"Reta anak yang manis, penurut dan mudah bergaul, cepat sekali beradaptasi," cerita Mama Risma
"Oh iya Ma, Mama ada apa telephon Faikh?"
"Faikh, kamu masih belum menjawab pertanyaan mama?"
Deg
itulah yang Faikh khawatirkan
"Apakah mama ingin penjelasan dari Faikh Ma? tapi.. yang mana?" Faikh sengaja
mengukur jawaban yang sebenarnya dia sendiri belum tahu pasti apa yang harus dijelaskan
"Faikh, mama tahu memory kamu sangat-sangat kuat, jadi untuk apa kamu pertanyakan lagi?" ada nada interogasi dari suara wanita diseberang sana.
Faikh mulai risau, diusapnya wajahnya berkali-kali.
"Baiklah kalau kamu belum mau berbagi dengan mama. Pesan mama hanya satu, jangan bohongi perasaanmu lagi Faikh. Sekarang tidurlah, jika ada hal yang ingin kamu sampaikan apapun yang mama punya, siap untuk kebahagiaanmu nak, Assalamualaikum."
tuut..
panggilan berakhir.
"Waalaikum salam ma" jawab Faikh lirih. Faikh menelaah lagi kata- kata mama Risma.
Benarkah dirinya sedang mengelabuhi hatinya? apakah Mayang mau menerimanya? Ahh sungguh kacau hatinya saat ini. Bagaimana memulainya?
Sementara di sebuah Ruko tampak wanita sedang menatap layar HandPhone, sesekali mengusapnya untuk menemukan sesuatu. Dengan senyum tersungging manis dipasangkan Headset yang sebelumnya sudah dihubungkan dengan HandPhone ke telinganya.
Mayang beberapa hari setelah pulang dari Magelang tanpa sengaja melihat iklan aplikasi karaoke online saat dia menerima chating dari pembeli.
Dan saat ini dia tengah memilih lagu untuk dinyanyikannya. Di dengarkannya lagi lagu yang barusan nyanyikan. Suara Mayang memang bagus ada vibra di sana. selanjutnya dia tekan layar yang bertuliskan unggah.
Mayang tersenyum lebar, puas rasanya bisa mengekspos suaranya.
Belum ada lima menit lagunya di unggah, sudah banyak like yang masuk dan beberapa komen dari pengguna aplikasi itu tak jarang ada yang posting ulang lagunya.
Mayang membaca komen satu-persatu.
@Dahlia lia: Suaranya bagus, boleh kenalan dong
@aeroka : good performance👍😊
@Naya_Naila : suka dengar suara kamu, lembut banget😍
@Ariestya : aku terpesona suara kamu. boleh kenalan?
@Pororo: suka lihat kamu, bisa duet bareng?
@Duda ting-ting: follow akun aku🙏🏻🥰
@soft Drink : aku mau kamu join lagu aku
Entah masih banyak lagi komen yang masuk. Saat ini hati Mayang berbunga-bunga karena nggak nyangka dapat respon like komen share banyak sekali.
Dia masih menatap layar ponselnya slide lagu yang dia nyanyikan, ada foto Mareta dan Almarhum Fendra suaminya.
Sesuatu terjadi yang membuat matanya membelalak lebar dan bibirnya membulat. Ada gift masuk tampak pada visual layar gambar kembang api emas yang setara dengan 999 koin, sama artinya dengan 999 poin. Pengirimnya akun Ariestya.
Dalam sekejap perolehan giftnya mencapai 1050 poin, 185 like, 50 komen, dan ada 25 orang mengikutinya. Sungguh pencapaian yang sangat luar biasa bagi pemula. Banyak Chat masuk melalui Daily Mesage di aplikasi itu.
"Mbak Mayang kok senyum-senyum terus dari tadi" kata Erni salah satu karyawannya.
"Iya .. ini mbak aku lagi iseng unggah lagu di Suara Bintang." jawab Mayang sambil memutar ulang lagu Gaisha yang dinyanyikannya
"Waah .. gak nyangka suara mbak Mayang bagus banget, mirip kayak penyanyi aslinya." Mayang semakin senang dapat pujian.
"Refreshing mbak, biar gak stres," jawab Mayang tertawa.
"Mbak Mayang itu lhoh kok bisa bilang stres. Semua sudah lebih-lebih. Dek Mareta juga ada yang nanggung kan?"
"Iya mbak, tapi kan gak enak juga kalau hidup menggantungkan orang lain. Selagi masih bisa berusaha kenapa tidak dilakukan?" Mayang beralih ke tumpukan pakaian yang siap di kemas.
Tring..tring.. tring.
Suara pesan masuk, diraihnya benda disampingnya.
Abang Faikh : ada waktu luang kapan? ada yang ingin aku diskusikan
Aku : tentang?
Abang Faikh : kita. eh bukan .. maksudku tentang Mareta.
Aku : Minggu depan waktu jemput Mareta gimana?
Abang Faikh : kelamaan
Mayang tak mengerti mengapa kelamaan? apa maksudnya? sebenarnya diskusi tentang apa sih?
kriiiinggg...kriiinggg..
Phonsel berbunyi .. dari Abang Faikh
"Mayang, jawab. aku tidak punya banyak waktu."
Suara kaku diseberang sana. haha .. Faikh dah gak sabaran banget yaa🤣
Aduuh nie orang gak sabaran amat sih.
"Abang kenapa? santai dikit laah bang. kenapa abang selalu begitu? grusa-grusu, sabar dikit kek kayak abang Fendra tu sabar banget," Mayang malah membandingkan Faikh dengan almarhum suaminya.
"Hm.. jelas beda, ayo cepat jawab. Semakin cepat semakin baik karena mama menunggu!" Faikh keceplosan
"Mama? nunggu di mana mama bang?" Mayang semakin bingung
"Hadeeeehh.. Mayang!" nada suara Faikh mulai kesal.
Mayang menatap Handphonenya.
muncul niat iseng jahilin kakak iparnya.
"Lhooh mama sudah bilang sama Mayang, katanya tidak usah tergesa-gesa waktunya masih panjang." Mayang menutup mulutnya biar tawanya tidak di dengar Faikh.
"Haah?" Mata Faikh membulat tak percaya, "kamu.. " Faikh tidak melanjutkan kalimatnya malah segera menutup telephonnya.
"Halo .. halo.. abang," suara Mayang memanggil Faikh, tapi sudah senyap. Haha Mayang tertawa keras.
tok..tok..tok..
suara pintu diketuk
"Mbak Mayang ada pakdhenya dek Reta dibawah." kata Reni
"Haah? bilang aku nggak ada!" jawab Mayang sambil menyembuyikan kepalanya dibawah bantal
"Eeh nggak bisa begitu mbak, saya sudah terlanjur bilang kalau mbaknya ada," Reni garuk-garuk kepala.
"Aduuh.. matilah aku mbak, pasti bang Faikh marah," dia mengacak rambutnya sendiri.
Reni malah terkekeh melihat tingkahnya.
"Mbak Mayang lucu deh, ih gemes" Reni mencubit pipi Mayang.
"Mayang" tiba-tiba Faikh sudah sampai ditangga teratas, hampir dekat dengan kamar Mayang.
"Abang" Mayang keluar sambil senyum-senyum, meredakan rasa gugupnya. Faikh malah menjewer kuping Mayang.
"Abaaaangg, kapok.. kapok.. nyerah!" kata Mayang
"Kamu sibuk ya? atau lagi nunggu duda itu?" Faikh meledeknya.
" ih siapa juga yang nunggu" jawab Mayang namun pipinya merah.
"Aku tahu, tapi kamu tidak boleh begitu saja percaya sama orang itu, apalagi teman online."
Faikh turun, Mayang mengikuti dibelakangnya.
Memang diam-diam Mayang tertarik dengan Duda itu, bahkan suaranya membuat Mayang lupa daratan. Tapi darimana Faikh tahu?
"Jadi... Abang tahu?" Mayang mulai berfikir apakah orang yang sedang dihadapannya kali ini juga ada di aplikasi yang sama?
"Sudahlah, menurutku jangan ladeni duda gila itu. Ayo segera berkemas kita jalan."
"Kita? jalan kemana abang?" Mayang semakin bingung, benarkah ini Faikh? orang yang dia kenal? mengapa seperti orang lain saja.
"Bm.. aku culik kamu." senyum sinis tampak dibibir Faikh
"Ada ya culikan Janda ..haha" jawaban Faikh malah bikin Mayang ngakak.
Semua orang di sana juga pingin tertawa tapi takut sama Faikh, jadi mereka hanya menahan agar suara tawa mereka tidak keluar. Ekspresi wajah Faikh masih datar, tapi tidak mengurangi ketampanannya.
"Hm.. " telunjuk Faikh memberikan isyarat kepada Mayang agar mengikutinya.
Mayang menurut saja berjalan ke arah mobil Faikh.
Faikh membukakan pintu untuknya.
"Abang.. sebenarnya kita mau kemana?" tanya Mayang setelah beberapa lama tidak ada suara
Faikh melihat ke samping, ke arah Mayang.
"Hm.. makan."
"Haah? makan?" Mayang bergeser dari posisi duduknya, kali ini separuh badannya menghadap Faikh. Faikh mengikuti gerakan Mayang hingga saat ini posisi mereka saling berhadapan, manik mata keduanya bertemu tatap.
"Ehm .. ehm.. pesan mama aku harus membuatmu gendut" dengan perasaan entah Faikh mengatakannya. kemudian secepatnya menghadap lurus ke jalan demi menghindari bulu mata lentik Mayang. Sumpah bikin palpitasi mata indah itu.
"Aku telephon mama," Mayang sudah memencet nomor itu. Sungguh hal tak terduga bagi Faikh ternyata panggilan telephon Mayang dalam mode video call.
"Assalamualaikum Ma" sapa Mayang. Terpampang wajah mama Risma disebrang sana.
"Waalaikum sallam sayang, kamu lagi di mana ini nak?" sapa balik mama Risma "Mareta .. sini sayang, ini ada Mama Mayang."
"Assalamualaikum Ma" Dengan posisi mendekat ke wajah Mayang agar wajahnya tampak oleh mama Risma.
"Waalaikum salam, Faikh" "Mama.. pakdhe ... muach" tiba-tiba Mareta mendekatkan bibirnya pada layar .
membuat mereka tertawa bahagia.
"lhooh kalian berdua mau kemana?" tanya mama Risma kemudian. Senyumnya tampak puas melihat orang yang diharapkan bersatu itu bersama.
"Ini Ma.. abang Faikh, maksa Mayang untuk pergi makan Ma," Jelas Mayang sambil memajukan bibirnya. 'iihh.. geregetan, pingin cubit bibir itu tapi malu 🙈' batin Faikh
"Nah gitu, kamu harus makan yang banyak sayang biar badanmu gemuk. Kalau perlu tiap hari kalian makan bareng biar semangat makannya sayang." kerlingan mama Risma disambut gembira oleh Faikh.
"Yess!" batinnya. "Mama memang luar biasa 😍" kini senyumnya terkulum
"Mamaa....iya nggak harus dengan bang Faikh kan Ma? Mayang makan terus kok bareng mbak-mbak itu," jawab Mayang malu-malu.
"Mayang makan tapi sedikit banget Ma" jawab Faikh meyakinkan Mamanya.
"Eeh .. harus makan yang banyak Sayang. Kamu kan ya butuh tenaga ekstra buat ngurus bisnis kamu." Mama Risma masih tersenyum.
"Hiya udah dulu ma, ini sudah sampai." jawab Mayang lesu.
Bagaimanapun dia harus nurut dengan mertuanya walau suaminya sudah tidak ada, bagi Mayang Risma tetaplah mertua yang disayangi dan dihormatinya.
"Mau makan apa?" tanya Faikh menyodorkan lembaran menu ke arahnya. Sebenarnya dia memang malas kalau disuruh makan. Bahkan dia sering lupa kalau nggak diingatkan pegawainya.
"Ini Ayam bledos, minumnya es jeruk." Mayang mengembalikannya ke Faikh.
"Nggak, pesen lagi?" Faikh menyodorkan daftar menu itu lagi.
"Aduuhh... Mayang sudah cukup itu saja abang, ntar mubadzir kalau kebanyakan." Mayang membiarkan daftar itu dimeja.
"Hmm.." Faikh membuang nafas kesal, dia tidak lagi memaksa Mayang. Namun langsung menuliskan memanggil waitres.
"Mbak, Ayam bledos 1, Nasgor rawut 1, sup iga 1, pisang krispy 1, tahu selimut 1, ampela goreng 1,
es jeruk 1, es buah 1, juice alpukat 1, es klamud 1" Faikh menyudahi pesanannya dan waitres itu meninggalkan mereka.
"Abang banyak banget pesannya?" Mayang bingung dengan abang Almarhum suaminya ini, pesan sebanyak itu kalau nggak habis gimana coba? masak iya dibungkus? malu dong 🤦♀️
"Hmm" lagi-lagi itu yang keluar, hahaa... bikin hati kesel aja si Faikh ini.
Tiba-tiba Mayang ingat sesuatu yang membuatnya penasaran tadi.
"Abang, dari mana Abang tahu kalau Mayang.." Mayang menggantung kalimatnya karena rasa malu mendadak menyergapnya ketika Faikh menatapnya intens.
"Apa? duda itu?" tanya Faikh, tatapannya masih disana, belum berpindah dari mata Mayang.
"i-iya. Ap-ap-apakah abang juga ada di aplikasi itu?" tanya Mayang gugup.
"Hm.. ayo makan!" Faikh mengalihkan pembicaraan begitu pesanan mereka datang.
Waitres menyebutkan kembali menu yang dipesan mereka tadi.
"Sudah semua ya? selamat menikmati hidangan kami, semoga suka." kata waitres sebelum berpindah ke pengunjung lain yang baru sampai.
Mereka mulai menikmati makanan yang terhidang di meja. Berkali-kali Mayang menyeka keringat yang mengalir di keningnya. Faikh melihatnya dan menyodorkan juice alpukat yang sudah diaduknya.
"Minum ini, bisa mengurangi rasa pedas." katanya asal. Mayang meraih gelas berisi juice warna kuning kehijauan itu, ada toping susu coklat disana. Mayang menyesapnya sedikit demi sedikit
dan benar, rasa pedasnya hilang.
Faikh mengambil tishu dan mengelap sisa bulir basah di kening Mayang.
"Eh .. abang," Mayang terkejut dan berusaha menghindar, didongakkan kepalanya mundur kebelakang agar jauh dari jangkauan Faikh.
Namun sayang, gerakan Faikh lebih cepat bahkan kini tangan itu meraih tengkuk Mayang dan menopangnya agar tidak bergerak.
"Sini jangan bawel, nurut aja kenapa?" katanya kaku.
Akhirnya Mayang diam membiarkan Faikh mengusap keningnya.
"Sudah, ayo makan lagi habisin ampelanya!"
"Abang jangan menyiksa Mayang dong, masak Mayang harus habisin yang pesan kan abang." gerutu Mayang.
"Hmm.. Pak duda itu banyak pacarnya. Modus dia kalau dekati kamu, jangan percaya!" Faikh malah bahas yang lain. dasar gaje banget. Mayang menatapnya mencari kebenaran di mata Faikh.
"eits.. jangan lihat aku begitu, kalau kamu jatuh cinta beneran sama aku gimana?" Faikh menutupi wajahnya dengan 10 jarinya, gaya bicaranya masih saja kaku. Hal ini justru membuat Mayang salah tingkah.
"Pak duda itu .. siapa namanya? Ariestya kan? yang ku bilang tadi sih sekedar masukan. Bagaimanapun aku perduli pada Mareta." Kata Faikh sambil memasukkan potongan es buah itu kemulutnya.
Mayang memotek satu pisang krispy kemudian memegang separuhnya dan mulai mengunyah sedikit demi sedikit.
Dia masih mencerna kalimat yang diucapkan Faikh.
"Jadi ini yang akan abang diskusikan? Mareta tetap menjadi prioritasku, Abang jangan mengkhawatirkannya."
"Hm.. aku tahu, bagaimanapun kamu ibunya. Jangan sampai mama tahu hal ini. Hanya mama yang ku punya saat ini, jangan sampai ada kejadian yang membuat mama ngedrop." Faikh mengambil pisang krispy potekan Mayang dan memakannya.
Mayang belum bisa memahami sikap Faikh. Yang dia tangkap saat ini adalah meskipun Faikh kaku namun dia sangat perduli dan sedikit posesif.
"Mayang!" suara Faikh agak meninggi karena lawan bicaranya hanya diam.
"Eeh i-i-iya, kenapa abang?" balasnya.
"kenapa gugup? apakah memang telah terjadi sesuatu?" selidik Faikh. Sorot matanya tajam seperti menguliti Mayang.
Mayang tersentak, bagaimanapun memang apa yang ditanyakan Faikh benar. Saat ini Mayang sudah menjalin kasih dengan Duda itu, meski lewat online.
Tak jarang Mayang kirim pulsa untuk Ariestya hanya karena ingin dengar suara Pak duda exist di aplikasi itu. Atas permintaan Pak duda tentunya.
Bahkan Pak duda juga sering pinjam uang ke Mayang dengan alasan sakit dan tak punya uang untuk berobat.
Hanya karena Pak duda kirim Foto dengan kondisi terbaring lemah dan beberapa alat terpasang ditubuhnya serta slang oxygen yang menempel di hidungnya.
Dengan mudahnya Mayang transfer uang ke rekening Pak duda.
Sungguh Mayang belum sadar dengan apa yang dikatakan Faikh bahwa semua hanya modus belaka.
Faikh sendiri tahu hal ini dari Fenti anak buahnya, waktu tanpa sengaja saat jam makan siang beberapa hari yang lalu. Di kantin sebelah kantornya.
Fenti tengah membuka aplikasi itu, ada beberapa saran teman baru yang muncul disana. Seraut wajah manis yang pernah dia lihat sebelumnya da di sana, namun dia belum ingat siapa dan di mana pernah melihatnya. Kemudian dia klik akun itu, dan seketika dia teriak..
"Astagaa... mbak Mayang," suaranya begitu keras hingga membuat atensi orang yang sedang makan di sana berpindah melihatnya.
kemudian dia berdiri menghampiri Faikh.
"Pak Faikh, ini mbak Mayang adik ipar bapak bukan?"
Fenti menunjukkan layar ponselnya. Faikh mengambilnya dan memutar lagu itu didengarnya suara Mayang, memang bagus suaranya. Ada 5 lagu solo dan 2 lagu duet. Ada satu nama pengguna yang mengusiknya, siapa lagi kalau bukan Ariestya.
"Apakah kamu berteman dengannya?" tanya Faikh.
Fenti mengiyakannya, bukan hanya itu saja bahkan dia menceritakan semua yang dia tahu tentang rumor yang beredar di aplikasi itu. Rupanya Ariestya seorang duda beranak 2 yang sudah dewasa, istrinya sudah lama meninggal.
"Hm.. begitu? apalagi yang kamu tahu?"
Fenti juga menceritakan isyu yang tengah trending tentang Ariestya di grup familynya di aplikasi itu.
Ariestya tengah dekat dengan 2 pengguna baru.
"Okay, kasih tahu aku jika ada hal yang mencurigakan. Terutama siapa 2 orang yang tengah dekat itu, apakah Mayang jadi obyek salah satunya?"
Deal sejak saat itu Mayang dalam pemantauan 😁
Mayang diam membisu mendengarkan penuturan Faikh. Sungguh dia bingung dengan dirinya.
"Mayang, semuanya hanya dirimu yang tahu. Coba tanyakan hatimu bagaimana yang sebenarnya. Hidup adalah realita, bukan kamuflase seperti dalam dumay" Faikh tidak ingin orang yang dicintainya justru salah menempatkan cintanya.
Sementara itu pesan masuk di Grup Familynya
DM family Rumbia ..
@Cintya dp❤ : dek Mayang beneran jadian sama Ariestya?
@Cintya dp❤ : jangan terlalu cepat mengambil keputusan dek, sudah banyak yang jadi korbannya
@Mayang : Sudah aku pikirkan mbak, dia akan melamarku, kami akan segera menikah .
@Cintya dp❤ : Secepat itu? coba adek Follow akun Maresa
@Mayang : siapa dia mbak?
@Cintya dp❤ : sudah dek follow aja, semoga ada pencerahan
@Mayang : Terimakasih mbak Cintya atensinya, tapi maaf aku percaya mas Ariestya.
@Cintya dp❤ : Semua terserah dek Mayang, saya sebagai teman hanya mengingatkan
Mayang menutup ponselnya. Hari ini dia jengkel sekali dengan Cintya, dengan Faikh. Mengapa mereka menghalangi kebahagiaannya? mengapa mereka ikut campur urusan pribadinya?
Akhir-akhir ini Mayang banyak melamun. Mareta yang sudah kembali kerumah merasa asing dengan mamanya.
Seperti siang itu. Mayang marah karena merasa di abaikan Ariestya, Chatingnya tidak di balas sejak pagi. Dengan gusar dia menatap ponselnya. masih sama tak ada yang berubah.
Bahkan Mareta merengek minta telephone Eyangngnya saja tidak digubrisnya.
Sebenarnya Dia mulai meragukan Ariestya karena janji melamar menemui orang tuanya tak kunjung dilakukan Pak Duda.
Bahkan sudah beberapa kali Ariestya tidak datang ke lagunya.
Padahal biasanya paling aktif komen.
Mayang mengingat kejadian sebelumnya.
Saat mereka masih telphonan seperti biasa, Ariestya bilang kalau dadanya sakit dan mau kontrol ke dokter.
Mayang hanya mendengarkan dan menyuruhnya periksa ke dokter tidak transfer sejumlah uang karena kebetulan uang dialokasikan untuk kebutuhan lain.
Apa karena itu penyebabnya? Mayang mulai menduga.
Dia ingat Chating DM Cintya tempo hari, Mayang hendak mencari akun Mareza dari teman yang diikuti Ariestya.
Betapa kagetnya dia ketika nama Ariestya tidak ada di teman yang mengikuti.
Ternyata akun Mayang di blokir.
Dia buka Phonselnya bermaksud mencari tahu penyebab Chatingnya tidak dibalas. Namun Mayang harus kecewa karena panggilan W* hanya memanggil.
Dia coba hubungi Lewat panggilan seluler..
"Nomor yang anda hubungi sedang berada di luar area, mohon hubungi beberapa saat lagi.." yang menjawab suara operator seluler.
Mayang masuk lagi ke aplikasi karaokenya. DM Cintya.
@Mayang : mbak apakah akun mas Ariestya hari ini aktif ?
@Cintya dp❤ : iya dek aktif, barusan unggah lagu duetnya join Mareza. kenapa dek ? kalian bertengkar ya ?
Cintya sudah hafal dengan kelakuan Duda yang satu itu. Jika sudah dapat ikan Kakap, Nila pasti di lepas. Doain saja dapat ikan paus biar ditelan sekalian. Cintya dongkol juga.
@Mayang : mbak bantu aku, minta mas Ariestya buka blokirnya. akunku di blokir mbak
Naah kaan benar apa kata Cintya.
@Cintya dp❤ : coba aku DM ya
Mayang menunggu beberapa saat.
@Cintya dp❤ : sudah aku chat DM dek, tapi sekarang malah akunku ikutan diblokir🤣🤣
Jawaban Cintya membuat Mayang semakin bingung, apa yang harus di lakukan ?
@Cintya dp❤ : Yang sabar ya dek, semoga Allah tunjukkan jalan terbaik
@Mayang : trimakasih mbak
kali ini Mayang berfikir siapa lagi yang bisa dimintai tolong.
Disaat Mayang bingung, Mareta merengek lagi minta telephon Eyangnya.
"Mama... Reta mau kerumah pak dhe, kangen Eyang huhuuuuhuuu" siang itu Mareta menangis keras sampai pegawainya berkasak-kusuk tidak jelas.
"Mbak Mayang kok jadi sperti itu ya?, kasihan dek Reta." kata Reni
"iya, kalau aku jadi mbak Mayang nie.. aku pilih Pak Faikh, walaupun orangnya kaku tapi dia perhatian dan sayang banget sama dek Reta."
"Semoga mbak Mayang disadarkan."
Kriiinggg.. kriingg..kriiinggg
Mayang setengah berlari menghampiri ponsel yang ditaruh diatas nakas, Mayang baru saja selesai mandi. Dia pikir Pak duda yang menghubunginya.
"Assalamualaikum sayang," ternyata mama mertuanya yang telephone
"Waalaikum salam Ma," jawabnya dengan senyum dipaksakan
"Eyang kangen Mareta, mana cucu Eyang?" Batin mereka nyambung ya ternyata, disaat Reta kangen dan bingung dengan sikap mamanya ternyata ada Eyang yang peka dengan hal yang menimpanya, Allah telah menuntun batin mereka untuk saling bertemu. ikatan batin antara Eyang dan Cucunya.
"i-iya Ma, tunggu sebentar," Mayang mencari Mareta keatas ke kamarnya.
Namun bocah itu tak ada di sana, mungkin ditempat bonekanya? Mayang melangkah menuju kamar belakang tempat boneka dan mainan Mareta disimpan, namun tidak juga ditemukan anaknya itu.
Mayang mulai panik, bertanya kepegawainya.
Semua tidak tahu dan ikut panik mencari, kemana Mareta. Dalam pencarian yang tak kunjung ketemu, dia semakin bingung. Belum lagi mama mertuanya ikut panik dan menangis khawatir.
"Mareta kamu kemana sayang hiks hiks." Mayang menangis seperti anak kecil.
"Mareta ada bersama mama." tiba-tiba Faikh muncul dari arah pintu masuk. Mayang cepat-cepat berdiri dan menyeka air matanya.
"Me-mengapa bis-bisa sama m-mama?"
"Hm .. kalau kamu sudah tidak mau mengurus Reta, biar mama yang menjaganya!" Faikh membalikkan badannya hendak kembali menuju mobilnya.
"Abang.. bukan maksud Mayang begitu. Mayang sayang sama Mareta. Mareta anakku bang," suara Mayang meninggi masih dibarengi isak tangisnya.
"Hm.. kejar saja duda itu, kami tak rela kau telantarkan Mareta! Dia anak adikku, anaknya Fendra! Kalau kamu sudah melupakan Fendra tak mengapa, itu sepenuhnya hak kamu Mayang!" Faikh masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya. Dengan rahang gemeretak dan tangan tetkepal menahan amarah, dibiarkan Mayang sampai menyadari kesalahannya.
"Abaaangg ... huuhuuu" Mayang tergugu, siapa yang ditangisinya? Mareta atau Pak duda?
Cinta telah menutup akal sehatnya, padahal sebenarnya apa yang dicari dari Pak duda? Gak sadar-sadar kalau dia sudah diporoti.
Dan sebenarnya apakah yang pantas membuat Mayang Cinta sama Pak duda? Duda berumur yang usianya lebih tua dari mama Risma.
Itulah yang disesalkan Faikh, mengapa Mayang tidak bisa berfikir sehat? apakah suara duda itu begitu kuat pengaruhi kewarasan Mayang?
Sementara itu di rumah Faikh, mama Risma memang sengaja datang ke sana karena sudah lama tidak maen ketempat Faikh.
Faikh baru saja datang menjemput mamanya. Tadi niatnya setelah mengantar mamanya masuk rumahnya, Faikh mau langsung mampir membeli soto dekat rumah Mayang. Namun tak jauh dari sana dilihatnya Mareta berjalan sendiri sambil menangis. Akhirnya dia urungkan niatnya dan menghampiri keponakan kecilnya itu.
Mareta menangis dan bercerita bahwa Reta kangen Eyang, pengen ketemu Eyang pengen telephon tapi mamanya gak mau telephon Eyang.
Akhirnya Mareta pergi dari rumah berjalan hendak menuju rumah Faikh yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya.
Beruntung mereka ketemu, seandainya tidak bagaimana kondisi Mareta ? anak sekecil itu berjalan sendirian sambil menangis, bagaimana kalau bertemu orang jahat ?
Sungguh Faikh tidak bisa menerima kelalaian Mayang yang dianggapnya cukup fatal.
Karena kejadian ini akhirnya mama Risma mengetahui hal yang selama ini di khawatirkan Faikh.
Wanita itu tidak menyangka Mayang bisa berubah seperti ini.
"Seperti apa orang yang telah membuatnya lalai nak?" tanya mama Risma menahan perih di hatinya.
"Mama beneran pingin lihat wajahnya ma? laki-laki yang tidak pantas dipertahankan sama sekali!" Faikh menahan amarahnya karena ada Reta. Dia tidak ingin menambah kesedihan bocah itu.
Faikh menunjukkan foto Ariestya yang dimintanya dari Fenti.
Fenti telah menceritakan semuanya sebelum kejadian siang ini.
"Ini ma."
"Astaghfirullah hal adziim, Ya Allah mengapa bisa begini naaak?" mama Risma tidak bisa sembunyikan keterkejutannya.
"Apa yang telah menutup penglihatan Mayang Ya Allah....." Rintihnya pilu.
Faikh memeluk dan menepuk punggung mamanya. Sementara Mareta sibuk mengusap air mata Eyangnya. yang membuat wanita semakin tergugu menatap cucunya, berkali-kali mengecup pucuk kepala Mareta.
Tampak lelaki tua dengan kerutan di wajahnya.
Bagaimana mungkin Mayang bisa jatuh cinta setengah mati sama laki-laki yang pantas sebagai ayahnya?
Bagaimana dia bisa menjadi penuntun Mareta? mambawa badannya sendiri saja sepertinya susah.
"Mayang.. Mayang.. semoga Allah segera sadarkan kamu naakk," Tangis mama Risma kembali pecah.
Faikh tidak tahan melihat wanita yang disayanginya menangis seperti ini. Dia harus melakukan sesuatu.
Kriiingg...kriiingg...
"Assalamualaikum bang" suara disebrang sana, Faikh mengubungi Mayang. wanita itu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Bagaimanapun kekacauan ini bersumber darinya.
"Segera bersiap, kita harus bicara saat ini juga!"
intonasi suara Faikh kaku, ada nada marah terdengar.
"Bersi-ap ke-ma-na?" Mayang terbata-bata, dia sangat takut ketemu mama Risma. Untuk saat ini entah apa yang tengah dia rasakan.
"Ayo berangkat!" Faikh sudah muncul dihadapannya.
Mayang mengikuti Faikh masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan mereka diam, seperti biasanya kan ?. Namun diam kali ini terasa beda, Mayang merasa sebagai terdakwa yang akan diadili. Apa yang harus dia jelaskan nanti ?
"Turun!" kata Faikh setelah mobil berhenti disebuah pelataran. Mayang segera turun, namun langkahnya terhenti. Dia tidak mengenali tempat ini.
Faikh menyeringai sinis.
"Masuk!" perintah Faikh setelah pintu terbuka.
Mayang melangkahkan kaki perlahan masuk ke dalam rumah yang masih kosong, hanya ada tikar dan meja kecil disudut ruangan dengan air mineral kemasan gelas yang tertata di sana.
Entah tempat apa ini ? pikirannya sungguh kalut.
Faikh duduk duluan di tikar itu, tulunjuknya mengisyaratkan agar Mayang mengikutinya.
Mayang duduk, Faikh meraih air mineral dari atas meja dan meletakkan didepan Mayang.
"Ceritakan apa sebenarnya yang membuat Reta pergi."
Mayang menatap Faikh yang kini duduk dihadapannya. Raut wajah kaku tampak marah, membuat Mayang bergidig ngeri.
"Mayang, kamu dengar?" hentakkan suara Faikh mengejutkannya
"i-iya bang. A-aku tidak tahu." jawab Mayang seperti orang linglung.
Faikh jengkel sekali, ingin sekali dia mengikat Mayang dan melakukan sesuatu untuk melampiaskan amarahnya.
Namun kesadarannya masih mengendalikan emosinya.
Yang ada di pikirannya kali ini hanya Mama Risma dan Reta, dua orang yang sangat dia sayangi yang saat ini tengah terluka karena polah wanita dihadapannya.
"Apa yang telah kamu lakukan dengan duda itu?"
Lagi pertanyaan skatmat buat Mayang.
Mayang menggeleng, sepertinya dia telah mabuk walau tidak sedang minum alkohol. Mayang ayo jawab, jelaskan. batin Mayang membujuk, namun tak satupun kata keluar dari mulutnya. Dan mata itu basah buliran menetes dengan deras.
"Aku hanya butuh penjelasan, bukan air matamu!"
Faikh semakin jengkel. Dia berdiri dan menatap jalan dari balik jendela kaca.
Lama berdiri di sana
"Apakah yang kamu harapkan dari duda itu? jawab atau kamu tidak akan aku ijinkan ketemu Reta selamanya!" Faikh mulai mengancam
"hiks.. hiks.. jangan abaaangg.. Mareta anakku, aku tidak ingin berpisah darinya.. huu..huuu..huu." Mayang meraung semakin keras, diusapnya air mata itu dengan kasar.
"hehh! setelah apa yang kau lakukan tadi ? apa yang kamu pikirkan Mayang?" kali ini Faikh sudah berdiri di depan Mayang dan membungkukkan wajahnya menatap mata Mayang.
Wajah mereka sangat dekat, Faikh benar-benar marah.
"aaarrgh.." dia kembali berdiri dan memukul udara melampiaskan amarahnya.
"Katakan dengan jujur, apa yang kamu harapkan dari duda lemah seperti dia? menurutku kamu tidak benar-benar sayang dengan Reta, aku tidak terima dengan perlakuanmu!" Faikh teriak lantang.
Dia sengaja membawa Mayang ke rumah itu, rumah yang jauh dari pemukiman, rumah yang biasa dia jadikan tempat ketemuan dengan teamnya membahas pekerjaan.
Jadi kalau dia teriak sekeras apapun tidak akan mengganggu tetangga kan?
"A-a-ku me-mencintainya b-bang."
"Cih.. , kamu sadar dengan yang kamu lakukan?" Faikh jongkok didepan Mayang dan memegang kedua pundaknya.
Mayang bergeming, diusapnya cairan yang keluar dari hidungnya.
"Apakah duda itu juga mencintaimu?" ada perasaan perih saat Faikh tanyakan hal itu.
Mayang mengangguk
"Apakah duda itu menyayangi Reta?" pertanyaan yang jelas menampar Mayang kali ini. Karena dia tak pernah pikirkan hal itu.
"Kenapa diam? kamu memang egois Mayang!! kamu hanya memikirkan kesenanganmu sendiri. Baik, kalau memang itu keputusanmu. Aku bebaskan kamu mencintainya, bahkan menikah dengannya, tapi satu yang harus kamu ingat. Aku tidak rela Mareta punya ayah seperti dia!"
Faikh menunjuk muka Mayang.
"Mareta anaku abang, tanggung jawabku!" kata Mayang mulai marah
"Tanggung jawab macam apa? Mana tanggung jawab? apakah menelantarkan anak sendiri, membiarkan pergi sendirian itu yang kamu maksud tanggung jawab? heeh ! aku tak yakin duda itu menyayangi kalian dengan tulus?"
Mayang kembali tertampar, selama ini Ariestya memang tidak pernah menanyakan apapun tentang Mareta.
"Aku akan merawat Mareta, biarkan Reta tinggal bersama kami, itu lebih baik daripada tinggal bersama kamu dan ... duda itu!" Faikh berdiri
namun Mayang menarik tangan Faikh
"Abang jangan bawa Mareta! kalian tidak berhak atas anakku! huhuuuu huuu."
Faikh menepis kasar tangan Mayang
"Aku berhak mengasuh Reta, karena Reta anak adikku, darah daging adikku jadi .. di sana mengalir juga darahku, darah keluargaku! camkan itu!" Faikh berteriak lagi
Mayang berdiri
"Kembalikan Mareta padaku!" teriaknya
"Tidak akan! tanyakan hatimu apa sebenarnya yang kamu inginkan? karena aku perduli dengan Reta, aku tidak rela Reta jadi korban keegoisan kamu Mayang!"
"Aku ibunya."
"Lantas? kamu bisa dengan sesuka hatimu menelantarkannya? Aku tidak menyangka bahwa adikku menikah dengan orang yang tidak punya hati." Faikh memalingkan muka.
"Aku akan menikah dan membawa Mareta tinggal bersama suamiku." jawab Mayang mantap
"Tinggal di mana? apa kamu tahu di mana duda itu tinggal? apa kalian pernah bertemu?" Faikh masih mencecarnya dengan pertanyaan.
Mayang terdiam, kali ini Faikh membuatnya sadar bahwa selama ini mereka tidak pernah ketemu langsung. Mereka hanya ketemu lewat layar HandPhone.
"Sebelum kamu putuskan, aku beri kesempatan terakhir untuk berfikir jernih. Dan jawab pertanyaanku apakah kamu mencintai duda ini?"
Faikh menunjukkan foto duda yang dikirim Fenti itu.
Mayang melihatnya, apakah dia benar mas Ariestya? kini Mayang mulai ragu dengan hatinya.
Dia menatap Faikh, wajah tampan kakak almarhum suaminya tampak tulus, bahkan Mayang tidak pernah memikirkannya.
"kenapa? apa yang kamu harapkan dari duda tua itu?" tanya Faikh lagi.
Faikh tahu saat ini Mayang sangat bingung setelah melihat foto Pak duda, tampak jelas dimata wanita itu.
"Aku menyayangi kalian, aku tidak ingin kalian berada pada orang yang salah" ucap Faikh lirih, menunduk sedih.
Mayang kaget mendengar kalimat yang baru saja didengarnya.
"Maksud abang apa?" Mayang memberanikan diri bertanya.
"Lupakan. Kami, aku dan mama hanya ingin kepastian darimu Mayang. apa sebenarnya yang kamu harapkan dari pernikahanmu dengan duda itu?" suara Faikh melembut
Mayang tertegun, bahkan dia tidak sadar telah menyakiti hati wanita yang sangat menyayanginya.
"Apakah yang aku cari?" dia bergumam sendiri. Sepertinya mulai meragukan hubungan onlinenya dengan Pak duda.
Faikh telah menyadarkannya. Foto itu, apakah lelaki tua itu bisa menopang kehidupannya kelak? Bukankah selama ini Mayang yang selalu berkorban menopang financial Ariestya ?.
Mayang tidak cinta dengan wajah tua itu, Mayang cinta dengan suara Pak duda. Suara yang telah menghipnotisnya. Suara yang hampir menjauhkannya dari buah hatinya. Suara yang telah mengacaukan kehidupannya.
"Maafkan aku abang" Mayang menunduk
Faikh merengkuhnya membawa wanita itu kedalam pelukannya, mengelus pundak Mayang dan membiarkan air mata wanita itu membasahi bajunya.
"Aku memang egois, aku telah dibutakan oleh cinta yang aku sendiri tidak tahu apa yang aku cintai" Faikh semakin erat memeluknya.
"Sudah sadar? apa yang kamu cintai?" Faikh melepaskan pelukannya dan mengusap lembut air mata itu. Mayang mengangguk
"Aku..aku... cinta dengan suaranya bukan orangnya" jawab Mayang malu, pipinya merona.
"Syukurlah kamu telah menyadarinya, semoga tidak terulang lagi kejadian memalukan ini" Faikh mengacak rambut Mayang.
"Abang" Mayang memukul dada Faikh, pipinya semakin merah menahan malu.
Faikh tersenyum puas, direngkuhnya kembali wanita itu ke dalam pelukannya, dia menang😁
"kita pulang?" Faikh menatap lembut wajah Mayang. Wanita itu hanya mengangguk
"Sudah siap ketemu Mareta?" Faikh bertanya lagi
" Iya abang aku sudah siap, mari kita ketemu mama, aku akan minta maaf atas kekacauan ini"
"Terimakasih" kata Faikh.
"Untuk apa?" tanya Mayang bingung, harusnya dia yang berterima kasih karena Faikh telah menyadarkannya.
"Untuk kembalinya kesadaranmu" Faikh tertawa dan mereka keluar dari rumah itu. Tak berapa lama mobil melaju meninggalkan pelatarannya.
Dan mereka telah sampai di rumah Faikh.
"Assalamualaikum" Faikh langsung masuk dan diikuti Mayang.
"Waalaikum salam" jawab mama Risma
"Mamaaa" Reta memeluk erat Mayang.
"Maafkan mama sayang" Mayang menciumi pipi Reta tiada henti
Faikh saling pandang dengan mamanya, wanita itu tersenyum. Faikh telah membawa Mayang kehadapannya, ini berarti Faikh telah mewujudkan harapannya. Dan memutuskan bahwa dia menerima Mayang sebagai istrinya.
Mama Risma memeluk Mayang
"Maafkan Mayang Ma, Mayang telah membuat mama sedih." mama Risma mencium lembut kening Mayang.
Faikh menggendong Reta dan mencium gemas pipinya. Gadis kecil itu tertawa geli dan membalas cium pipi Faikh.
"Papa" katanya lirih sambil terus mengelus wajah Faikh.
Semua yang di sana menatap kearahnya. Ucapan seorang bocah yang ternyata mewakili keinginan Faikh dan mama Risma.
Risma menggandeng tangan Mayang dan menyatukannya dengan tangan Faikh.
"Kebahagiaan Mama adalah melihat kalian hidup bersama"
"Mama.." Mayang tidak bisa berkata-kata lagi, seakan ada sebongkah batu menghadang pita suaranya.
"Mayang, maukah kamu menjadi menantu mama untuk kedua kalinya?" pintanya. Mayang menunduk bulir bening itu telah menetes begitu saja.
Faikh mengangkat dagu Mayang agar menatapnya.
"Aku sudah menganggap Reta seperti anakku sendiri, aku tahu Mareta adalah anakmu. Jadi.. maukah kamu menjadi istriku?" Faikh menatap mata Mayang mencari jawaban di sana. Mayang mengangguk terharu, air mata itu mulai mengucur deras
"Terimakasih" dengan satu tangannya Faikh merengkuh Mayang dalam pelukannya. Kini mereka bertiga saling berpelukan, seperti keluarga kecil ayah,ibu dan anak.
"Aku akan selalu menjaga dan menyayangi kalian seumur hidupku," Janji Faikh di hadapan sang mama.
Mama Risma memeluk mereka.
Bersyukur tiada hentinya karena kebahagiaan hari ini. Bersyukur karena Faikh telah menemukan seorang yang dicintainya. Bersyukur karena keluarganya kembali utuh.
- Sekian-
#terimakasih yang sudah mampir🙏🥰