Aku ingat hari itu, hari kelulusan kita. Kita berbincang, bermain dan tertawa di sebuah pantai. Pantai yang sangat sering kita datangi. Hari itu aku tidak pernah berpikir tentang sebuah perpisahan.
"Acha, duduk yuk! Capek, hehe." Katamu padaku hari itu, saat kita ke pantai. Aku pikir kita hanya akan berbincang santai sambil memandangi langit senja yang indah. Momen kesukaanmu.
Kamu tersenyum memandangi langit. Senyum yang terkadang ingin kumiliki. Senyum indah yang disukai banyak orang.
"Acha," panggilmu dan kau melihatku, mengalihkan pandangan mu sejenak padaku lalu kita bertatapan dan kau tersenyum lalu kembali memandang langit. "Aku bersyukur, Tuhan memberikan sahabat sepertimu padaku." Lalu saat itu, aku membatin dalam diriku seharusnya akulah yang harus bersyukur karena memilikimu.
"Aku menyukuri hal yang sama, karena Tuhan telah baik memberikan sahabat sepertimu padaku. Sahabat cantik yang memiliki banyak orang yang menyayanginya tapi, dia memilihku sebagai temannya. Kau tau, aku yang harusnya lebih bersyukur karena kau selalu ada menjadi saudara juga sahabat bagiku saat semua orang tidak ada untukku." Aku menyadari setetes air mata jatuh membasahi pipimu namun, aku hanya diam.
"Jika nanti kita sudah dewasa, kamu memiliki seorang pasangan dan menikah, aku akan menjadi pendamping pengantinnya ya. Aku akan membantumu dihari terbahagia di hidupmu. Kau juga harus melakukan itu di hari pernikahanku di masa depan." Kata mu padaku, lalu kita berjanji dan hari itu langit senja menjadi saksi janji kita.
Lalu kita terdiam dengan senyum diwajah kita. Kamu merangkulku, memandang langit yang menjemput malam. Matahari yang digantikan bulan. Lalu, kita membereskan barang-barang kita dan bersiap untuk pulang.
Kita pulang menggunakan mobilku. Kamu menyalakan musik, kita bernyanyi bersama dengan suara rata-rata dan kita tertawa saat suara kita tidak dapat mencapai nada tinggi lagu itu yang berakhir dengan suara seperti kejepit.
Sesampainya dirumahmu, kamu menawarkan ku untuk mampir atau menginap saja karena sudah larut malam namun, aku menolaknya. Aku rindu pada kasurku. Lalu kau tertawa dan pergi masuk ke dalam rumahmu dan aku melajukan mobilku untuk pulang.
Sampai dirumah, seperti biasa rumahku sepi. Tidak ada yang menyambutku. Seharusnya, aku menginap di rumahmu saja.
Aku membersihkan diri dan tidur.
Keesokan hari, aku menelpon mu dan tidak diangkat. Berkali-kali dan tidak diangkat. Aku memeriksa jam dan ini sudah siang, kau tidak mungkin belum bangun dari tidurmu.
Aku menelpon ibumu dan betapa kagetnya aku ketika ibumu mengatakan kau telah pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikanmu di salah satu universitas terbaik disana. Kau tidak mengatakannya. Bahkan menyinggung itu pun tidak. Aku mengambil kunci mobilku dan pergi ke rumahmu, tidak ada seorangpun disana, bahkan pembantupun tidak ada.
Aku menelpon ibumu kembali dan berdering namun tidak diangkat, dan aku menelpon untuk kedua kalinya dan tidak aktif. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa rasanya seperti ada yang di sembunyikan dariku?
2 bulan berlalu dari hari itu, aku menyiapkan banyak hal untuk pendaftaran di universitas yang pernah kita impikan untuk berkuliah bersama disana. Namun, rasanya ini mengecewakanku. Kau tidak mengabari sedikitpun kemana kau pergi. Tidak mengatakan apapun jika kau kuliah di luar negeri. Untuk apa janji di masa sekolah yang kita buat? Kalo akhirnya kita akan hidup masing-masing.
Satu semester telah terlewati, aku mengambil jurusan hukum karena ingin menegakkan keadilan untuk orang-orang yang membutuhkanku. Liburan semester ini, aku tetap sendirian, mereka yang kusebut orangtua tetap sibuk dengan pekerjaannya.
Aku memutuskan untuk kembali ketempat favorit kita dulu. Pantai yang sangat kita sukai. Saat itu pantai sedang ramai pengunjung. Aku melihat beberapa anak berseragam SMA sedang bermain air, mereka persis seperti kita dulu. Tertawa dan menangis bersama. Kita berpelukan saat sedih dan menegur ketika salah satu berbuat kesalahan.
Lalu, aku mengedarkan pandanganku. Disana aku juga melihat seorang anak bersama orangtuanya. Dulu, ketika kita bermain kepantai ini dan aku melihat pemandangan seperti itu, ada kau yang merangkulku untuk menguatkanku lalu di hari berikutnya kau membawa orang tuamu, mengatakan padaku bahwa orangtuamu adalah orangtuaku juga.
Aku mengasihani diriku, hanya aku seorang diri disini ketika semua orang memiliki teman. Aku marah padamu karena bergantung padamu. Aku menangis disaat semua orang tertawa. Aku tersenyum pilu disaat semua orang tersenyum bahagia.
Aku bertanya-tanya, dimana kamu?
Apakah kau baik-baik saja?
Bagaimana pendidikanmu disana?
Apa kau akan mengambil jurusan kedokteran seperti mimpimu?
8 bulan tidak bertemu, itu asing untukku.
Akhirnya, aku memutuskan untuk pulang.
Aku ingat hari itu, sebuah nomor tidak dikenal menelpon ku. Ternyata ibumu yang menelpon.
Dia berbicara tersendat.
"Syalom nak, ini mamanya Rischa." Sapa ibumu padaku dari seberang.
"Syalom tante," Saat itu aku bingung kenapa suara ibumu sangat lemas seperti habis menangis.
"Kamu sibuk sayang?" Tanya ibumu pada ku dari seberang telepon.
"Nggak kok tante, Acha lagi free. Kenapa tante?" Kataku pada ibumu.
"Kamu bisa datang ke rumah sakit X sekarang,nak?" Saat ibumu mengatakan itu jantung ku berdetak kencang. Aku tidak tau mengapa aku gelisah.
"Siapa yang sakit tante?" Tanyaku dengan ragu.
"Rischa kritis." Dan aku mendengar tangis ibumu, tanpa sadar air mataku mengalir deras. Aku berlari mengambil kunci mobilku, menuruni anak tangga karena kamarku dilantai atas, aku melihat orangtuaku yang ternyata baru pulang. Aku tidak mengatakan apapun, aku tetap berlari dan memasuki mobilku. Aku melajukan mobilku dengan sangat cepat, rasanya seperti aku tidak ingat aku juga harus menjaga nyawaku.
Sampai di rumah sakit, aku berlari, membentak resepsionis rumah sakit yang bekerja lambat mencarikan ruanganmu. Saat dia menyebutkan dimana kamu, aku berlari, menaiki lift dan menangis. Sampai didepan ruanganmu, ada mama dan papa mu disana.
Mamamu ditopang oleh papamu karena hampir jatuh pingsan. Dokter memanggil namaku untuk segera masuk. Rasanya tubuhku sangat berat. Aku melihat raga mu yang terbaring di brankar dengan seluruh alat bantu. Aku tidak tahan untuk tidak menangis dalam diam. Aku sampai di hadapanmu.
Kau melihatku dan tertawa dengan paksa, dokter dan perawat melihat kita berdua. Kau berusaha menggerakkan tanganmu untuk menggenggam tanganku seperti kebiasaanmu untuk menguatkanku. Kau tersenyum seolah semua akan baik-baik saja. Aku tidak sebodoh itu!
"Aku datang, dimana karpet merahnya?" Aku tertawa walaupun air mataku terus mengalir.
"Ceng..eng" lalu kamu tertawa kecil. Lalu perawat yang memandangi kita datang menghampiri, memberikan sebuah surat dan kamera padaku. Kamu tersenyum.
"ini apa Ris?" Aku bertanya padamu.
"Un..tuk ka..mu da..ri a..ku."(untuk kamu dari aku.)
"Ma..af Ac..ha, a..ku min..ta mma..af ke..ka..mu."(Maaf Acha, aku minta maaf ke kamu.) Kau benar-benar sangat sulit berbicara tapi terlalu memaksakan.
"Ma..af, a..ku ca..pek. m..ma..af ka..re..na ngg..nggak bi..sa te..pa..ti jan..ji a..ku ke..ka..mu."(Maaf, aku capek. Maaf karena nggak bisa tepati janji aku ke kamu.)
"Nggak kau nggak boleh bilang gitu!" tanpa sadar air mata aku mengalir lebih deras, jantungku berdebar kencang. Rasa takut kehilangan menyergapku.
"A..ku sa..yang ka..mu sa..ha..bat dan sau..da..ra ter..ba..ik aku." (aku sayang kamu sahabat dan saudara terbaik aku.)
Kamu keras kepala!
Kamu menutup matamu.
Kenapa kau tersenyum? Kenapa? Apa kau bahagia akan pergi? Maaf karena nggak bisa ada disaat kau sedang berjuang.
Hari itu, papahmu, mamamu, tidak sanggup menahan kehilangan bahkan adik mu. Mereka menangis kencang, mamamu pingsan, papahmu memelukmu erat dan adikmu, dia tidak berhenti minta maaf. Jika saja aku yang harus pergi, aku terima dengan senang hati. Karena disamping kamu, banyak orang yang sayang sedangkan aku? Tapi, ini adalah takdir Tuhan.
Selamat jumpa di kehidupan selanjutnya bintang paling terang, sahabat dan juga saudara terbaikku
~Acha~