Ini adalah awal dimana saya mulai tumbuh menjadi wanita dewasa, saya tidak memiliki banyak teman bahkan saya cenderung tertutup. Entah apa yang bisa saya jelaskan semua begitu sakit, terlalu sakit, terasa amat menyakitkan. Hidup saya bermula dari keluarga yang hanya menjadi status belaka disebuah kertas bertulisan KK (Kartu Keluarga).
Mereka tidak menyadari bahwa saya telah memahami atau sudah mulai memahami situasi sekitar. Semua jauh dari ekspetasi saya, dimana keluarga akan selalu ada dan selalu mendukung bahkan melindungi satu sama lainnya.
Sejak saya SD (Sekolah Dasar) saya mendapat perlakuan tidak mengenakan, selalu dikucilkan, dihina bahkan tak sedikit dari mereka berani berlaku kasar. Mendorong dan menjambak rambut saya. Saya hanya bisa diam menerima perlakuan mereka tidak ada keberanian untuk saya melawan bahkan hanya untuk menjawab setiap pertanyaan yang terlontar dari mulut mereka saya tidak mampu.
Ditambah dengan status keluarga saya yang miskin menjadikan keuntungan mereka untuk mengajak setiap murid yang lain menjauhi saya, disaat jam belajar saya hanya duduk seorang diri tanpa ada yang mendekat, saya sudah mencoba memohon untuk mereka meminjamkan buku pelajaran karena saya tidak mampu untuk membelinya, saya datang ke sekolah hanya bermodal tas yang sudah banyak jahitan dan satu buku tulis saja. Setiap ada pelajaran di kelas saya selalu meminjam buku dari mereka tapi tidak ada yang mau memberikannya. Sekalipun ada yang berbaik hati meminjamkan semua ada syarat yang harus saya turuti kalau tidak mereka tidak akan sudi meminjamkan buku mereka.
Akhirnya saya menurut syarat yang mereka berikan untuk mengerjakan tugas PR satu kelas nanti jika guru memberikannya. Saya masih terlalu kecil untuk menerima rasa sakit ini.
Hari-hari berlalu begitu cepat, hingga datanglah hari yang begitu saya benci. Hari Jum'at, dimana setiap hari Jum'at diadakan pengajian dihalaman sekolah dengan semua siswa dan siswi, guru pun ikut serta di dalam acara rutin setiap minggunya itu. Hari Jum'at adalah hari dimana setiap siswa atau siswi yang menyandang status yatim-piatu diharapkan maju ke depan panggung yang sudah di sediakan.
Dimana setiap yatim-piatu mendapatkan sumbangan berupa uang dari orang-orang yang disebut dermawan disekolah. Setiap saya menaiki panggung saya begitu malu rasanya mau menangis dan lari dari tempat memalukan itu, semua menjadi pusat perhatian orang-orang. Banyaknya mata yang melihat sinis dan mentertawakan saya, dan selalu menganggap remeh status saya. Apa begitu hinakah kami? rasanya saya ingin memaki mereka semua tapi keberanian itu tidak ada.
Saya hanya pasrah mengikuti alur acara yang sudah ditentukan setiap minggunya. Semua guru tampak berdiri menyalami kami yang yatim-piatu ucapan rasa sedih terpancar dari raut wajah mereka, mungkin ada sebagian guru yang memahami kami bahwa diantara kami ada yang tidak menyukai hal ini, acara seperti ini. Seperti di permalukan di depan banyak orang menjadikan tontonan gratis, buliran air mata membasahi pipi saya. Saya tak kuasa menahannya, lembar amplop ada di tangan saya, memaksa saya untuk menerimanya.
Saya berlari kencang meninggalkan acara tersebut, entah keberanian dari mana saya memberontak hingga saya menuju kelas hanya untuk mengambil tas dan alat tulis saya, setelah itu saya keluar menuju gerbang sekolah. Jangan tanyakan mata yang memandang saya heran, ada seorang guru yang menghampiri saya menanyakan kenapa saya pergi begitu saja. Saya tidak menjawab, saya hanya menangis menatap guru tersebut. Guru itu pun memeluk saya erat mengucapkan kata maaf, mungkin karena tahu jika saya tidak menyukai acara tersebut.
Saya tetap diam tanpa berniat membuka mulut saya, rasanya begitu menyakitkan, bukan? kenapa tuhan begitu tidak adil terhadap hidup saya, apa belum cukup bagi-Nya memporak-poranda kehidupan saya. Belas kasih kata itu yang tertancap dalam pikiran saya.
Guru pun melepas pelukannya, menatap saya dengan sayang, sorot matanya berbeda dengan orang-orang yang melihat saya setiap harinya. Ada kedamaian didalamnya. Akhirnya saya hanya memberikan amplop yang mungkin berisikan uang, saya memberikannya kepada guru perempuan itu. Saya memegang tangannya dan meletakan amplop itu di tangannya. Setelah itu saya berlari keluar sekolah meninggalkan guru tersebut yang terus saja memanggil nama saya untuk tidak pergi tapi saya tidak memperdulikannya saya terus saja berlari kencang.
Saya menangis tanpa henti, kalau saya pulang kerumah pasti saya dapat pertanyaan-pertanyaan yang saya tidak ingin menjawabnya atau sekedar menjelaskan apa yang terjadi.
Langkah kaki saya melemah, saya bingung harus berlari kemana lagi. Terlintas di pikiran saya, hanya satu tempat yang membuat saya merasa nyaman. Yaaa tempat itu ada sebuah pemakaman umum dimana ayah saya berada.
Saya menatapi pintu gerbang makam tersebut, dan berjalan memasukinya mencari letak makan ayah saya, air mata terus saja mengalir, disini terasa sunyi tidak ada tatapan-tatapan tajam yang menusuk hati. Saya menemukannya, yaa ini adalah makam ayah saya namanya sudah tidak lagi jelas terbaca karena tidak ada yang mengurusnya, tidak ada yang mempedulikan mau rusak atau tidak makan tersebut. Semua seakan lupa jika masih ada tanggung jawab akan kewajiban seorang anak terhadap orang tuanya sekalipun hanya sebuah jasad yang berujur kaku didalamnya.
Saya mengadu, berteriak, menangis sekeras mungkin toh tidak ada orang yang akan mendengar nya. Hanya tempat itu satu-satunya kedamaian yang saya dapat.
Paaaahhhh, aku rindu....
kenapa papa meninggalkan aku dalam keadaan seperti ini, di usia sekecil ini.
Waktu berjalan begitu cepat hingga saya memasuki masa SMP (Sekolah Menengah Pertama).
Tidak ada bedanya dengan keadaan saya waktu SD, semua sama saja. Saya melewatinya dalam diam, saya mengikuti alur kehidupan yang sudah tuhan berikan. Mencoba ikhlas tapi tetap membenci setiap kejadian-kejadian dalam hidup saya. Saya akan mengenang selalu kisah pahit ini.
Diusia yang menjajak remaja, kehidupan saya tetap tidak ada perubahannya, saya hidup di dalam belas kasih orang-orang, saya makan dan bertahan hidup dari uang-uang santunan.
Hingga terciptanya sebuah kepribadian yang tertutup. Diam, dingin, cuek dan tidak pernah mau bersosialisasi dengan orang lain walau hanya sekedar menyapa atau tersenyum saya tidak menunjukkannya.
Saya lalui semuanya, hingga satu orang mendekat, saya tau keadaanya tapi dia masih beruntung mempunyai orang tua yang utuh dan kehidupan yang lumayan layak tapi anehnya dia mengajak saya untuk mencari pengerjaan jika libur sekolah datang. Tanpa pikir panjang saya meng-iyakan.
Saya dan dia pulang sekolah bareng. Dia mulai mendekatkan dirinya dengan saya, namun saya masih enggan untuk terbuka, saya tetap dengan kenyamanan dalam diam saya. Kita akhirnya sampai di pusat perbelanjaan, kita menanyakan setiap penjual yang membutuhkan tenaga tambahan atau jasa kami.
Lelah berkeliling, rasa putus asa muncul begitu saja tapi saya tidak boleh menyerah, saya tidak mau lagi menerima setiap santunan dari orang-orang itu, bukannya saya tidak bersyukur tapi rasa terlalu menyakitkan hidup berpegangan dengan belas kasih orang.
Saya mencoba berjalan lagi, mengitari setiap toko yang belum kami kunjungi, dan disinilah saya berdiri di depan toko baju.
Saya memberanikan diri untuk masuk, dan menanyakan apakah ada lowongan kerja atau jasa tambahan untuk anak sekolah?. Pemilik toko itu menatap saya dengan rasa bingung dan bercampur kasihan dan tanpa menunggu terlalu lama, pemilik toko itu mengijinkan kami untuk ikut bekerja di tempatnya.
Saya senang bukan main, kami di terima kerja.
Besok adalah hari pertama saya untuk kerja, waktu yang di berikan oleh si pemilik toko adalah satu hari penuh tanpa adanya libur, kami tetap menyanggupi. Rasa senang sudah menutupi bayangan kelelahan nanti.
Hari-hari berjalan sesuai keinginan saya, saya memanfaatkan libur panjang sekolah dengan sangat baik, undangan santunan saya abaikan, saya tidak peduli lagi, saya lebih senang bekerja dengan penghasilan saya sendiri.
Saya menahan rasa lapar seharian, setiap kali di ajak istirahat saya selalu menolak dengan berbagai alasan, saya kembali fokus dengan jualan saya dan mengabaikan bunyi perut yang terus menerus meminta saya untuk mengisinya.
Semua saya lewatin sampai saya sudah menduduki bangku SMK (Sekolah Menengah Kejuruan). Saya berdampingan dengan tugas dan mengais rezeki sepulang sekolah, hidup saya di penuhi kesibukan dan melupakan masa-masa muda saya.
Hingga di suatu peristiwa buruk menimpah hidup saya yang malang. Saya mulai mengenal kata cinta, sebuah rasa yang timbul begitu saja di hati saya dengan sosok pria yang saya pikir baik saat itu. Hingga saya di kenalkan dengan dunia yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya, dunia pacaran yaaahhh orang bilang seperti itu.
Dia terlihat peduli dan berhasil menarik perhatian saya dengan semua kebaikannya, saya selalu terbuai dengan sikapnya sampai saya tidak bisa mengenali diri saya lagi, dia mengenalkan saya dengan sebuah sentuhan fisik yang lambat laut menutup mata dan diri saya. Sampailah dimana saya lupa diri oleh rayuannya, dia berhasil merenggut keperawanan saya, saya menangis dan merasa menjadi wanita bodoh. Dia mencoba menyakinkan saya, kalau pun terjadi sesuatu dia akan bertanggung jawab dengan itu.
Tapi nyatanya hal itu dia ingkari, saya hamil. Saya menanggungnya sendiri tanpa bantuan keluarga ataupun teman. Semua orang memandang saya menjadi lebih hina mencaci, melempar apapun di hadapan saya. Keluarga saya menjadi tambah malu oleh ulah saya, saya nangis dalam diam tanpa ada pembelaan diri di dalamnya.
Saya pergi meninggalkan semuanya, saya hidup dengan penghasilan saya sendiri meskipun di tempat tinggal baru orang tetap memandang saya dengan tatapan jijik. Namun saya tetap menjalankan keseharian saya dengan janin yang terus dan berkembang di rahim saya.
Saya bekerja tak mengenal waktu, saya memutuskan berhenti dari sekolah dan memilih untuk menjadi pekerja apapun itu yang saya pikirkan hanya menghasilkan uang itu udah cukup buat saya. Saya tidak memperdulikan penilaian orang-orang terhadap saya. Jika memang Tuhan sudah menuliskan takdir ini, maka saya menjalankannya walau diliputi dengan rasa sakit entah disebut seperti apa, tapi hati saya seperti tidak terbentuk lagi. Luka ini terlalu mengangak lebar dan dalam.
Beginikah di campakan oleh dunia.
🌼
🌼
🌼
🌼
-Selesai-