"Cinta dan persahabat adalah suatu hal yang dapat membuat kita bahagia, namun dengan cara yang berbeda. Perbedaan itupula yang mau tak mau memaksa kita untuk memilih diantara keduanya. Bukan apa yang ego kita pilih, tetapi apa yang telah dipilih oleh hati kita."
------------------------------
Hari ini merupakan hari bersejarah dalam hidup Thalia. Pasalnya ia sebelumnya tak pernah telat. Hal ini karena semalam ia begadang. Bukan begadang karena mengerjakan tugas, melainkan karena ia marathon anime yang baru ia download.
Seperti dugaannya, pagar sekolah itu sudah tertutup. Seketika ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
07.05
"Telat 5 menit," Thalia menghela nafasnya. Lalu ia berjalan. Mendekati pagar yang sedang dijaga satpam itu.
"Pak, tolong buka kan dong, saya baru telat 5 menit," Thalia memasang muka melas saat mengucapkannya.
"Telat tetap telat, tidak ada toleransi apa pun."
"Bapak kok gitu sih, kali ini aja pak pengertian dikit sama saya, jam jam segini itu jam-jam nya macet pak," rayu Thalia lagi.
"Saya engga me--"
"Buka gerbangnya!!" Suara berat yang terkesan dingin itu membuat satpam memberhentikan ucapannya.
Satpam itu menggeleng, "tidak bisa. Tidak ada pengecualian untuk--"
"Buka atau saya minta papa untuk memecat bapak?!" Ancam lelaki itu.
Thalia menyerngitkan dahi. Mecat?? Emang ini sekolah punya bapaknya apa?? batin gadis itu.
Karena merasa terpojok, akhirnya satpam itu membuka kan pagar. Si cowok jangkung tersebut masuk diikuti oleh Thalia di belakangnya.
Gadis itu menghela nafas, "beruntung banget si gue hari ini."
"Reyhan!! Thalia!!" Suara bariton itu terdengar melengking di koridor.
Thalia yang merasa dipanggil pun memberhentikan langkahnya. Hal yang serupa juga dilakukan oleh lelaki di depannya, saat itu juga Thalia tau bahwa lelaki tersebut bernama Reyhan.
"Kalian pikir kalian bisa lolos karena pak Burhan membukakan gerbang??" Wajah lelaki paruh baya itu cukup mengerikan bagi Thalia. Sehingga gadis itu hanya bisa terdiam tertunduk. Pasalnya keberuntungan yang ia ucapkan beberapa menit lalu sepertinya sudah tidak berlaku.
Berbeda dengan Reyhan, lelaki itu malah menatap balik guru yang terkenal killer tersebut. "Kenapa??"
"Pake nanya lagi kamu!! Sekarang kalian bapak hukum hormat di tiang bendera sampai jam istirahat!!" Thalia langsung mendongakkan kepalanya. Ia terkejut.
"Pak tap--"
"Saya engga mau." Seperti itulah Reyhan dengan sesukanya menolak perintah guru.
Guru yang kerap dipanggil Pakset itu tersenyum miring, "oke kalau kamu nolak, saya akan telfon papa kamu sekarang juga, biar semua fasilitas yang dia berikan ke kamu disita tanpa terkecuali!!"
Ya, Pak Setya merupakan waka kesiswaan yang rumornya juga adik dari pemilik sekolah ini.
Eh, tunggu tadi Pakset bilang papa kamu?! Berarti ni cowok beneran anak pemilik sekolah? lagi-lagi Thalia hanya bisa membatin dengan mata yang meilirik cowok di sampingnya itu.
Reyhan berdecak sebal, "yauda oke. Awas sampai om lapor ke papa!!" Setelah mengucapkan hal tersebut Reyhan melangkahkan kaki menuju lapangan utama sekolah mereka. Sebelum menyusul Reyhan Thalia tersenyum ke arah Pak Setya untuk berpamitan.
Sudah cukup lama Thalia dan juga Reyhan hormat di bawah tiang bendera, di tengah-tengah teriknya matahari.
Keringat dingin mulai membasahi kening beserta tubuh Thalia. Lagi-lagi gadis itu melirik jam tangan di pergelangan tangannya itu. Baru satu jam.
Mata Reyhan melirik sekilas gadis yang tidak ia ketahui namanya itu. Berkali kali gadis itu mengelap keningnya, nafasnya pun terdengar tak beraturan.
"Lo uda sarapan??" Pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari bibir Reyhan.
"Eh??" Thalia menolehkan kepalanya memastikan bahwa ia tak salah dengar. Setelah memastikan bahwa benar Reyhan lah yang bertanya akhirnya ia menjawab dengan suara lirih, "belum."
"Kuat??"
"Ha??"
Reyhan berdecak. Kenapa gadis disebelahnya itu lola banget. "Gak jadi."
Thalia dan juga Reyhan kembali menatap ke arah bendera merah putih itu dikibarkan.
Tak lama setelah itu, Thalia merasa sudah tak bisa lagi menahan tubuhnya akhirnya terjatuh. Dan seketika pendangannya gelap.
Reyhan terkejut karena tibatiba gadis itu tergeletak di sebelahnya. Ia melihat sekelilingnya, tak ada satupun murid ataupun guru yang lewat karena sekarang merupakan jam pelajaran.
Tanpa berfikir panjang Reyhan membopong Thalia menuju Uks. Setega-tega nya Reyhan, ia tidak akan tega melihat gadis tergeletak begitu saja di tengah lapangan. Bisa-bisa dikira dia enggak punya hati dong.
Reyhan menatap lekat wajah gadis yang tertidur di brangkar Uks itu. Terlihat tenang sekali, seperti tanpa beban. Sesekali ia mengelap keringat dingin yang masih keluar dari kening gadis tersebut. Entah dapat hidayah dari mana ia memberikan perhatian pada seorang gadis yang notaben tidak ia kenal itu.
"Thalia, Tha!!!" Tiba-tiba suara gaduh itu memasuki Uks. Reyhan pun segera memberhentikan aktivitasnya.
Dan terlihat tiga perempuan memasuki tempat rawat siswa. Ketiga cewek itu terdiam dengan sesekali mengedipkan mata cepat. Apakah benar itu Reyhan?? Itulah pertanyaan yang muncul diotak ketiganya.
"Temen nya dia??" Karena merasa tak ada respon, Reyhan membuka suaranya.
"Eh, iya kita temennya." Jawab Raisya cepat setelah ia sadar dari lamunanya.
Bukannya menjawab lelaki itu malah beranjak dari kursinya, "temen lo belum sarapan." Kata Reyhan sebelum ia benar benar meninggalkan tempat itu.
Setelah memastikan Reyhan keluar, kedua nya pun menghela nafas lega. Namun Naira masih saja tidak berkedip.
"Woy, si Reyhan uda pergi masih mau ngelamun lo?!" Farida menyenggol bahu Naira yang berada disebelahnya itu. Dan Naira pun langsung tersadar, ia melihat sekelilingnya. Dan benar lelaki itu sudah tidak berada di depannya.
Uhuk uhukk..
"Tha, gimana keadaan lo?!" Raisya mendekati Thalia yang perlahan membuka matanya.
"Gue dimana??"
"Uks."
Merasa ada benda yang ia genggam Thalia melihat tangannya. Benar saja disana terdapat sapu tangan navy entah punya siapa.
"Kata Reyhan lo belum sarapan, beneran Tha??" Tanya Farida. Thalia menolehkan kepalanya menatap ketiga sahabatnya itu, lalu ia mengangguk pelan. Saat tau jawaban Thalia, Naira dan Farida memutuskan untuk membelikan gadis itu sebungkus nasi di kantin sekolah.
•••
"Kita disuruh nampilin lagu duet di prom night sekolah," perkataan Zidan yang baru memasuki ruang musik itu berhasil menyita perhatian ketiga laki-laki lainnya.
"Engga bisa gitu dong. Reyhan adalah single vocal kita," Darrel pun terlihat cukup sewot dengan ucapan Zidan.
"Iya gue juga tau pe'a, ini juga bukan gue yang minta. Tadi waktu kumpul gue disuruh gitu sama panitianya."
"Ya lo tolak lah, bego!!" Andra menimpali.
"Mana bisa gue mbantah, orang yang nyuruh waka kesiswaan langsung. Noh om nya si Reyhan."
Reyhan yang merasa namanya disebut pun akhirnya merespon, "apa?"
"Om lo tuh yang nyuruh kita nampilin lagu duet." Mendengar itu Reyhan menghela nafas. Jika sudah bersangkutan dengan om tercintanya itu pasti nanti akhirnya akan memakai ancaman melapor ke papa nya. Dan Reyhan tidak suka itu.
Reyhan menatap ketiga temannya, "ga ada pilihan??"
"Kalo ada pilihan pasti si Zidan uda milih kali Rey," ujar Andra.
"Yaudah lah mau gimana lagi, lo engga keberatan kan Rey?!" Darrel menatap sobat karibnya itu. Reyhan haya mengedikkan bahu yang berarti ia menjawab terserah.
"Kalo gitu siapa yang pantes jadi vokalis ceweknya?" Zidan bertanya seperti itu karena ia tidak begitu mengetahui siapa siswi yang bersuara merdu. Bukan merusak dunia, tetapi merdu dengan arti yang sesungguhnya.
"Kalo nyari cewek sih gampang, apa lagi kalo tau bisa manggung sama bintang sekolah kita. Ya nggak Rey??" Sahut Darrel sembari melirik Reyhan dengan senyum miring dibibirnya.
Mendengar itu Reyhan melempar tatapan tajamnya, "kalo sampe kalian cari cewek yang kayak gitu. Gue yang mundur jadi vokalis," ujarnya dingin.
Darrel tertawa garing, "gue cuma bercanda kali Rey, yakali kita nyari yang gitu."
"Udah-udah, gimana kalo Thalia sekelas gue??" Andra mengusulkan Thalia karena menurutnya gadis itu memiliki suara yang patut diacungi jempol. Mendengar nama yang tak asing di telinganya Reyhan pun mengangkat sedikit alisnya.
"Thalia??" Zidan beralih menatap Reyhan yang memperlihatkan raut datarnya, "bukannya dia cewek yang nyariin lo kemarin di kelas Rey?!" Ucapan Zidan itu berhasil mendapat tatapan tajam dari Reyhan. Dan Zidan hanya bisa menyengir kuda.
"What?? Lo kenal Thalia Rey?!" Tanya Andra yang sedikit tidak yakin dengan ucapan Zidan. Pasalnya Thalia di kelas tidak terlihat seperti cewek pemburu cogan di sma nya. Malahan gadis itu terkesan tidak memperdulikan siapa saja yang termasuk dalam list cogan SMA Syailendra. Dan gadis itu juga bukan gadis famous, jadi bagaimana bisa Reyhan kenal dengan Thalia??
"Engga kenal, cuma tau."
"Yee itu sih sama aja pe'a,"
"Emang lo yakin dia pantes manggung bareng kita??" Tanya Darrel.
"Yakin, dia suaranya beuh bagus banget, pas banget sama suaranya si Reyhan. Anak nya juga engga neko-neko, cantik juga dan ba--"
"Ga perlu spesifik juga kali Ndra," potong Darrel.
Andra tertawa garing. "Ya pokoknya gitu. Gimana, kalian setuju ga??"
Zidan dan juga Darrel bersamaan mengangguk menyetujui usul Andra. Sedangkan Reyhan? Lelaki itu masih mempertimbangkan banyak hal.
Dari sudut pandang Reyhan yang baru mengetahui sosok Thalia itu ia merasa gadis tersebut tidak banyak gaya seperti kebanyakan wanita yang mengejarnya. Dan lagi sepertinya gadis itu tidak begitu mengetahui tentang siapa dirinya, atau mungkin dia sama sekali tidak mengetahui nya?
Setelah lama terdiam, akhirnya Reyhan mengangguk. Setelah mempertimbangkan hal tersebut ia menyetujui saran Andra. Karena pikirnya tidak buruk juga menerima gadis itu, daripada ia harus menerima gadis yang fanatik terhadap dirinya itu pasti akan lebih merepotkan.
"Oke. Kalo gitu gue langsung tanyain anaknya sekarang." Andra langsung beranjak dari duduknya, lalu berlari kecil keluar ruang musik yang katanya mau mencari keberadaan Thalia.
Dilain tempat, Thalia sedang duduk merumpikan sesuatu bersama ketiga temannya. Salah satunya rumpi soal cogan di sekolah mereka. Ya biasalah cewek sukanya rumpi.
"Kalian tau nggak gue tadi waktu berangkat papasan sama Reyhan. Gue heran deh dia engga senyum gitu bisa mempesona banget, apalagi kalo dia senyum ya? Bisa meleleh ditempat kali gue." Cerocos Naira.
"Alay lu Ra," respon Raisya dengan tertawa kecil melihat reaksi sahabatnya itu.
"Engga alay, ini tuh ya berarti gue masih waras. Soalnya gue tau mana yang ganteng." Ketiga perempuan lainnnya tertawa menanggapi ucapan Naira.
Tatapan Naira beralih ke arah Thalia yang duduk sebangku dengan dirinya, "eh tapi, lo beneran sedikit pun engga baper sama Reyhan kan, Tha?!"
Thalia menggeleng, "nggak lah, ngapain juga gue baper sama dia." Ia menepuk pelan bahu Naira, "tenang aja Ra gue dukung lo kok sama si Reyhan itu."
"Tapi kemarin lo ke kelasnya si Reyhan kan, Tha?!" Tanya Naira lagi. Dan Thalia pun mengangguk.
"Santai aja Ra, gue engga ngapa ngapain kok, gue cuma ngembaliin sapu tangan yang dia pinjemin waktu gue pingsan." Jelas Thalia. Naira lun hanya bisa ber O ria.
"Oke uda ya bahas si cogan itu, bahas cogan yang lainnya aja gimana?!" Tawar Farida. Ketiganya pun mengangguk mengiyakan.
"Tha, Thalia!!" Panggilan heboh itu menyita perhatian ke empat gadis yang tengah berkumpul di bangku tengah. Terlihat Andra memasuki kelas dengan tidak santai.
Andra menghampiri dimana Thalia duduk, lalu ia tersenyum ke arah gadis itu. Thalia hanya bisa menyerngitkan dahi nya.
"Kenapa Ndra lo masuk ga pakek salam eh sekarang main senyum-senyum di depan Thalia, lo mau nembak Thalia?!" Sewot Raisya yang merasa terganggu dengan kehadiran Andra.
"Nembak?? lo kira gue tentara main nembak orang?!"
"Udah-udah, emang lo ada perlu sama gue?? Ganggu kita aja," sekarang Thalia lah yang berbicara, pasalnya jika Raisya dan Andra tidak segera di lerai pasti akan panjang jadinya. Biasalah kucing sama tikus yang susah akurnya.
Lagi-lagi Andra tersenyum ke arah Thalia, "lo mau jadi Vokal kita Tha??"
"What??" Ke empat gadis itu terkejut bukan main. Vokal? Apa cowok di depan mereka ini ngelindur??
"Ish, iya vokal. Sampe promnight sekolah doang kok. Mau ya??"
"Tunggu-tunggu, bukannya vokal band lo itu Reyhan ya?!" Sahut Naira karena ia merasa seperti ada yang janggal. Karena ia tau pasti vokal ZIDARE Band adalah Reyhan, lelaki yang telah menyita perhatiannya akhir-akhir ini.
Andra mengangguk, "iya emang, tapi kita nyari vokalis cewek buat prom night sekolah nanti." Naira cukup terkejut, ia kembali menyandarkan punggungnya, berusaha mengontrol emosinya.
Merasa tidak enak, Thalia menoleh ke arah Naira sekilas. Lalu kembali menatap Andra, "emang harus gue Ndra?! Gabisa yang lain gitu?!" Ia bingung harus menjawab apa tawaran Andra.
"Engga Tha, temen-temen gue juga udah setuju kok. Lagian ini kesempatan lo buat ngembangin bakat terpendam lo itu," Andra berusaha meyakinkan Thalia, karena ia sangat berharap gadis di depannya ini menyetujui ajakannya.
"Yaudah lah Tha terima aja tawaran Andra, lagian Andra juga bener mungkin ini salah satu jalan biar lo bisa ngembangin bakat lo," sahut Naira yang menatap Thalia dengan senyum di bibirnya.
Senyum fake. Thalia tau jelas senyum yang terbentuk di bibir Naira hanyalah senyum fake. Bukan bermaksud apa-apa, karena ini ada sangkut pautnya dengan Reyhan, lelaki yang disukai sahabatnya itu.
Thalia menghela nafasnya, lalu kembali menatap Andra yang berdiri di sebelahnya, "oke gue mau, tapi setelah prom night selesai gue udah nggak ada urusan lagi sama kalian kan?!"
"Iya Tha, sampe promnight." Andra pun senang mendengar jawaban dari teman sekelasnya ini. "Yaudah yuk!!" Tanpa ba bi bu, Andra menarik tangan Thalia.
"Eh mau lo bawa kemana sahabat gue?!" Teriak Raisya, karena ia cukup terkejut dengan apa yang cowok itu lakukan.
"Gue pinjem bentar!!" Balas Andra dengan suara cukup keras, karena jarak mereka sudah cukup jauh.
•••
"Hai Thalia," sapa Darrel dan Thalia hanya bisa tersenyum membalasnya.
Andra menepuk bahu Thalia pelan, "santai aja kali Tha sama kita. Lagian kita juga engga akan jahatin lo kok,"
"Sebelumnya gue mau memperkenalkan diri. Gue Zidan, Zidan Ramaditya kelas 11 Ipa 1."
"Gue Darrel. Darrel Mauren kelas 11 Ipa 3,"
"Reyhan." Hanya itulah kata yang diucapkan oleh Reyhan.
Tatapan Zidan beralih ke arah Reyhan yang sedang duduk disofa ruangan, "Bro, kenalan yang bener dong." Saat mengingat sesuatu Zidan menepuk keningnya, "oh ya lupa gue, kalo kalian udah saling kenal."
"Gue Thalia Khairunnisa. Semoga gue engga merepotkan kalian kedepannya," Thalia tersenyum setelah mengucapkan kalimat balasan itu.
Senyum itu berhasil tertangkap pengelihatan Reyhan. Dan laki-laki itu bisa pastikan bahwa Thalia telah mengeluarkan senyum tulusnya.
"Yaudah ayo kita mulai latihan." Reyhan beranjak dari duduknya. "Gue udah milih lagu apa yang akan kita tampilkan nanti," lanjutnya.
•••
Sudah beberapa minggu ini Thalia menjadi anggota band ZIDARE. Latihan pun kerap mereka lakukan. Ya mau bagaimana lagi, karena promnight akan dilaksanakan tanggal 7 bulan depan.
"Tha, kita mau out lo mau ikut ngga??" Tawar Naira yang duduk di sebelah bangku Thalia.
Karena bel pulang sudah berbunyi beberapa menit lalu, mereka berencana keluar jalan-jalan. Seperti yang dilakukan siswi-siswi seusia mereka.
Thalia mendongakkan kepalanya. "Sorry guys gue ngga bisa ikut. Ada latihan," Thalia dengan berhati hati menjawab. Sesungguhnya ia ingin sekali ikut keluar dengan ketiga sahabatnya. Tapi, chat yang dikirimkan Zidan di grup membuat Thalia mau tak mau harus menolak ajakan mereka.
"Ya Tha gpp, next time ayo kita keluar ber empat, " ujar Farida. Thalia pun mengangguk dengan senyum dibibirnya.
"Ayo Tha!!" Ajak Andra yang sudah berada di pintu kelas mereka.
Thalia beranjak dari bangkunya, "gue duluan ya. Take care ya kalian," dan setelah itu ia berlari kecil menghampiri Andra, lalu mereka melangkah pergi menuju ruang musik.
"Semenjak itu Thalia jadi jarang keluar bareng kita," Raisya berucap pelan.
"Ya itu juga kewajiban dia." Timpal Naira. "Yauda yuk keburu sore," ajaknya.
Di lain tempat. Ke lima manusia ciptaan Tuhan itu telah berkumpul. Mereka telah siap diposisi masing-masing.
Lagu itu mereka bawakan dengan sangat apiknya. Dua vokalis yang menyanyikan pun seperti masuk kedalam lagu yang mereka nyanyikan.
Kedua insan itu saling tatap. Mereka sangat menghayati nya. Seakan akan mereka berbicara lewat tatapan mata itu.
"Sumpah gue kayak lihat artis yang nyayi tau nggak, penghayatan kalian tuh beuhh mantull," puji Andra dengan melebih lebihkan nya saat mereka mengakhiri latihan tersebut.
"Alay," jitakan dari Reyhan pun mendarat sempurna di kepala Andra. Dan Andra hanya bisa mengaduh pelan.
Mereka tertawa melihat aksi kedua laki-laki tersebut. Tak terkecuali Thalia. Ia sempat berfikir berada diantara mereka tidak akan semenyenangkan ini. Namun, realitanya hampir setiap hari ia dibuat tertawa karena kelakuan aneh Andra maupun yang lainnya. Tanpa sadar senyum mengembang dibibirnya. Dan saat itu pula diantara mereka ada yang menangkap senyum itu, dan tanpa sadar pula ia juga mengembangkan senyum nya.
"Yee malah ketawa. Penilaian gue itu engga pernah salah tau nggak." Ucap Andra memperkuat opini pertamanya.
"Tapi gue setuju sama pendapat Andra. Kalian tuh ya yang engga pacaran aja bisa nyanyi sedalem ini, gimana nanti kalo kalian pacaran ya?!" Timpal Darrel dan saat itu juga ia mendapat jikatan kedua yang Reyhan keluarkan.
"Sakit bro,"
"Ya makanya tu mulut kalo ngomong difilter dulu."
"Iya-iya elah, awas aja kalo nanti kalian beneran jadian."
Tatapan tajam itu Reyhan lemparkan, "lo nggak diem, gue jamin pulang lo tinggal nama!!"
"Ampun ma boss,"
•••
Waktu berlalu begitu cepat nya. Hati yang beku itu tanpa sadar perlahan mencair. Mungkin benar apa yang dikatakan orang, bahwa terkadang jatuh cinta bisa datang karena terbiasa. Dan mungkin itu yang dirasakan oleh cowok yang hampir tidak pernah memikirkan nya.
"Tha," merasa ada yang memanggil, Thalia memberhentikan langkahnya.
Ia tersenyum kepada sang pemanggil, "ada apa Rey??"
Sore itu latihan mereka diakhiri lebih awal daripada biasanya. Alasan nya simpel, karena langit cerah sudah ditutupi awan mendung.
"Pulang sama??" Tanya Reyhan dengan melanjutkan langkah kakinya. Thalia pun mengikuti langkah lelaki tersebut, dan berusaha menyeimbangi nya.
"Pulang?? Hari ini abang gue engga bisa jemput, ya jadinya gue naik ang--"
"Bareng gue!!" Putus Reyhan tiba-tiba.
Thalia menyerngitkan keningnya, apa laki-laki di sebelahnya ini tidak salah bicara?? "Ha??"
"Ck. Lama," akhirnya Reyhan langsung menarik pergelangan gadis itu.
Mungkin tuhan berkehendak lain. Saat hendak menuju parkiran air hujan itu sudah menjatuhkan diri di bumi tercinta ini.
"Gue lupa bawa mantel, Tha." Tanpa di tanya Reyhan berkata kepada Thalia..
"Oh, yauda tunggu hujan nya reda aja. Gimana kalo kita neduh di pos satpam dulu?!" Reyhan mengangguk menyetujui usul Thalia. "Gue gpp kok hujan hujan sampe pos satpam," lanjut gadis itu.
Tanpa diperintah, Reyhan melepas jaket yang sedari tadi ia pakai. Ia memakainya untuk menutupi kepala nya dan juga Thalia. Meskipun ia tau akan tembus, setidaknya tidak sebasah jika mereka menerobos langsung.
"Baju lo basah, Tha." Tukas Reyhan saat melihat beberapa bagian di baju Thalia terlihat basah.
Thalia tersenyum menanggapi ucapan Reyhan. "Santai aja Rey, lagian besok kan udah ganti seragam." Senyum itu masih setia menghiasi bibir mungil nya. Dan lagi lagi tanpa sadar Reyhan ikut tersenyum. Mereka pun saling bertukar tatapan selama beberapa menit.
Disisi lain, ada seorang cewek yang melihat keduanya. Payung yang semula ia bawa pun tanpa sadar terlepas dari genggamannya.
"Thalia.." suara itu cukup keras hingga empunya nama pun melepaskan kontak mata itu dan mencari sumber suara.
Terkejut. Thalia sangat terkejut siapa yang berdiri tak jauh dari dirinya dan juga Reyhan berada. Ia langsung berlari menghampiri gadis yang hendak pergi dari tempat itu. Ia sudah tidak mempedulikan hujan deras yang turun.
Thalia mencekal tangan gadis itu, "Ra, gue bisa jelasin."
Naira membalikkan tubuhnya, air mata itu pun tanpa permisi keluar dari kelopak matanya. "Apa lagi yang akan lo jelasin Tha?? Ini semua sudah cukup jelas bagi gue," ujarnya dengan suara sedikit bergetar.
"Ini semua engga seperti yang lo pikirkan Ra," mata Thalia pun sudah mulai memanas.
"Lo munafik Tha," ucapan Naira itu berhasil membuat Thalia terdiam. "Gue kecewa sama lo Tha. Gue nyesel percaya sama omong kosong lo itu. Dan ternyata lo semunafik ini Tha. Gue salah apa sama lo sampe lo tega ngencurin hati sekaligus kepercayaan gue??" Tangis Naira pun tak bisa dibendung lagi.
"Gue--"
"Lo ga perlu jelasin apapun lagi. Karena gue rasa perasaan lo itu tumbuh tanpa sepengetahuan lo." Naira menatap lekat mata Thalia, "lo engga sadar kalo lo udah mulai jatuh cinta ke dia Tha!! Lo berusaha menolak perasaan lo itu, karena lo tau gue juga suka sama dia. Tapi lo sendiri semakin jatuh ke dalamnya."
"Lo udah bohongin diri lo sendiri, lo udah bohongin gue, lo udah bohongin pertemanan kita Tha." Lanjut gadis itu dengan tangis yang semakin menjadi jadi, "kalau gue tau akhirnya akan seperti ini, gue enggak akan pernah percaya sama omongan lo. Gue kecewa karena gue udah percaya waktu lo bilang lo sedikitpun enggak punya perasaan yang sama ke dia. Dan juga dengan mudahnya gue percaya atas dukungan lo."
"Tapi nyatanya apa tha?!" Naira mendorong tubuh Thalia, dengan frustasi pula ia mencekal kedua lengan Thalia. "Nyatanya lo sendiri yang berada di posisi itu!!"
Thalia tak bisa berkata kata lagi. Sekarang ia sadar, bahwa semua yang dikatakan oleh Naira benar. Ia salah, sangat sangat salah. Tangis Thalia pun semakin menjadi jadi. Karena sebelumnya ia tidak akan mengira akan berakhir seperti ini.
Tatapan Naira sudah berubah tak seperti tatapan hangat yang biasa ia perlihatkan, "mulai detik ini, lo bukan lagi sahabat yang gue sayangi. Gue kecewa sama lo, gue benci sama lo, Tha!! Setelah ini gue akan melupakan kalau gue pernah kenal manusia kayak lo!!" Ujar gadis itu dengan penuh penekanan, "gue nyesel pernah kenal sama lo!!" Lanjut Naira sebelum gadis itu melenggang meninggalkan Thalia dengan tangisnya.
Thalia terduduk. Ia melihat langkah Naira yang semakin menjauh, "maafin gue Ra, maafin gue. Gue emang munafik. Gue udah jahat sama lo. Gue udah tega sama lo. Maafin gue Ra!!"
"Tha, jangan hujan-hujan, nanti lo sakit." Reyhan yang merasa tak tega itu akhirnya memutuskan untuk membujuk Thalia agar kembali meneduh.
"Gue pengen sendiri Rey!! Gue mohon lo pergi dari sini sekarang!!" Thalia mengucapkan itu dengan nada dinginnya. Ia harap lelaki itu bisa mengerti.
"Tapi Tha--"
"Pergi Rey!! Pergi!!" Sentak Thalia. Reyhan akhirnya menuruti ucapan perempuan itu, lalu ia melangkahkan kaki menjauhi Thalia yang terduduk lesu.
Sore itu, langit menangis seperti merasakan apa yang telah terjadi dengan kedua perempuan tersebut. Air hujan itu berhasil menyamarkan air mata yang jatuh membasahi pipi Thalia. Suara hujan pun telah menyamarkan suara tangis yang dikeluarkan oleh Thalia. Namun, kehancuran hubungan pertemanan nya itu tak bisa disamarkan oleh apa pun. Karena tak bisa dihindari, hubungan mereka telah retak. Dan Thalia pun tak mengetahui kedepannya nanti akan menjadi seperti apa.
•••
Semenjak kejadian sore itu pertemanan mereka sepertinya benar-benar berakhir. Naira yang awalnya sebangku dengan Thalia itu pun bertukar tempat dengan seorang siswi. Raisya dan Farida yang mengetahui kenyataannya juga ikut menjaga jarak dengan Thalia. Meskipun nyatanya mereka tidak mengharapkan hubungan pertemanan yang telah mereka bangun selama dua tahun ini berakhir begitu saja. Hanya saja mereka butuh waktu untuk menenangkan pikiran dan mereka saat ini butuh jarak.
Disamping hubungan pertemanan itu Thalia juga memutuskan untuk mengundurkan diri dari band ZIDARE. Meskipun Andra, Zidan, maulun Darrel sudah membujuknya untuk kembali tapi Thalia masih berpegang teguh pada keputusannya.
Waktu selalu berjalan tanpa melewatkan satu detik pun. Dan prom night akan diadakan lusa. Akhirnya ke empat laki-laki itu mengetahui apa masalah yang berhasil membuat vokalis cewek mereka itu mengundurkan diri. Dan selama itu pula mereka telah membujuk Thalia untuk kembali. Tapi nihil perempuan itu tetap menolak.
"Tha!!" Andra mencekal tangan Thalia yang hendak menghindarinya lagi.
"Gue laper Ndra. Gue mau ke kantin!!" Alibi yang dilontarkan Thalia itu terdengar cukup dingin. Kelas yang ramai itu, sekarang hanya meninggalkan mereka berdua di dalamnya.
"Lo engga bisa terus menghidar seperti ini. Lusa kita tampil Tha!! Udah engga ada lagi waktu untuk cari pengganti lo!!" Andra menatap lekat mata Thalia, ""gue tau apa yang udah terjadi sama kalian. Tapi lo juga engga bisa mengorbankan band kita. Gue tau ini berat buat lo. Tapi tolonglah Tha, sekali ini aja lo buang keegoisan lo. Untuk terakhir kalinya tolong lusa ikut kita tampil. Gue janji setelah itu selesai gue, Zidan, Darrel ataupun Reyhan engga akan ganggu hidup lo lagi!!" Dengan sekuat tenaga Thalia menahan agar air matanya itu tak kembali tumpah.
Andra melepas cekalan tangannya, "gue harap lo bisa ngerti Tha!! Dan gue harap lo bisa memilih pilihan yang tepat." Setelah mengucapkan itu Andra melangkahkan kaki meninggalkan Thalia sendiri. Ia yakin bahwa Thalia pasti juga butuh waktu untuk menentukan pilihan nya. Antara perasaan atau kewajibannya.
•••
Kini tiba lah hari dimana promnigt diadakan. Pihak sekolah mengadakan acara tersebut bukan untuk hal negatif. Melainkan mereka bermaksud memberikan hiburan kepada muridnya sebelum dilaksanakan nya ujian akhir semester. Karena bagi mereka jika otak para siswa sedikit fresh maka ujian pun tidak akan mereka anggap berat. Walaupun acaranya ber label promnight, mereka pun melarang murid-muridnya melakukan hal negatif, seperti minum ataupun hal negatif lainnya.
Dan hari ini pula seluruh murid SMA Syailendra menyulap dirinya menjadi orang berbeda dari biasa mereka di sekolah. Aura murid-murid cowok berubah saat mereka berpakaian seperti hari ini. Dan ini lah surga dimana para murid cewek bisa melihat kegantengan cowok itu. Begitu pula sebaliknya.
"Selamat malam wahai putri dan pangeran SMA Syailendra!!" Sambut salah satu Mc prom night saat itu.
Dengan terdengarnya suara Mc tersebut, membuat seluruh siswa memberhentikan aktivitasnya. Dan pandangan mereka fokus pada panggung yang terletak di ujung ruangan.
Setelah memberikan beberapa kata pembuka Mc pun mempersembahkan beberapa penampilan kepada masyarakat SMA Syailendra tersebut.
Di tengah keramaian entah kenapa Thalia merasa dirinya kesepian. Prom night kali ini akan jauh dari apa yang telah ia perkirakan sebelumnya. Tak ada Naira, Raisya, ataupun Farida yang biasanya menemaninya menikmati moment yang patut di abadikan ini. Jauh di dalam lubuk hati nya, Thalia rindu dengan ketiga sahabatnya.
Saat matanya mulai memanas Thalia berusaha menongtrolnya. Ia tak bisa menangis di saat semua orang berbahagia dengan orang tersayang mereka.
"Selamat malam," suara yang terdengar dipenjuru ruangan itu berhasil membuat Thalia melemparkan pandangannya ke arah panggung. Reyhan. Reyhan lah yang berucap.
Rupanya band ZIDARE sudah siap di atas panggung. Tentu saja tanpa Thalia diantara mereka. Saat hendak mengurungkan keputusannya semalam, perkataan Reyhan setelah itu kembali meyakinnya Thalia untuk tetap berada pada keputusannya.
"Kita sekarang akan menyanyikan satu lagu pembuka, dan setelah ini kita akan membawakan lagu special dengan orang yang special pula." Kalimat yang cukup panjang itu diucapkan oleh Reyhan. Namun matanya terus menyapu seluruh ruangaan. Saat ia menemukan objek yang ia cari, Rayhan pun tersenyum.
Dan seperti biasa, kaum hawa cukup histeris melihat para most wanted tampil di depan mereka dengan penampilan yang dapat membuat mereka meleleh saat itu juga.
Petikan gitar oleh Andra itu mulai terdengar. Gemuruh tepuk tangan pun mulai terdengar.
Sunrise with you on my chest
Suara merdu itu mulai menggema di gedung yang cukup luas itu.
No blinds in the place where I live
Daybreak open your eyes
'Cause this was only ever meant to be for one night
Still, we're changing our minds here
Be yours, be my dear
So close with you on my lips
Touch noses, feeling your breath
Push your heart and pull away, yeah
Be my summer in a winter day love
I can't see one thing wrong
Between the both of us
Be mine, be mine, yeah
Anytime, anytime
Ooh, you know I've been alone for quite a while
haven't I? I thought I knew it all
Found love but I was wrong
More times than enough
But since you came along
I'm thinking baby
Gemuruh tepuk tangan beserta sorakan itu semakin menggema memenuhi gedung tersebut.
You are bringing out a different kind of me
There's no safety net that's underneath, I'm free
Falling all in
You fell for men who weren't how they appeared, yeah
Trapped up on a tightrope now we're here, we're free
Falling all in you
Fast forward a couple years, yeah
Grown up in the place that we live
Make love, then we fight
Laugh 'cause it was only meant to be for one night baby
I guess we can't control
What's just not up to us
Be mine, be mine, yeah
Anytime, anytime
Ooh, you know I've been alone for quite a while
haven't I? I thought I knew it all
Found love but I was wrong
More times than enough
But since you came along
I'm thinking baby
Tatapan mata Reyhan tidak lepas dari cewek yang berada di ujung ruangan tersebut. Senyum pun masing mengembang dibibirnya.
You are bringing out a different kind of me
There's no safety net that's underneath, I'm free
Falling all in
You fell for men who weren't how they appear
Trapped up on a tightrope now we're here, we're free
Falling all in you
Every time I see you baby I get lost
If I'm dreaming, baby, please don't wake me up
Every night I'm with you I fall more in love
Now I'm laying by your side
Everything feels right since you came along
I'm thinking baby
Thalia pun tau mata cowok tersebut mengarah ke mana. Senyum itu, senyum yang mengandung banyak arti bagi Thalia. Senyum itu pula yang dapat membuat nya jatuh pertama kali. Senyum yang entah mengapa selalu hinggap di benaknya. Karena merasa cukup, Thalia pergi dari tempatnya berdiri semula. Dan ia menuju tempat yang telah ia persiapkan hatinya untuk menuju ke sana.
You, yeah, are bringing out a different kind of me
There's no safety net that's underneath, I'm free
Falling all in
You fell for men who weren't how they appear (Ooh)
Trapped up on a tightrope now we're here, we're free
Falling all in
Untuk kesekian kalinya tepuk tangan itu bergemuruh hebat menutup penampilan ke empat cowok most wanted itu. Mereka dirasa berhasil dalam membawakan lagu Shawn Mendes yang berjudul Falling all in you itu.
"Lagi!! Lagi!! Lagi!!" Sorak sorai itu terdengar dari seluruh murid yang berada di sana.
"Sepertinya para masyarakat Syailendra sangat menikmati penampilan most wanted kita ya kan Rel," ujar Tiara selaku Mc yang muncul dari samping panggung. Diikuti seorang cowok yang memakai warna jas senada dengan nya.
"Bener banget, katanya sih mereka mau membawakan lagu duet. Apakah benar seperti itu??" Farel pun melemparkan pandnagnnya ke arah ke empat cowok yang masih tak bergeming dari tempat mereka.
Zidan tersenyum. Ia mengangguk samar, karena ia tidak yakin apakah mereka jadi menampilkan lagu seperti rencana awal atau tidak. "Yah kita belum ya--"
"Ini dia yang ditunggu, berikan tepuk tangan kalian kepada Thalia selaku vokalis cewek mereka!!" Ucapan Tiara yang memotong ucapan Zidan itu berhasil mengalihkan penandangan penonton. Tak terkecuali Zidan, Darrel, Andra dan Reyhan.
Terkejut. Cewek yang datang dari belakang panggung dengan dress selututnya berhasil membuat keempatnya terdiam. Senyum itu telah kembali. Dan keempatnya pun ikut tersenyum melihat Thalia yang sudah berada diatas panggung bersama mereka.
Setelah Mc mempersilahkan ZIDARE band membawakan lagu mereka selanjutnya, Thalia pun segera menempati tempatnya.
Tak ada sedikit pun sesalku
Suara merdu Reyhan itu kembali terdengar. Disusul tepuk tangan dari siswa siswi SMA Syailendra tersebut.
Telah bertahan dengan setiaku
Walau di akhir jalan
'Ku harus melepaskan dirimu
Ternyata tak mampu kau melihat
Kini giliran suara Thalia yang menggema. Ia menatap lurus cowok di depannya itu.
Dalamnya cintaku yang hebat
Hingga ada alasan
Bagimu 'tuk tinggalkan setiamu
Demi nama cinta
Suara Reyhan dan juga Thalia bercampur dalam nada tersebut. Iris mereka saling bertemu. Seakan akan mereka telah berbicara lewat tatapan tersebut.
Telah kupersembahkan hatiku hanya untukmu
Telah kujaga kejujuran dalam setiap napasku
Karena demi cinta
Telah kurelakan kecewaku atas ingkarmu
Sebab 'ku mengerti cinta itu tak mesti memiliki
Andai saja bisa kau pahami
Layaknya arti kasih sejati
Karna cinta yang sungguh
Tiada akan pernah mungkin bersyarat
Demi nama cinta
Telah kupersembahkan hatiku hanya untukmu
Telah kujaga kejujuran dalam setiap napasku
Karena demi cinta
Telah kurelakan kecewaku atas ingkarmu
Sebab 'ku mengerti cinta itu tak mesti memiliki
Seperti ucapan Andra dan Darrel, mereka berdua berhasil membuat penonton hanyut terbawa nyanyian mereka. Mimik wajah yang keduanya hanya memperlihatkan ketulusan. Nyanyian itu bukan hanya sekedar nyanyian biasa. Thalia maupun Reyhan seperti telah mencurahkan perasaan mereka ke dalam lagu tersebut.
Demi nama cinta
Telah kupersembahkan hatiku hanya untukmu
Telah kujaga kejujuran dalam setiap napasku
Karena demi cinta
Telah kurelakan kecewaku atas ingkarmu
Sebab 'ku mengerti cinta itu tak mesti memiliki
Demi cinta
Tepuk tangan dan sorakan yang menggema itu menyambut akhir lagu yang mereka bawakan.
"Tha, makasih uda mendengarkan permintaan kami," ujar Zidan saat mereka sudah berada di belakang panggung.
Thalia mengangguk dengan senyum dibibirnya, "sama sama, makasih juga kalian udah menerima aku kembali."
Zidan, Andra dan juga Darrel tersenyum. Berbeda dengan Reyhan, cowok itu hanya melemparkan tatapan yang sulit untuk diartikan.
Tak lama setelah itu, Reyhan mencekal tangan Thalia lalu membawa gadis itu entah kemana. Ke tiga cowok itu memutuskan untuk tidak mengikuti mereka, karena mereka tau bahwa kedua insan tersebut membutuhkan waktu untuk berbicara.
Rooftop adalah dimana tempat Reyhan membawa Thalia. Semilir angin malam pun seakan akan menyambut merek. Ah rupanya Thalia pun baru tau ada tempat sebagus ini di atas gedung luas itu.
"Kenapa??"
Thalia mengalihkan pandangannya, ia menyerngit. Ia tak mengerti maksud pertanyaan Reyhan yang terkesan ambigu itu.
"Kenapa lo pergi secara tiba-tiba?!"
Thalia melepas paksa cekalan tangan cowok itu, "lo engga tau apa yang gue rasakan Rey,"
"Gue tau, Tha," jawab Reyhan cepat. "Lalu apa lo bisa peduli dengan perasaan gue??" Reyhan menatap lekat manik mata Thalia.
"Gue engga bisa terus berada di posisi ini Rey. Posisi dimana gue secara tidak langsung menyakiti hati sahabat gue." Nada suara Thalia memelan.
"Tapi perasaan itu engga bisa dipaksa dan juga engga bisa diatur. Gue sendiri engga tau mulai kapan hati gue tertarik sama lo. Meskipun selama itu gue coba menolak, tapi apa hasilnya?? Nihil Tha, gue engga bisa lupain lo disaat lo menjauh dari kita."
"Lo berhasil merubah hati gue, Tha." Lanjut Reyhan.
Thalia menggeleng pelan, "gue engga bisa Rey. Gue--"
"Tha," suara itu berhasil mengalihkan pandangan Thalia dan juga Reyhan.
Disana terlihat tiga perempuan yang berjalan menghampiri mereka dengan senyum dibibir masing-masing cewek tersebut.
Seperti mimpi. Thalia bisa melihat senyum yang selama ini ia rindukan.
"Naira.." tanpa berfikir panjang Thalia memeluk sahabat yang sangat ia rindukan itu. Tangis pun kembali dapat Thalia rasakan saat pelukan itu dibalas.
"Maafin gue Ra.." lirih Thalia.
Naira merenggangkan pelukannya, lalu ia menghapus air mata yang sempat membasahi pipi Thalia. "Udah gue maafin Tha. Disini gue juga salah. Dengan sekejap gue menghancurkan persahabatan kita karena ke egoisan perasaan gue sendiri. Gue saat itu terlalu memaksakan perasaan gue, yang gue sendiri tau bahwa cinta itu tidak bisa dipaksakan."
"Lo engga sepenuhnya salah, Tha. Lo pun engga bisa menolak rasa yang datangnya sendiri engga lo ketahui. Gue juga engga bisa menyalahkan keadaan, bukan keadaan yang memaksa kita berjalan ke arah mana, namun diri kita sendiri yang akan membawa kita berjalan ke arah mana. Dan karena ke kecewaan gue yang mendominasi, akhirnya waktu itu gue memutuskan itu. Memutuskan menjauhi lo dan membuat Raisya sama Farida juga menjauhi lo." Air mata itu kembali terlihat di kelopak mata Naira, "gue egois Tha. Gue egois udah mementingkan hati gue daripada persahabatan kita."
"Udah Ra, bukan hanya lo ataupun Thalia yang salah disini. Gue sama Farida juga salah. Bukannya menyelesaikan permasalahan kalian, tapi kami malah ikut menyalahkan." Timpal Raisya. Ia pun berjalan mendekati dimana Thalia dan Naira berada. Lalu ia memeluk mereka. Farida pun melakukan hal yang sama.
"Udah ya, sekarang kita baikan." Bisik Farida ditengah-tengah pelukan mereka.
Disisi lain Reyhan dan ketiga teman yang entah sejak kapan berada di sini itu menyaksikan bagaimana kisah persahabatan perempuan yang mereka kenali itu.
"Sweet banget ya mereka," ucap Darrel.
"Pertemanan cewek ya gitu. Unik. Kadang lo bisa dengan mudahnya berantem karena, dan gak lama kemudian baikan lagi." Sahut Zidan. Mereka disini sudah tau apa permasalahan yang dialami oleh Thalia, gadis yang tak lama ini akrab dengan mereka.
Andra pun mengangguk menyetujui ucapan Zidan. "Meskipun terkesan menye-menye, tapi cewek itu kalo temenan pake perasaan banget. Karena mereka juga memikirkan perasaan yang lain disaat apa pun itu," Andra bisa berkata demikian karena memang ia yang sudah berada dalam ruangan yang sama dengan ke empat perempuan itu. Dua tahun bukan termasuk waktu yang singkat, kan??
Ke empat perempuan itu menyudahi aksi pelukan mereka.
"Aduh make up gue luntur," celetuk Farida dan tawa pun pecah diantara mereka.
Raisya mendorong pelan Thalia untuk mendekat ke arah Reyhan, "udah sana Tha. Terima aja cinta Reyhan. Gue yakin dia juga tulus cinta sama lo kok,"
"Bener Tha, soalnya lo satu satunya cewek yang dapet perlakuan spesial dari sosok Reyhan Syailendra." Sahut Farida.
Mata Thalia pun beralih menatap Naira. Yang ditatap pun tertawa, "lo engga perlu memikirkan perasaan gue Tha. Gue udah ikhlas kok lo sama dia, asalkan lo bahagia kita juga bahagia kok Tha."
"Udan sana," dorongan pelan itu kembali diberikan oleh Raisya. Alhasil jarak Thalia dan Reyhan tak sejauh tadi.
Sebelum nya, Thalia mengusap air mata yang tertinggal dipipinya. Reyhan tersenyum melihat tingkah gadis itu.
"Gimana??"
Mendengar pertanyaan itu Thalia menghela nafasnya. Dan beberapa detik kemudian ia mengangguk pelan. Saat mengetahui jawaban yang cewek itu berikan, sorakan terdengar dari ke enam manusia yang menjadk saksi cinta mereka.
Merasa cinta nya terbalas, Reyhan membawa gadis itu dalam pelukannya. Meskipun ragu akhirnya Thalia membalas pelukan anak pemilik sekolah itu.
Dari sini Naira banyak belajar. Ia belajar bahwa tak semua hal dapat kita dapatkan. Ia diharuskan memilih, antara hal yang membahagiakan bagi dirinya sendiri ataupun hal yang bisa membahagiakan orang lain. Meskipun pada nyatanya merelakan salah satu diantara kedua hal itu sulit.
Dan dengan apa yang telah ia putuskan malam ini, ia dapat membuktikan bahwa cinta bukan selamanya hal yang dapat membuat kita bahagia. Bersama sahabat pun juga bisa membuat kita bahagia. Bahkan bisa melebihi kebahagiaan kehadiran sosok rasa yang bernama cinta itu.
Baginya persahabatan tak hanya sebatas keluar bareng, ke kantin bareng, ataupun ke toilet bareng. Tapi persahabatan ialah ikatan yang dapat membuat kita saling menghargai, membagi beban, dan juga membagi kebahagiaan.
Malam itu menjadi saksi bisu ketulusan cinta dan persahabatan diantara mereka. Ketulusan yang sangat sulit untuk dicari.
END~