Hujan turun dalam lembaran bening menembus kedalam tubuhku, butiran air mengalir melewati payung hitam, di atas lumpur hitam, dan di atas kuburan terbuka saat seorang jenazah yang terbungkus sehelai kain kafan diturunkan kedalamnya.
Satu-satunya suara adalah air yang jatuh di dedaunan musim gugur dan tangisan dari para pelayat yang hadir disana.
Wajah para pelayat sudah tidak asing lagi bagiku, rekan kerja, teman sekolah, saudara kandung dan, istriku......
Aku berjalan ke papan nissan yang terletak tepat di samping kuburan, membaca nama jenazah itu yang terasa akrab, nama yang sangat terasa familiar di telingaku.
'Aji Firmansyah bin fauzan'
Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, kenapa aku bisa ada disini?, di, pemakaman diriku sendiri.
Apa aku benar-benar sudah mati?.
Aku bahkan tidak bisa mencerna tentang apa yang aku lihat, tapi entah kenapa semua ini terasa Masuk akal di kepala ku, ini menjelaskan mengapa air hujan menembus diri ku, dan mengapa aku tidak merasa kedinginan, ini menjelaskan mengapa hanya diriku yang tidak memakai pakaian hitam, tidak ada orang yang melihat kearah ku atau berbicara padaku karena sejak awal aku memang sudah tidak ada di dunia ini lagi.
Aku hanya terdiam, menahan sedih melihat istriku menangis tersedu-sedu dengan saudaraku mencoba menenangkan dirinya. Di antara semua orang yang hadir disini, dia yang paling terlihat kehilangan, darinya aku bisa merasakan seberapa besar cintanya padaku.
Aku menghampiri nya, mencoba membelai rambut hitam nya yang indah, tapi apa yang ku raba hanyalah sebuah kehampaan.
Dari kejauhan ku melihat Sosok tunggal berdiri di samping sebuah nisan tua, mahluk itu hanya terdiam disana seakan tengah mengawasi diriku. Hujan turun di sekeliling nya seakan takut untuk menyentuh jubah yang di angkat di atas kepalanya, jubah itu menutupi wajahnya, sosok itu sangat tinggi dari manusia biasa dan tanganya terbalut oleh tulang, ia memegang sebuah sabit besar, dan tangan yang lainnya mengulurkan jari telunjuk kearah ku. Seakan sosok itu menyuruhku untuk mendekat.
Kegelapan adalah sesuatu yang tidak bisa dilihat namun bisa di rasakan, aku mencoba mengabaikan apa yang ku lihat. Mahluk itu lalu mendekat kearah ku, aku memalingkan wajahku untuk tidak melihat kearahnya.
"Kamu aji firmansyah?"
Suara seperti sebuah bisikan dengan nada berat terdengar dari samping telingaku, aku mengintip kearah wajah sosok itu, menatap kearah kegelapan di bawah tudungnya, yang hanya berisi sebuah kerangka.
Entah kenapa tubuhku terasa membeku melihat mahluk itu, sosoknya terlihat sangat menakutkan bagi diriku, lebih menakutkan dari apa pun yang pernah ku lihat semasa hidup, kedua lubang mata yang sangat gelap dan kosong, memancarkan sesuatu yang sangat aneh, sesuatu seperti rasa ketakutan dan sebuah penyesalan.
Semakin lama aku menatap ke kosong itu, semakin teringat akan dosa-dosa yang telah ku lakukan dulu, semuanya datang begitu saja memasuki pikiran ku layaknya sebuah film yang tengah di putar. sesuatu yang tidak pernah ku ingat semasa hidup ku kini ada di ingatan ku. Semuanya ada bahkan sampai titik terkecil sekalipun.
Wajah dari orang-orang yang hatinya tersakit.
Wajah dari orang-orang yang meminjamkan materi dan budi mereka yang belum ku balas wajah mereka semuanya terlihat jelas di ingatanku, wajah, yang telah ku lupakan semasa aku hidup.
Aku menangis.
Mengingat begitu banyak dosaku di dunia.....
Aku mencoba mengelap air mataku, tapi itu tidak terasa sama sekali, aku hanya roh yang telah terpisah dari jasadnya, yang tertinggal hanyalah rasa sedih, menyesal dan, takut, jiwaku menangis tapi ragaku ku tidak.
Aku menyesal kenapa semasa hidup, kenapa aku tidak meminta maaf kepada mereka, orang-orang yang hati-Nya telah ku sakiti, padahal itu tidak sulit sama sekali.
Aku menyesal semasa hidup tidak membayar hutang ku kepada mereka orang-orang yang membantu ku saat aku membutuhkan bantuan, bahkan hanya mengucapkan maaf karena aku belum mampu membayarnya kepada mereka, tidak pernah ku lakukan.
Aku menyesal diriku ketika aku masih kecil aku sering membentak kedua orang tuaku, dan selalu menghiraukan nasehat yang mereka berikan kepadaku, lagi dan lagi kata maaf itu tidak pernah keluar dari bibirku.
Aku menyesal karena aku melalaikan seluruh perintah nya, perintah dari semuanya berasal, perintah dimana kita semua akan kembali kepadanya, perintah dari sang Pencipta semesta alam, pemilik langit dan bumi, tuhan yang maha esa.
Aku Takut sangat Takut sekali melebihi segala sesuatu yang aku Takuti di dunia, apa yang Akan terjadi pada orang yang penuh dosa sepertiku?.
Kalau saja waktu bisa diputar kembali, di saat aku di lahirkan ke dunia, aku akan menjadi anak yang berbakti kepada orang tuaku.
Oh tuhan ingin rasanya aku hidup kembali, bila kesempatan itu ada, aku, aku Akan banyak berbuat kebaikan, aku Akan Sumbangkan seluruh hartaku, melunasi seluruh hutangku, aku Akan meminta maaf sebanyak yang ku bisa kepada mereka yang Tersakit karena lisan ku, Aku tidak Akan pernah lalai lagi Mengerjakan seluruh perintah mu, .aku.... Aku.....
Oh Tuhan berikan hamba kesempatan meski hanya beberapa detik saja, hamba menyesal, hamba sangat menyesal atas yang hamba lakukan.
Di bawah guyuran hujan musim gugur, aku hanya menangis dan berteriak, berteriak atas penyesalan ku, berteriak memohon kepada sang Pencipta untuk di beri kesempatan kepadaku.
Tapi..... Tidak ada balasan... Hanya suara tangis dari para pelayat yang perlahan pergi meninggalkan pusara ku.
Sosok itu kembali mengulurkan tangan nya kepadaku, tatapannya terasa menusuk di balik kegelapan lubang matanya, mahluk itu seakan marah kepadaku, jiwaku terasa panas terbakar.
Ku lihat istri dan saudara ku mulai beranjak pergi, ku panggil namanya sekeras yang ku bisa, mereka tidak mendengar dan terus berjalan meninggalkan ku. Meninggalkan ku berdua dengan mahluk itu.
Aku takut, takut apa yang akan terjadi pada diriku.
Aku ingin lari dari sini tapi jiwa ku tidak bisa bergerak seakan rantai besi yang sangat berat membelit diriku.
Aku menyadari....
Tidak ada lagi kesempatan......
Tidak ada lagi pengampunan......
Semuanya sudah terlambat bagiku.
Kehidupan berharga yang telah ku sia-siakan
Semuanya hanya tinggal penyesalan, penyesalan atas apa yang pernah ku lakukan dulu dan kini aku harus menanggung akibat atas perbuatanku sendiri.........