Nama tokoh :
1. Lusiana Arabelle (tokoh utama perempuan)
2. Hans fernandes (tokoh utama pria)
3. Shiya shalim (ibu kandung lucy)
4. Frans dimejo (ayah kandung lucy)
5. Lusiana (kekasih/istri Frans)
Frans dan Lusiana adalah sepasang kekasih yang saling mencintai, mereka sudah menjalin hubungan lebih dari 5 tahun lamanya semenjak berada dibangku perkuliahan. Jelas saja mereka sangat mengharapkan membawa hubungan mereka kejenjang pernikahan.
Namun sayang sekali orang tua frans sangat menentang hubungan mereka meskipun mereka sudah berusaha dengan berbagai cara untuk mendapatkan restu orangtuanya.
Shiya adalah seorang gadis yang berparas cantik dan memiliki hati yang lembut. Dia adalah anak yang sangat berbakti kepada kedua orangtuanya. Kedua orangtua frans dan shiya adalah teman yang sangat akrab, bahkan orangtua frans sangat menyukai shiya. Mereka ingin yang terbaik untuk anak semata wayangnya, mereka berencana menikahkan frans dengan shiya. Mereka juga berharap mendapatkan cucu agar bisa melanjutkan garis keturunan keluarga mereka.
Hingga akhirnya shiya dan frans harus menikah tanpa rasa cinta. Namun, seiring berjalannya waktu akhirnya shiya hamil dan melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik mirip dengannya.
Dengan lahirnya bayi tersebut hati frans tetap tidak luluh pada shiya. Ia tetap tidak mencintai shiya . Hingga akhirnya bayi tersebut frans beri nama sesukanya tanpa meminta persetujuan sang istri. Ia memberi nama bayinya dengan nama Lusiana Arabelle sama seperti nama kekasihnya yang ia cintai.
Meskipun hati shiya sangat sakit namun ia tak bisa berbuat apapun,ia hanya bisa menerima perlakuan suaminya tersebut.
10 tahun kemudian kedua orangtua frans meninggal dunia,sebelum meninggal mereka memberi surat wasiat untuk memberikan harta kekayaannya pada cucu satu-satunya. Namun frans tak terima dan mengusir shiya beserta anaknya pergi dari rumahnya dan memilih untuk membawa kekasihnya tinggal dirumahnya menikmati harta kekayaan peninggalan orangtuanya.
Akhirnya shiya hanya hidup berdua dengan anaknya disebuah kontrakan kecil. Namun lama kelamaan kesehatan mental shiya memburuk, setiap hari dia hanya mabuk-mabukan dan sering memukul anaknya tanpa sadar saat mabuk.
Setiap kali sadar dari mabuknya shiya selalu menyesal karena tanpa sadar memukul lucy dan menemukan luka lebam diseluruh tubuh lucy,bahkan terkadang sampai berdarah.
Dia bahkan pernah menyerahkan diri kepolisi dan memohon polisi untuk memenjarakannya agar bisa jauh dari anaknya dan tak melukainya lagi,namun usahanya selalu sia-sia karena polisi tidak pernah mengabulkan permintaannya.
Karena shiya tak mampu menghentikan perbuatannya, akhirnya dia memilih untuk memasukkan lucy kepanti asuhan. Berharap anaknya lebih aman tinggal disana.
Lucy tinggal dipanti asuhan selama 5 tahun hingga akhirnya dia diadopsi oleh sepasang suami istri. Beruntung orang tua angkatnya sangat menyanyanginya seperti darah dagingnya sendiri. Meskipun Lucy seorang perempuan,namun hampir setiap hari ayah angkat Lucy mengajarinya bela diri karena ia adalah pria berkebangsaan Thailand yang lihai dalam bela diri Thai boxing dan muaythai. Lucy sendiri juga sangat antusias mempelajari olahraga tersebut. Ayahnya berharap Lucy dapat menjaga dirinya kelak. Bahkan ayahnya juga mengirimkannya langsung ke Thailand untuk belajar lebih dalam pada ahlinya dan mendapat sertifikat selama beberapa tahun disana. Kemampuannya pun tak diragukan lagi.
Namun kebersamaan lucy dengan orangtua barunya juga tidak berjalan lama, mereka hanya bersama selama 8 tahun sebelum akhirnya ibu angkat lucy meninggal dan ayah angkatnya memilih untuk kembali ke negara asalnya. Lucy pun kembali hidup sendiri dan hanya beberapa kali mengunjungi ayahnya jika ia rindu.
Setelah kepergian ibu angkatnya saat berumur 23 tahun lucy berjuang hidup seorang diri. Dengan bekal sertifikat Thai boxing dan muaythai yang ia miliki, ia mengajar di sekolah untuk anak-anak dan juga bekerja di salah satu perusahaan akomodasi sebagai marketing.
Walaupun ia baru pertama kali terjun di bidang tersebut namun kemampuan penjualannya tak kalah bagus dengan karyawan yang sudah lama bekerja di perusahaan tempatnya bekerja. Hingga ia berhasil meningkatkan kesuksesan perusahaan dan menjadi karyawan teladan meskipun pada awalnya rekan kantornya hanya memandang sebelah mata dan meragukan kemampuannya.
Ia memang jarang bergaul dengan rekan kerjanya saat dikantor, ia lebih memilih untuk fokus pada pekerjaannya ditambah perlakuan orang-orang yang tidak begitu baik padanya membuat ia enggan untuk berbaur dan hanya berinteraksi seperlunya saja pada mereka.
Biasanya seusai jam kerja ia tidak langsung pulang kerumah,ia sering menghabiskan waktu di bar yang ada di rooftop kantornya. Setiap kali datang ketempat itu,ia selalu memilih duduk diujung meja bar dibandingkan di tatanan kursi yang jauh dari bar. Selain dekat dengan bartender untuk membuatkan minuman,ia juga bisa mengobrol dengan bartender karena memang ia hanya datang sendiri tanpa teman.
"Pinacolada ?" Kata-kata yang selalu keluar dari mulut bartender ketika Lucy datang.
"Sure, kau sudah hafal,tak perlu tanya lagi !" Lucy menyunggingkan senyuman dan beranjak duduk, ia mulai menyalakan rokoknya sambil menunggu minuman kesukaannya diracik,ia suka sekali menikmati malam sambil mendengarkan musik di bar tersebut.
Ia terlihat cantik tanpa seragam kerjanya yang membuatnya terlihat culun. Sungguh sangat terlihat perbedaanya ketika ia berseragam dan tidak hingga nyaris membuat siapa saja yang melihatnya pangling.
Tanpa disadari ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikannya. Ia mulai mendekat dan memberanikan diri menyapa Lucy.
"Hai,sendirian ?"
"Tanya sama aku ?"
"Haha iyalah.Aku duduk disini ya ? boleh aku temenin cantik?"
Lucy tak menyahuti perkataan genit itu sama sekali hingga membuat pria itu geram dan berlaku kurang ajar padanya. Pria itu berani menyentuh pipi kiri Lucy.
"Braaaakkk !"
Seketika Lucy murka dan menghempas tangan pria itu hingga berhasil membuat pria itu terjatuh ke lantai dari kursi bar yang cukup tinggi. Seisi bar kagum melihat kemampuan Lucy yang dengan mudahnya mengalahkan pria kurang ajar itu. Ia meringis kesakitan dan hendak membalas Lucy. Namun,tiba-tiba ada seorang pria yang berhasil menahan tangan pria kurang ajar tersebut dan berdiri didepan Lucy bermaksud membela dan melindunginya.
"Beraninya sama perempuan?" ia melemparkan pertanyaan sambil memegang erat tangan pria kurang ajar tersebut.
"B-bos,maafkan saya bos." jawabnya terbata sambil meminta ampun.
Lucy hanya menarik ujung bibir kirinya saja membentuk senyum sinis dan berlalu pergi meninggalkan kegaduhan tersebut.
Sesampainya diluar bar tiba-tiba tangan kirinya ditarik dengan sangat kuat oleh pria yang menolongnya tadi.
"Tu-tunggu !."
"Ada yang bisa saya bantu Tuan Hans?." Lucy melepaskan tangan Hans pelan.
"Kamu tahu saya? Bagaimana bisa."
"Tentu saja,saya Lucy karyawan anda di divisi marketing."
"Lusiana Arabelle? tidak mungkin."
"Kenapa?" Lucy menunjukkan kartu pegawai pada Hans.
"Kamu cantik." Hans tak melepaskan pandangannya pads Lucy. Karena risih akhirnya Lucy berlalu pergi meninggalkan Hans.
"Hei,kamu tidak sopan sekali pada atasanmu !"
"Maaf Tuan Hans yang terhormat,ini sudah diluar jam kerja. Jadi status kita sudah bukan Pemilik perusahaan dan karyawan lagi."
Sejak malam itu,Hans begitu tertarik pada Lucy yang sebelumnya sama sekali ia tak pernah memandangnya sedikitpun dikantor. Bagaikan langit dan bumi,Hans adalah pemilik perusahaan sedangkan Lucy hanya pegawai rendahan biasa.
Seperti biasa selesai bekerja Lucy menghabiskan waktunya di bar. Hari itu Hans menyusulnya,namun Lucy sama sekali tak menghiraukannya. Hingga tiba-tiba Lucy mendapat telpon dari kepolisian.
"Hallo,selamat malam dengan saudari Lusiana Arabelle ?"
"Iya betul."
"Saya dari kepolisian distrik barat,apa benar ibu anda bernama Shiya shalim?"
"Iya."
"Baru saja kami temukan ibu anda meninggal dengan kondisi sedikit terbakar ditubuhnya ditempat tinggalnya."
Tanpa menyahutinya,ia segera mematikan sambungan telponnya dan berlari keluar. Hans dengan begitu sigap mengejarnya dan membawa Lucy masuk kedalam mobilnya.
"Kemana ? katakan !"
"Distrik barat." Lucy gemetar dan Hans segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan penuh.
Tak lama kemudian,mereka sampai dibangunan yang masih diselimuti asap dan dipenuhi warga sipil dan petugas kepolisian.
Polisi menjelaskan kronologi kejadiannya lebih detail. Lucy hanya diam dan mendengarkannya,matanya tak henti mengeluarkan cairan bening yang cukup deras.
"Apa tante Shiya adalah ibumu?." Lucy mengangguk.
"Aku mengenalnya cukup baik,ia teman ayahku. aku sering bertemu dengannya. ia sering menceritakan tentang anak perempuannya padaku." Mendengar ucapan Hans,Lucy terkejut dan menatap Hans.
"Aku baru tahu anak perempuannya adalah kau." Hans memeluk Lucy erat bermaksud menenangkannya,ia kemudian menarik tangan Lucy untuk membawanya ke suatu tempat.
"Kemana?"
"Ayo kita lihat ibumu !"
"Tidak,aku hanya perlu tahu kabar kematiannya saja." Sontak Hans terkejut mendengar perkataan Lucy.
"Untuk apa aku melihatnya,bahkan dulu ia menyiksaku dan membuangku kepanti asuhan."
"Kalau begitu pulanglah,kau istirahat aku akan mengurus semuanya disini."
Setelah kepergian Lucy,Hans mencoba mencari tahu dan menggali informasi dari rekan polisinya. Hingga ia menemukan fakta bahwa ternyata kematian sahabat ayahnya yang tak lain adalah Shiya ibu Lucy merupakan pembunuhan. Ia juga menemukan tersangka utamanya adalah istri dari ayah kandung Lucy yang juga bernama Lucy. Lucy membakar tempat tinggal Shiya setelah terjadi percekcokan antar keduanya. Beberapa bukti dan saksi telah ditemukan,tak perlu waktu lama untuk seorang Hans menyelesaikan masalah seperti ini.
Dengan segala informasi yang ia dapatkan,akhirnya Hans menemui Lucy dan menjelaskan semuanya. Hans juga menjelaskan alasan kenapa Shiya melakukan semua itu pada anaknya,ia ingin menyelamatkan anaknya dan ingin yang terbaik untuk anaknya.
"Kau masih tidak mau melihat ibumu untuk yang terakhir kali?."
"Apakah aku bisa mempercayai kata-katamu?"
"Hey come on ! sadarlah ! kau tidak sama dengan Lucy!"
"Iya benar,aku bukan Lucy ! hanya nama kita saja yang sama,namun aku bukan dia !"
Setelah mendengar penjelasan Hans,akhirnya Lucy menemui ibunya yang sudah terkulai lemas tanpa nyawa. Ia akhirnya lega karena bisa berdamai dengan perasaan dendamnya selama ini.
Berkat kerja keras Hans akhirnya ayah kandung Lucy beserta istrinya berhasil dimasukkan kedalam penjara. Seluruh harta kekayaan pun jatuh ketangan Lucy.
"Akhirnya keadilan datang menghampiriku." Lucy bernafas lega dan bisa kembali menyunggingkan senyum manisnya.
"Kau tak perlu khawatir mulai sekarang,aku akan melindungimu dan selalu ada untukmu." Hans memeluk tubuh Lucy begitu erat,Lucy hanya pasrah tanpa perlawanan dan membenamkan wajahnya pada dada bidang pria tersebut.