Ketika gelap menjelang apa yang paling kau inginkan? Berada di tempat yang terang.
.
.
.
.
Prang!
Suara pecahan kaca lagi. Entah sudah piring ke berapa yang sudah Bapak banting hari ini. Bintang paham betul apa yang terjadi di rumah, meskipun baru saja ia tiba di rumah. Di dekat kaki Bintang sudah banyak sekali perkakas yang rusak berserakan. Pecahan piring dan gelas, panci yang penyok, kursi plastik yang patah satu kakinya, belum lagi makanan yang berhamburan dimana-mana.
Bintang menghela nafas. Ia tetap tak terbiasa berada di situasi ini, meskipun ini sudah pasti terjadi ketika Bapak pulang. Bapak akan pulang beberapa hari sekali untuk meminta uang pada Ibu. Dan pasti akan marah ketika Ibu hanya memberinya sedikit uang atau kadang tidak sama sekali karena Ibu tak punya uang.
"KASIH AKU UANG!"
Ah, itu suara Bapak yang membentak Ibu di dalam kamar.
"Cuma itu yang aku punya, Mas! Hiks. Uang hasil kemarin sudah dipakai mencicil hutang kepada Bu Sarmi. Hiks."
Itu suara Ibu yang menjawab Bapak dengan sesenggukan.
Plak! Brugh!
Bintang sudah tak tahan lagi. Bapak pasti akan menyiksa Ibu kalau tidak diberi uang. Bintang meletakkan tumpukan koran di tangannya dengan sembarangan. Dengan langkah tergesa ia menuju ke kamar orangtuanya. Dan benar saja pemandangan pertama yang ia lihat adalah Bapak yang sedang memukuli Ibu berulang kali.
"BERHENTI, PAK!"
Teriakan Bintang membuat Bapak berhenti dan menoleh padanya.
"Nah, ini dia anakku! Kamu pasti bawa banyak uang kan? Kamu sudah bekerja keras, Nak. Jadi mana uangnya? Sini berikan ke Bapak."
Bintang melihat Ibu dengan nanar. Keadaan Ibu sangat menyedihkan. Pipi yang merah kena tamparan, bibir yang berdarah, memar di atas alis sebelah kanan, dan baju serta rambutnya yang sudah sangat acak-acakan. Bintang menghela nafas lagi.
"Bintang tak bawa uang, Pak. Hari ini sepi. Buat setoran Bang Anjar saja masih kurang. Untung masih boleh bawa uang buat makan hari ini."
Bapak dengan cepat merebut uang yang ada di tangan Bintang dengan tidak sabar.
"Apa ini!? Cuma sepuluh ribu!? Ah, tapi tak apa, Nak. Besok kerja yang lebih keras lagi ya. Kamu sudah berusaha."
"Pak! Jangan, Pak! Kalau diminta Bapak, aku sama Ibu makan apa hari ini, Pak!?"
"Nak, ini uang Bapak pinjam dulu ya? Nanti sore kalau Bapak menang, Bapak akan bawa kamu makan ke tempat yang enak. Oke?"
"Jangan, Mas! Itu yang buat makan Bintang! Dari kemarin sore Bintang belum makan." Ibu mencoba meminta uang itu lagi dari Bapak. Tapi justru membuat Bapak naik pitam lagi.
Plak!
"DIAM KAMU!" Bapak membentak dan menampar Ibu, lalu menoleh ke Bintang. "Nak, Bapak berangkat cari uang ya. Doakan Bapak menang biar kamu bisa makan enak seperti dulu." Bapak pun berlalu meninggalkan mereka.
Ibu masih sesenggukan, dan kesakitan. Bintang diam mematung. Pikirannya kembali ke beberapa tahun yang lalu.
Waktu itu Bintang masih duduk di bangku kelas VIII SMP. Bapak merupakan salah satu pengusaha yang cukup sukses, begitu pula dengan Ibu yang sukses berjualan toko kelontong di depan rumah.
Semua berawal ketika Bapak yang mulai jarang pulang saking sibuknya dengan pekerjaan. Awalnya Bapak pulang 3 hari sekali, kemudian seminggu sekali, dan akhirnya menjadi sebulan bahkan dua bulan sekali. Ibu yang awalnya bisa sabar entah mengapa malah terjerumus dan berbuat serong dengan laki-laki lain. Sejak saat itu keluarga nya jadi kacau. Toko kelontong Ibu bangkrut karena ditipu oleh laki-laki selingkuhannya. Usaha Bapak juga bangkrut, dan Bapak menjadi ketagihan berjudi. Bintang sendiri tak bersekolah lagi setelah lulus SMP. Bapak masih saja sayang dan lembut kepada Bintang, tapi menjadi sangat kasar kepada Ibu, Dan meskipun begitu, tetap saja Ibu tak mau berpisah dengan Bapak.
Bintang menunduk mensejajarkan diri dengan Ibu. Ia usap pelan punggung Ibu untuk sedikit menenangkannya. Ibu tersenyum sedih kepada Bintang. Bagaimanapun Ibu merupakan akar pokok dari semua penderitaan Bintang dan keluarganya, tapi Bintang tak mau membencinya karena Ibu adalah ibunya.
Seperti pagi sebelumnya. Bintang sudah stay di pinggir jalan dekat perempatan dengan setumpuk koran di tangan. Ia tersenyum setidaknya pendapatannya hari ini sudah cukup lumayan. Sudah bisa menutup setoran hari ini, dan cukup untuk makan. Tapi Bintang belum ingin pulang, karena ia harus mencari sedikit lagi uang untuk menutup kekurangan setoran kemarin.
"Bin!" Bintang terkejut melihat Bang Anjar berjalan dengan tergesa ke arahnya. Tak biasanya Bang Anjar minta setoran di jam segini.
"Ada apa, Bang?" Bintang keheranan.
"Bin, kamu pulang dulu ya hari ini. Ada masalah penting di rumah."
Bang Anjar menghela nafas melihat Bintang yang menatapnya dengan mata yang penasaran.
"Bapakmu, Bin. Bapakmu tertabrak truk tadi malam. Dia meninggal."
Seketika Bintang merasa telah runtuh dunianya.
.
.
.
Sudah lewat seminggu setelah Bapak meninggal. Padahal Bapak sudah hampir menepati janjinya pada Bintang untuk memberikannya makanan yang enak. Saksi mata mengatakan Bapak membawa bungkusan ayam goreng kesukaan Bintang dengan wajah berseri-seri malam itu. Tapi supir truk yang mabuk malam itu membuat Bapak tak bisa menepati janjinya pada Bintang untuk selamanya.
Cpuk! Cpuk!
Bintang melempar lagi batu ke dalam air. Entah sudah berapa lama dia duduk begini di pinggiran polder. Polder ini sudah sepi dari pengunjung, membuat Bintang merasa nyaman berlama-lama disini. Ia tak perlu mendengar suara-suara bising tetangga yang masih saja membicarakan Bapak atau Ibu. Bintang merasa aman walaupun sementara.
"Hai!"
Bintang melonjak kaget mendengar suara lembut yang menyapa telinganya. Ia mendapati seorang anak perempuan sebayanya muncul di sampingnya.
"Siapa?" Bintang masih merasa jantungnya berdegup kencang karena kaget.
"Kamu melamun ya? Oh, aku Cahaya." Gadis itu mengulurkan tangannya.
"Oh." Bintang bingung harus menjawab apa. Walaupun begitu ia tetap menyambut uluran tangan Cahaya.
"Oh? Namamu? Aneh sekali."
Bintang sedikit mengernyit mendengar Cahaya, namun dengan segera ia paham.
"Maaf. Bintang. Namaku Bintang."
Cahaya tersenyum mendengarnya.
"Kau melamun ya?"
Bintang hanya mengangkat bahu mengiyakan.
"Kau, nyasar?"
Cahaya tergelak mendengar pertanyaan Bintang.
"Ini tempat favoritku! Kadang-kadang aku pergi kesini untuk menenangkan diri."
"Kenapa kita baru ketemu? Aku sudah seminggu rutin kesini."
"Hihihi. Berarti aku duluan yang tahu tempat ini. aku sudah sering disini kok."
"Oke." Bintang menjawab sekenanya.
Cahaya menatap Bintang dengan mata sendu seolah paham apa yang Bintang rasakan.
"Hei." Cahaya memanggil Bintang tanpa menoleh. "Kalau kau punya masalah kau boleh cerita padaku. Mungkin terdengar sok tahu, tapi aku banyak bertemu dengan anak laki-laki sepertimu. Kalian gengsi untuk menceritakan masalah kalian ke orang lain. Tapi justru itu yang membuat kalian semakin tertekan."
Bintang menghela nafas mendengarnya. Ia berdiri.
"Aku tidak akan cerita pada orang yang baru kutemui."
Cahaya tersenyum.
"Kalau kita bertemu lagi maukah kamu jadi temanku, dan menceritakan masalahmu?"
Entah kenapa Bintang ikut tersenyum.
"Oke. Sampai ketemu lagi."
Bintang berlalu pergi.
.
.
.
"Hei, kau. disini lagi?" Bintang heran melihat Cahaya yang sudah duduk di tempatnya kemarin. Cahaya menoleh dengan cepat mendengar suara Bintang. Ia tersenyum menatap Bintang.
"Tentu saja! Kita mau berteman kan?'
Entah kenapa sejenak Bintang merasa terpana melihat kecantikan Cahaya. Rambut yang panjang, matanya yang kecil dengan bulu mata lentik, hidung mancung dan kulitnya yang putih. Bintang tersenyum sendiri. 'Inilah kenapa dia diberi nama Cahaya' katanya dalam hati.
Siang itu Bintang mulai bercerita tentang kehidupannya. Bintang mulai merasa nyaman dengan Cahaya. Sikap riang Cahaya membuat Bintang sedikit bisa melupakan masalah yang ia miliki.
"Kau tahu?" Cahaya menyela Bintang di tengah ceritanya. "Ketika aku sedih aku melakukan satu hal. Ini!" Cahaya berkata sambil mengambil sesuatu dari sakunya.
"Korek api?"
"Uh-hum." Cahaya mengangguk.
"Untuk apa?"
"Ketika aku sedih, aku membakar satu korek api ini, dan mengibaratkan kayu yang termakan api itu sebagai masalahku. Ketika batang korek api ini sudah habis termakan api dan apinya padam, aku merasa satu kesedihanku hilang."
Bintang menaikkan satu alisnya mendengar penjelasan Cahaya. 'Memang ada yang seperti itu?' Tanyanya dalam hati.
"Kau tidak percaya?" Tanya Cahaya seakan bisa membaca pikiran Bintang.
"Cobalah satu dulu, nanti kau akan tahu."
Bintang menurut. Ia mulai mengambil satu batang korek api dari wadah yang disodorkan Cahaya kepadanya. Bintang mulai berkonsentrasi pada api kecil yang menyala itu. Ketika api itu padam, entah mengapa Bintang merasa sebagian bebannya terangkat.
"Bagaimana bi-"
"Sudah kubilang kan?" Cahaya memotong pertanyaan Bintang dengan nada yang puas. ia merogoh lagi sakunya mengeluarkan sekotak lagi korek api yang sepertinya masih baru.
"Ini untukmu. Satu batang tadi milikku. Sekarang kau punya kotakmu sendiri." Cahaya menyodorkan kotak itu pada Bintang. Bintang menerimanya walaupun agak ragu-ragu.
"Sebelum kau gunakan, kuberi tahu peraturannya. Satu hari kau cukup membakar satu batang saja korek api, tidak lebih. Karena kalau kau terlalu sering membakarnya, korek apimu akan habis sebelum masalahmu selesai."
"Apa yang akan terjadi setelah korek apiku habis?"
"Itu tergantung dengan apa yang akan kau lakukan dengan batang terakhir korek apimu." Cahaya berkata sambil mengedipkan sebelah matanya.
Bintang tersenyum, dan menganggukkan kepalanya.
.
.
.
Hari ini Bintang tiba duluan di polder itu. Hal yang sangat aneh mengingat selama ini selalu Cahaya yang datang duluan. Bintang sudah menunggu beberapa menit ketika ia mendengar suara daun kering yang dipijak. Seketika ia menoleh.
"Cahaya!"
"Nak?"
Ternyata bukan Cahaya. Seorang Bapak pencari rumput dengan karungnya yang setengah terisi menatap Bintang keheranan.
"Apa yang kau lakukan disini, Nak?"
"Saya menunggu teman."
Pencari rumput itu semakin keheranan.
"Teman? Disini? Nak, tempat ini sepi. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu? Lagipula polder itu bahaya. Dulu pernah ada anak seusiamu yang tenggelam disitu. Sejak saat itu polder ini ditinggalkan. Kau lihat tanda bahaya yang mulai berkarat disana? Orang tua anak itu yang memasangnya. Lebih baik kau pulang sekarang, Nak. Ini sudah sore. Orang tuamu pasti mengkhawatirkanmu."
Bintang mengangguk. Dengan terpaksa ia menginggalkan polder itu sebelum bertemu Cahaya.
Hari berikutnya Bintang datang lagi ke polder itu. Ia bergegas ketika melihat Cahaya duduk disana.
"Hei! Kemarin kau kemana?"
Cahaya agak tersentak mendengar suara Bintang.
"Kau melamun?" Bintang merasa khawatir.
"Ada yang ingin ku sampaikan." Ucap Cahaya. Matanya berkaca-kaca.
"Hari ini adalah batang korek api terakhirku habis." Bintang tersentak mendengarnya.
"Lalu?"
"Mari kita bakar bersama." Cahaya tersenyum padanya. Bintang mengangguk mengiyakan.
Cahaya mulai merogoh sakunya mengambil kotak yang tinggal satu batang korek api itu. Cahaya menyalakannya, dan mereka fokus kepada korek api itu. Entah kenapa Bintang merasa tubuhnya menjadi ringan, dan semuanya menjadi gelap.
Hal pertama yang ia dengar adalah isakan Ibu yang membisikkan namanya. Bintang merasa heran karena ia tadi berada di pinggir polder bersama Cahaya. "Bu," panggil Bintang lirih.
Ibu terkejut, dan senang bukan main melihat Bintang sudah sadar.
"Syukurlah kamu sadar, Nak." Ibu menggenggam tangannya erat.
"Aku kenapa?" Bintang penasaran.
"Kau tadi hampir tenggelam di polder, Nak. Untung saja Pak Basuki tadi menemukanmu dan menyeretmu ke pinggir. Kalau tidak, Ibu tak tahu apa yang terjadi selanjutnya." Mata Ibu merah, pasti Ibu sangat khawatir.
"Apa Cahaya juga selamat?"
Ibu merasa heran "Nak, tak ada satupun yang bersamamu waktu kau tenggelam. Dan tak ada orang yang berada di sekitar situ kecuali Pak Basuki yang sedang mencari pakan ternak."
Bintang terdiam.
"Bintang sayang. Jangan tinggalkan Ibu ya, Nak?"
.
.
.
Setelah kejadian hampir tenggelam Bintang sudah tak pernah lagi pergi ke polder itu. Meskipun begitu Bintang masih saja kepikiran dengan Cahaya, dan masih menyimpan korek api darinya. Bintang masih rutin menyalakan batang-batang korek api pemberian Cahaya. Tak terasa semakin berlalu nya waktu, batang-batang korek api itu semakin lama semakin sedikit. Bintang masih ingat apa yang dikatakan Cahaya tentang batang korek api yang terakhir itu.
Malam itu sepulang dari jualan koran, Bintang membeli sebatang rokok. Akhir-akhir ini Bintang terpengaruh dengan teman-temannya yang lain yang sudah merokok. Mereka bilang merokok dapat mengurangi sedikit rasa stress, dan Bintang ingin mencobanya. Ibu sedang tidak ada di rumah, karena Ibu pulang ke tempat nenek untuk cari pinjaman demi melunasi hutang keluarga mereka yang sudah menumpuk. Bintang menyenderkan punggungnya ke tembok ruang tengah. Ia sudah selesai makan dengan menggoreng telur. Bintang mencium bau yang cukup aneh dan menyengat, tapi tidak ia pedulikan. Bintang merogoh sakunya dan mengeluarkan kotak korek apinya. Ia goyang sebentar, dan mengingat lagi perkataan Cahaya tentang batang korek api terakhir.
'Itu tergantung dengan apa yang akan kau lakukan dengan batang terakhir korek apimu.'
Bintang mengeluarkan sebatang rokok yang telah ia beli di warung Bu Sarmi kemudian meletakkannya di sela bibirnya. Bintang mengeluarkan batang korek api terakhir itu dan mulai menyalakannya.
BLARRR!!!!
Rumah itu meledak dan terbakar seketika.
.
.
.
Berita di koran hari ini.
" Sebuah rumah meledak dan terbakar di daerah perumahan padat penduduk. Diperkirakan penyebab kebakaran karena kebocoran pipa kompor gas. Beruntung api tidak menjalar karena warga dengan segera berusaha memadamkan api sebelum petugas pemadam kebakaran tiba di lokasi. Satu orang dinyatakan tewas dalam kejadian tersebut."
END
*Polder : Semacam waduk buatan kecil yang biasanya berfungsi untuk menampung air di daerah yang rawan banjir.
Ig : @luhtfitasari_