Jika pasangan lain, mengakukan pinjaman untuk beli rumah, mobil, liburan atau yang lainnya aku dan Kezia berbeda. Kami punya impian lain yaitu memiliki anak kandung. Sudah 7 tahun menikah, jujur saja kami rindu rumah kami diisi gelak tawa dan tangis seorang bayi. Sudah ikut program hamil beberapa kali, juga melakukan upaya lainnya termauk berobat secara tradisional tidak bisa membuat istriku mengandung, masalahnya memang di aku, sih. Sejak lama kami tahu bahwa kualitas sp*rmaku terlalu lemah untuk membuahi sel telurnya Kezia dan dokter menganjurkan solusi pamungkasnya, bayi tabung.
Demi punya anak, Kezia meminta kau mengizinkannya mengundurkan diri sebagai dokter umum. Ah, istriku sampai mengorbankan kariernya demi fokus buat kehamilannya.
"Bisa dibilang hidup kita cukup, Ken. Cuma anak yang belum punya, aku mau kita punya anak satuuu aja biar aku bisa merasa bangga jadi wanita yang seutuhnya."
Suami mana yang tidak tersentuh mendengar harapan 'sederhana' begitu, bukan perhiasan mewah ataupun sepatu branded yang harganya selangit, tapi dia 'cuma' pengen punya bayi.
Aku pun menyetujui perkataan Kezia dan siap mendampinginya menghadapi rangkaian tahapan bayi tabung.
Percobaan pertama gagal, Kezia menangis ketika mendapati dirinya datang bulan, tapi aku terus menyemangatinya, selang 6 bulan kemudian kami mencoba lagi proses itu dan berhasil, namun kendalanya Kezia terus-terusan nge-flek, sebagai dokter aku tahu kondisi ini sangat rawan terjadinya keguguran.
"Placenta Previa. Sabar ibu Kezia, ibu terpaksa bed rest demi janinnya setidaknya sampai 7 bulan nanti langsung caesar, ya," saran dokter kandungan untuk kami berdua.
Sejak itu aku melihat bagaimana istriku yang bahagia atas kehamilannya harus betah di tempat tidur. Dia akan bangun hanya bila ke kamar mandi, itu pun tidak jarang flek-nya keluar.
"Kenan ..."
"Iya sayang, mau apa? Dede-nya kepengen sesuatu daei daddy?" Aku yang baru pulang praktek, menaruh tasku di sisi tempat tidur.
"Tidak pengen apa-apa, perut bawahku kram,"adunya manja.
Aku memang bekerja di 2 tempat, setelah selesai jam kerja di RS, aku bekerja di klinik IDI hingga malam hari. Lelah sih, tapi aku selalu semangat demi masa depan keluargaku. Aku selalu membayangkan, kami tertaawa bahagia bersama si buah hati.
"Kita ke rumah sakit, ya?"
Kezia menggeleng, "Ken, aku takut dede-nya gak jadi lagi," ujarnya khawatir.
"Hei, jangan berfikir begitu, sayang. Berfikir positif ya, jangan sampai anak kita ikutan melow," ujarku sambil mengecup kening istriku. Ah, kehamilam memang membuat wanitaku ini lebih manja dari biasanya.
Aku menyingkap selimut bermaksud untuk beristirahat dengan istriku tapi ... .
"Ken, awh ... nyerinya semakin kuat," ringis Kezia lagi.
Tidak sengaja mataku melihat ke bagian bawah Kezia yang tadi tertutup selimut. Astaga, darah semua.
Aku pun mengecek sumber darah itu.
"Ken, aku seperti mau mengejan," kata Kezia yang wajahnya sudah memucat.
"Tahan dulu kita ke rumah sakit, ya," sahutku tak kalah kuatir. Dengan gerak perlahan kulihat Kezia menurunkan kain penutup bagian bawahnya
"Aku gak tahan lagi," ujarnya sambil membuka kedua kakinya. Dan plup, aku melihat sesuatu terdorong keluar dari jalan lahir milik Kezia.
"Ya Tuhan," gumamku. Tangis Kezia pecah saat aku mengambil kain untuk meletakkan janin berusia 3,5 bulan yang sudah tidak bernyawa.
"Aduh, kenapa sakit sekali, Ken," keluh Kezia lagi.
"Mungkin plasentanya mau lepas dan keluar," ujarku yang minim pengalaman mengahadapi wanita melahirkan.
Tiba-tiba, meluncur satu janin lagi. "Astaga Kez, ternyata anak kita kembar. Yang pertama lelaki dan yang kedua ini perempuan," ujarku.
Kezia hanya terisak saat aku membantunya mengeluarkan plasenta.
Kuberikan suntikan agar Kezia tidak pendarahan, kubersihkan tempat tidur kami yang berlumuran darah, lalu kuseka badan istriku dan memberinya pakaian yang nyaman.
"Bawa mereka berdua kemari, Ken," pinta Kezia sambil menunjuk kedua janin yang kubungkus dengan selendang milik Kezia.
"Jangan, nanti kamu makin sedih," kataku.
"Justru tidak. Kamu lihat Ken, aku bisa hamil dan melahirkan. Hanya saja aku yang tidak sabar melahirkan lebih cepat dari yang seharusnya." Kupeluk istriku, aku memang tidak mengalami sakit fisik yang sama dengannya, tapi kalau hati ... kami sama hancurnya.
Si kembar mungil ini telah terbentuk sempurna, dari kepala, kaki hingga kuku di jari-jari mungilnya telah terlihat. Bukan hanya gumpalan sel, tapi mereka memang benar-benar manusia hanya badannya kecil sehingga muat dibaringkan di telapak tangan kami.
"Hari ini mereka berusia 14 minggu 4 hari, Ken ... kenala izinkan kita kehilangan mereka?" Tangis Kezia kembali merebak.
Aku putuskan menghubungi keluarga dan tenaga medis untuk menangani Kezia. Bagaimana pun, anak-anak kami yang lahir sebelum waktunya ini harus dimakamkan secara layak.
"Keandra dan Keanna, kamu setuju kan mereka kita beei nama itu?" Tanyaku yang sempat browsing intermwt mencarikan nama yang indah untuk kedua buah hati kami.
"Ya," sahut Kezia singkat.
***
Usai masa berkabung, aku memutuskan cuti dan mengajak Kezia liburan, kami berdua sama-sama butuh 'pengobatan'.
"Setidaknya, kita sudah berusaha, sayang. Dan Tuhan mengabulkan harapanmu, kamu sekarang sudah jadi wanita yang sempurna," hiburku.
"Tahun depan kita coba bayi tabung lagi ya, Ken."
Aku tentu saja mengangguk setuju.
"Hei bodoh kalau mau bunuh diri, jangan libatkan aku!" Teriak seseorang di tengah jalan.
Aku dan Kezia menoleh, lalu berlari mengejar wanita yang jatuh tersungkur.
"Astaga, wanita ini sedang hamil besar, Ken. Ayo cepat kita bawa ke rumah sakit," ujar Kezia.
Segera saja wanita yang lemah itu ditangani.
"Pak, bu ... keluarganya harus segera di operasi sebab kalau tidak,"
"Ah, saya mengerti. Sebenarnya kami tidak mengenal wanita itu, tapi jangan khawatir, seluruh biaya saya yang tanggung," putus Kenan.
"Em, pak ... wanita itu ingin menemui bapak dan ibu," ujar perawat itu lagi.
"Hai saya Liana, maaf merepotkan kalian. Saya memang ingin bunuh diri tadinya, saya bingung ... suami saya berselingkuh saat saya sedang hamil sementara saya tidak punya keluarga lagi. Pak, bu, maaf merepotkan kalian sekali lagi, saya percaya kalian orang yang baik dan tulus hati. Em, maukah bapak dan ibu merawat anak-anak saya?" Ujar Liana dengan suara setengah berbisik.
"Mau!" Jawab Kezia spontan, seketika kulihat semangat hidupnya bangkit lagi.
Akhirnya Liana melahirkan sepasang bayi kembar, Kezia menawarkan Liana tinggal bersama kami, merawat dan membesarkan si kembar. Namun, belum lagi sempat menerima tawaran kami, tiba-tiba Liana sesak nafas dan ... meninggal, meninggalkan kedua bayinya yang bahkan tidak sempat melihat wajah ibunya itu.
Kami mengurus pemakaman Liana sebagaimana layaknya, lalu mwngurua sejumlah dokumen.
Pergi dengan niat berlibur demi menghibur hati yang luka, pulangnya kami malah membawa jawaban atas doa-doa kami, sepasang buah hati : Lavana dan Leksana, si kembar yang kemudian 'memanggil' adik bayi lelaki bernama Kiano, yang lahir dari rahim Kezia 1,5 tahun kemudian.
Semula Kezia berpikir ia hanya kelelahan karena istirahat yang tidak teratur mengurusi si kembar yang sangat aktif, aku yang tidak mau istriku sakit langsung membawanya periksa kesehatan sekalian imunisasi si kembar, ternyata ... wow, Kezia hamil jalan 5 bulan. Hamil alami, tanpa obat ataupun program bayi tabung. Amazing.