Warning⚠️
1. Kekerasan
2. Kriminal
3. Typo
4. Kalau enggak suka enggak usah di baca
.
.
.
Leona Lewis Salsabila atau kita bisa panggil Leona, Leona seorang gadis berusia 20 tahun kini masih mahasiswa universitas Brawijaya.
Hari ini Leona sedang tertidur pulas sampai lupa waktu ya dari tadi suara alarm berbunyi nyaring banget tapi Leona sangat pulas untung aja hari ini jadwal berangkat Leona siang.
Siangnya masih di tempat sama Leona tak kunjung bangun jam alarm berbunyi lagi lebih nyaring dari sebelumnya mungkin jam alarm sudah kesal dengan Leona. Leona terbangun karena kebisingan suara tersebut. Dia beranjak dari kasur bersiap-siap untuk sekolah.
Selesai Leona berangkat seperti biasa pakai sepeda kesayangannya tak sadar ada sebuah batu besar akhirnya Leona melayang tapi Leona tetap santai dia mendarat sempurna dan mengendarai sepedanya lagi. Semua orang memperhatikannya kagum.
Sesampainya Leona mempakirkan sepedanya dulu lalu setelah itu menuju ke kelasnya namun seseorang mencegah Leona.
"He miskin nih bawa tas gue." Ucap orang itu melempar tasnya ke Leona.
"I-iya kak Lala." Jawab Leona takut dan membawa tas Lala berlalu pergi mengikuti Lala.
Ya namanya Lala Elvina Allison kita bisa panggil Lala, seorang pembully kejam hingga semua siswa sampai Dosen takut dengan dirinya dan di juluki Ratu kampus. Lala mengaku-ngaku adalah pemilik kampus dan juga ketua mafia terkejam sedunia yang bernama Queen L grup mafia Dark Queen L, padahal sebenarnya berbohong.
"Ini kak tasnya." ujar Leona memberikan tas Lala.
"Hmm taruh di bangku gue." Suruhnya.
Leona pasrah menuju bangku Lala meletakkan tas tersebut saat ingin ke kelas lagi-lagi si Lala memanggil Leona.
" He Miskin!" Panggil Lala kasar.
Leona membalikkan badannya. "Iya ada apa?" Kata Leona gemetaran.
Lala menghampirinya. "He miskin beliin gue siomay pedas cepat!!" Kata Lala.
"Tapi kan i-ini mau bel."
"Gue enggak peduli atau gue siksa Lo seperti biasa ingat gue pemilik kampus ini jika Lo berani nolak gue elu akan keluar dari kampus dalam hitungan 5 detik!!!!" Bohong Lala.
Leona menggelengkan kepala pelan pergi membeli siomay. Lala menatap punggung Leona lama-lama menjauh Lala smrik.
"Lemah! Sudah miskin lagi huu." Setelah mengatakan itu Lala duduk manis di bangkunya.
Disisi lain Leona sedang membeli siomay Lala di kantin emang kantin sangat ramai letak kelas dan kantin lumayan jauh. Setelah membeli siomay Leona menuju ke kelas Lala sesampainya.
"Ini kak." Ucap Leona memberikan siomay Lala.
"Hmm sana-sana pergi dasar miskin jelek." Usir Lala.
Leona menuju ke kelasnya saat di perjalanan bel berbunyi Leona panik dia berlari menuju Lift tapi sudah penuh dengan terpaksa Leona berlari menaiki tangga emang kelas Leona di atas lantai 4.
Leona terus berlari hingga sampai Lantai 2 dia mulai lelah tapi Leona terus bertahan agar tidak telat. Sampai lah lantai 3.
Leona memegang perutnya. "Hosh Hosh a-ayo Leona jangan sampai Dosen galak sampai."
"Hosh tinggal sedikit l-lagi." Ucap Leona terengah-engah.
Leona berlari lagi menaiki tangga sampailah lantai 4 dia menuju ke kelasnya namun sayangnya takdir berkata lain.
"Leona dari mana aja kamu!!?" Tanya Dosen marah.
"Maaf pak saya telat tadi saya kesiangan." Balas Leona bohong.
"Baiklah kamu boleh duduk tapi jika kamu ulangi lagi sampai ketiga kalinya maka saya akan hukum kamu." tegas pak Dosen.
"baik pak." Ucap Leona.
Leona berjalan pelan-pelan ke bangkunya duduk manis kelas di mulai suasana begitu hening hanya Dosen bising menjelaskan pelajaran. Berlama-lama kemudian bel istirahat berbunyi.
Tring Tring Tring 🔔
"Oke sekian terimakasih jika saya ada kesalahan mohon maaf sebesar-besarnya silahkan istirahat anak-anak."
"Hore." Sorak semua murid berlalu keluar.
Leona membereskan peralatan alat tulis nya memasukan di ransel, selesai Leona ke kantin. Baru aja mau di kantin seorang siswa menghentikan langkah kakinya.
"Leona...!!" Teriak siswa tersebut membuat Leona berbalik badan menghampirinya.
"Ada apa?" Tanya Leona bingung.
"Lo di cari sama Lala katanya Lo pergi ke tempat biasa atap kampus." Balas siswa itu.
Leona menganggukkan kepalanya lalu pergi ke tempat biasa dengan menggunakan Lift, entah lah buat apa mereka di sana.
*****
Sampailah Leona melihat punggung gadis, gadis itu berbalik badan menatap Leona tajam. Leona menghampiri gadis itu.
"Ada... Apa kak Lala..?" Ucap Leona hati-hati.
"Seperti biasa menyiksa Lo sampai puas." Ucap Lala dengan Smrik khasnya.
Lala berjalan pelan dengan tertawa jahat Leona mundur secara perlahan karena takut. Saat sampai di tembok Leona enggak bisa mundur lagi Lala terus berjalan pelan Lala melihat kayu entah dari mana dia mengambil dan memukul kepala Leona.
*Bugh
*Bugh
*Bugh
Lala terus menerus memukuli Leona tanpa mempedulikan Leona menahan rasa sakit. Saat itulah sebuah darah segar mengalir semua tubuh Leona, Leona jatuh pingsan Setelah puas memukul Leona. Lala pergi meninggalkan Leona yang pingsan.
*****
Tring Tring Tring 🔔
Bel masuk berbunyi semua siswa segera masuk ke kelas mereka masing-masing tetapi Leona belum sadar dari pingsan di atap kampus.
"Ada yang tahu di mana Leona?" Tanya Dosen pada semua muridnya.
Semua hening tidak ada yang menjawab Dosen itu menghela nafas pelan lalu menggelengkan kepalanya.
"Kalau enggak ada yang menjawab pertanyaan saya, saya anggap tidak tahu!" Tegas Dosen.
"Rio kamu kan sahabatnya kamu pergi cari Leona sekarang!" Suruh Dosen.
"Baik pak dosen." Ucap Rio meninggalkan kelas.
Rio Febrian Andreas kalian bisa panggil Rio. Dia adalah sahabat Leona sedari kecil mereka sangat erat seperti lem menempel di tubuh mereka sehingga tidak pernah terpisahkan.
*****
Rio mencari Leona mulai dari kamar mandi, lorong kampus, kantin, taman dan sekitar kampus tapi tidak kunjung ketemu otak Rio berputar untuk mengingat dimana dia akan mencari sahabatnya itu. Lampu menyala di atas kepala Rio entah darimana asalnya.
"Hmm gue belum cek di atap Kampus coba gue cari." Katanya menuju ke atap sekolah dengan menggunakan Lift.
Ting
Lift terbuka lebar Rio mulai mencari Leona sekitaran di situ. Saat Rio melihat seseorang tergeletak lemah di sana Rio menghampiri orang tersebut. Rio benar-benar terkejut bagaimana tidak ternyata orang itu adalah sahabatnya yang tak lain Leona.
"Leona!" Ucap Rio panik mengangkat tubuh mungil Leona membawanya pergi dari situ.
*****
Di RS. Sanjaya Rio masih setia menemani Leona terbaring di kasur dengan tangan menempel infusnya. Leona yang tak kunjung bangun membuat Rio khawatir.
"Lele bangun Lele gue khawatir sama lo." Ucap Rio tanpa sadar aliran mata membasahi pipinya.
"Hiks...hiks...hiks..."
Rio menangis tersedu-sedu melihat orang yang paling dia sayang belum sadar. Rio memegang salah satu tangan Leona lalu tangan satunya mengelus anak rambut Leona lembut. Salah satu jari bergerak tangan Leona, Leona membuka matanya perlahan pertama yang lihat adalah Rio mengelus rambutnya.
"Leona kamu sadar!?" Ucap Rio senang.
"Gue di mana?"
"Lo di rumah sakit sebentar ya gue panggil Dokter dulu." Ucap Rio berlalu pergi dari ruang rawat.
*****
Dokter memeriksa Leona, Rio yang dari tadi melihat Leona kesulitan bernafas karena khawatir Leona tidak baik-baik saja. Setelah Dokter memeriksa Leona.
"Untungnya dia baik-baik saja mungkin besok boleh pulang." Jelas Dokter.
"Makasih Dok telah memeriksa sahabat saya." Ucap Rio bahagia.
Dokter menganggukkan kepalanya berlalu pergi dari situ. Rio menarik kursi di samping Leona lalu duduk dengan gaya khasnya.
"Lele Lo kok bisa babak belur gitu?" Tanya Rio penasaran.
"Gue babak belur karena Lala memukul gue seperti biasa." Jawab Leona.
"Kenapa Lo enggak lawan Lo kan bisa bela diri gimana sih." Ucap Rio kesal sendiri.
Wajah Leona berubah dingin seketika. "Tunggu waktunya tiba gue akan balas dia lebih sampai nyawa dia Menayang." Ucap Leona tertawa iblis membuat Rio bergidik ngeri.
*****
Esok paginya, hari ini hari di mana Leona bisa pulang ke rumahnya meski begitu Dokter menyarankan Leona minum obat dan istirahat secara teratur.
"Leona gue antar yuk sekalian numpang makan di rumah Lo hehehe." Kata Rio cengengesan Leona memutar bola matanya malas melihat kelakuan sahabatnya.
"Ya." Kata Leona malas.
Mereka menaiki mobil yang di kendarai pak sopir, sepanjang perjalanan mereka mengobrol dengan akrab iyalah namanya juga sahabat!.
Sampailah rumah Leona, Leona membuka pintu mobil berjalan pelan dituntun Rio. Mereka berdua masuk rumah tersebut.
"Hei Rio gue ingin duduk tolong gue tuntun sampai sofa." Perintah Leona.
"Iya nyonya besar." Ejek Rio namun Leona acuh.
Rio menuntun Leona sampai sofa membantu Leona duduk di sofa tersebut.
"Oya gue lupa kalau mau makan noh di kulkas ada cemilan Lo bisa makan sepuasnya."
Rio berlari bagaikan anak kecil bermain kejar-kejaran dengan temannya. Leona tersenyum tipis dan menggelengkan pelan melihat tingkah sahabatnya itu.
*****
"Gue pulang dulu ya Le nanti gue di cari nyokap gue." Pamit Rio.
"Ya dasar anak mama hehehe." Kata Leona terkekeh.
"Ye malah di ejek yasudah gue pulang dulu bye." Rio melambaikan tangan kanan begitu sebaliknya Leona membalasnya tak lama mobil melaju.
Leona masuk ke dalam rumahnya Leona menuju kamar kesayangan. Leona berganti baju mulai dari baju hitam, jaket kulit warna hitam, celana hitam namun pendek terkesan seksi, sepatu warna hitam sedikit tinggi terakhir memakai topeng warna emas.
"He i'm coming sis Lala." Leona tersenyum miring Leona menelepon dengan ponselnya.
"Mafioso tangkap gadis bernama Lala Elvina Allison dan bawa ke markas kuberi waktu 5 menit jika sampai kau lewat 5 menit maka bersiaplah." Ucap Leona penuh arti.
"B-baik Queen L akan kami laksanakan." Ujar Mafioso bergidik ngeri.
Tut...Tut...Tut
Leona memutuskan panggilan telepon tersebut sambil menuju ke garasi di ruang tersembunyi yang tidak di ketahui bahkan sahabatnya sendiri juga tidak mengetahuinya. Leona memasuki mobil, mobil melesat pergi dari situ.
*****
Leona keluar dari mobil gaya cool semua anggota membungkuk hormat namun Leona acuh tak acuh yang dia fokus hanyalah Lala.
"Selamat datang Queen L." Mafioso membungkuk hormat.
"Hmm... Di mana dia?" Tanya Leona pada Mafioso.
"Seperti biasa Queen di ruang penyiksaan." Tegas.
Leona tersenyum miring berlalu pergi di ruang penyiksaan di ikuti semua anggota Dark Queen L.
*****
Di ruang penyiksaan yang sangat gelap Lala duduk di kursi dengan tangan di ikat, mata di tutup dengan kain. Leona membuka pintu menghampiri Lala.
"Mafioso ambil kan seember air dan guyur dia Aira." Suruh Leona.
"Baik Queen L." Mafioso mengambil air dengan ember lalu mengguyur air tersebut ke wajah Lala membuat Lala terbangun.
"Gue di mana?"
"He Lo ada di malaikat pencabut nyawa Hahahaha." Ujar Leona tertawa iblis membuat yang di situ gemetaran.
Lala memberontak. "Teruslah memberontak apakah ikatan talinya lepas? Enggak kan!"
Leona smrik meremehkan berjalan pelan menghampiri Lala lalu membuka kasar kain yang menutupi mata Lala. Kini Lala bisa melihat di sekitarnya yang pertama dia lihat adalah gadis bertopeng.
"Siapa k-kau." Tanya Lala ketakutan.
"Tumben biasanya Lo Gue!?"
"Gue bilang siapa Lo!!" Teriak Lala.
Leona menjambak rambut Lala keras Lala meringis kesakitan. "gue adalah orang yang akan mencabut nyawa Lo."
"Gue enggak ada urusannya sama Lo jadi lepasin gue!!" Lala berusaha melepas ikatan di tubuhnya hasilnya nihil.
"Hahaha Lo ada urusan sama gue, Lo ingat Leona yang Lo bully?!"
"J-jadi Lo Leona lepasin gue Le hiks..." Ucap Lala menangis sandiwara.
"He enggak semudah itu Lo sudah menyakiti gue dan Lo mengaku-ngaku ketua mafia,pemilik kampus dan jalang bar milik gue hmm menjijikkan."
"Gue... mohon sama Lo maafin gue yang sudah bully Lo." Ucap Lala memohon.
"Maaf karena nanti Lo akan segera pergi hahaha." Leona tertawa jahat.
Leona menyuruh Mafioso mengambil peralatan alat penyiksaan. Mafioso mengambilnya dan memberikan alat tersebut. Leona sebelum mulai menyiksa Lala, Leona berbicara.
"Ayo kita mulai pasti ini menyenangkan." Leona tersenyum arti.
Leona menembak kaki Lala, Lala berteriak kesakitan. "Aaaakh sakit."
"Suara yang bagus i like this."
Merobek mulut Lala, memotong mulut Lala, menjambak rambut Lala, memukulnya sampai babak belur di ruangan tersebut hanya suara teriakan Lala.
"Hmm... Teruskan teriakkanmu kak gue suka."
Leona memotong lidah Lala dengan pisau, mencambuknya keras, memukul kepala Lala lagi tapi dengan kayu lumayan besar.
Tong...Tong
"Aduy sakit mamae." Di atas kepala Lala berputar sebuah burung-burung mengitari kepalanya.
Leona tidak peduli dia sibuk menyiksa Lala. Leona mengambil pisau menusuk perut Lala darah Lala muncrat enggak karuan. Lala mendelik hampir aja kedua bola matanya lepas namun sayangnya Leona jadi gemas melihat mata Lala, Leona mencongkel mata Lala.
*Dead
Lala tewas mengenaskan di tangan Leona sendiri. Leona puas menyiksa Lala, Leona menyuruh Mafioso membuang tubuh Lala di jurang. Leona pulang keadaan baju darah gara-gara Lala.
*****
Esok paginya, Leona menonton siaran Tv dia melihat berita. "Berita terkini bahwa seorang gadis 20 tahunan tewas mengenaskan di jurang di duga sang gadis bunuh diri orang tua korban menangis tersedu-sedu sekian terima kasih."
"Berita apaan tu sangatlah tidak bagus sudahlah gue matiin aja." Leona mematikan TV dengan remot beranjak ke dapur mengambil sebuah minuman darah Lala.
Tamat...