Di suatu malam, aku mendengar suara berisik dari dapur. Aku yang tadinya tertidur, jadi bangun karena suara tersebut.
'Apakah ada pencuri yang menyusup?' pikirku.
Aku berjalan pelan menuju dapur. Perlahan aku intip dahulu.
Betapa kagetnya aku, tatkala menyaksikan seorang gadis dengan sayap putih menjulang ke bawah. Tunggu, tunggu... apa aku salah lihat? Sayap? Mana ada manusia di dunia ini yang punya sayap?
Gadis bersayap itu sibuk mengambil makanan yang ada di kulkas. Dia terlihat menikmati sebuah apel dan sebotol susu.
Di saat tak terduga, gadis bersayap itu menoleh ke arahku. Bukannya takut atau merasa bersalah, dia justru tersenyum lebar. Melambaikan satu tangannya ke arahku.
Aku terkesiap. Bagaimana tidak? Rupa gadis itu sangat cantik. Kemilau cahaya seolah menerangi wajahnya. Rambutnya berwarna agak pirang bak boneka barbie.
"Siapa kau?! Beraninya masuk ke rumahku!" timpalku sembari mengarahkan senter kepadanya.
"Maaf... aku hanya kelaparan. Aku janji, kalau sayapku pulih, aku akan berikan apapun yang kau mau," ucap gadis bersayap itu.
"Apa? Maksudmu?" Aku tak mengerti.
"Ah benar, kau tidak tahu siapa diriku." Gadis itu gelagapan. Dia berdehem terlebih dahulu. "Ekhem! Kenalkan, aku Aluna. Tolong jangan tanya segala hal terkait sayapku, anak manusia. Ngomong-ngomong siapa namamu?"
"Aku Rendra," jawabku. Masih dalam keadaan terpana. Sungguh, sosok Aluna sangat cantik. Mungkinkah dia seorang malaikat?
Karena semakin tertarik, aku mencoba mendekati Aluna. Memperhatikan luka pada sayap gadis itu.
"Bagaimana kau bisa terluka?" Aku melupakan fakta kalau Aluna adalah seorang penyusup. Bagaimana lelaki sepertiku bisa tahan dan mau mengusir gadis secantik Aluna begitu saja. Mungkin hanya lelaki tidak normal yang berbuat begitu.
"Aku terjatuh saat berusaha menyelamatkan seekor tupai," jelas Aluna.
"Aku akan mencoba mengobati lukamu," ujarku sembari beranjak untuk mencari kotak P3K.
Aku kembali menghampiri Aluna dalam keadaan sudah membawa kotak P3K. Aku coba obati luka yang ada pada sayap Aluna.
Sesekali Aluna merintih karena alkohol memang menimbulkan efek yang sakit pada luka. Meskipun begitu, setidaknya sayap Aluna akan lebih cepat sembuh.
Tunggu dulu. Bila dia cepat sembuh, bukankah berarti dia akan cepat pergi?
Apa yang terjadi kepadaku? Apa aku jatuh cinta pada pandangan pertama pada sosok asing yang tidak jelas asalnya?
"Terima kasih, Rendra..." ucap Aluna lembut. Dia merekahkan senyuman mempesonanya lagi. "Kau bisa tidur kalau sudah mengantuk," sarannya.
Aku lekas menggeleng. Mataku sudah terlalu segar untuk kembali tidur.
"Kalau kau tidak tidur, maukah aku ajak melihat bintang? Mungkin ini juga sebagai terima kasihku kepadamu," seru Aluna. Dia tiba-tiba menarik tanganku. Lalu berlari ke balkon.
Dahiku berkerut, saat melihat tidak ada bintang di langit. Aku memang tinggal di kota, jadi langit sepenuhnya sudah ditutupi oleh polusi.
Aluna menutup mataku dengan tangannya. Tak lama kemudian, dia menjauhkan tangannya dari mataku. Aluna menyuruhku untuk membuka mata.
Awalnya tidak ada yang terjadi. Namun saat aku mendongak ke atas, keindahan tiada tara membuat mulutku menganga. Gemerlap bintang dengan warna-warni menyapa. Aku bahkan bisa melihat partikel-partikel kecil angkasa yang sering disebut sebagai nebula.
"Indah bukan?" imbuh Aluna.
"Sangat... bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana aku bisa melihat semua ini?" aku menanyakan pertanyaan beruntun.
"Pssst..." Aluna meletakkan jari telunjuk ke depan bibir. Dia berbisik, "Sama seperti sayapku, tolong jangan tanyakan banyak hal tentang bagaimana cara aku membuatmu bisa melihat bintang-bintang itu.".
Aku mendengus kasar. Sosok Aluna memang penuh misteri.
***
Hari demi hari berlalu. Aku merawat luka disayap Aluna dengan baik. Perasaanku terhadapnya juga semakin dalam. Aku bisa simpulkan, aku memang jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Aluna.
Hingga tibalah waktu, dimana Aluna sudah sepenuhnya pulih. Dia perlahan bisa menggunakan sayapnya untuk terbang. Ada perasaan senang sekaligus sedih yang kurasakan.
Aku harap Aluna merasakan cinta seperti yang kurasakan. Sampai terlintas dalam benakku tentang suatu hal. Terutama mengenai apa yang ditawarkan Aluna saat pertama kali bertemu.
"Terima kasih untuk segalanya, Rendra. Sekarang aku bisa mengabulkan apa yang kau inginkan?" cetus Aluna.
Aku mengangguk dan berucap, "Aku ingin cintaku terbalas, Al. Aku harap kau juga mencintaiku..."
Mata Aluna terbelalak. Dia sepertinya kaget dengan ungkapanku.
"Apa?!" kini dahi Aluna berkerut.
"Kau tidak bisa mengabulkannya bukan? Tidak apa-apa. Lebih baik kau cepat-cepat pergi ke tempat asalmu," kataku. Mencoba langsung merubah topik pembicaraan. Aku jadi merasa tidak enak kepada Aluna.
"Aku--"
"Pergilah! Aku akan baik-baik saja," potongku.
Aluna berbalik. Kemudian mengembangkan sayapnya ke udara. Tubuhnya terangkat dan melayang jauh. Sesekali Aluna akan menoleh.
Dalam sekejap, Aluna menghilang dari pandanganku. Jujur saja, aku merasa sangat sedih.
Setelah kepergian Aluna, aku menjalani hariku dengan penuh kesenduan. Aku jadi tidak bersemangat.
Suatu hari, saat aku pulang kerja. Aku berjalan menyusuri jalanan gang di tengah malam. Aku berjalan sambil menundukkan kepala.
Ketika aku mendongak ke atas, bisa terlihat pemandangan bintang indah persis seperti sebelumnya. Tunggu, bagaimana ini bisa terjadi? Aluna sedang tidak bersamaku!
Aku celingak-celingukan ke segala arah.
"Rendra!" suara yang kukenal memanggil. Aku sontak menoleh ke belakang. Saat melihat sosok itu, senyumanku langsung mengembang simpul.
Kali ini aku melihat Aluna. Tetapi gadis itu tidak memiliki sayap lagi di punggungnya. Walaupun begitu, kecantikan Aluna sama sekali tidak memudar.
~TAMAT~