Cerpen
Tema: Jatuh cinta dengan adik kelas di masa SMA.
Akiyama Zia kini telah menduduki kursi nya di kelas 3 SMA, Zia adalah seorang gadis tomboy, ia biasa bermain dengan 4 teman nya di lapangan, 4 teman Zia bernama Tia, Nadine, kiya, dan manda.
Mereka bertiga cukup di kenal di seluruh kelas 3 SMA, entah karna memang mereka selalu bersama atau bagaimana.
Suatu hari, saat kelas 3 mengadakan acara kecil, yaitu pergi pengamatan di suatu musium, acara itu hanya di ambil 7 orang sebagai perwakilan kelas.
Nadine dan Tia adalah salah seorang yang ikut dalam pengamatan itu, karna mereka memang sangat suka sesuatu yang bergantung dengan lingkungan atau liburan.
Hari pengamatan pun tiba, seisi kelas 3 sangat kosong karna beberapa siswa tidak hadir di kelas.
"Para guru akan ada rapat, kelas 3 akan mendapatkan jamkos untuk beberapa hari" kata bu guru menyampaikan informasi.
Ketiga kelas 3 SMA yang mendengar informasi tersebut membuat mereka bersorak satu sama lain.
Seluruh siswa kelas tiga keluar dari kelas nya, mereka pergi keluar untuk jajan di kantin, maupun ke perpustakaan.
Hari ini Kiya, Zia dan Manda berdiri di koridor dekat tangga, mereka bertiga berbincang satu sama lain, tertawa, curhat, mereka melakukan nya bersama.
"Oii sedang apa kalian disana?!" tegur seseorang dari arah belakang.
Zia, Kiya, dan Manda yang merasa terpanggil pun menoleh ke kebelakang, seorang anak laki laki berdiri tak jauh dari mereka dengan posisi kedua tangan nya di masukan ke dalam saku celana nya.
"Kaka kelas jangan disini!!" seru anak laki laki itu lagi
"Lah apa yang salah, suka-suka kita donk" sahut Manda yang emosi.
Zia tertawa kecil melihat sahabat nya sangat emosi hanya karna adik kelas "Manda... Mengapa kau begitu sangat marah??" tanya nya di sela tawa kecil nya.
"Kita kaya gk di hargai bangt sama adik kelas, astaga" keluh Manda sembari bersandar di tiang koridor.
"Ya mau bagaimana lagi, klo kita di sini, tempat ini di kuasai oleh adik kelas" sambung Kiya sembari menaikan kedua bahu nya.
"Yaudahlah, turun aja yukk, akan membuang buang waktu, jika kita tetap disini" kata Zia sembari menuruni anak tangga.
"Oiii" panggil anak laki laki, dan membuat langkah kaki Zia terhenti.
"Kenapa lagi??" tanya Zia sembari melirik ke arah anak laki laki itu.
"..." Namun anak laki laki itu tidak menjawab dan hanya menatap tajam Zia.
"Udah udahh, yuk Zia kita pergi aja" sela Kiya saat Anak laki laki itu dan Zia yak berhenti menatap satu sama lain.
Kiya dan Manda membawa Zia pergi ke lantai bawah, mereka duduk tangga, sembari memakan cemilan yang mereka beli di kantin.
"Sepi banget ya hari ini" seru Manda sembari memakan makanan nya.
"Iya itu karna 7 siswa di setiap kelas kan lagi pergi ke musium untuk pengamatan" sahut Kiya.
"Lagian kenapa si, Nadine ama Tia pake ikut segala" keluh Manda lagi.
"Udahlah biarin aja, sesuka mereka ko, kita gk bisa ngelarang" sambung Zia.
"Lahh?? Kalian disini??" tegur seseorang dari tangga.
Zia, Manda dan Kiya menoleh ke arah tangga untuk melihat siapa yang berbicara pada mereka.
"Lahh Kiya!!!" seru anak laki laki itu memangil Kiya dengan nada sedikit teriak.
"Prado??" sahut Kiya yang kebingungan
Prado adalah anak laki laki kelas 2 SMA, sekaligus teman dekat Kiya dan Zia.
"Oii pada ngapain si??" tanya Prado sembari duduk di sebelah Kiya.
"Nafas" sahut Zia acuh tak acuh.
Kiya dan Manda tertawa mendengar jawaban Zia yang seperti itu "Ayolah Zia, ada apa dengan mu??" tanya Kiya mengoda Zia.
"Tidak ada!!" sahut nya dengan jutek.
"Mau ikut main gk??" tanya Prado sembari bangun dari duduk nya.
"Main apa??" tanya Zia, Manda dan Kiya serempa.
"Main petak umpet yuk!! Atau main polma (polisi maling)??" tanya Prado sekali lgi.
"Ya aku si ikut aja, kalian gimana?" tanya Kiya pada Manda dan Zia.
"Yaudah si, dari pada gabut kan kita disini" sahut Zia.
"Ya aku ikut aja" sambung manda.
"Ywdah berati kita bisa main kan??" Prado bertanya lagi.
Zia, Kiya, dan Manda mengangguk pelan tanpa menjawa apa pun "...."
"Ehh tunggu, tpi kita main nya cuma ber empat??" tanya Manda.
"Enggak, kita main nya ama teman teman ku juga" sahut Prado sembari melambaikan tangan nya ke arah tangga, seolah olah dia sedang memanggil seseorang.
"Dooo"
"Aldri sini" panggil Prado.
Setelah itu, Sekumpulan anak laki laki, dari kelas 2 SMA mulai berdatangan, mereka adalah teman sekelas Prado, nama nya adalah Rifal, Rifki, Aldri, Mekal, Sultan, Zuhdi, dan Noval.
"Yaudah yukk!! Jadinya main apa nih??" tanya Prado lagi.
"Polma ajalah, main petak umpet tidak terlalu menyenangkan" sahut Aldri dengan nada datar nya.
'Sok keren amat, astaggaaa' gumam Zia sembari menepuk kening nya dengan pelan.
"Yaudah yuk main polma" seru Prado sembari menarik tangan Kiya dan membuatnya bangun dari duduk nya.
Setelah selesai pemilihan, mereka mulai berdiri sesuai dengan bagian nya [ Prado, Aldri, Rifki, Sultan, dan Noval adalah seorang polisi yang mengejar maling ], sedangkan [ Kiya, Manda, Zia, Zuhdi, dan mekal adalah seorang maling yang akan di kerja oleh polisi ]
Permainan pun di mulai, semua maling berpencar satu sama lain, begitu juga dengan polisi, mereka mengejar setiap maling yang mereka temui.
Disisi lain, Zia dan Aldi berlari bersama ke belakang sekolah, Aldri berlari kencang untuk menangkap Zia yang berlari di depan nya.
"Oii sini!!!" teriak Aldri.
"Berisik, berhentilah berteriak bodoh" sahut Zia sembari terus melarikan diri nya dari kejaran Aldri.
"E-ehh, jangan kesana!! Itu jalan rusak nanti kamu ja-" Aldri yang belum menyelesaikan ucapan nya, dengan cepat tangan Aldri menahan tangan Zia untuk menghentikan langkah lari nya.
"Itu jalan nya rusak!! Nanti kamu bisa jatuh" kata Aldri memperingatkan Zia.
"Maaf" sahut nya.
Singkat cerita, semejak hari itu, Zia dan aldri cukup sangat dekat, bahkan jika bermain, walau mereka kebagian dalam tugas yang sama, yaitu sama sama menjadi polisi yang mengejar maling, Aldri tetap berlari mengejar bersama Zia.
Kedekatakan mereka benar benar mengecoh keseluruhan teman sekelas Aldri, Namun tak ada satu pun yang dapat memisahkan mereka.
×
×
×
×
"Kalau cape, ambil minum dulu sana, aku akan menunggu mu disini" kata Aldri yang mengetahui Zia yang kelelahan setelah di kejar oleh nya mengelilingi sekolah.
"Tidak usah, aku akan disini menunggu yang lain saja" sahut Zia menolak tawaran Aldri.
"Tapi kau terlihat sangat kelelahan"
"Tidak apa"
×
×
×
×
"Oiii, ini ambil lahh" pinta Aldri sembari memberikan gelang pada Zia.
"Apa ini??" tanya Zia sembari meraih benda pemberian Aldri.
"Tidak ada, hanya sebuah hadiah kecil untuk mu"
"Mengapa kau memberikan nya pada ku??"
"Tidak ada, aku hanya ingin kau memiliki nya, itu adalah benda berharga ku"
"Kalau benda berharga mengapa kau memberikan nya pada ku??"
"Sudah ku katakan pada mu, aku ingin kau memiliki nya" kata Aldri sembari mengedipkan salah satu mata nya.
"Eum" Zia membuang pandangan nya dari Aldri yang mencoba menggoda nya.
×
×
×
×
Namun, kedekatan mereka longgar saat Zia melihat Aldri sedang berbicara dengan seorang gadis teman sekelas nya, Zia yang tak ingin menganggu ia hanya berjalan melewati Aldri yang sedang asik itu.
"Oiii" tegur Aldri saat melihat Zia melewati nya tanpa menyapa nya sama sekali.
"Knpa??" tanya Zia tanpa menoleh ke arah Aldri.
"Kau ini kenapa??" tanya Aldri tanpa melepaskan tangan nya yang menggenggam tangan Zia.
"Tidak ada!!"
"Haii kak" sapa gadis itu menyapa Zia, dan membuat Aldri melepaskan genggaman nya.
"Oh Iya" sahut Zia sembari mengangguk pelan.
"Kaka nama nya Zia ya?? Aldri sering menceritakan tentang kaka ke aku lhoo" kata gadis itu dengan senyum nya.
"Oh iya kah?"
"Iyaa, oh ya kenalin nama ku Dea ka" kata gadis itu memperkenalkan diri nya.
"Oh iya salam kenal"
"Kaka ini sahabat nya Aldri ya?? Kalau aku pacar nya Aldri kak"
Zia yang mendengar perkataan Dea, membuat Zia terdiam membeku, ia perlahan menoleh ke arah Dea yang berada di sebelah Aldri.
"Pa-pacar??" tanya Zia yang gagu.
"Iya"
"Maaf Zia, aku belum memberutahu mu tentang ini" kata Aldri sembari menundukan kepala nya.
"Sejak kapan??" tanya Zia.
"Sudah lama kak" sahut Dea.
"Oh, baiklah semoga langgeng ya, kalau begitu aku pamit dulu, ada urusan" kata Zia sembari berjalan pergi.
"...." Aldri merasa bersalah dan hanya menatap punggung Zia yang mulai menghilang setelah melewati tangga.
×
×
×
×
Sejak saat itu, Aldri dan Zia tak lagi terlihat dekat, bahkan semua teman Aldri pun merasa kebingungan dan bertanya tanya satu sama lain.
Suatu hari, Saat Zia sedang duduk di lorong SMP sembari memakan jajanan nya, tiba tiba di hampiri oleh kaka kelas nya yang bernama Raffi.
"Kenapa kau Sendirian??" tanya Raffi sembari duduk di sebelah Zia.
"Tidak ada" sahut nya sembari bergeser menjauh, karna jarak nya dengan Raffi terlalu dekat.
"Ada apa?? Apa kau sedang menunggu saudari mu Kiya??" tanya Raffi memulai obrolan.
"Iya"
"Kemana dia??"
"Pergi membeli sesuatu di Kantin, jadi aku menunggu nya disini "
"Jangan sendirian, Kalau aku temani mau? Hanya sampai Kiya datang saja ko"
"Iya"
Zia dan Raffi berbincang bincang satu sama lain, kedua nya terkadang tertawa dengan apa yang mereka bicarakan.
Disisi lain, Aldri yang melihat keakrapan Zia dan kaka kelas nya, membuat Aldri mengepalkan tangan nya, Hati nya terasa panas saat melihat Zia melepas tawa nya dengan orang lain.
Momen ini tak luput dari pandangan Aldri yang kini berdiri kaku di belakang dinding tempat persembunyian nya. Manik mata terbuka lebar saat melihat adegan itu, beberapa saat kemudian ia tersadar dan tangan nya memegang dada kiri nya.
'Seperti ini kah rasa sakit yang kau rasakan saat melihat ku dengan Dea?? Hahaha pantas saja kau selalu menghindar ketika bertemu dengan ku, rasa nya memang menyakitkan, Bahkan untuk bernafas pun sangat sulit' batin Aldri sebari berbalik untuk pergi.
Namun langkah Aldri terhenti saat seseorang memanggil nama nya dari belakang.
"Aldrii" panggil Zia yang berlari dari belakang.
Aldri yang nama jya terpanggil, mulai menoleh kr belakang dan melihat Zia berlari ke arah nya.
"Ada apa??" tanya Aldri yang kini berdiri di depan Zia.
"Terima kasih, tapi aku rasa Dea lebih pantas mendapatkan ini, dia adalah sosok wanita yang paling berharga untuk mu, jadi berikan ini untuk nya" kata Zia dengan senyum nya sembari memberikan gelang pemberian nya sewaktu dulu.
"...." Aldri hanya terdiam dan meraih gelang itu
"Zia, ku tunggu sepulang sekolah yaa" teriak Raffi menyela pembicaraan Zia dan Aldri dari kejauhan.
Zia menoleh ke arah Raffi sembari mengangguk pelan.
"Mengapa kau mengembalikan ini oada ku??" tanya Aldri.
"Dea lebih pantas mendapatkan nya, btw maksih ya" kata Zia sembari berjalan pergi, meninggalkan Aldri yang masih terdiam.
'Sekali saja, bisakah aku berkata pada mu, kau lah yang lebih berharga untuk ku??' gumam Aldri yang menyesali perbuatan nya pada Zia.
Mulai saat itu kelas 3 lulus dari SMA, Aldri kini duduk di kursi kelas 3 SMA, tepat nya duduk di kursi tempat Zia duduk dulu..
'Apakah hari mu menyenangkan??' tanya Aldri sembari mengelus meja yang tertulis nama nya di sana.
'Sejak Zia tahu aku dan Dea memiliki hubungan, kini dia jauh lebih dekat dengan kaka kelas nya, itu menyakitkan' gumam Aldri sembari mangacak acak surai nya.
Pilihan mata itu hanya sementara, Namun pilihan Hati itu menetap, yang berarti tak tergantikan.
Semua orang bisa merasakan cinta, tapi tidak semua orang tahu apa arti itu cinta...mereka hanya menikmati indah nya berdua dengan pasangan.
Itu lah kesalahan kedua orang yang menjalin hubungan..
[ Oh ya sedikit promisi, jangan lupa mampir ke Novel buatan ku ya ]
🐱🖤