Dahulu, aku pernah berpikir bahwa cinta itu adalah sesuatu yang indah. Tak peduli seberapa jauh jarak dan seberapa lama waktu yang dipisahkan, cinta akan tetap selalu indah dan menarik di mata orang yang percaya akan cinta. Aku termasuk salah satu orang yang percaya bahwa cinta itu indah, aku pun tak pernah memandang cinta hanya karena paras seseorang atau memandangnya dari sisi materi, karena yang aku tau cinta larut dalam isi hati tulus. Menurutku, cinta bisa datang kapan saja, dimana saja, dan dengan siapapun itu. Cinta itu adalah hal magis yang bisa mendatangkan berbagai rasa, hanya saja kita tak pernah membayangkan bagian pahit dari cinta, ya.. sama seperti diriku yang tak pernah membayangkan pahitnya rasa yang diberikan dari cinta dan inilah seperempat bagian pahit dari kisahku.
Pada bulan september 2021 lalu, aku berkenalan dengan seorang mahasiswa dari salah satu Universitas swasta ternama di Jawa tengah. Aku berkenalan dengannya lewat aplikasi audio room, pada awalnya aku hanya berniat menambah banyak teman di dunia maya, ya agar gawai ku ini tidak terlalu sepi saja. Ada dering yang menunjukan notifikasi chat dari aplikasi itu, ternyata ada seseorang yang mengajakku berkenalan. "Exel", ya namanya Exel, seseorang laki-laki berparas manis dengan gaya ketikan yang khas, yang membuatku menjadi terhipnotis dan menjadi luluh. Kau pasti tak akan percaya bila Exel semanis dan selucu demikian, akan aku ceritakan tentangnya.
Setelah satu bulan berkenalan dengannya lewat audio room akhirnya kami berpindah ke aplikasi chat yang lain agar bisa lebih dekat. Semakin hari kami semakin dekat dan perilaku dia kepadaku juga semakin berbeda, kini ia semakin rajin mengabariku serta sering bercerita tentang hal-hal kecil. Memang kami berdua tidak secara intensif berkabar karena ada kalanya aku sibuk atau dia yang sibuk, pada intinya kami berdua hanyalah sebatas orang asing yang dipertemukan dan menjadi akrab di dunia maya, terlepas dari itu kami berdua masih tetap di cap sebagai 'orang asing' bukan?
Bunyi notifikasi terdengar olehku setelah sekian lama akhirnya Exel mengabariku kembali, tapi kali ini berbeda, ia mengirimkanku sebuah foto berupa wajahku sebagai gambar layar ponselnya. Aku merasa aneh campur dengan senang, aneh karena kami tidak memiliki ikatan dan senang karena ada yang memasang wajahku sebagai gambar layar ponselnya. Memang banyak hal-hal kecil yang ia lakukan kepadaku, hal kecil itu sangat berbeda bahkan bila dibandingkan dengan jutaan manusia di muka bumi ini hanya perilakunya lah yang membuatku menjadi merasa spesial. Hatiku selalu berdetak kencang ketika berinteraksi dengannya walau hanya sebatas virtual, apakah aku sudah mulai jatuh hati padanya? Atau aku hanya terbawa suasana karena sudah lama sendiri, entahlah.
Hari demi hari kami semakin dekat, kami selalu memberi kabar satu sama lain hingga menelpon hampir setiap malam. Menelponnya merupakan hal wajib bagiku, bahkan ketika aku sudah tertidur aku selalu terbangun kembali karena ingin mendengarkan suaranya lewat panggilan suara, karena menurutku suaranya adalah penenang bagiku. Tak lama dari itu kami resmi menjadi pasangan setelah beberapa kali melakukan panggilan video. Meski hubungan ini virtual tetapi aku yakin suatu saat kami akan bertemu, hal tersebut juga sering kami bicarakan lewat panggilan suara. Aku sangat menaruh harapan padanya agar bisa bertemu selayaknya pasangan pada umumnya, karena aku yakin bahwa jarak bukanlah suatu penghalang.
"Jangan pernah tinggalin aku ya?", ujar Exel lewat pesan singkat yang ia kirim padaku. Kalimat itu tak hanya sekali atau dua kali ia ucapkan dan membuatku semakin percaya bahwa hubungan ini memang serius. Aku letakan harapan dan kepercayaan padanya serta aku tanamkan dalam benakku bahwa Exel adalah sosok yang bertanggung jawab, sampai detik inipun aku heran pada diriku sendiri, bagaimana bisa aku sepercaya itu dengan orang yang bahkan belum bertemu di dunia nyata.
Semakin hari ia selalu merangkai kata-kata yang indah, yang membuatku seperti berada di hamparan kebun bunga. Karena itu pula aku ingin berbagi cerita kepada salah satu teman dekatku, aku ingin menceritakan segala hal-hal manis yang telah Exel berikan padaku walau hanya sebatas kata karena terbatas akan jarak maka belum ada tindakan lain selain memberi sebuah kalimat manis atau penghibur. Tetapi, reaksi teman dekatku tidak seperti apa yang aku harapkan sepertinya ia tidak merestui hubunganku dengan Exel. "Memang kamu yakin dia mengatakan seperti itu? Hubunganmu itu hanya sebatas internet, kamu gak akan tau apa yang aslinya terjadi, "Ujar Zhia".
Zhia adalah teman dekatku sejak tiga tahun lalu, ia juga dua tahun lebih tua dariku. Aku menganggap perkataannya sebagai sebuah nasehat dari seorang kakak saja. Terlepas dari perkataannya, aku juga memikirkan apa benar selama ini yang Exel katakan padaku hanya sebatas dusta agar hubungan kami terlihat seperti hubungan pada umumnya saja? Entahlah, tapi aku tidak ingin menerima mentah-mentah perkataan dari Zhia. Sejak ia berkata seperti itu, aku menjadi gelisah tak karuan memikirkan Exel. Aku ingin mempercepat pertemuanku dengan Exel agar semuanya terlihat jelas.
Akhirnya aku memberanikan diri untuk menelponnya, menanyakan kepastian agar bisa bertemu dengannya. "Gimana? Kamu bisa ketemu sama aku minggu ini?" ujarku, "maaf ya, minggu ini ngga bisa, aku banyak kerjaan di kantor lagian apa harus dalam waktu dekat ini kita bertemu? Kita itu sering video call apa kamu masih ngga percaya sama aku?". Mendengar jawaban Exel yang seperti itu, aku merasa berada di dua posisi dimana aku harus percaya dengannya karena dia adalah pacarku sementara aku juga berada di posisi dimana aku mulai tidak percaya dengannya karena untuk saat ini firasatku menunjukan kalau ia sedang berbohong kepadaku. "Dan satu lagi, jangan sering-sering chat aku dulu ya aku lagi sibuk dengan urusan kantor." Ujar Exel saat mengakhiri percakapan.
Setelah dua minggu berlalu, memang benar kami berdua sudah tidak lagi saling menghubungi. Aku ingin sekali menanyakan kabarnya tetapi aku takut menganggu waktunya, aku terus berpikir tentang hubungan ini yang tak karuan. Aku terus mecari tahu dimana keberadaan dia, semua akun sosial medianya tidak terlihat aktif setelah perbincangan waktu itu. Aku rasanya ingin menyerah saja, aku ingin menyudahi hubungan ini tapi enggan karena rasa sayang. Akhirnya ada bunyi notifikasi pesan darinya, ia hanya memberiku sapaan tanpa ada kata lain "hai", setelah itu? Hilang tanpa kabar kembali. Disitu aku merasa perasaanku sedang diombang-ambing olehnya, diriku seperti boneka yang ia mainkan ketika sedang bosan lalu dibuang ketika ia memiliki kesibukan yang baru.
Aku memberanikan diri untuk menayakan kejelasan tentang arah dari hubungan ini kepadanya, "mau kamu gimana? Masih mau sama aku atau kita udahan aja?" ia hanya menjawab "duh, bingung" lalu aku menjawabnya kembali "jangan kayak gini dong, ga jelas hubungan kita." Kemudian setelah itu ia tak ada kabar sebulan dan seterusnya, aku menganggap hubungan ini telah resmi kandas. Aku memang sedih tapi apa yang harus aku sedihkan dari hubungan singkat yang hanya sebatas virtual.
Beberapa minggu kemudian ada seorang perempuan yang menghubungiku lewat pesan singkat, ia mengaku bahwa dia adalah mantan dari Exel. Dia menjelaskan semua keburukan Exel yang sama sekali tak pernah ku bayangkan bahwa Exel memiliki sifat seperti itu. "Maaf ya, aku mengatakan ini semua karena aku tau rasanya di khianati olehnya dan anggap saja aku begini karena kita sama-sama perempuan."Ujarnya padaku yang sudah tak sanggup menerima fakta yang memang benar adanya. Bukti-bukti yang telah diberikan oleh perempuan itu memang sangat kuat, salah satu bukti yang membuatku hancur-sehancurnya adalah Exel ternyata telah memiliki kekasih baru sebulan sebelum ia meninggalkanku.
Rasanya sakit mengetahui orang yang selama ini aku percayai dan aku bangga-banggakan telah membohongiku, karena kejadian ini pula aku makin yakin bahwa tidak ada cinta di dunia ini. Cinta itu palsu, pembohong. Dugaanku ternyata benar, ia memang penipu handal berselimut kata-kata manis. Belum pernah aku merasakan kecewa dan sakit sedalam ini, aku benci segala hal yang menyangkut tentang dirinya. Rasanya untuk menyebut namanya pun aku sudah tak mau.
Aku benar-benar tertipu olehnya, semenjak kejadian ini aku selalu menyalahkan diriku sendiri. Aku selalu merasa bersalah mengapa aku terlalu percaya dengan orang yang ku temui di internet, mengapa aku tak mendengarkan kata temanku, mengapa aku bisa jatuh dalam perangkap hewan buas seperti dirinya? Dan setelah kejadian itu pula aku merasa bahwa diriku kurang, aku merasa kurang dari segala aspek dalam fisik dan sifat. Aku merasa aku tak akan bisa menjadi seorang kekasih untuk siapapun karena aku kurang dalam segi apapun.
Sebenarnya aku juga harus berterima kasih karena kejadian ini telah mendewasakan diriku, aku juga harus mengingat kebaikan-kebaikan kecil yang telah Exel lakukan untukku. Walaupun rasa sakit lebih besar daripada harus mengingat kebaikan yang telah ia perbuat padaku. Ternyata jarak telah meruntuhkan kesetiaan dan memang terkadang ada cinta yang dipertemukan tidak untuk selamanya melainkan untuk pelengkap kecil cerita di kehidupan kita.
~selesai~
***
Jangan lupa klik tanda ♥️ yah sebagai tanda dukungan dari kalian. Thanks for reading 🤗