Kamu datang padaku setahun lalu dengan membawa kebahagiaan. Perasaan yang sebelumnya tak pernah ku rasakan telah menumbuhkan benih-benih cinta di hatiku. Setelah semua yang kamu lakukan padaku, tiba juga hari dimana aku memetik pahitnya, bukan manisnya.
Malam dimana kamu berjanji untuk menemui aku di tempat pertama kali kita jumpa, aku menunggumu dengan setia di sana.
Berulang kali aku lihat jam yang melingkar di tanganku, waktu terus berputar. Layar ponsel yang tak pernah ku matikan agar ketika kau menghubungi aku akan langsung meresponnya tanpa membiarkan kau menunggu.
"Aku percaya kakak pasti datang, dia sudah berjanji dan tidak akan berani mengingkari."
Waktu terus berjalan, Aku tetap menantimu di tempat ini. Kurang setengah jam lagi malam pergantian tahun baru akan datang. Tapi Kak Bintang belum juga datang.
Aku cemas, khawatir setengah mati. Takut terjadi apa apa padanya, ponsel juga dia matikan.
Sebelumnya kak bintang menghubungi jika ingin merayakan satu tahun pertemuan kita yang bertepatan pada malam tahun baru, di tempat yang sama seperti pertama kali bertemu juga.
Satu tahun lalu telah mengubah banyak hidupku, saat begitu banyak kenangan yang ku lalui bersama kak bintang. Dia yang mengajarkan aku banyak hal, tentang cinta dan kasih sayang. Dia adalah orang pertama yang membuatku cinta.
Tapi aku juga tidak menyangka, ternyata dia juga yang pada akhirnya membuat ku kecewa dan terluka sangat dalam.
"Benar benar sangat lelah, ini hampir tengah malam. Lima menit lagi kenapa kakak belum datang juga."
Air mata mulai menguasai kelopak mataku. Dan malam itupun aku tersadar, dengan bola mataku sendiri aku menyaksikan kebenaran yang sesungguhnya.
Aku ingat betul lima menit sebelum malam pergantian tahun baru, pertama kali dalam janjinya kak bintang mengingkari padaku. Mataku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Malam itu kak bintang menggandeng seorang perempuan yang aku kenal, dia adalah Norma. Sahabat baikku.
Melihat raut wajah mereka yang bahagia, pikiranku berkecamuk kemana-mana. Dan yang lebih hebatnya lagi, rasa sakit ketika melihat kak bintang mengelus lembut pipi Norma. Hatiku sungguh terasa sakit.
Dia yang berjanji akan menghabiskan malam tahun baru denganku di tempat pertama kali kami bertemu, justru menggandeng tangan perempuan lain yang merupakan sahabatku.
Tepat jam dua belas malam, kembang api mulai bernyalaan. Suara letusan terdengar dimana-mana. Bersamaan dengan patahnya hatiku melihat kemesraan kak bintang dan Norma.
Aku tetap berdiri ditempat ku, sama sekali tak bergeming. Pikiranku mulai terhenti, ingin berbicara pun rasanya tak sanggup. Lidahku tercekat, seolah waktu di dunia ini terhenti ketika aku melihat kak bintang mencium bibir sahabat ku.
Air mata yang sedari tadi aku coba tahan, akhirnya menetes dengan begitu derasnya. Apa salahku hingga kak bintang bisa berbuat seperti itu padaku? Apa aku belum cukup baik dan setia? Kenapa? Kenapa kak bintang mengecewakan aku.
Aku mengumpulkan keberanian dan menguatkan diriku, aku berjalan menuju mereka berdua.
Hingga saat aku memanggil nama kak bintang dia masih diam.
"Kak bintang!"
Dia hanya diam, tapi tangannya masih menggenggam erat jemari Norma.
"Shila?" ucap norma.
"Kakak, bisa jelaskan maksud ini semua?"
"Shila, kamu tenang dulu, jangan emosi ya," norma mencoba menenangkan aku. Bagaimana aku bisa tenang setelah menyaksikan ini semua?
"Jelaskan kak!" aku sama sekali tidak ingin mendengar norma.
"Kak, kenapa diam?" tangan ku sudah sangat panas ingin sekali menampar wajah yang selama ini aku sayang itu.
Kak bintang hanya tertunduk, wajahnya tak mau menatapku. Hingga tanganku tergerak menyentuh pipinya. Menyuruhnya agar mau menatapku.
"Jawab dengan jujur kak, apapun jawaban kakak aku akan menerimanya," Mataku bertemu dengan pandangan mata kak bintang.
"Maaf Shila," kata pendek itu yang keluar dari mulutnya.
"Kenapa kakak melakukan ini? Kakak tau, aku menunggumu dari tadi di sini. Aku telfon, handphone kakak gak aktif. Tapi aku sama sekali tidak pergi dari sini. Aku terus menunggu kakak."
Sedangkan Norma, jangan pedulikan perempuan jahat berkedok sahabat itu. Sekilas ketika aku melirik dia, aku melihat dia sedang tersenyum senang.
"Aku, aku tidak bisa melanjutkan denganmu," balas kak bintang.
"Apa? Memang aku melakukan kesalahan apa kak?"
Kak bintang menepis tanganku yang masih menempel pada pipinya.
"Kamu tidak salah apapun."
"Lantas kenapa kakak bersikap tiba-tiba menjauh seperti ini?"
"Itu karena,," Kak Bintang terlihat berat ingin mengatakannya, bahkan sampai beberapa kali menghembuskan nafas kasar.
"Karena apa kak?" aku masih menanti jawaban kak bintang.
"Apa kamu yakin mau mendengarkannya? Aku takut kamu semakin sakit."
"Cih, untuk apa berkata seperti itu, bahkan tindakanmu ini sudah membuatku sakit sedari tadi. Untuk apa sekarang menahan lagi, ungkapkan saja agar rasa sakit ini sekalian tuntas,"
Aku sangat marah saat itu.
Dengan lantang, tegas dan tanpa rasa bersalah kak bintang akhirnya mengatakan yang sesungguhnya.
"Baiklah, itu karena saat bersamamu aku berasa di kekang. Aku tidak bisa bebas. Kau selalu membuat aturan yang melarang ku melakukan hal ini hal itu. Aku jadi merasa terikat. Kau terlalu pencemburu Shil."
Air mataku semakin deras, apa dia bilang selama ini aku mengekangnya? Aku mengikatnya? Tidak salah kah.
"Padahal itu semua aku lakukan demi kebaikanmu kak. Asal kau tahu, tanpa aku ikat sekali pun kau masih berani selingkuh dibelakang ku, kau bermain dibelakang ku dan itu dengan sahabat ku sendiri! Apa kamu tidak memikirkan perasaanku kak? Ketika aku tahu semuanya, ha?"
"Jangan ganti menyalahkan Kak Bintang, Shil." Sahut norma.
Aku hanya meliriknya dengan kesal.
"Sepertinya selama ini kamu salah paham dengan hubungan kita Shil, aku sama sekali tidak bermaksud ingin berpacaran denganmu. Apa yang ku lakukan selama ini hanya karena aku merasa nyaman dan tertarik sesaat denganmu, coba kau ingat lagi. Apa pernah aku menyatakan kau adalah pacarku?"
Deg, saat itu kak bintang benar benar meremehkan ku. Memang benar selama ini dia tidak pernah menyatakan jika aku adalah pacarnya. Tapi tindakannya, dan terkadang cara bicara dan juga sikap posesif nya saat aku bersama laki-laki lain, itu menunjukkan jika dia juga menginginkan aku. Tapi kenapa tiba-tiba berubah total. Bagaimana bisa aku tidak salah mengartikan semua ini?
"Cih, jika dari awal tidak berniat bersamaku. Seharusnya kakak jangan memberiku harapan, untuk bergantung pada kakak. Seharusnya memang dari awal kita tidak bertemu. Aku menyesal."
Rasanya urat tubuh ku mati rasa. Hatiku begitu sesak dan sakit. Aku bingung setelah ini harus melakukan apa. Malam itu benar-benar dihancurkan oleh sebuah harapan.
Setelah mengetahui isi hati kak bintang yang sebenarnya, aku memutuskan untuk mengakhiri secara total hubungan ini. Aku tidak ingin mengenal kak bintang lagi. Dan tentang Norma, sangat tidak ku percaya dia adalah sahabat dekatku bisa berbuat sedemikian denganku.
Jika bukan mengingat semua kebaikan norma padaku dulu kala, aku ingin sekali menamparnya.
Dan aku tidak berdaya. Sehingga aku memutuskan untuk mengalah. Mengalah dari semuanya. Karena terkadang dengan mengalah hati bisa tenang.
Setelah malah menyakitkan itu, aku memutuskan untuk pergi dan memulai hidup baru lagi. Jauh dari orang orang pengkhianat seperti mereka. Aku hanya tidak ingi hidup dalam penyesalan.