Memakai seragam, mengeluarkan motor, lalu berangkat menuju sekolah adalah keseharian yang lumrah bagi hampir setiap orang di dunia ini, tak terkecuali bagi diriku. Tak peduli mau jam 5:30 ataupun 3:30 sekalipun, aku akan selalu berangkat seperti itu. Utamanya karena aku hanya hidup sendiri di kos-kosan murah ini.
Simpel saja, aku masuk kedalam SMA favorit di kota Bandung melalui jalur spesial yang memang masih legal, namun takkan aku beritahu berhubung tak begitu penting pula untuk disebarkan.
Meski jauh, aku bersyukur masih bisa mendapatkan kos-kosan yang jauh lebih dekat dibanding dengan rumahku yang terletak pada suatu daerah, yang takkan penting pula jika aku sebutkan. Bisa saja, aku perlu satu hari dari rumahku menuju sekolahku. Selain itu, kos-kosan tersebut cukup murah.
Cukup dengan masa laluku....
Aku pun menyalakan motor dan segera berangkat menuju sekolah pada pukul 3:30. Tak ada alasan khusus selain aku ingin terbebas dari biaya parkir diluar sekolah. Absurd, namun itu diperlukan jika aku memang ingin bisa mengendarai motorku dengan bebas.
Aku pun berada di pinggiran jalan. Bukan berarti aku menyebutkan posisi lajurku sama dengan tak bergerak sama sekali. Sangat jelas, aku masih belum bisa berkendara dengan baik disekitaran kota Bandung.
Ups, aku keceplosan....
Aku hanya melaju pada kecepatan 30-40 km/j. Bukannya apa-apa, aku tak bisa berkompromi dengan dinginnya udara, meski aku dibesarkan di dareah pedesaan yang terletak di suatu pegunungan yang ada di tenggara kota Bandung. Bahkan rasanya, hanya hawa es saja yang menerpa bagian depan badanku, meski sweater 1 lapis telah aku kenakan.
Ugh, keceplosan lagi....
“Haduh..., tiris pisan ieu hawa....”
(Haduh..., dingin banget ini hawa....)
Selagi aku sibuk mengeluhkan dinginnya udara saat ini, aku pun sesekali melihat ke kaca spion kiri maupun kanan. Sangat jarang motor dan mobil melaju maupun menyusul diriku. Bahkan, aku berani bilang jika dibelakangku tak ada siapapun.
Karenanya, aku kembali fokus kedepan, ke arah jalan lurus yang sama sekali tak bercabang sedikitpun dari semua rambu lalu lintas yang aku lewati, sembari mengeluh mengenai udara yang dingin tersebut.
Namun, aku pun langsung diserempet oleh sebuah truk kargo dari belakangku. Bukan main, truk itu melaju- lebih tepat jika dibilang melesat, bagaikan cahaya sambaran listrik yang terjadi begitu saja sebelum efek dari sambaran itu bisa terasa. Dan tentunya, pikiranku langsung menjadi kosong.
Aku terpental dari motorku tanpa aku sadari. Kedua mataku menjadi sangat tajam untuk merekam apa yang terjadi pada sekitarku. Dan memang, aku sangatlah bingung.
Aku, benar-benar, jarang sekali menerima, bahkan melihat dan mendengar sekalipun, kecelakaan seperti ini.
Akan tetapi, kesadaranku menghilang sebelum aku berhasil menghantam sesuatu, entah trotoar, jalanan, pagar, ataupun langsung menghantam bangunan.
Ya..., aku hanya bisa membayangkan saja apa yang terjadi pada tubuhku tanpa melihat- maksudku merasakan, hal yang sangat menyakitkan itu....
Bisa saja kepalaku-
Lebih baik kita hentikan saja untuk bayangan mengenai tubuh asliku....
***
Aku pun membukakan kedua mataku dengan perlahan. Cahaya yang menyilaukan membuatku yakin jika aku sedang berada di alam lain. Akan tetapi, dugaanku terpatahkan secara perlahan.
Suara angin berhembus menuju hutan ini terdengar samar-samar, hingga akhirnya terasa jelas pada telingaku. Cahaya yang terlihat menyilaukan itu perlahan semakin menggelap dan beberapa bayangan hitam muncul. Sama seperti pendengaranku, bayangan hitam tersebut semakin lama semakin jelas untuk aku lihat.
Bayangan itu merupakan sebuah ranting. Jika aku lihat dengan seksama, warna ranting itu tidak ada bedanya dengan pohon-pohon pada umumnya. Tetapi, itu justru yang membuatku bingung.
Terbangun ditengah hutan, tanpa terdengarnya suara hewan sedikitpun....
Siapa yang menculikku kemari?!!
Inginnya berteriak, namun keheningan ini justru membuatku ketakutan.
Ya sudah, lebih baik aku coba tutup mata saja, barang kali aku hanya takut bagai kucing penakut....
***
Aku merasakan jika tubuhku bergetar-getar bagaikan kapal yang terombang-ambing oleh kerasnya ombak, ke kiri dan ke kanan secara berirama, tetapi tidak begitu kencang. Aku pun merasakan jika kedua tangan dam kakiku diikat pada suatu tiang ke arah depan badanku. Rasanya, aku seperti digantung.
Mungkin..., aku cuma bermimpi, pikirku sembari mencoba mengesampingkan segala pikiran negatifku.
Terdengar suara besi pada bagian atas dan bawah diriku. Jika aku gambarkan, jelas sekali seperti suara zirah besi yang biasa kesatria pada zaman pertengahan di Eropa pakai. Tentunya, aku merasa aneh dengan suara besi itu.
Karenanya, aku coba membuka kedua mataku. Seperti sebelumnya, cahaya yang menyilaukan pun terlihat sebelum akhirnya memudar dan objek-objek lain terlihat oleh kedua mataku. Tetapi, aku hanya melihat sepasang kaki didepanku, yang anehnya sedang berjalan melawan gravitasi.
Sebentar..., kenapa kebalik kakinya?
Tanyaku dalam pikiranku berhubung sudah menjadi kebiasaan.
Aku pun mencoba melihat ke bagian bawah badanku. Kepala terasa berat entah mengapa. Namun, aku mengetahui alasannya dengan cepat.
Aku menjadi tawanan tanpa aku sadari.
Apa jangan-jangan, aku tertidur ketika aku sekedar hanya memejamkan mata?
Atau jangan-jangan, aku memang pingsan ketika sedang memejamkan mata?
Tak yakin yang mana yang benar.
Kedua kaki dan tanganku terikat pada sebuah tongkat besi berwarna hitam. Badanku dibiarkan tergantung begitu saja. Tetapi, aku sama sekali tak merasa pusing karenanya.
Aku pun mencoba melihat ke arah orang yang sedang memegang tongkatnya pada bagian depan. Dia memakai celana yang dilapisi besi berwarna hitam dan zirah yang terlihat cukup tebal, setidaknya dari sudut pandangku. Begitu pula dengan sepatunya, bagaikan sepatu boot yang dilapisi dengan banyak plat besi berwarna hitam di sekelilingnya.
Dan aku ingin untuk memastikan pakaian yang dipakai oleh si pemegang bagian belakang tongkat besi ini. Tetapi, aku cukup takut akan resiko jika aku telah siuman/terbangun akibat kepalaku yang bergoyang ke kanan dan kiri seolah-olah ingin memberontak- meski itu adalah tujuan akhirku. Selain itu, aku baru menyadari jika gerakan mengangkat dan menurunkan kepalaku bisa saja membuat kedua kesatria zirah hitam tersebut sadar jika aku telah terbangun.
Jadinya, lebih baik aku bungkam dan mencoba menikmati pemandangan yang aku lewati.
Sepertinya, aku masih berada dalam hutan yang sama. Pepohonan yang aku lihat, meski hanya bagian batang dekat akarnya, terlihat sama semua. Jika pun ada perbedaan antara besar dan kecilnya, asumsiku hanya beda usia saja.
Jalur yang dilewati cukup bergelombang, baik secara vertikal maupun horizontal.
Mereka berdua perlu menaiki dan menuruni beberapa tanah yang memang tidak rata akibat berbagai macam faktor geografis, yang aku sendiri tak begitu mengerti apa saja. Juga beberapa akar pepohonan yang memang cukup besar hingga muncul keluar dari tanah. Selain itu, mereka harus memutari beberapa pepohonan yang menghalangi jalur mereka.
Meski takut, namun..., hey..., tumpangan gratis jangan ditolak....
Jelas, aku mulai merasa haus setelah tak tahu seberapa lama aku tergantung pada tongkat besi ini. Mungkin pula, kedua kesatria itu merasa lelah akibat jauhnya perjalanan mereka. Tetapi, mereka masih memaksakan diri untuk berjalan.
Terasa, kedua langkah kaki mereka melambat, jika mengabaikan berbagai rintangan yang perlu mereka lewati.
Dan juga, aku sama sekali tak menemukan dan mendengar suara hewan sama sekali.
Rasanya, hutan ini memang angker/berbahaya.
Dan benar saja....
Suara raungan monster terdengar dari arah kananku. Terdengar seperti lengkingan burung elang yang menusuk telingaku. Bahkan, kedua kesatria yang menawanku itu langsung terdiam.
Aku hanya membayangkan jika mereka ingin menutup kedua telinga mereka, tetapi tak bisa karena salah satu dari tangan mereka digunakan untuk menahan tongkat besinya.
Tak lama setelahnya, suara langkah kaki terdengar seperti mendekat, yang diiringi dengan guncangan tanah yang sangat mengintimidasi aku dan kedua kesatria hitam itu. Alhasil, mereka langsung berlari menuju arah depan saja, sembari menghindari rintangan dan membawaku, untuk kabur dari malapetaka itu. Namun anehnya, suara langkah kaki dan guncangan tersebut masih berada dari arah kananku, tepat 90° tanpa sedikitpun berganti sudut.
Seolah-olah posisi monster itu dan diriku memang berada dalam satu garis.
Aku hanya bisa berharap jika aku sampai pada markas para kesatria hitam ini karena monster itu jauh lebih berbahaya dibanding siksaan yang akan aku dapat pada markas tersebut.
Langkah kaki kedua kesatria itu pun melambat hingga berhenti sama sekali. Mereka benar-benar sudah tak bisa berlari. Bahkan, mereka terasa seperti menerima fakta jika mereka akan meninggal oleh monster itu.
Dan, hal itu langsung terjadi.
Kepala monster itu langsung melahap badan kesatria didepanku dan langsung melewati kesatria dibelakangku dan diriku begitu saja. Aku langsung terjatuh dan tak bisa berlari untuk menyelamatkan diriku sendiri. Karenanya, aku mencoba untuk bilang kepada kesatria hitam itu untuk bertarung saja.
Akan tetapi, aku tidak sadar jika mulutku selama ini telah disekap oleh perekat, yang memang mirip seperti perekat-perekat kertas pada umumnya.
Aku pun melihat kesatria itu berlari ke arah berlawanan, berharap memang bisa selamat dari kejaran monster itu. Sayangnya, langkah kaki monster itu jauh lebih cepat dan panjang dibanding sang kesatria itu. Karenanya, nasib yang sama pun menimpa kesatria itu.
Aku sendiri hanya terdiam melihat ke arah kesatria hitam terakhir berlari. Perlahan, langkah kaki monster itu mendekatiku, begitu pula dengan getarannya. Aku pun tak bisa melakukan banyak hal selain terdiam ketakutan.
Dengan perlahan-lahan, monster itu muncul.
Kepalanya terlihat seperti kepala kadal. Badannya seperti panther. Dan ekornya seperti campuran dari ekor rubah dan serigala.
Badannya berwarna hitam pekat dengan bagian ujung kaki berwarna perak. Bahkan rasanya, kaki-kaki monster itu memanglah perak itu sendiri. Dan kuku-kukunya seperti pedang yang sangat tajam.
Hal ini diperparah dengan ukurannya yang sama dengan 3 rumah mewah disatukan, belum termasuk dengan panjang ekornya.
Aku memejamkan mata dan berharap jika aku tak mati.
Lalu, terdengarlah suara dentuman meriam dari arah kanan.
Refleks, aku melihat ke arah suara tersebut, namun tak ada meriam yang melesat monster itu. Tentunya, aku kebingungan karena suara tersebut sama sekali tidak mirip seperti suara ledakan akibat hantaman meriam. Namun, monster itu pun ikutan melirik ke arah yang sama.
Tanpa aku sadari, ledakan langsung terjadi pada punggung monster itu. Sudah jelas jika monster itu kesakitan. Namun aku tak menyangka jika monster itu masih berdiri, bahkan sama sekali tidak menekukkan kakinya.
Aku hanya bisa terdiam membeku. Aku benar-benar tak punya kesempatan untuk bisa bertahan hidup dari monster itu. Meskipun bantuan datang, aku takkan yakin jika mereka berhasil menumbangkan monster itu.
Kemudian, dari rindangnya pepohonan disekitar monster itu, muncul sekelompok kesatria zirah putih yang mengenakan beberapa senjata raksasa yang sedang menerjang monster tersebut. Mereka langsung menancapkan senjata mereka pada tubuh monster itu, bahkan beberapa diantara mereka mendarat menuju daratan sembari melukai monster itu. Alhasil, monster itu tumbang akibat luka yang diterimanya.
Meskipun tumbang, bukan berarti monster itu mati.
Suara raungan yang telah aku dengar sebelumnya, terdengar kembali. Kali ini, kepalaku benar-benar serasa hendak pecah. Dan yang membuatnya semakin parah adalah monster itu meraung lebih lama dibanding sebelumnya.
Wajar jika para kesatria tak bisa berdiri. Selain karena zirah dan senjatanya yang berat, pusing pun dirasakan oleh mereka. Parahnya, itu berlangsung hingga monster itu selesai meraung.
Dengan kepala berkunang-kunang hebat, aku melihat ke arah monster itu.
Sialnya, apa yang aku takutkan menjadi nyata.
Monster itu langsung melahap sebagian besar dari kesatria itu. Tak ada satupun bagian tubuh mereka yang tersisa. Bahkan, cipratan darah menyembur kemana-mana, sebagian besar mengenai badan dan kakiku.
Tetapi, hanya ada satu orang yang masih hidup.
Dia pun berdiri dengan menggunakan pedang raksasanya untuk menahan tubuhnya. Perlahan namun pasti, kedua kakinya mampu menahan tubuhnya kembali. Akan tetapi, senjatanya pun hancur tepat setelah kedua kakinya sudah bisa kembali menahan tubuhnya.
Dan itu bukanlah masalah baginya.
Dia langsung melesat kebelakang monster itu melalui bagian bawahnya. Dengan cepat, dia mengambil pedang dari temannya yang sudah dimakan oleh monster itu dan melompat ke atas tubuh bagian belakang monster itu. Setelahnya, dia langsung melesat kembali menuju bagian depan sembari menyiapkan pedangnya untuk membelah leher monster itu.
Dia pun menebas leher bagian kiri monster itu, namun dia tak berhasil membuat kepala monster itu lepas dari badannya. Tetapi, luka yang dia hasilkan sangat serius, yang mana monster itu sudah dijamin akan mati. Alhasil, monster itu kembali mengamuk beberapa saat sebelum akhirnya tumbang untuk terakhir kalinya.
Aku pun melihat ke arah kesatria itu, yang sedang menunggu kematian dari monster itu. Pedang yang dia pakai pun hancur. Namun, pedang tersebut justru menjadi kecil bagaikan pedang yang biasa dipakai untuk melawan manusia pada umumnya.
Dan untuk kedua kalinya, kepalaku sudah tak bisa bekerja sama lagi dengan keinginanku. Kedua mataku menjadi sangat berat setelah semua rasa kunang-kunang tersebut menjadi hilang. Aku pun tertidur kembali, untuk waktu yang tak aku sebutkan sekarang.
***
Aku, dengan sangat perlahan, membuka kedua mataku. Di saat yang bersamaan, rasa pusing seperti ditusuk pun muncul dan semakin menguat seiring kedua mataku terbuka lebar. Tak ayal, aku langsung berteriak kencang akibat dari rasa nyeri itu.
Aku pun tak bisa menggerakan badanku untuk sementara. Rasa pusing itu bertambah ketika aku mencoba mengangkat tanganku dengan perlahan ataupun memutarkan kepalaku ke arah kiri. Itu juga berlaku ketika aku mencoba untuk berbicara.
Sialnya, aku sekarang sangatlah lapar....
Kesatria itu pun datang dan duduk di arah sebelah kiri badanku. Dia memandangi wajahku dengan secara terus menerus. Tetapi, aku tak bisa melakukan apapun.
“Anak muda, tidurlah..., malam masih panjang.”
Seperti terkena sihir, aku pun tertidur sesuai perintahnya pada malam tersebut, yang aku sendiri tak menyadarinya jika itu malam.
***
Keesokan harinya, aku membuka kedua mataku dan sama sekali tak terasa nyeri sama sekali pada kepalaku. Karenanya, aku mencoba berdiri dengan perlahan. Badanku benar-benar lemas, bagaikan tak ada tenaga sama sekali.
Karenanya, aku berniat untuk mencari makanan di sekitar sini.
Awalnya....
Namun, aku melihat ke arah kiri, dan melihat kesatria terakhir yang sudah membunuh monster itu. Dia menatapi perapian yang sudah menjadi abu. Jika aku tebak dari gestur tubuhnya, dia antara sedang introspeksi diri ataupun sedang murung.
Aku tak bisa menyalahkan siapapun, karena mungkin saja itu takdir....
Rasa lapar yang seharusnya sedang aku rasakan menjadi mati rasa sekarang. Masih ada, namun sama sekali tak mengganggu fokusku kepada sang kesatria itu. Aku pun penasaran dengan kondisinya dan perlahan mendekatinya.
Tetapi, baru satu langkah, dia refleks melihat kebelakang sembari mengangkat pedangnya. Seketika aku membatu dan terdiam ketakutan. Ku harap dia sadar jika aku bukan orang jahat.
“Oh..., kau sudah bangun, anak muda....”
Rasanya, jika dia orang biasa, aku sudah pasti memarahinya. Namun, dia bukanlah orang yang ingin siapapun marahi. Bahkan, kata-kata yang ada dalam pikiran akan luruh semua bagaikan kotoran yang dibersihkan menggunakan cairan kimia yang kuat.
“Ayolah, kemari....”
Rasa lemasku semakin bertambah rasanya. Bukan karena lapar saja, aku takut jika dia akan berbuat jahat padaku, meski sebenarnya aku yakin dia takkan melakukan itu. Buktinya saja, zirahnya itu berwarna putih dan aku tak terikat pada tongkat menyebalkan itu.
“B-baiklah...,” jawabku dengan gugup.
Aku memutuskan untuk berjalan dengan normal saja. Akan terasa sangat canggung- bahkan bisa menjadi menegangkan, jika aku berjalan dengan lemas. Setidaknya, aku ingin dia merasa jika aku benar-benar tidak ragu padanya.
Ya..., tidak dengan ekspresi wajahku....
Aku pun berdiri disampingnya dan duduk dengan perlahan. Aku hanya melihat ke arahnya dan melihat tangan kanannya menghilang hingga siku-nya. Aku panik melihat itu, karena pedangnya dia angkat dengan tangan kanan, bukan dengan tangan kiri.
Kemudian, bagian tangannya kembali seperti semula. Malahan, dia sekarang memegang sebuah roti baguette yang memang tinggal bagian ujungnya saja. Setidaknya, itu lebih baik untukku makan dibanding harus memakan rumput.
“Makanlah,” ucapnya sembari memberikan rotinya padaku.
“Makasih...,” jawabku sembari menerima rotinya.
Aku pun segera untuk melahap seluruh rotinya. Akan tetapi, dia langsung memberikanku peringatan. Untungnya, itu tepat sebelum aku menggigit rotinya dengan lebar.
“Jangan makan rotinya dengan terburu-buru.”
Aku langsung berhenti dan menjauhkan rotiku, yang sudah ada pada mulutku.
“Jika kau memakan roti itu dengan potongan besar maupun tergesa-gesa, kau akan mati akibat perutmu yang kesulitan untuk mengolah makanan yang banyak.”
Tak salah baginya, aku lapar bagaikan belum makan selama berhari-hari lamanya....
Berhari-hari lamanya....
Benar juga....
“Jika boleh tahu, apa yang terjadi padaku setelah monster itu menyerangku?”
Dia terdiam. Aku tak langsung panik. Dengan pemikiran positifku, aku hanya menebak jika dia memerlukan waktu untuk menjawab pertanyaanku.
“Kau..., pingsan selama 2 minggu lamanya....”
2 minggu?!
Bahkan setelah 2 minggu, rasa pusing dari teriakkan monster itu masih belum menghilang. Malah, terasa menguat. Jelas, aku mungkin salah satu orang yang beruntung.
Bisa saja orang meninggal ketika mendengar suara itu, seharusnya.
“Hey, aku berterima kasih karena telah merawatku selama 2 minggu.”
Dia hanya diam. Dan, aku tak peduli dengan kesunyian ini berhubung memang aku takkan bisa menebaknya dengan benar. Lalu, ya..., memakan rotinya dengan perlahan seperti yang dibilang olehnya.
Secara mengejutkan, rotinya penuh dengan susu, bagaikan roti tawar yang dicelup lama pada susu. Padahal, rotinya benar-benar kering, yang pastinya ketika aku makan nantinya akan terasa seret di tenggorokan. Benar-benar menipu mata dan pikiran.
Dan..., istilah “lidah, mana bisa dibohongi” rupanya memang benar..., yang awalnya aku pikir hanya sebagai bagian dari marketing saja.
“Terkejut?” tanya kesatria itu tanpa memandang ke arahku.
Aku memandanginya sementara, lalu kembali fokus ke rotiku. Aku bisa bilang, makanan ini cukup lezat sebagai sarapan. Bahkan bisa saja, aku akan membawa ini jika aku menjadi pengembara.
Pengembara....
Benar juga, ini bukan alam lain jika aku pikir secara dalam....
Jadi, tak ada salahnya jika aku mencoba menanyakan tentang dunia ini.
“Hey, aku ingin bertanya satu hal.”
Kali ini, dia langsung merespon permintaanku. Tak terduga, tetapi biarlah. Mungkin saja dirinya memang seperti itu.
“Boleh saja, bahkan jika masih banyak hal yang ingin kau tanyakan, aku akan menjawabnya sesuai dengan pengetahuanku.”
Ya..., itu artinya aku bisa bertanya banyak hal padanya tanpa ragu.
Oke....
“Kau siapa?”
Kita mulai dari yang simpel dulu, yaitu mengetahui sedikit latar belakang dari sang kesatria itu. Tetapi, mungkin aku takkan menyanyakan tentang alasannya tak membuka helmnya didepanku. Karena jelas, aku juga, meskipun terkadang saja, tetap menghargai privasi setiap orang.
“Aku...? Hanya seorang kesatria suci dari Kerajaan Suci Falmuth.”
Uwah..., kayaknya, aku lebih baik tak membuat masalah dengannya, juga dengan kerajaan itu. Dari setiap novel dan komik isekai jepang yang aku baca, kebanyakan orang-orang didalamnya adalah orang fanatik, tak terkecuali para petingginya. Dan memang aku akan dalam bahaya jika memang aku berhasil mengulik kebusukan kerajaan itu.
Mungkin aja yang namanya pembantaian ras terjadi atas nama kepercayaan mereka....
Mengenai namanya, akan aku tanya belakangan saja.
“Lalu, apa kau tau cara membuat roti baguette ini?” tanyaku sembari menunjuk ke arah rotinya, yang memang sudah tersisa sedikit.
“Baguette? Apa itu namanya pada tempat asalmu?”
Eh? Punya nama lain toh? Tapi tak apa lah....
“Ya.... Memangnya disini namanya apa?”
“Magical soaked croissant.”
Croissant...? Aneh juga.... Mungkin semua nama roti disini berbeda namanya.
“Sama seperti Croissant pada umumnya. Bikin adonan, panggang, lalu selesai. Namun, ada langkah tambahan yang membuatnya terasa beda, yaitu memasukan berbagai macam sihir kedalamnya untuk membuatnya seperti roti yang sudah menyerap banyak susu di dalamnya dengan penampilan yang sama seperti Croissant pada umumnya.”
Menggunakan sihir untuk merubah isi makanan...? Mungkin aku perlu merubah perspektifku mengenai sihir dalam dunia kuliner. Jelas memang, aku mengetahui jika sihir terkadang sama seperti teknologi.
Menarik....
“Lalu, kenapa roti yang aku makan ini masih terasa lezat, seolah-olah roti ini dalam keadaan yang sama, sekitar 6 jam setelah proses pembuatannya?”
Jujur saja, bagian luar dari roti ini, yang seharusnya masih kering nan crunchy ketika selesai dibuat, terasa cukup keras. Jangan salah sangka, roti itu masih enak dimakan. Hanya saja, dia sudah sedikit lebih keras.
“Aku menggunakan «Item Dimension». Tak hanya pada roti itu, aku menyimpan semua barangku dalam sihirku itu.”
Pantas saja dia bisa langsung mengeluarkan pedangnya dengan cepat. Selain itu, ternyata tangannya yang hilang tadi bukan sesuatu yang buruk.... Tenang jadinya....
Haaaaah....
Irinya aku.... Bisa menggunakan sihir seperti itu, apalagi tanpa merapal, sangat mempermudah hidup. Apalagi untuk aku, yang memang seorang hoarder, penimpun barang, hehehe....
Lanjut....
“Lalu, apa kau selalu merapalkan mantra dengan cara diucap?”
Suasana, entah mengapa, terasa menjadi sangat canggung.
Seolah-olah, aku menanyakan sesuatu yang tak biasa.
“Apa kau bodoh? Tentu tidak!”
Dia pun tertawa terbahak-bahak, sementara aku kebingungan saja.
“Merapalkan mantra dengan mengucapkannya sama seperti mencari mati bagi semua kesatria! Kita takkan tau kapan musuh akan datang, dan hal itu sama seperti memberi info yang berharga bagi mereka. Selain itu, mengucapkannya itu perlu konsentrasi penuh pada ucapannya, bukan pada bayangan dari hasil sihirnya.”
“Benar juga....” Ucapku mencoba mengiyakan perkataannya.
“Yang mana itulah yang justru kami perlukan dibanding hanya mengucapkan omong kosong.”
Tajam sekali ucapannya, tetapi tak salah pula perkataannya.
Aku terkadang tak begitu setuju dengan beberapa isekai yang mengedepankan sihir yang dirapalkan dengan ucapan, atau mungkin semua sihir yang memakai konsep yang sama. Karena memang, merapalkan sihir seperti itu sangatlah lama dan tidak efisien. Bahkan terkadang, seorang yang menggunakan sihir- tak terbatas pada penyihir saja, perlu dilindungi oleh banyak orang.
“Aku kagum dengan konsep sihir yang kalian gunakan....”
Aku mengatakan itu bukan untuk menyatir, namun memang aku merasa lega karena akhirnya ada orang yang setuju dengan pikiranku.
“Sayangnya, tak peduli seberapa presisi rapalannya, sihir tetaplah sihir, harus diucapkan pula akhirnya. Berbeda dengan skill, kau terkadang tak perlu merapalkan apapun untuk mengaktifkannya. Jikapun harus diucap, maka efeknya akan langsung terlihat secara presisi.”
Sedikit membingungkan, namun biarlah.
Skill, intinya, jauh lebih superior dibanding sihir.
Namun, dia menjelaskan sisi buruk dari skill.
“Skill hanya dimiliki oleh beberapa orang saja. Bahkan rasanya, sangat sulit untukku menemukan orang yang menggunakan skill. Karenanya, mereka sudah pasti dianggap orang spesial jika memilikinya.”
Sudah pasti, mereka yang mempunyai skill itu sangatlah langka.
Tapi, aku masih belum terbayang seberapa langkanya.
“Memangnya, seberapa langka mereka?”
“Satu dari sekian ratus juta makhluk hidup, kecuali tumbuhan dan mereka yang sudah berubah menjadi arwah, yang ada didunia ini.”
Tunggu, satu dari ratusan juta makhluk hidup????
Berarti, hewan dan monster pun ada yang memiliki skill?
Uwah..., sekarang..., aku merasa ketakutan dengan dunia ini rasanya....
“Tenang saja, kau pasti sudah memikirkannya. Skill itu hanyalah versi superior dari sihir karena betapa instan, irit MP, dan efektif ketika keduanya dibandingkan. Bahkan, efek dari skill dan sihir tidak ada bedanya sama sekali.”
Berarti..., jika skill menghilang itu ada, maka ada pula sihir menghilang.... Juga, Skill sama-sama menguras MP.... Benar-benar membingungkan....
Maksudku, untuk apa Skill itu ada jika sihir lebih sering untuk ditemukan?
Inginnya bertanya seperti itu, namun dia dengan cepat bisa membaca pikiranku.
“Skill sering dianggap dengan «God's Blessing» karena memang para leluhur kami diberkahi oleh para dewa.”
Ah..., anugerah dewa ternyata.... Pantas saja mengapa mereka jauh lebih baik dibandingkan sihir. Selain itu, entah mengapa, aku bisa mengetahui alasan skill itu dibuat jauh lebih baik- bukanlah sempurna, dibanding sihir.
Hanya pikiranku, namun mereka pun sepertinya juga manusia- atau makhluk hidup seperti manusia.
Mungkin, sudah saatnya membicarakan topik yang lain.
Dan mungkin juga..., aku perlu bertanya tentang hal lain..., berhubung dia sudah menyinggung kata “kesatria”.
“Terus, apa kau tau tentang kesatria berzirah hitam?”
Refleks, dia menatapku dengan serius setelah aku selesai bertanya seperti itu. Aku terkejut karenanya. Dan sepertinya, aku menanyakan sesuatu yang sensitif.
“Zirah hitam...?”
Aku hanya mengangguk perlahan saja. Aku tak punya keinginan untuk berbohong. Dan aku yakin jika aku akan mati jika aku salah berkata nantinya.
“Jadi itu alasanmu diikat pada tongkat besi itu....”
Aku kembali mengangguk, yang mana dia hanya berbicara pada dirinya sendiri. Aku takkan bertanya lebih jauh lagi mengenai ini. Aku hanyalah seorang outsider saja disini.
“Aku jawab singkat saja, mereka adalah musuh kami.”
Nggak heran....
“Oke..., la-”
“Tunggu!”
Dia pun langsung menyela ucapanku. Sepertinya, aku sudah memicu suatu hal yang tak aku sadari. Lebih baik aku ikuti alurnya saja.
“Siapa namamu, anak muda?”
“Namaku...?”
Dia mengangguk dengan pelan, untuk meyakinkan kepadaku jika dirinya serius.
Mau bagaimana lagi...?
Lebih baik aku sebutkan saja namaku.
“Namaku....”
Huh...?
Coba aku sebut lagi....
“Namaku....”
Huh...?!!!
Kenapa aku tak bisa mengingat namaku...?!!!
Aku tak tahu ini efek dari masuknya diriku ke dalam dunia ini ataupun raungan monster panther berkepala kadal itu, namun aku benar-benar takut saat ini. Aku sama sekali tak bisa mengingat namaku, tetapi malah bisa mengingat semua hal pada masa lalu dengan sangat jelas. Apa aku telah melakukan kontrak terlarang?!!!
“Tenang dulu....”
Aku langsung melihat ke arah kepalanya. Meski terhalang helm, aku yakin jika dirinya sedang menatapku dengan tatapan serius. Karenanya, aku hanya bisa mengikuti perkataannya, lagi....
Setelah aku tenang, dia langsung berbicara.
“Oke, kau harus tenang dengan apa yang akan aku bilang. Janji?”
Aku mengangguk dengan yakin. Aku sangat penasaran dengan apa yang akan dia katakan. Bahkan, aku menatapnya dengan serius.
“Baiklah, kau adalah «The Lost Soul».”
“Maksudnya...?”
“Biar aku jelaskan dahulu....”
Oke-oke, aku takkan menginterupsi penjelasannya dahulu.
“Disini, yang namanya orang dari dunia lain itu sudah menjadi hal lumrah. Entah mereka yang dipanggil oleh para penyihir, orang yang langsung bereinkarnasi, ataupun mereka yang langsung terpanggil maupun yang bereinkarnasi langsung ke sembarang tempat. Mereka yang terpanggil atau bereinkarnasi ke sembarang tempat itulah yang biasa kita sebut dengan «The Lost Soul», jiwa yang tersesat.”
Masuk akal juga nama dari «The Lost Soul» itu sendiri.
Tetapi..., kenapa ini bisa terjadi...?
“Banyak orang yang bilang jika TLS itu adalah orang yang meninggal dalam kondisi misterius. Lalu, orang yang meninggal biasanya tak memiliki masalah apapun. Malah, hidup mereka cukup nyaman.”
Entah mengapa, deskripsi yang dia sebutkan memang sesuai dengan kondisiku. Aku hidup cukup jauh dari rumahku hanya untuk memfokuskan diriku pada kehidupan SMA-ku. Bahkan, aku berhubungan baik dengan kebanyakan guru dan murid disana.
Seram, itu yang bisa aku sebut untuk menggambarkan kondisiku saat ini.
“Tetapi, kebanyakan orang, termasuk diriku, tak mengetahui alasan pasti dari terpanggilnya para TLS ke dunia ini. Akibatnya, banyak orang yang membuat berbagai macam spekulasi mengenai munculnya TLS sendiri. Karena, semua yang terpanggil maupun bereinkarnasi kesini harusnya memiliki suatu kesalahan terpendam pada masa lalunya.”
Aku langsung melebarkan kedua mataku begitu kalimat terakhir yang dia ucapkan itu selesai. Aliran ingatan masa laluku terlihat sangat jelas. Bahkan, semuanya muncul begitu saja dengan instan.
Dimulai dari aku menyiksa banyak orang yang selalu memojokkan keluargaku, bersikap arogan dengan orang-orang kaya yang hendak membeli lahan keluargaku, hingga bersilat mulut dengan semua keluargaku akibat sifatku yang terkadang cukup arogan.
“Dan biasanya, para TLS memang takkan bisa mengingat nama mereka. Tak banyak yang mengetahui alasannya. Namun, aku hanya bisa berasumsi jika TLS memang datang ke dunia ini tanpa menemui utusan dewa, yang mana menjadikan mereka seperti penyusup dalam dunia ini.”
Sepertinya, aku memiliki peran sebagai orang jahat dalam dunia ini. Aku benar-benar merasa menyesal atas perbuatanku sebelum datang ke dunia ini. Dan, aku memang harus siap atas semua hukuman yang akan aku terima.
“Namun tenang saja, di mata kami, TLS adalah hewan liar yang bisa dijinakkan. Dengan itu, para TLS bisa mendapatkan nama mereka dari tuan mereka. Tetapi pula, hanya takdir yang menentukan jika kau akan mendapatkan tuan yang baik, maupun yang jahat, atau bahkan hidup sama sekali dengan tanpa nama.”
Perkataannya yang terakhir tidaklah buruk. Tetapi memang, aku tak bisa bergantung pada takdir begitu saja. Namun pula, jika memang aku mendapatkan takdir yang cukup buruk, maka harus mengubah jalur dan caraku untuk mendapatkan hidup yang aku dambakan.
“Karenanya....”
Seketika lingkaran sihir terbentuk diatas tanah yang luasnya hanya bisa memuat aku dan sang kesatria. Memang, aku kebingungan akibat hal itu. Tetapi, aku tak merasa terancam.
Mungkin, akan ada hal baik yang datang padaku.
Dia pun berdiri dan mencoba untuk melanjutkan kalimatnya.
“Aku akan mengikatmu pada diriku dengan kontrak nyawa!” serunya sembari melihat kepadaku dan mengarahkan tangan kirinya pada tubuhku.
Seketika aku merasa tubuhku melayang menjauhi tanah secara perlahan. Tubuhku sama sekali tak bisa aku gerakkan. Dan kembali, aku sama sekali tak merasa adanya ancaman ataupun hal-hal yang memang akan menyulitkan hidupku.
“Akan aku perintahkan padamu untuk mencari hal-hal yang menggambarkan dirimu pada masa lalumu!”
Seketika aliran ingatan masa lalu muncul kembali. Namun kali ini, ingatan yang muncul tak terbatas pada kesalahanku saja. Dan memang, ingatan-ingatan yang terpilih cukup random.
Namun, aku sama sekali tak membencinya....
“Artze! Kau akan menjadi bawahanku mulai saat ini!”
Artze..., dibaca Art, ditulis A, R, T, Z, E....
Ya..., nama yang sama sekali tak aku benci....
Malahan, nama itu terasa sangat melekat pada diriku.
“Apa jawabanmu atas semua perintahku?!”
Aku pun turun dan langsung melakukan jongkok seperti kesatria pada umumnya. Aku benar-benar merasa jika dia benar-benar orang baik. Karenanya, aku akan menjawab pertanyaannya sepenuh hatiku.
“Baiklah, tuanku.”
Aku tersenyum dengan puas setelah memberikan jawabanku. Lalu, aku berdiri dan menatapnya dengan sangat percaya diri. Benar-benar perasaan yang sangat berbeda dibanding pada masa laluku.
***
Aku pun dibawa oleh sang kesatria suci itu menuju ibu kota kerajaan Falmuth, Pastmist. Tentunya, aku menjadi murid dari kesatria itu. Selain itu, aku pun langsung belajar hal-hal akademik secara langsung dengannya seperti belajar dengan guru les yang sangat keras.
Aku sendiri sering membangkang atas perintahnya, yang mana aku tak jarang beradu argumen dengannya. Karena memang, beberapa yang diajarkannya tak sesuai dengan pemikiranku. Bahkan, ada sedikit hal yang dia ajarkan sangatlah kontroversial.
Tetapi, aku baru mengetahui dan memahami semuanya secara perlahan ketika aku mendapatkan invitasi oleh salah satu petinggi kesatria suci.
Selalu berhati-hati dengan orang, bunuh orang yang memang ingin mencelakakan diriku, bahkan terkadang tak ada salahnya jika aku menguping dan mengintip beberapa orang.
Dan, aku sadar jika semuanya berlaku pada semua orang.
Contohnya saja, beberapa bangsawan yang menjadi petinggi kesatria suci selalu menculik, membeli, dan menyiksa para budak, yang notabennya hal tersebut tidaklah terpuji di kerajaan ini. Tak peduli siapapun budaknya- mau perempuan, laki-laki, lansia, remaja, sakit, sehat, semuanya selalu menjadi korban. Dan, kebanyakan diantara mereka meninggal- dengan mengakhiri nyawa sendiri, disiksa pemilik mereka, atau bahkan menjadi tumbal ketika perang.
Itu belum termasuk dengan para bandit, pedagang ilegal, dan monster-monster berbahaya rank B hingga X.
Karenanya, aku pun diberikan perintah oleh tuanku untuk memburu semuanya yang merusak kerajaan ini.
Hasilnya, tuanku benar-benar puas melihat perkembanganku sebagai murid, bawahan, asisten, dan anak angkatnya. Ini ditunjukkan dari wajahnya ketika meninggal, yang terasa benar-benar puas akibat tersenyum hangat ketika aku menangis sangat sedih. Dia benar-benar tak punya keinginan apapun padaku selain selalu percaya pada diriku sendiri.
Dan, 20 tahun kemudian setelah aku terpanggil kedalam dunia ini, aku pun kembali ke hutan pertama, begitulah aku sebutnya, untuk mengunjungi sebuah desa yang terkena serangan monster. Tak ada alasan khusus selain perintah para atasan Kesatria Suci Falmuth. Setidaknya, aku bisa bernostalgia sedikit mengenai awal hidupku di dunia ini.
Tak ada siapapun, hanya zirah putih dengan beberapa kain magis yang ditempelkan dengan sihir, pedang berukuran sedang untuk memburu “iblis”, dan kekuatan yang kesatria penyelamat hidupku yang telah aku pelajari saja yang menemaniku. Takkan aku beritahu alasan mengapa aku sendiri, meski sebenarnya bisa saja ditebak dengan mudah. Namun, para atasan percaya jika aku sendiri dapat menyelesaikan masalah yang terjadi pada desa tersebut.
Meski begitu, aku tetap saja tak diberi tahu detail tentang musuh yang akan aku hadapi. Tentu, ini sama saja seperti misi bunuh diri. Dan memang, aku tahu tujuan mereka melakukan hal ini.
Karenanya, aku menerimanya dengan senang hati. Jika aku menolak ini, aku akan dipaksa untuk keluar dari Kesatria Suci Falmuth dengan cara yang sangat kasar. Jadinya, ini solusi win-win bagiku.
Dan aku takkan lupa ekspresi terkejut mereka ketika aku menyetujui untuk mengambil misi ini.
Benar-benar menyedihkan...!
Namun lupakan saja....
Angin kesedihan biarlah berlalu....
Lalu, aku telah sampai pada suatu tebing yang ingin aku datangi.
Tebing tersebut aku datangi karena aku ingin melihat kondisi desa tersebut dari atas. Tak perlu detail yang cukup rinci. Karena memang, kejutan demi kejutan selalu aku temukan akibat perincian tersebut.
Kondisi desa itu masih utuh, sekitar 50% saja. Bangunan-bangunan yang hancur letaknya sangat tak beraturan. Dan, beberapa diantara telah menjadi abu, dengan beberapa bagian bangunannya saja yang masih bertahan.
Oke, sepertinya hanya begitu kondisi dari desa itu....
Aku pun langsung menghadapkan badanku ke arah kiri dan mengarahkan pedangku menuju langit- beberapa meter keatas desa itu. Lalu, aku langsung merapalkan sihir pertamaku- pada pertempuran ini, sebagai tandaku untuk berperang kepada musuh-musuh yang bersembunyi di desa itu. Tidak lupa, aku merapalkannya dengan suara yang tegas dan kencang, yang ku harap bisa menurunkan mental musuhku nanti.
“Anti-Buff Flash!”
Cahaya pun menyinari bilah pedangku. Tentunya, aku kesulitan untuk melihat ke arah depanku. Dan pastinya, aku- sebagai perapal sihirnya, sama sekali tak terkena efek dari sihirku.
Akan gawat jika aku terkena efek Anti-Buff dari sihirku sendiri.
Bukan hanya kekuatan dari zirah dan pedangku yang hilang, tetapi pula skill pasif yang sudah aku pelajari akan ikut menghilang.
Bahayanya, aku akan sama seperti pergi menuju medan tempur dengan tujuan bunuh diri.
Setelahnya, aku langsung terjun dari tebing itu dan segera merapalkan sihir lainnya dengan cepat, seperti sihir pertama.
“Mini Teleportation!”
Aku langsung berpindah menuju titik paling tengah dari desa itu dan mendarat dengan aman. Tak perlu waktu lama, musuh yang aku tunggu pun keluar dari persembunyian mereka. Jumlah mereka, ratusan, termasuk dengan penduduk desa ini yang sudah menjadi beberapa jenis «Undead».
Bisa dibilang, mereka cukup bervariatif. Ada yang terburu-buru ingin membunuhku, ada pula yang slow. Bahkan, satu diantara mereka hanya berjarak 1 meter saja dengan diriku.
Dan tentu, mereka tak menyadari jika aku bisa menggunakan sihir tanpa merapalkannya sama sekali.
Aku pun langsung menancapkan pedangku ke tanah dan seketika cahaya putih kekuningan bersinar dari ujung pedang. Kurang dari sepersekian detik, cahaya tersebut langsung meluas hingga 10 meter ke sekelilingku. Dan pada waktu tersebut pula, semua musuh yang aku hadapi musnah.
Bahkan, tak ada sama sekali jejak yang mereka tinggalkan.
Setelahnya, aku hanya perlu memburu musuh yang tak terkena dampak langsung dari sihirku. Aku langsung melesat ke arah kiri dari arah tebing, yang terletak jauh di belakangku. Dan, aku langsung menemukan musuh berikutnya.
Dia merapalkan sihir dengan lambat. Naasnya, ketika sihirnya hampir selesai untuk dirapalkan, dia terpaksa membatalkan sihirnya untuk bisa kabur dari kejaranku. Dan akhirnya, kepalanya langsung terpisah dari badannya akibat tebasan yang aku daratkan pada lehernya.
Selanjutnya, aku langsung mendengar sesuatu dari bekakangku, tepatnya sekitaran titik tengah desa, dan segera berbalik badan. Aku terkejut melihat hal yang ada dibelakangku.
Seekor Undead Wyvern terpanggil melalui sebuah lingkaran sihir berwarna ungu tua. Secara berurutan, monster itu menggunakan sayap- yang menyatu dengan tangannya, untuk menarik dirinya dari dimensi lain dan melesat ke udara untuk mencari mangsanya. Atas hal itu, aku pun langsung mencari posisi untuk bersembunyi dan mencoba membuatnya turun tanpa menyerangku.
Aku pun mencoba memikirkan rangkaian serangan demi serangan untuk mengakhiri hidup monster itu kedua kalinya. Tetapi, aku langsung diinterupsi oleh monster itu, yang langsung menggunakan kaki belakangnya untuk menghancurkan bangunan yang sedang aku masuki, sebelum aku sendiri berhasil bersembunyi dan mengawasinya. Karenanya, aku langsung terekspos pada area terbuka, yang membuatku berada dalam posisi tidak menguntungkan.
Wyvern yang bangkit dari kematiannya itu pun langsung menyemburkan nafas apinya kepadaku. Aku pun langsung kabur sebelum api tersebut mengenai diriku. Tetapi, dia langsung melesat ke depanku dan segera untuk menyemburkan nafasnya kembali.
Dan sekarang, saatnya aku untuk memutarkan situasi....
Aku hanya melesat menuju monster itu sembari memerhatikan kapan dia akan menghembuskannya. Jarak antaraku dengan monster itu semakin mengecil. Hingga, dia langsung menghembuskannya ketika aku berada dititik yang cukup dekat dengannya, sekitar 3 meter.
Tentunya, aku refleks melompat ke udara. Hal tersebut membuat monster itu mengangkat kepalanya supaya semburan nafas apinya bisa mengenai diriku. Dan usahanya tak sia-sia sama sekali.
Nafasnya kian mendekatiku seiring melambatnya pergerakanku di udara.
Seketika, aku langsung berada di atas monster itu dan segera aku menancapkan pedangku pada lehernya. Jika aku telat, bahkan tidak, menggunakan sihir teleportasi itu, sudah pasti api itu akan melahap sebagian besar dari darahku. Juga, timing-nya benar-benar tepat untukku menggunakan sihirnya.
Monsternya sendiri terkejut dan langsung tumbang setelah aku menancapkan pedangku. Tentu, dia takkan menjerit kesakitan, berhubung dia hanyalah mayat hidup saja. Akan tetapi, aku menyadari jika monster itu menjadi lebih rileks.
Seakan-akan dia telah terbebas dari besi belenggu yang membatasi kebebasannya.
Dan, aku pun terkejut ketika ada suara orang di dalam kepalaku ketika aku turun dari badan mayat hidup tersebut dan melangkah beberapa langkah.
“Jiwa yang hilang nan tersesat, terima kasih telah membebaskan diriku.”
Aku hanya melihat ke arah Wyvern itu dengan tatapan simpati ke arah kepalanya. Dia berbicara dengan perlahan, seakan-akan dia dalam kondisi sekarat. Lalu, dia pun menutup kedua matanya, semoga, untuk terakhir kalinya.
Aku hanya tersenyum, mencoba menghilangkan kesedihan yang ada pada hatiku setelah melihat kematian monster itu. Rasanya, aku bisa merasakan kepahitan untuk hidup kembali, apalagi jika aku takkan bisa menggerakkan tubuhku sebebas mungkin. Sungguh, bagiku, itu sama seperti penyiksaan.
Jelas ini ulah musuh yang aku bunuh sebelum Wyvern itu muncul. Itu karena, monster itu muncul tepat setelah dia terbunuh. Untungnya, hanya satu bangunan yang berhasil dihancurkan monster itu.
Dengan lelah, secara mental, aku pun menancapkan pedangku di tanah dan merapalkan mantra untuk memusnahkan semua mayat yang ada di sekitar desa, meskipun aku memang tak mengecek keseluruhan desanya.
Kemudian, dengan suara yang goyah, aku mengucapkan mantra sihirnya setelah aku merapalkan semuanya dalam kepalaku.
“Dispel, Purification Extreme....”
Aku merapalkan dua sihir sekaligus. Dan pasti, MP- Mana Point tentunya meski aku tak menyebutkan diawal, terkuras habis-habisan. Selain akibat keduanya adalah sihir tingkat tinggi, aku menggunakannya dengan lebar yang sangat luas, setidaknya menurutku saat ini.
Warna kuning dan putih serasa bercampur disekitarku, yang muncul dari tanah, ketika aku selesai mengaktifkan sihirnya. Perlahan, semua mayat hidup yang tak bisa bergerak maupun hidup, termasuk monster itu, menghilang seperti hantu-hantu yang urusannya telah selesai sepenuhnya dari dunia. Terasa sangat menyedihkan, meskipun aku sadar jika aku juga sama seperti hantu-hantu yang aku sandingkan dengan mayat-mayat hidup tersebut.
Menundukkan kepala dan menangis sembari menahan tubuhku pada pedangku, itulah yang aku lakukan saat ini. Kepergian banyak orang selalu meninggalkan kesedihan bagiku. Tetapi, mereka selalu yang menjadi alasanku untuk bisa hidup lebih baik lagi.
Tangisanku yang pelan pun bertahan selama aktifnya sihir itu, selama cahaya yang muncul dari tanah masih ada.
Setelahnya, aku pun menegakkan tubuhku kembali dan melihat ke arah langit. Setidaknya, mereka telah melintas menuju alam yang lain. Juga, sekali lagi, menguatkan alasanku untuk tetap menjadi yang lebih baik lagi.
Karena itu, aku tersenyum tipis, berusaha menghilangkan semua kepahitan dalam pikiran dan hatiku.
Tak lama kemudian, aku mendengar beberapa orang berjalan mendekatiku. Sudah pasti karena kebiasaan, aku refleks melihat ke arah mereka, yang ada di kiriku. Dan, jujur saja, mereka cukup mengejutkanku.
Mereka adalah anak-anak- yang aku asumsikan, warga dari desa ini. Mereka berjumlah 10 orang, dengan total 7 perempuan dan 3 laki-laki. Umur mereka, jujur jika dari penampilan mereka, sekitar 5 hingga 10 tahun.
Mereka berdiri membelakangi para lelaki, itupun lelaki yang lain masih membelakangi anak yang paling tua. Rambut mereka yang berwarna-warni dan baju mereka yang rusak tertutup oleh debu dan kotoran-kotoran lainnya. Juga, tak ada satupun alas kaki yang mereka kenakan.
Sang anak tertua, berambut biru tua dengan tinggi badan sekitar 150 cm, berdiri sembari menghilangkan rasa takutnya kepadaku. Kemudian, kedua lelaki bersembunyi dibelakangnya, yang mana mereka kembar identik dengan rambut berwarna hijau toska juga tinggi badan sekitar 5 cm lebih pendek dari lelaki cilik tertua itu. Lalu, sang gadis pun bersembunyi diantara salah satu dari si kembar, yang rambutnya pirang pudar dan tingginya hanya 2 cm lebih pendek dari si kembar.
Masih sangat belia, namun sudah ditinggalkan kedua orang tua mereka akibat para monster itu.
Aku pun melepaskan pedangku dan membiarkannya menancap pada tanah. Selanjutnya, aku mendekati mereka dengan pelan. Terakhir, aku pun jongkok, menyetarakan tinggi badanku- meski memang masih melebihi tinggi badannya, dan melihat ke salah satu anak yang paling tua- tanpa menyentuhnya sama sekali.
Tatapannya benar-benar orang yang kebingungan. Bahkan, matanya berkaca-kaca selayaknya orang hendak menangis. Karenanya, meskipun aku tak memakai helm sekarang, senyumanku tak bisa membuat mereka senang.
Dengan nada seperti menahan tangis, aku mencoba berbicara padanya tanpa mencoba untuk menggerakan kedua tanganku.
“Nak..., kalian disini seberapa lama...?”
Mereka terdiam, entah kebingungan maupun ketakutan. Aku, sejujurnya, seperti orang yang mencurigakan, tak peduli apapun yang aku kenakan. Bahkan, zirah yang aku kenakan malah terasa semakin menguatkan pandangan buruk mereka kepadaku.
Bercak darah menempel pada bagian paha hingga helm, belum ditambah banyaknya bercak darah pada jubahku. Nada bertanyaku yang terdengar sangat tak nyaman, bagai seorang psikopat. Dan, tinggiku yang menakutkan bagi mereka, secara orang umum sering menghinaku dengan sebutan “White Golem”.
“Tuan kesatria.... Apa kau datang dari ibu kota...?” tanya anak tertua itu dengan pelan dan ragu.
Hanya anggukan penuh keraguan yang bisa aku lakukan kepadanya. Sulit untukku membukakan mulut dan mencoba mengeluarkan sepatah kata dari mulutku. Hingga, aku pun menundukkan kepala secara perlahan.
Tanpa aku sadari, pelukkan pun aku rasakan. Semakin lama, pelukkan tersebut semakin bertambah. Anehnya, pelukkan tersebut terasa sebagai pesan tersirat.
Aku tak mengetahui dari siapa....
Lalu, suara pun terdengar dari sebelah kiri telingaku, tepat pada dadaku.
“Tuan.... Mama bilang, semua orang itu sama. Nggak ada yang nggak bisa nangis.”
Kalimat itu meluluhkan hatiku untuk tidak menahan suara tangisanku. Akibatnya, semua anak ikutan menangis. Dan memang, ini tak bisa ditahan lagi.
Aku bisa merasakan kesedihan mereka akibat berpisah dengan kedua orang tua untuk selamanya. Aku sendiri sudah merasakannya dua kali, ketika aku sedang depresi memikirkan ketika aku tak bisa kembali ke dunia asalku dan ketika tuanku meninggal. Terlebih, aku menghabiskan waktuku dengannya ketika pikiranku memang sudah lebih dewasa dibanding ketika dengan kedua orang tua kandungku.
Tak ayal, aku tenggelam dalam tangisan ini selama 2 jam.
Selanjutnya, aku pun mengumpulkan berbagai macam kayu untuk kebutuhan disini. Mereka pun membantuku untuk mengumpulkan semua bahan-bahan makanan yang tersisa dari seluruh rumah yang ada. Tetapi, aku tak menyuruh mereka untuk mencarinya hingga ke rumah terluar, karena memang cukup berbahaya.
Malam pun datang, aku pun menuju dapur dari rumah yang telah pilih oleh para penyintas cilik itu.
Aku mengisi beberapa panci dan tekonya dengan sihir airku. Lalu, aku memasakkan makanan untuk mereka menggunakan bahan yang telah aku cuci sebelumnya, tidak semua pastinya. Aku pun hanya memasak sup sayuran dan daging saja- yang aku sendiri tak mengetahui itu daging dari apa, berhubung hanya itu yang cukup mudah untuk aku masak.
Tinggal memotong semua sayurannya- diantaranya ada wortel, kentang, dan kembang kol, selagi aku membuat kaldu dagingnya, untuk sop berikutnya ataupun masakan lainnya. Memang, aku hanya mengambil sedikit daging misteri itu untuk sop yang aku buat sekarang. Namun anehnya, dia terasa sangat empuk dan lembut, meskipun baru 2 jam aku merebusnya.
Jika aku boleh ibaratkan, rasanya seperti daging iga yang biasanya orang amerika makan setelah diasap setelah beberapa belas jam dalam alat pengasap, benar-benar mudah lepas dari tulangnya.
Setelah semua bahan sudah terpotong kecil-kecil, aku pun memasukkannya kedalam panci yang kosong- maksudku penuh dengan air dari hasil sihirku. Selanjutnya, aku menambahkan garam dan lada kedalamnya, karena memang aku tak ingin mereka mencicipi sup tersebut tanpa rasa yang lezat, tentu harus sesuai pikiranku. Tetapi, ini yang membuatku cukup bingung akibat aku memang ingin mencicipinya, karena aku selalu berhati-hati untuk memilih dan memakan daging yang ada di dunia ini.
Untungnya, salah satu anak perempuan melihatku untuk memasak makanannya. Dari usianya, dia mungkin berumur 8 tahun. Juga, mata dan ekspresinya sudah tak sabar untuk mencicipi makananku.
Meskipun ini eksploitasi bagiku, namun aku tetap memintanya untuk mencicipi masakanku. Tentu dia senang dan segera mencicipinya. Tapi memang, aku hanya membolehkannya untuk mencicipi kuahnya terlebih dahulu.
“Tuan...! Ini lezat sekali...! Aku yakin kita semua bakal senang memakannya!”
Yup, dia cukup bersemangat untuk mengatakannya, yang mana terdengar sangat tidak sabar untuk merasakan sup tersebut secara keseluruhan. Karenanya, aku semakin ingin untuk mencicipinya.
Terpaksa, aku pun menanyakannya dengan ragu-ragu.
“Makasih, tapi..., apa kau tau ini daging apa?”
Dengan senyum bingung, dia menjawab pertanyaanku dengan simpel.
“Daging sapi, memang ada apa tuan?”
Aku menari-nari dengan sangat liar, tentu dalam pikiranku. Karenanya, aku langsung membuka helmku dan mencicipi kuahnya yang masih hangat. Dan, aku cukup terkejut dengan rasanya, gurih dan rasanya tak begitu berat untuk dimakan setiap saat.
Ah..., confy food....
Dan karena itu, aku menunjukkan wajahku kepadanya. Hasilnya, hanya canggung saja yang dapat kami rasakan. Aku hanya terdiam malu sembari mengenakan helmku kembali, dan anak itu menganga sembari perlahan wajahnya memerah.
Dengan bodoh, aku mencoba menanyakannya tentang wajahku, sebagai pria yang sudah berumur 35 tahun kepada anak perempuan berumur 9 tahun.
“Apa..., kau kaget melihat wajahku...?”
Dengan instan, dia mengangguk dengan kencang. Inginnya, aku bisa mengabaikan alasan dari anggukannya itu. Soalnya..., mungkin saja dia tak ingin menceritakannya seperti dia sudah tau cara membangun privasinya.
Namun, dia malah melakukan hal yang berkebalikan dari apa yang aku inginkan.
“Papa pernah bilang kalo wajah tuan kayak kesatria-kesatria yang ada di cerita-cerita kerajaan.”
Aku pun mencoba mendengarkannya....
Dia yang membuatku seperti ini, oke...!
“Wajahnya tegas, tapi sebenernya penuh dengan kesalahan.”
Ugh..., sakit....
“Kalaupun senyum, dia cuma ingin semuanya nggak tau penderitaan yang dialaminya.”
Hen..., ti..., kan....
“Juga, dia sangat perhatian, sampe-sampe hatinya dimainin sama cewek-cewek jahat..., nggak tau juga sih maksudnya apaan....”
Ugh....
Semua yang dia katakan..., sakit.... Dia mengatakannya dengan polos.... Tapi untungnya, dia memang polos juga wajahnya masih menggemaskan layaknya kucing yang manja.
Belum hingga tahap menggemaskan yang membuatku kesal seperti kucing yang selalu merusak perabotanku yang terbuat dari keramik....
Membayangkannya saja sudah kesal...!
“Anu..., bisa kita ngomongin hal lain...?”
“Emangnya kenapa tuan kesatria? Kan yang kayak gitu emang baik...?”
Stop..., pls....
Anak ini, mungkin sudah pantas untuk aku panggil sebagai gadis cilik..., sangat, sangat, sangat, dan sangat jujur akan perkataannya. Harus dilindungi..., luar dan dalamnya. Juga, harus dijaga dengan hati-hati, kalo nggak mau nerima rasa sakit pada hati kalian....
Moga aja nggak gitu lagi....
“Ya udahlah, kita mending fokus masak lagi aja....”
“Ya!!!”
Dengan rasa sakit yang masih berasa, aku melanjutkan proses memasaknya. Untungnya, sup yang aku masak matang dengan sempurna, meski beberapa sayuran menjadi terlalu lembek.... Namun ternyata, mereka lebih menyukainya seperti itu dibanding dengan sayur yang memang matang namun keras.
Selesai masak, aku berjalan menuju ruangan yang mungkin saja dipakai pemilik sebelumnya untuk berkumpul bersama para tamu. Karena pada dasarnya, anak-anak yang membawaku kemari, ke ruangan tamu, hanya karena disini ada perapian. Tetapi, aku tak bisa menyalahkan mereka, mereka bisa saja mengasapkan beberapa bunga lavender untuk menghilangkan nyamuk-nyamuk yang mengganggu, selain karena dinginnya udara malam.
Dan..., mereka memang melakukan itu saat ini....
Mereka duduk dengan nyaman depan perapian. Senyum nyaman mereka tak bisa aku hindari dari kedua mataku. Seolah-olah, mereka memiliki kekuatan mistis- semacam charm, untuk membuatku ikut merasa nyaman meskipun aku selalu mengenakan, dan takkan pernah melepaskan, zirahku.
Aku pun..., terdiam- memandangi betapa nyamannya mereka disana....
Dari arah belakangku, terdengar suara langkah kaki beserta suara benda bergoyang dari bahan kayu. Aku tak perlu meragukan mengenai orang itu. Bahkan..., aku rasa aku serasa bodoh jika memang aku meragukan orang itu.
“Woy!!!! Bantu siapin tempatnya!!!!”
Yup, dia yang berteriak marah seperti itu adalah gadis cilik yang membantuku di dapur tadi.
Dia pun mencoba memasuki ruangan ini dengan mudahnya, meski pintunya telah aku halangi akibat sedang berdiri menatapi kondisi anak-anak yang lain. Dia pun menaruhnya- alat-alat untuk makan, di lantai kayu sebelum semuanya sudah dirapihkan. Wajar bagiku, mungkin saja kayunya cukup berat untuk dia bawa.
Siapa tahu....
Anak-anak yang lainnya pun membuat alas khusus untuk panci supnya. Cukup mudah, hanya dengan beberapa balok kayu yang cukup rata yang kemudian disusun membentuk persegi. Bukannya apa-apa, mereka sendiri yang bilang jika akan terasa tak sopan jika wadah makanan yang besar, terutama jika sudah berisi makanan, ditaruh langsung di lantai.
Aku tak mengherankannya, tetapi itu dilakukan karena sebenarnya mereka memakai etika petualang. Biasanya, panci, ataupun alat masak lainnya, jarang ditaruh dekat dengan api unggun. Satu-satunya cara, hanya dengan menggantungnya ataupun menaruhnya pada lubang perapian, yang sebelumnya sudah dibuat.
Bahkan saking seringnya dilihat, banyak warga-warga dari desa terpencil menggunakan cara yang sama untuk menggunakan alat masaknya.
Selain itu, ada juga yang menggunakan besi yang cukup tipis untuk mengalasi peralatan lainnya dari bara api ketika mereka hendak memasak sesuatu.
Karenanya, kehangatan semakin terasa pada mereka....
Tak lama kemudian, mereka pun menyelesaikan alas untuk menaruh sup dagingku ini dan aku langsung menaruhnya disana. Lalu, semuanya mengambil mangkuk mereka masing-masing beserta dengan supnya. Terakhir, aku pun membagikan roti tawarku yang berbentuk bundar kepada mereka.
Mereka tak begitu peduli, karena mungkin roti seperti ini memang sudah umum.
Mereka pun mengangkat kedua tangan mereka setinggi dada. Kemudian, mereka memejamkan kedua mata mereka. Lalu, mereka pun mengucapkan dua kata yang sama.
“Selamat makan.”
“Selamat makan!”
Perlahan, mereka menyendokkan sayur sup mereka ke mulut. Beberapa langsung tersenyum semangat, beberapa langsung meneteskan air mata. Namun dimataku, mereka sama-sama menikmati supnya.
Karena itulah, mungkin sudah giliranku untuk memakan masakan buatanku sendiri.
Aku membuka helmku dan menaruhnya di samping kananku. Kemudian, aku mengambil mangkukku dan mengangkatnya dengan tangan kiriku. Namun seketika, mereka semua terdiam.
Aku sudah bisa menebak ekspresi mereka. Tetapi ternyata, tebakkanku tidak tepat semuanya. Karenanya, aku berekspresi bingung.
4 orang berekspresi terkejut hingga matanya berkaca-kaca- bagai orang yang menemukan cahaya hidupnya, 4 orang lainnya berekspresi terkejut akibat tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Satu lagi, sang lelaki cilik yang aku tanya duluan sebelumnya, berekspresi hendak menangis.
Pengecualian bagi gadis itu, karena memang dia sudah melihat wajahku.
“Tuan..., apa kau sebenarnya memang tuan Artze...? Anak dari-”
Aku langsung mengangguk pelan yang disusul dengan suaraku untuk memotong ucapannya dan menyampaikan permintaanku kepada mereka.
“Ya, aku memang Artze. Namun, aku bukan lagi seorang Kesatria Suci Falmuth. Jadi tolong..., jangan hubungkan aku dengan kerajaan itu lagi....”
Semua pun menatapku dengan sedih. Semua tak percaya dengan apa yang aku percaya, atau pun hanya berusaha untuk memahami apa yang aku ucapkan. Dan memang, tatapan mereka malah menjadi cerminan kepada hatiku saat ini.
***
Pagi hari pada keesokan harinya ketika semua anak-anak sedang tertidut, aku memberikan surat kepada mereka dan meninggalkan mereka begitu saja di bangunan yang mereka pilih sebagai rumah mereka. Aku berjalan menjauhi bangunan itu, juga menjauhi kerajaan itu. Dan aku tak bisa berbuat banyak selain membunuh para undead yang berhasil di bangkitkan di desa ini.
Akibatnya, aku merasa berat hati untuk meninggalkan desa ini. Bukan apa-apa, anak-anak itu takkan bisa bertahan hidup tanpa diriku, karena memang potensi berbahaya dari monster ganas yang akan datang ke desa ini tidaklah kecil. Namun, aku perlu pergi dari sini secepat mungkin.
Itu karena..., aku sedang berlomba untuk memperebutkan sesuatu dengan waktu juga pihak kerajaan....
Meski begitu, semakin aku berjalan, semakin berat hatiku untuk meninggalkan desa ini. Dan semua penyintas cilik disini sadar betul dengan kondisi hatiku, tebakku. Lalu, tebakanku menjadi nyata tanpa aku duga.
Ketiga lelaki dan gadis itu berlari mendekatiku dan langsung menangis ketika mereka sudah memeluk kedua kakiku. Aku tak bisa menatap ke arah wajah mereka. Namun, aku tak bisa menyembunyikan rasa sedihku.
“Tuan Artze!! Padahal kau berjanji takkan pergi dari sini!!!” ucap gadis cilik itu.
Itu, yang gadis itu katakan, bukanlah sebuah janji.... Itu adalah keinginan terdalamku, jauh dari lubuk hatiku.... Itu juga merupakan bentuk tanggung jawabku untuk bisa mengasuh ke-10 anak yang selamat dari serangan undead.
Namun, waktu dan situasi sedang tidak bersahabat denganku....
Mengabaikan apa yang kerajaan itu sedang kejar adalah sama seperti aku mengabaikan kondisi anak-anak ini. Mereka pasti akan melakukan pembantaian yang sama kepada anak-anak ini jika tujuan mereka sudah tercapai. Bahkan tak menutup kemungkinan, mereka bisa saja menguasai dunia.
Karenanya, aku perlu jujur dengan mereka. Aku perlu merelakan mereka. Juga, aku perlu teguh untuk melakukan misi bunuh diri yang aku buat sendiri.
Juga, sudah waktunya aku memanggil mereka dengan nama mereka masing-masing tanpa mereka tahu dari mana aku mengetahui nama mereka.
“Thiwan, Gatran, Gatrus, juga Celeste, aku harus pergi dari sini. Aku ingin mencuri apa yang sedang dicari oleh Falmuth. Jika tidak, hal yang sama pada desa ini akan terjadi pada kalian juga.”
“Tuan Artze, kita nggak peduli dengan hal itu! Kita nggak ingin liat Tuan Artze sedih kembali! Dan juga, kita ingin Tuan Artze bisa hidup bersama kami!!!”
Aku tersenyum, akan kehangatan, kebahagiaan, juga kesedihan yang ada dalam diriku maupun pada sekitarku.
“Celeste, aku berterima kasih atas kepedulianmu....”
Aku pun membalikkan badan dan jongkok. Kemudian, aku mengelusi kepalanya seraya memeluk keempat anak yang selamat dari serangan monster undead itu. Lalu, aku melepaskan pelukkanku dan membuat mereka menatap wajahku, meski terhalang helm kesatria ini.
“Sebagai gantinya, aku ingin kalian berjanji padaku.”
Keempat anak itu mulai mengangguk. Aku seharusnya siap untuk mengutarakan janji yang ingin aku buat kepada keempatnya. Tetapi, aku terasa sangat menyedihkan, disaat keempat anak itu siap, akulah yang tak siap untuk menyampaikannya.
Imbasnya, aku segera menggelengkan kepalaku, tak peduli jika mereka berempat akan melihatku dengan heran.
“Thiwan, aku ingin kau memimpin semua anak yang ada disini. Aku ingin kau bisa bijak dalam mengambil keputusan. Aku juga ingin kau selalu bermusyawarah kepada semuanya jika kau hendak mengambil keputusan. Janji, ya?”
“I-iya, Tuan Artze....”
Tentunya, dia masih menangisiku. Suaranya terdengar goyah, seperti suaraku kemarin. Karenanya, aku peluk dahulu hingga dia bisa lebih tenang.
Setelah tenang, aku langsung menatap kepada si kembar.
“Gatran, Gatrus, aku ingin kalian menjaga semua anak disini. Jangan kalian merasa yang paling kuat diantara mereka. Kalian juga butuh bantuan dari yang lain.”
Keduanya hanya mengangguk sembari kembali menangis. Dan lagi, aku memeluk mereka hingga mereka tenang. Setelahnya, aku melepaskan pelukkan ku dan menatap gadis cilik yang membantuku saat masak semalam.
“Celeste, makasih.... Kau sudah membantuku untuk menyiapkan masakan semalam. Aku janji, aku akan kembali lagi kemari dan akan bermain denganmu jika keadaan memang tidaklah berbahaya.”
Dia menangis lebih kencang dibanding ketiga lelaki itu. Bukan karena dia wanita, namun karena perkataan yang aku ucap dengan seenaknya. Aku terlalu naif juga egois kepadanya.
Ya..., aku sudah pasti bukanlah orang yang baik....
Mengatakan hal itu kepada gadis berusia 9 tahun....
***
Aku pun berdiri menatap ke arah mereka. Mereka pun melihatku dengan senyuman. Aku menjadi tenang dan tak begitu khawatir untuk meninggalkan mereka.
Akan tetapi, setelah aku selesai membalikkan badanku serta berjalan beberapa meter, Thiwan memanggilku dan menanyakan sesuatu dengan suara yang lantang. Aku tak menyangka jika dia mulai berani untuk melantangkan suaranya.
Namun, aku justru merasa semangat dan merasa seperti dia adalah rivalku.
“Tuan Artze!!! Kau akan pergi kemana?!!!”
Dengan senyum juga suara lembut sembari melihat ke arah matahari yang baru terbit- di sebelah kiriku, aku pun menjawab perkataannya.
“Menyusuri hutan ini.”
Jelas, mereka takkan bisa mendengarku. Karenanya, aku pun ikut melantangkan suaraku. Semoga, suaraku bisa menggetarkan semangat mereka.
“Aku akan menyusuri hutan ini, mencari orang-orang yang memang tersesat didalamnya!!!”
Setelahnya, aku langsung berangkat sembari melebarkan tangan kiriku dan memberikan jempol atas kepada mereka berempat. Tentunya, mereka berteriak semangat sembari melompat-lompat, karena memang suaranya terdengar bergetar-getar. Aku semakin membara untuk melakukan apa yang aku katakan kepada mereka.
Meski memang, aku tak mengatakan semuanya dengan lengkap....
Aku akan menyelamatkan Lost Soul lainnya. Aku takkan membiarkan mereka berhasil tangkap oleh siapapun selain diriku. jikapun sudah, aku akan merebutnya dari siapapun musuhku nanti.
Semoga, apa yang aku lakukan adalah apa yang ingin kau lakukan, tuanku....