Hari ini hari Minggu, Riri sedang berlibur bersama teman sekantornya di sebuah vila di pegunungan.
"Ri, ambilkan kayu bakar di samping itu dong!" Kata Vernan sambil menunjuk setumpuk kayu di samping vila.
"Yang lain kan bisa Nan. Aku lagi sibuk ngupas jagung nih" kata Riri.
"Ya siapa dong Ri? Semuanya lagi sibuk tuh"
Riri pun melihat ke sekeliling, dan benar saja teman-temannya yang lain sibuk menyiapkan acara BBQ.
"Ah, ya udah deh"
Riri pun berjalan pergi mengambil kayu bakar.
"Maaf ya Ri"
"It's oke"
Riri berjalan ke samping villa tersebut. Sangat suram, beberapa pohon besar tumbuh di sana. Vila itu juga terpencil dan jauh sekali dengan pedesaan.
Kayu bakar yang di cari Riri pun menumpuk dan di rambati tumbuhan liar sehingga Riri harus menyingkirkannya terlebih dulu.
"Ah, kenapa susah sekali mengambilnya?" gumamnya.
Saat Riri mengambil kayu-kayu itu, tiba-tiba ia merasa sebuah hembusan angin melintas di punggungnya.
"Apa sih? Kok aku jadi merinding ya?"
Riri mengabaikannya, dan kembali mengambil beberapa kayu bakar. Saat itu juga Riri mencium bau yang aneh, bau yang sangat asing baginya. Begitu menyengat sampai ia mau muntah.
"Dih, jangan-jangan di sini ada kotorannya lagi?" Gerutunya. "Ck, dah ah. Cepet ambil dan segera pergi dari sini"
Riri cepat-cepat mengambil kayu bakar namun baginya terasa begitu lama. Ia baru sadar, seperti ada seseorang yang mengawasinya dari balik pohon manggis yang begitu besar di samping vila itu.
Ia menoleh ke sana, namun tak ada siapapun. Semakin lama ia menatap pohon itu. Terlihat sebuah bayangan dari balik pohon yang sedang melihat ke arahnya.
"Eh? Siapa sih itu? Orang sini ya? Atau jangan-jangan anak-anak lagi ngerjain aku lagi" katanya sambil berjalan mendekat.
Semakin dekat semakin jelas pula bayangan itu. Saat kaki Riri hendak melangkah keluar dari area villa tiba-tiba ...
Bugghh
"Aaakkkkkkhhh" teriak Riri sejadi-jadinya.
"Apaan sih Ri?" Kata Vernan yang berdiri di belakangnya.
"Vernan? Astaga kamu ngagetin aku tau gak" kata Riri sambil memukul bahu Vernan.
"Ya kamu sih lama banget ngambil kayu bakarnya. Memangnya kamu mau kemana?"
"Itu ..." Kata Riri sambil menoleh dan menunjuk pohon manggis yang ada di sana. "Lah? Mana orangnya?"
"Apa? Orang?"
"Iya, aku lihat orang tadi ngintip di sana"
"Gak ada tuh"
"Tapi .."
"Dah ah, kamu kebanyakan ngelamun kali" kata Vernan segera merebut tumpukan kayu di tangan Riri dan pergi dari sana.
"Nan, tunggu aku" teriak Riri. "Iihh, aku merinding jadinya"
Pesta BBQ pun di mulai sore itu. Cuaca begitu cerah, membuat suasana menjadi pas.
Riri terlihat duduk termenung sambil mengigit bibir bawahnya.
"Ri? Kamu kenapa?'' kata Jia.
"Ahh, perutku sakit nih Ji. Biasalah ada tamu yang datang"
"Owh, mau aku buatkan teh jahe?"
"Enggak deh, habis ini aku mau pulang soalnya"
"Kok pulang Ri? Yang lain kan pulang besok"
"Iya Ji, kakak sama pacar ku pulang dari luar negeri malam ini. Di rumah lagi gak ada siapa-siapa"
"Aah, gitu ya. Ya udah nanti aku bantu bicara sama yang lain. Eh, tapi kamu pulang sama siapa?"
"Ah, aku pulang sama Farel nanti. Dia juga mau pulang soalnya besok ada rapat pagi"
"Ya udah deh kalau begitu. Aku ke sana dulu ya"
"Oke"
Riri kembali duduk sendirian di depan perapian. Udara di sana begitu dingin sehingga membuat perutnya semakin keram.
Swwoooss
Lagi-lagi tiupan angin kembali menerpa punggung Riri. Samar terdengar seseorang memanggil namanya, namun ia menoleh ke belakang tidak ada orang di sana.
Mata Riri kembali tertuju ke pohon besar tadi. Entah mengapa ada sesuatu yang menarik pandangannya di sana. Semakin di lihat semakin takut, Riri pun mengalihkan pandangannya ke samping. Ia melihat bunga liar berwarna putih yang tumbuh di samping pohon manggis itu.
"Sangat cantik" gumamnya.
"Apanya yang cantik Ri?"
Riri menoleh dan mendapati teman-temannya datang membawakan jagung bakar dan beberapa sosis.
"Tidak ada"
Hari menjelang sore. Riri pun pamit untuk pulang. Satu setengah jam perjalanan akhirnya ia sampai di rumahnya.
"Makasih tumpangannya ya rel" kata Riri.
"Santai aja kali, oh ya Ri. Kamu ngerasa aneh gak dari tadi?" Kata Farel.
"Aneh kenapa?"
"Itu ..." Ucap Farel menggantung. "Gak ada, ya udah turun sana"
"Apaan sih. Ya udah aku turun nih. Makasih ya, hati-hati di jalan"
"Oke"
Riri turun dari mobil dan Farel pun segera meninggalkan pekarangan rumah Riri. Ia melangkahkan kakinya namun lagi-lagi ada sebuah angin yang menerpa punggungnya.
"Ugghh. Apa sih? Gak ada apa-apa Ri, gak ada" gumamnya sambil mengusap-usap punggungnya.
Riri berjalan masuk ke rumah namun entah kenapa matanya begitu berat. Ia pun duduk di sofa ruang tamunya.
"Baru pulang non?" Kata Bi Ani pembantu rumah tangganya.
"Iya Bi, capek nih"
"Mau bibi bikinin teh hangat?"
"Gak usah deh bi, kalau ada, kiranti aja. Perutku lagi sakit banget nih"
"Oh, non Riri lagi datang bulan? Kalau gitu cepat mandi gih, takutnya barang gak jelas bisa nempel. Apa lagi non kan baru pulang dari tempat jauh"
"Iya Bi, bentar lagi. Ngilangin capek dulu"
"Ya udah, bibi beliin kiranti dulu ya"
Wanita paruh baya itu pun pergi meninggalkan Riri di ruang tamu. Riri melirik jam dinding di sana dan terlihat pukul 17.00.
"Duh, kok ngantuk banget ya? Padahal tadi di mobil gak ngerasa ngantuk sama sekali" gumamnya.
Tanpa sadar Riri pun merebahkan tubuhnya di sofa dan hampir tertidur. Baru saja Riri hendak memejamkan mata, tiba-tiba pintu luar pun di ketuk seseorang.
Riri merasa malas, matanya sangat mengantuk namun ketukan itu semakin keras.
"Siapa sih? Duhhh ganggu aja. Mana bibi gak di rumah lagi" gumamnya sambil bangun dengan malas.
Riri berjalan ke arah pintu dengan mata yang masih sangat berat.
"Ya, siapa-"
Riri sangat terkejut mendapati seseorang yang ada di hadapannya itu.
"Alan?" Kata Riri terkejut.
"Aku datang" ucap Alan sambil tersenyum sangat manis.
Riri sangat bahagia. Pasalnya sudah tiga bulan ia tak melihat wajah manis calon tunangannya itu. Riri pun segera menghambur memeluk sang kasih tersebut.
"Aku kangen banget tau sama kamu" kata Riri dengan memeluknya erat.
Alan pun membalas pelukan Riri dengan sangat erat, seolah-olah ingin mengikatnya terus.
Riri merasa aneh, ada sesuatu yang tercium dari aroma tubuh Alan. Aroma yang pernah ia cium, namun entah dimana, yang pasti bukan aroma tubuh Alan yang seperti biasanya.
"Al, kamu belum mandi ya?" Tanya Riri sambil melepaskan pelukannya.
"Hehe" Alan hanya menjawab Riri dengan senyuman.
"Duh, dasar jorok. Sejak kapan kamu jorok begini hah?" Tanya Riri, ia tau bahwa calon tunangannya itu tidak mungkin jorok, dia adalah orang ter-rapi dan paling suka kebersihan yang pernah ia temui. "Dah ah, ayo masuk" kata Riri sambil menggandeng tangan Alan.
Mereka pun duduk di sofa.
"Dimana kakak? Katanya pulang sama kak Rian?"
"Kakakmu sedang mampir ke rumah makan" ucap Alan tampak serius.
Sejak Alan datang, Riri merasa sangat aneh. Tatapan matanya agak mengerikan. Tidak seperti biasanya. Namun Riri masih berpikir positif, mungkin saja karena efek sudah lama tidak bertemu.
"Rumah makan? Ngapain?" Kata Riri bingung.
"Tidak tau"
"Aneh" gumam Riri.
Tak lama kemudian bi Ani pun datang sambil membawakan kantung plastik berwarna hitam pesanan Riri.
"Ini non, pesanannya"
"Taruh di situ aja bi"
Bi Ani pun menaruh plastik itu di atas meja. Ia memandangi Riri merasa aneh, lalu pergi ke dapur.
"Apa itu?"
"Itu? Kiranti" kata Riri namun Alan terlihat bingung. "Perutku sakit jadi aku menyuruh bibi untuk membelikan itu"
"Apa sekarang masih sakit?"
"Iya sedikit"
"Sebelah mana?" Kata Alan langsung menaruh telapak tangannya di perut rata Riri.
"Eh?" Riri pun kaget, pasalnya pacarnya ini tidak pernah melakukan kontak fisik yang terlalu dekat. Namun sekarang ...
"Tenang saja, sebentar lagi kamu tidak akan sakit lagi"
Riri tertegun dan memandangi wajah Alan. Semakin di lihat semakin menakutkan. Ia pun mengalihkan pandangannya.
"Ada apa dengan otakku?" Batinnya.
"Sudah tidak sakit kan?" Kata Alan lalu menarik tangannya.
Benar saja, ia sudah merasa tidak sakit setelah Alan beberapa kali mengusap perutnya. Kok bisa?
"Ah, mana oleh-oleh ku? Katanya kamu membelikan ku oleh-oleh" kata Riri mencoba mengalihkan pembicaraan.
Alan pun merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Terlihat setangkai bunga warna putih ada dihadapannya.
"Bunga?"
"Hem, bukankah kamu menyukainya?"
Aneh, Riri seperti pernah melihat bunga itu tapi entah di mana.
"Kamu dapat dari mana?"
"Rahasia"
Riri pun mengambilnya dan tersenyum kecil. Jarang sekali Alan bersikap manis seperti ini, apa ada yang salah dengan otaknya?
"Ish, main rahasia-rahasiaan nih"
Alan tak menjawab malah ia dengan cepat memeluk Riri dari samping membuat Riri terkejut.
"Al ..." Kata Riri lalu menaruh bunga itu di atas meja.
"Aku sangat menyukai aroma tubuhmu" bisik Alan terdengar berat sambil memeluk Riri dengan sangat erat.
"Al ..."
Riri merasa bingung, sebab Alan yang biasanya tak akan pernah melakukan hal itu.
"Al ... Makan dulu yuk, aku laper nih"
Alan melepaskan pelukannya. Ia berdiri dari tempatnya dengan semangat.
"Ayo" ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
"Kemana?"
"Makan"
Terdengar nada yang begitu aneh dari kata-katanya. Oke, kali ini Riri merasa takut dan ragu hendak menerima tangannya. Namun Alan dengan cepat menarik tangannya dan membawanya keluar dari rumah.
Saat membuka pintu, Riri terkejut. Di luar rumah begitu gelap seperti sudah tengah malam padahal dia sadar, baru saja dia lihat masih jam 5 sore.
"Al ... Kita mau kemana?" Kata Riri yang berjalan mengikuti Alan.
"Makan"
Lagi-lagi kata-kata itu membuat Riri bergidik ngeri.
Mereka berjalan di halaman rumah dengan bergandengan tangan. Namun tak ada satupun cahaya di sana, sangat gelap bahkan Riri tak bisa melihat bayangan Alan.
"Al... Aku takut"
Terasa Alan semakin mengeratkan tangannya di pergelangan Riri. Riri merasa tangan Alan sangat besar, terdengar nafas yang memburu dari Alan, seperti dengusan hewan buas.
"Al, kamu lelah ya? Balik aja yuk aku takut" Riri hendak berbalik namun Alan segera manariknya.
"AAAKKKHHH" jerit Riri sejadi-jadinya.
Ia berteriak histeris saat mendapati mahkluk yang ada di hadapannya bukan lagi Alan pacarnya. Mahkluk itu begitu mengerikan. Bertubuh besar dan berbulu hitam.
Riri merasa ketakutan saat melihat wajahnya. Mata besar berwarna merah darah itu menatapnya dengan seram. Di kepalanya terdapat tanduk yang begitu besar. Gigi giginya juga menjulur keluar dari mulutnya.
Riri semakin ketakutan, pasalnya mahkluk itu menatap Riri dengan tatapan kelaparan.
"Aakkkhhh, siapa kamu! Tolong! Alan tolong aku"
"Hihihi. Kamu tidak akan bisa kabur dari rumahku. Tidak akan ada yang bisa menemukanmu di sini"
Riri semakin menangis ketakutan. Di dalam kegelapan itu ia meraba tempat yang ia duduki. Seperti sebuah rumput.
"Sebenarnya ini tempat apa? Bagaimana aku bisa berada di sini? Bukankah aku hanya berjalan sebentar di halaman? Bagaimana aku bisa pergi dari sini? Kakak, Alan. Dimana kalian? Tolong aku" batinnya.
Sayup terdengar dari kejauhan, Riri seperti mendengar tawa seseorang. Ia pun menoleh ke sumber suara tersebut. Di kejauhan ia melihat sebuah api unggun dan juga beberapa orang. Tempat itu seperti tidak asing. Orang-orang itu seperti tidak asing.
"Ini ..." Gumamnya. "Hah" Riri membekap mulutnya terkejut.
Ia baru sadar, api unggun dan orang-orang itu adalah teman-temannya yang berada di villa tadi. Kalau begitu, tempat ini adalah ...
Riri pun mengedarkan pandangannya pelan. Benar saja, itu adalah pohon manggis besar yang ia lihat siang tadi. Riri semakin terkejut. Jadi bayangan hitam yang ia lihat tadi siang adalah mahkluk mengerikan ini.
"Hihihi, tentu saja. Siapa lagi memangnya" ucapnya seperti tau apa yang sedang di pikirkan Riri. "Sejak kau datang ke sini, aku sudah tertarik denganmu. Bau darah itu ... Sangat mengiurkan" kata mahkluk itu sambil menjulurkan lidahnya yang panjang di kaki Riri.
"Aakkh, Vernan, Jia, pak Bagas. Semuanya tolong aku" teriak Riri meronta-ronta.
"Percuma saja. Mereka tidak akan mendengar mu. Sebentar lagi, aku akan melahap mu. Hihihi"
Mahkluk itupun menyeret kaki Riri. Riri meronta-ronta menarik sesuatu di sana.
Tidak! Ini pasti mimpi, seseorang tolong bangunkan aku!
"Percuma saja gadis cantik. Tidak akan ada seorangpun yang akan mendengar mu"
Srraaakkk
Suara rerumputan itu saat Riri di seret paksa ke sebuah tempat. Riri menangis sejadi-jadinya. Mengerikan, sangat mengerikan.
"Alan ... Tolong aku"
Di dalam kegelapan itu di tengah keputusasaannya. Tiba-tiba ada sebuah tangan yang begitu lembut memegang tangan Riri. Tangan yang tak asing baginya. Riri hanya bisa melihat tangan itu mengelus punggung tangannya dengan sangat pelan penuh kasih sayang.
Sayup terdengar sebuah lantunan ayat suci, entah darimana asalnya. Membuat Riri sedikit merasa tenang.
"Siapa?" Gumam Riri penasaran dengan tangan tersebut.
"AARRGGGHHH" jerit mahkluk itu memekikkan telinga.
Riri memegang erat tangan tersebut dengan kedua tangannya.
"AAARRGGGGHHHH"
Semakin lama jeritan mahkluk itu semakin menyakiti telinga. Riri tidak tahan dan memejamkan matanya. Perlahan ia merasa ada sebuah tangan yang mengusap kepalanya dengan lembut.
Riri pun mulai membuka matanya dan mendapati Alan sedang duduk bersimpuh di hadapannya.
Pandangan Riri begitu kabur. Ia tidak jelas melihat siapa yang ada di hadapannya.
"Al ..." Gumam Riri serak.
Alan hanya tersenyum manis, terlihat ia memegangi tangan Riri dan mengusapnya perlahan dengan ibu jari.
Riri pun mulai sadar, ia tak lagi ada di pohon manggis itu. Ternyata ia tertidur di sofa di rumahnya.
"Sudah bangun?" Kata sang kakak di sampingnya. "Tidur sampai menangis begitu, mimpi apa kamu?" Kata Rian yang duduk di sofa sebelah Riri.
Riri segera duduk dan melihat ke sekeliling.
"Aku di rumah?" Ucapnya bingung.
"Lah? Memangnya kamu di mana kalau gak di rumah?"
Riri semakin bingung, kenapa dia berada di rumah bukannya di pohon dekat vila itu? Jika mimpi, itu semua terlalu nyata.
"Kakak, pukul aku, pukul aku cepat!!"
Duaghh
"Aww" gumamnya kesakitan saat Rian menyentil dahinya dengan keras. Riri hanya tertunduk, ia meras lega, dan juga takut dengan mimpi yang baru saja ia alami.
"Sudah sadar sekarang? Lihatlah, Alan sudah duduk di situ dari tadi. Kamunya malah di bangunin gak bangun-bangun"
Riri pun melihat ke arah Alan yang masih duduk bersimpuh di bawah sofa sambil tetap mengusap punggung tangan Riri sedari tadi.
"Alan ..." Rengek Riri sambil berlinangan air mata.
"Lah, malah nangis" ucap Rian.
Alan hanya tersenyum sedari tadi.
"Alan, Alan aku takut sekali. Dia, dia, sangat menakutkan"
"Bicara apa sih ini bocah? Ngelindur ya?"
Alan pun duduk di samping Riri dan memeluknya.
"Alan ... Dia menakutkan, aku takut, aku takut sekali ... Hiks hiks"
"Ssttt, tidak apa-apa. Ada aku sekarang. Semuanya sudah aman, kamu tidak perlu takut lagi" ucap Alan dengan lembut sambil mengusap punggung kekasihnya itu.
Riri mengeratkan pelukannya dan menghirup aroma tubuh Alan sampai memenuhi paru-parunya.
"Ini benar-benar kamu Alan, ini benar kamu" kata Riri dengan terisak.
"Tentu saja, apa kamu tidak mengenaliku lagi?"
"Dia datang, dia mirip denganmu. Aku pikir dia adalah kamu. Aku takut"
"Heemm ... Aku tau, kamu tidak perlu takut lagi. Dia tidak akan kembali lagi. Sekarang jangan menangis lagi, oke?"
Riri pun melepaskan pelukannya dan menganggukkan kepalanya.
"Sudah lebih tenang sekarang?" Kata Alan sambil mengusap peluh yang ada di dahi Riri.
Riri hanya mengangguk, ia tak melepaskan tangannya dari pinggang Alan sebab ia benar-benar merasa ketakutan.
"Kalian ini bicara apa sih?" Gumam Rian tak mengerti.
"Ini mimpi yang sangat buruk" gumamnya.
Riri pun melihat ke arah meja dan mendapati bunga warna putih itu berada di sana.
"Apa? Itu ...."
Tidak mungkin, kenapa bunga itu ada di sana? Bunga yang siang tadi ia lihat di dekat pohon manggis itu. Bunga yang Alan bawakan untuknya, tidak. Bunga yang mahkluk itu bawakan di dalam mimpinya. Kenapa bisa berada di sana?
Jadi ini bukan Mimpi? Lalu apa ini nyata?
"Jangan khawatir, aku akan mengembalikan bunga itu ke pemiliknya"
*Demi apa, aku benar-benar merinding nulis ini tengah malem 😭 Btw, ini sebenarnya di ambil dari kisah nyata author sendiri, hanya saja di bumbui sedikit biar gak terlalu gimana gitu*
pesan buat para readers: Kalau bisa ... Jangan tidur di sore hari, apalagi menjelang petang. Oke? Sekian.
eh tunggu!
Yang baca ini wajib like ya 😁 please 😬😬✌️