Pagi hari Sonja nyekar ke malam Tina. Kedatangan arwah Tina tadi malam cukup mengagetkannya. Sudah lama sahabatnya itu pergi meninggalkan dunia ini. Kenapa tiba-tiba Tina datang dan menginginkan Sonja bertemu dengan Firdy.
"Onja... Bangun Onja... Firdy sudah kembali... Dia ada dikota ini... Katakan padanya bahwa aku juga sangat mencintainya... "
Sonja terbangun dan tidak melihat bayangan Tina lagi di kamarnya. Keringat dingin membasahi sekujur wajah Sonja dan nafasnya berhembus tak menentu. Tina adalah sahabat Sonja semenjak balita. Rumah mereka berdekatan. Setiap hari Sonja dan Tina selalu bersama samapai remaja. Sayang sebuah kecelakaan merenggut nyawa Tina. Hingga kini Sonja merasa sangat kehilangan teman yang sudah seperti saudara kandung. Tina datang dalam mimpinya semalam hanya ingin menyampaikan perasaan cinta yang telah lama terpendam pada Firdy. Padahal semasa hidup Tina menolak cinta Firdy dengan beribu alasan.
"Onja... " Suara yang tak asing lagi terdengar. Sonja menoleh kesumber suara dan benar seperti dugaannya Ferdy berdiri disamping Sonja.
"Firdy...ternyata benar yang dikatakan Tina semalam ternyata kamu sudah kembali dan berada di kota ini"
"Tina bilang apa?? "
"Ohhh... Maksudku kapan kamu datang. Bukankah selama ini kamu pergi keluar kota? " Kata Sonja cepat-cepat mengalihkan pembicaraan.
"Dua minggu yang lalu... aku harus melakukan therapist disini"
"Ternyata benar mimpiku semalam tentang Tina. Dia telah mengantarkanku kesini untuk bertemu denganmu, " Ujar Sonja pada Firdy.
"Aku juga sering memimpikan Tina. Setiap Tina datang Dia hanya memandangku dari kejauhan. Aku kira mungkin karena perasaan rinduku saja"
"Tina bilang padaku untuk menyampaikan bahwa Dia juga sangat mencintaimu. Penolakan-penolakannya yang dulu adalah rasa takut yang selalu datang jika berpisah dengan kamu, Firdy"
Firdy bersimpuh dimakam Tina. Firdy menangis sekaligus bahagia. Betapa selama ini Firdy sangat mencintai Tina dan selalu merindukannya.
"Tunggu aku disana ya sayang. Kita akan segera bersama ditempat yang abadi, " Isak Firdy sambil mengusap-usap makam Tina.
Satu hari setelah pertemuan dimakam. Sonja mendengar kabar jika Firdy meninggal karena sakit kanker stadium empat yang dideritanya.
Sonja percaya Tina dan Firdy sudah berbahagia disurga milik sang Maha pencipta.
Malam ini Sonja melihat seorang pria renta dengan tongkat menyanggah tubuhnya datang menghampiri.
"Tolong bilang bahwa aku minta maaf pada anak perempuanku,Santy. Kalau aku tak bisa merawat dan menjaganya, " Terlihat airmata di pelupuk mata pria yang keriput dan berkantung.
Sonja terbangun dan tidak melihat bayangan pria itu dikamarnya. Sonja ingat pria itu datang dengan dilatari gambar sebuah rumah. Sonja mengingat-ngingat dimana Dia pernah melihat rumah itu sebelumnya.
Saat sore Sonja bersepeda mengelilingi sebuah perkampungan yang tak jauh dari rumahnya. Sonja berharap menemukan sesuatu yang terkait dengan kedatangan kakek dalam mimpinya.
Sebuah motor berhenti di sebuah gang sempit. Setiap saat pria itu melihat jam di pergelangan tangannya. Seperti tak sabar menunggu seseorang.
"Kenapa lama sekali!! Aku bilang kamu sudah standby saat aku jemput. Huuh kalau telat begini jadi berabe urusannya. Tahu nggak loh!!! Breng**k"
Maki seorang pria itu bersamaan kedatangan seorang wanita. Setelah mereka pergi Sonja penasaran masuk kedalam gang sempit dan menyusuri jalan kecil yang hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki atau sepeda.
Sonja menemukan rumah seperti dalam mimpinya. Rumah itu tepat berada di ujung jalan. Ada beberapa orang anak kecil dengan seorang nenek mengasuh seorang balita.
Sonja mencoba mendekati nenek tersebut.
"Ini cucunya ya, nek? "
"Iya... Cucu nenek banyak ada lima hehehe"
"Nenek hebat sekali yah.. Kuat ngemong cucu banyak sekali... Satu... Dua... tiga... Dua lagi kemana, nek"
"Lagi ngamen di lampu merah"
"Ohhhh... Nenek tinggal disini sama siapa? " Tanya Sonja hati-hati.
"Sama anak nenek. Baru saja pergi kerja"
"Suami nenek...? " Mata Sonja mengitari rumah.
"Suami nenek sudah lama pergi. Sejak anaknya berumur dua tahun sudah nggak pernah mengenal bapaknya lagi. Pergi entah kemana. Tidak pernah memberi kabar"
Sonja terdiam mendengar penuturan nenek.
"Aku juga tidak peduli sama Dia. Manusia macam apa yang tega meninggalkan keluarganya tanpa memberi nafkah.Tidak pernah sama sekali mengunjungi anaknya. Tak usah pedulikan aku tapi pikirkan aja anaknya. Mana ada mantan anak. Mudah-mudahan Dia mati dimakan ulat baru tahu rasa, "sumpah serapah keluar dari mulut sang nenek jika mengingat mantan suami sekaligus ayah anaknya.
Esok hari Sonja datang lagi kerumah gang sempit itu. Hari ini Sonja datang saat pagi menjelang siang. Agar bisa bertemu dengan anak perempuannya yang bekerja ditempat hiburan malam.
" Pagi,kak... Sepertinya lagi sibuk nih, "Sonja melihat wanita yang ditemuinya dengan pria dimotor tempo hari sedang menjemur pakaian.
" Kamu lihat bagaimana? "Jawab wanita itu kasar dan cuek.
" Boleh aku minta waktunya sebentar"
"Hmmm, mau apa? " Tanya wanita itu sambil duduk.
"Ayah kakak minta maaf karena tak bisa menjaga kakak selama ini"
Wanita itu terkejut mendengar ucapan Sonja tentang ayah yang selama ini dia cari.
"Kamu siapa? Kenapa kamu tahu tentang ayahku, " Wanita itu menarik dan mencengkram tangan Sonja dengan erat.
"Saya hanya menyampaikan pesan. Nama kakak Santy bukan? Ayah kakak sudah meninggal, Dia dimakamkan di kampung halamannya. Selama hidup ayah kakak lumpuh dan semasa hidup sebagai peminta-minta.Kakak harus memafkan beliau agar arwahnya bisa tenang, " Kata Sonja merangkul Santy.
Sonja membiarkan Santy menangis pilu melepaskan beban selama ini dipikul. Ternyata ayahnya sakit dan tidak berniat menelantarkan Santy.
Sonja memberikan sebuah amplop berisi uang tabungan yang sengaja diberikan untuk keluarga Santy pada nenek yang ikut menangis mendengar kabar mantan suaminya.
"Sonja... Sonja... Aku tak sengaja Sonja... " Seorang wanita dengan pakaian penuh darah menguncang-guncang tubuh Sonja yang sedang terbaring.