Ditahun 2022 ini,Anakku sudah bertambah usianya 27 tepat umurnya sekarang,semoga apapun yang menjadi niatan serta tujuan terbaiknya selalu dalam Ridho sang pencipta semesata.Harapan demi harapan selalu aku panjatkan dalam sujud-sujudku pagi hingga malam untuk Anak-anakku.aku mempunyai 2 anak,anak pertamaku laki -laki dia sudah berkeluarga dan memiliki 2 buah hati.Namun cucu keduaku sangat di cintai oleh Tuhanku.
Mungkin dari sebuah kehidupan selalu ada garis besarnya yaitu selalu dalam ujian,aku merasa serba salah dan selalu aku termenung saat aku duduk sendirian,dimana letak kesalahanku sampai Tuhan menitipkan cobaan demi cobaan dalam kehidupanku.sempat aku menyerah,pasrah,tanpa daya.Namun aku kembali kuat melihat 2 anak-anakku yang sudah tumbuh besar di usiaku yang sudah hampir 60 tahun ini.
Harapan terbesarku kini adalah anak gadisku,sempat beberapa tahun yang lalu ada yang berkunjung kerumah untuk menanyai anak gadisku."Apakah anakmu sudah ada yang mendekati dan mencoba mengajaknya untuk kejenjang pernikahan".sempat beberapa hari aku mencoba menyakini Anakku supaya mencoba membuka atau menyipkan dirinya untuk berfikir tentang berkeluarga seperti teman seusianya.Anak gadisku seorang anak yang patuh apapun yang menjadi keinginanku,semua yang aku inginkan mencoba dia lakukan,dia kerjakan,dan dia patuhi.namun keinginanku yang sekarang mungkin begitu berat untuk dia wujudkan.Namun aku yakin anak gadisku mencoba dan berusaha mewujudkan keinginanku di usiaku saat ini.
Dulu kakaknya di usia 22 sudah ada keinginan untuk berumah tangga,namun mengapa berbeda dengan anak gadisku.Dia selalu bekerja dan selalu selalu bekerja,apa karena banyak orang yang dulu begitu mencacinya sehingga dia berusaha mewujudkan cita -citanya supaya orang tuanya tidak ingin di caci oleh orang diluaran sana.aku meyakini tekatnya kuat mewujudkan yang menjadi niatannya.Namun aku begitu was-was akan umurnya serta umurku juga,akankah aku mampu melihat dia menemukan dambaan hatinya yang bisa menyayanginya dengan penuh ketulus,mampu bertanggung jawab akan kehidupannya serta manjaga marwah anak gadisku,mampu mengajari anakku dengan imannya.yang menjadikan anakku satu-satunya dalam kehidupannya hingga akhirat.
Banyak pertanyaan demi pertannyaan dalam sujudku apa salahku sesungguhnya,apa mungkin ini jalan takdir anak gadisku mampu menjalani semua semua cobaan ini.begitu kuatnya dia.mungkin banyak mengeluhku,aku sadar pasti diluar sana aku tidak mendengar ucapan demi ucapan yang dia terima dari orang lain,sempat sewaktu dalam senggangan waktunya dia usahakan berbagi cerita walaupun harus aku pancing dulu dengan mendekatinya dan bercerita dikit untuk mengawali.
"bu,sebenarnya ada yang sedang mendekatiku saat-saat ini namun entah mengapa belum ada yang mampu membuatku nyaman bersamanya".
dalam hatiku sangatlah senang saat mendengar curhatannya,namun mungkin belum tepat dan terbaik untuk anak gadisku,aku tunggu kembali cerita hatinya dikemudian waktu.
Dihari pagi itu,saat bangun tidur anak gadisku selalu awal dalam bangun pagi,azan subuh berkumandang aku melihatnya disujud terakhir sholatnya hampir lama.entah apa yang anakku diskusikan kepada pencipta dan akhirnya aku tahu setelah aku usai menyelesaikan subuhku setelanya.anakku berkata " Alhamdulillah bu,aku lulus" begitu bersykurnya anakku di pagi itu menyampaikansalah satu harapannya teraih kembali dalam kesuksesannya bekerja.aku sangat terharu dan bahagia Anakku meraih apa yang dia harapkan.
Hingga beberapa kejadian yang anakku jalani selalu dia berbagi cerita,walaupun terkadang aku tidak menghiraukan apa yang dia kerjakan,Anak gadisku adalah seorang pengajar di salah satu satuan pendidikan yang ada di wilayah kamu tinggal.sejak dia kuliahpun dia berusaha semaksimal mungkin menjadi yang terbaik,dia berbeda dengan kakaknya walaupun dia seorang wanita aku meyakini niatannya mengangkat derajat keluarga tidaklah mudah apalagi dia anak terakhir yang berselisih 9 tahun dari kakaknya,memang jarak yang begitu jauh.tidak akan lagi aku mengulangi kesalahanku membanding-bandingan seorang buah hati karna mereka walaupun bersaudara tetaplah berbeda.aku harus penuh bersyukur memeliki mereka dalam kehidupanku.
Anak gadisku mulai berubah sikapnya,aku menyadari dia berniat kuat membuat orang tuanya selalu bahagia selalu tersenyum saat dekat dengannya walaupun terkadang aku terlalu tidak menghiraukannya,sempat anak gadisku keluar rumah tanpa izin pergi terlebih dahulu,dalam jauh aku melihatnya"semoga Tuhan selalu menjaganya di manapun dan kapanpun anakku berada,sungguh aku tidak sanggup melihatnya meneteskan air mata saat dia termenung sendirian,Tuhan tangguhkanlah anak gadisku".
Beberapa hari ini,anak gadisku tidak seperti biasanya,bahkan lebih perhatian dan penuh kesabaran selalu mencoba membuatku serta papanya tersenyum saat bersamanya,akupun juga memcoba menerima takdir yang saat ini tengah dijalani anak bungsuku.aku mencoba tenang,tidak membebani pikirannya tentang pertanyaan pertanyaanku tentang masalah pasangan hidupnya.Aku juga kuat meyakini pasti anakku juga penuh harapan serta keinginan berkeluarga dan memiliki buah hati seperti sahabat serta teman-temannya.selalu ku ingat kalimat yang anak gadisku sampaikan "Sungguh aku ingin dan selalu berharap dalam doa bertemu imam yang senantiasa bersama dan dalam sayu tujuan beribadah bersamanya dunia hingga akhirat tulus serta ikhlas bersamanya dalam ridho terbaik dari Sang Maha Agung".dalam mimiknya yang begitu percaya diri dan meyakini bahwa Tuhannya pemilik jalan takdir terbaik untuk gadis bungsuku.
Begitu banyak cerita yang Dia jalani,begitu banyak bukti yang dia wujudkan.sempat aku membuatnya kecewa akan kesimpulan hang aku dan papanya.sempat 4 tahun yang lalu ada seseorang laki-laki yang begitu dia yakini sebagai pilihanya namun kami tidak mensutujui akan hal tersebut dan anak gadisku memutuskan jalan terbesar dalam hidupnya dan mewujudkan perkataan papanya untuk fokus dalam sekolah dan pekerjaannya terlebeh dahulu.dan sekarang anak gadisku satu-persatu mewujudkan harapan kami yang dahulu sempat kami sampaikan harapan kami penuh kepadanya.
Lagi-lagi,kini anak gadisku begitu gila akan beberala pekerjaannya yang penuh dalam kesehariannya ,firasatku pasti anakku sedang tidak baik-baik saja,dimana dia begitu banyak dalam diam,menyendiri dikamarnya yang begitu wangi,dan berpamit pesan begitu singkat saat hendak pergi dari rumah.Dia memang tidak pernah mengeluh sedikutpun apa yang terjadi dan selalu menutupi akan kesehatan badannya.
Harus seperti apa lagi aku menghadapi anak bungsuku,bahkan disaat aku bersama suami duduk dan berbagi cerita bersama kami tiba -tiba saling menahan tangis.merasakan harus bagaimana mrmbuat anak bungsu kami bahagia.sempat ada tamu berkunjung kerumah untuk membahas persoalan yang sama tentang anak kami,setiap ada yang datang mrnanyainya akupun begitu bahagia namun kembali lagi mengapa tidak benar- benar dengan niatan yang sungguh untuk anakku dan membuatnya terpuruk akan hal ini.
"Bu,ada apa dan mengapa di kehidupanku cobaanku akan jalan asmara seperti ini,apa sebenarnya salahku,selalu berujung tetesan air mata dan sesak dalan batinku,Bu".